You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
35



sebelum sang fajar menampakkan dirinya, yasmin segera membangunkan suaminya untuk sholat tahajud berjamaah dilanjutkan semaan bersamanya dan sembari menunggu yusuf pulang dari jamaah shubuh yasmin menyiapakan sarapan untuknya. Suara salam yang khas terdengar dari ambang pintu, yasmin segera menyambutnya kedepan. Mengecup punggung tangannya.


"mas yusuf sudah pulang, ayo mas sarapan dulu. yasmin sudah siapkan nasi goreng special untuk orang paling special" kata yasmin dengan senyum mengembang.


yusuf hanya tersenyum melihat yasmin yang begitu antusias, apa senyumnya akan bertahan saat dia tau apa yang kemarin terjadi padanya?. Yusuf melipat tangannya rapi di atas meja makan, sedari tadi yusuf hanya memperhatikan gerak gerik yasmin sedang menyiapkan sarapan untuknya. tak terucap sepatah katapun dari mulut yusuf. Yasmin perlahan mulai sadar dengan sikap yusuf yang sedari tadi diam, biasanya dia selalu melontarkan kalimat manis untuk yasmin, tapi bukan itu pointnya, yusuf tampak sedikit murung.


"mas kenapa?"  Yasmin mencoba mendekati yusuf, duduk di kursi meja makan diseberangnya.


yusuf seketika tersadar dari lamunannya.


"ngga papa".


"mas nanti ke kampus?" tanya yasmin berbasa basi, tentu saja yusuf ke kampus, hari ini kan ada jadwalnya mengajar.


"tidak" jawabnya singkat.


"tidak?" Yasmin menaikkan alisnya tidak percaya, suaminya jarang sekali absen dari mengajar, kecuali ada hal yang benar-benar urgent.


tangan kanan yusuf meraih tangan yasmin.


"hari ini mas ingin dirumah, menjaga kamu" ucapannya benar-benar bisa membuat senyum yasmin mengembang sempurna. dan kini rona wajah yasmin sudah berubah menjadi merah padam.


"yasmin ngga papa dirumah sendiri mas".


"mas tidak ingin kejadian kemarin terulang" ada kekhawatiran yang tak pernah hilang dari diri yusuf, ia takut hal kemarin terulang lagi. sudah cukup kebodohan yusuf kemarin. ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada istrinya.


setelah menyiapkan dan menemani yusuf sarapan, yasmin kemudian melanjutkan pekerjaan rumah, 'menyuci baju' tapi sayangnya mesin cuci sedang rusak, jadi mau tidak mau harus mencuci manual.


jika istri ikhlas menyuci baju suaminya, maka itu adalah pahala untuk sang istri. begitu banyak pahala yang Allah berikan dalam ibadah pernikahan.


"loh? kok nyucinya pake tangan?" tanya yusuf yang tiba-tiba datang.


"mesinnya lagi rusak mas" jawab yasmin seadanya dengan terus menyuci.


"kenapa ngga bilang?".


"Kan rusaknya baru hari ini" jawab yasmin.


tanpa aba-aba yusuf langsung duduk di kursi kecil biasa untuk menyuci disebelah yasmin.


"Mas mau ngapain?" Yasmin sedikit tak percaya saat suaminya akan membantunya mencuci.


"Bantu kamu" yusuf mulai melipat lengan kaosnya.


"Ngga usah mas,ini pekerjaanku" yasmin berusaha mencegah yusuf yang hendak membantunya mencuci.


"Kalau mas bisa, kenapa tidak?"


Yasmin pasrah dengan keinginan suaminya yang memang keras kepala, beberapa kali tangan jahil yusuf mulai beraksi. Menoel dagu yasmin dengan gelembung-gelembung detergen.


"Sayang" katanya jahil dengan terus menoel dagu yasmin.


"Hiih mas yusuf stop" bibir yasmin mulai dimajukan beberapa senti. Yusuf terkekeh geli meelihat tingkah istrinya. Dia benar-benar menggemaskan.


Drrttt...drrttt..drrttt... nada gawai yang berada di saku celana pendek yusuf berbunyi. Yasmin dengan segera mengelap tangan yusuf yang basah dengan baju yang yasmin pakai.


Setelah percakapan singkat yusuf ditelfon, yusuf izin pergi ke SMA karna ada yang harus ia kerjakan.


"Mas mau ke SMA dulu"


"Yasudah mas berangkat sekarang aja, nanti telat".


"Mas nunggu sabil datang dulu, mas ngga mau ninggalin kamu di rumah sendirian".


