You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
31



Sarapannya belum jadi kak?" Ucap Ita yang mulai duduk di kursi sebelah Rehan.


"Belum, coba kamu bantu bu heni gih" titah Rehan.


Ita menagguk, denagn senang hati Ita membantu Heni, Ita mulai berjalan ke dapur, bu heni sedang terdiam menatap nasi goreng yang berada di depannya, namun punggungnya bergetar seperti orang menangis.


Ita semakin khawatir saja melihat itu, ia segera menghampiri heni,


"ibuk ngga apa-apa?" Tanya Ita memegang kedua pundak heni.


Secepat kilat, heni mengusap air matanya, jangan sampai Ita curiga kepadanya.


"Ibu heni ngga apa-apa?" Ita mengulang pertanyaannya saat Heni tak kunjung menjawab.


"Ah ngga, ngga apa-apa non" Jawab Heni dengan nada berusaha tegar.


"Trus kenapa nangis?" Tanya Ita lembut dengan memeluk tubuh Heni dari belakang.


Ya Allah... dokter Ita hentikan, bagaimana bisa Heni melakukan ini kalau anda memperlakukanku denagn begitu lembut seperti keluarga sendiri? -gumam Heni dalam hati. Ia mencoba menhan tangisnya.


"Saya ngga apa-apa non, cuma tadi perih aja mata saya" ujar Heni mencari alasan.


Ita melepas pelukannya, tangan ita beralih memegng sepiring masi goreng di depan Heni, itu pasti untuk Rehan, karna Ita sendiri kurang suka dengan nasi goreng.


"Yaudah Ita bantu bawain ya" Ita membawa nasi goreng yang sudah heni beri racun.


Heni ingin melarang Ita tapi Ita sudah langsung membawanya, "nah ini sarapannya" Ita menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Rehan.


"Terima kasih" ucap Rehan manis kepada Ita, ita kemudian duduk di kurai sebelah Rehan, ita mengambil sepotong roti dan kini tenagn sibuk mengolesi dengan selai.


Heni masih terdiam dapur, ia tidak biaa melihat Rehan yang akan memakan nasi goreng itu. Heni lebih memilih diam di dapur, ia ketakutan, tangannya sudah berkeringat dingin dari sejak tadi.


"Bu.. bu Heni??" Panggilan Rehan membuat Heni kaget, apa?? Apa dokter Rehan sudah memakannya??? Batin Heni.


"Rehan kembali memanggil heni saat ia tak kunjung ke ruang makan "bu heni???."


Heni kini sadar kalau Rehan masih baik-baik saja, ia kini sedang memanggilnya. Denagn gugup Heni segera menemui Rehan di meja makan.


"Iya dokter?" Ucap heni gugup, sangat gugup.


"Adam mana? Kok ngga ikut sarapan?" Tanya Rehan yang tengah sibuk memberihkan sendoknya.


"Panggil aja bu, biar ikut sarapan bareng, ibu juga duduk ya ikut sarapan" sahut Ita.


Heni harus mencari alasan, ia harus menutupi maslaah adam kepada mereka berdua.


"Mmm anu," ucap Heni terdiam sebentar seperti sedang mencari alasan, Rehan dan ita melihat bu Heni sangat gugup ketika berbicara.


"Adam lagi istirahat, belum bangun" jawab Heni dengan terus menunduk.


Rehan hanya mengangguk, Rehan sebenarnya sadar kalau Heni sedang menyembunyikan sesuatu, tapi kalau bu heni tak mau menceritakannya, itu artinya itu adalah sebuah rahasia yang Rwhan dan Ita tak perlu tau.


Rehan menuangkan air putih di gelasnya,


"Bu, Kalau ibu punya beban atau masalah, ibu jangan pernah segan memberitahu kami, kami akan selalu ada untuk ibu dan adam" ujar Rehan, sensok dan garpu sudah ada di tangan Rehan.


Heni hanya bisa mengangguk.


"Oh iya, untuk jadwal controll Adam itu 3 hari lagi bu, jadi kalau sudah jadwalnya controll, Rehan akan bawa Adam ke Rumah sakit," ujar Rehan.


"Juga Kami akan selalu mengawasi dan memperharikan kesehatan Adam ketika kami di Rumah" tamabh Ita menyambung ucapan Rehan.


Lagi-lagi heni hanya bisa mengangguk, pandangannya terua terfokus pada sendok yang yang sudah Rehan pegang di tangan kanannya.


"Jadi kalau ada apa-apa dengan Adam, ibu langsung saja telpon saya atau Ita,kami insyaAllah akan selalu siap" ujar rehan lagi.


Allah. . . Bagaimana bisa hamba menghianati orang yang sudah baik sekali kepadaku, bahkan saat aku memberikan racun dimakanan itu, ia masih saja berbiacara memperhatikanku dan Adam. Orang macam apa aku ini... Heni hanya bisa berbicara di hati.


Setelah lama berbicara mengenai kesehatan Adam, Rehan kini mengalihkan pandangannya ke nasi goreng yabg sudah ada di depannya,


"euumm ini pasti enak seperti biasanya" ujar Rehan melihat nasi goreng buatan Heni.


Hani menatap cemas tangan Rehan yang mulai menyendok nasi goreng itu.


"Bismillahirrahmanirrahim" Ucap Rehan sebelum memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.


Bak drama yang sedang mode Slow motion, seperti itulah Heni melihat tangan Rehan yang mau menyuap nasi goreng racun itu.