Sebenarnya hati yasmin sedikit curiga dengan sikap suaminya yang begitu overprotective setelah kejadian kemarin. Memangnya sebahaya apa keadaanku kemarin.


🌹


"Bil? Mbak buatin kue ya" tanya yasmin yang mulai berjalan mendekati dapur, sedangkan sabil sedang fokus dengan tayangan gosip di televisi.


"Boleh deh mbak, sabil laper" jawabnya dengan sedikit terkekeh tanpa mengalihkan pandangannya.


Huueekkk... hueeekkkk...


Sabil terkejut bukan main saat mendengar suara orang muntah. Dia segera berlari menuju dapur, sumber suara tersebut.


"Mbak?! Mbak yasmin ngga papa?" Sabil menuntun yasmin dan mendudukkannya di kursi meja makan.


"Apa yang mbak rasakan sekarang? Mbak pusing? Mual?lemes? atau apa?" Sabil yang memang anak kedokteran, segera memberondong yasmin dengan banyak pertanyaan.


"Perut mbak mual sekali bil... hueekkk"


Jangan-jangan mbak yasmin hamil, tapi hamil anak siapa? Astaghfirullahaladziimm dengan segara sabil beristighfar karna dugaan buruknya.


"Kita ke rumah sakit ya mbak! Sabil telfon mas yusuf segera pulang" sabil hendak mengeluarkan ponselnya, namun urung saat yasmin melarangnya untuk menelfon yusuf.


"Ngga usah, beliin mbak tespeck aja" sabil membulatkan matanya sempurna, ternyata pikirannya sama dengan pikiran yasmin.


Tanpa banyak tanya, sabil mengerti dan langsung pergi ke apotek untuk membeli barang tersebut.


🌹


Sabil menunggu yasmin di ambang pintu kamar mandi dengan penuh kekhawatiran. Bukan khawatir kalau hasilnya negatif, melainkan khawatir kalau hasilnya positif. Namun semua sudah kehendak Allah. Terlihat raut bahagia menyelimuti wajah yasmin.


"Mbak postif hamil bil" ucap yasmin dengan penuh kegirangan sembari menunjukkan tespeck tersebut, sebisa mungkin sabil mengontrol ekspresinya. Sabil memasang wajah bahagia, meskipun hatinya diliputi rasa kekhawatiran.


"Kalau mas yusuf pulang,mbak akan segera memberitahukannya".


"Mbak, apa tidak lebih baik kalau mbak simpan dulu hasilnya, besok aja mbak kasih tau mas yusuf" bukan tanpa alasan kenapa sabil berbicara seakan akan ingin menyembunyikan kehamilan yasmin, itu karna sabil tidak ingin rumah tangga mereka yang begitu harmonis akan hancur. Dia tau kalau selama ini kehidupan rumah tangga yasmin dan yusuf sudah mengalami banyak ujian cinta, namun sabil ragu kalau ujian ini mereka bisa lewati dengan mulus.


"Ya ngga mungkin mbak menunda kabar bahagia ini,mas yusuf pasti senang sekali mengetahuinya, kamu jangan pulang dulu sebelum mas yusuf datang ya" rona bahagia masih terus menyelimuti wajah cantik yasmin, senyumnya semakin mengembang saat suara ketukan pintu di iringi salam mulai terdengar.


"Itu pasti mas yusuf" yasmin segera membukakan pintu untuk suaminya.


Setelah masuk, yusuf melingkarkan kedua tangannya ke pundak yasmin.


"Ada apa dengan istriku ini? Kenapa hari ini terlihat bahagia sekali" ucap yusuf lirih di samping telinga yasmin.


Sabil menggigit bibir bawahnya dan menatap mereka berdua dengan pandangan cemas.


"Aku punya hadiah untuk mas" ucap yasmin sambil mengurai dekapan yusuf. Dan menatapnya dengan penuh kebahagiaan.


"Apa?"


Yasmin menyodorkan tespecknya.


"Apa ini?" Yusuf menaikkan salah satu alisnya. Dan mulai mengambil barang yang diberikan yasmin.


yusuf mulai melihat barang tersebut.


"Yasmin hamil mas" mata yusuf membulat sempurna. Raut wajahnya berubah 180 drajat.


Ekspresinya tak bisa ditebak.


Namun yasmin sangat bahagia memberitahukan hal itu, spontan yasmin memeluk suaminya. Namun tetap saja raut datar menyelimuti wajah yusuf.


Perasaan tidak enak dirasakan oleh sabil saat yasmin memberitahukan kehamilannya.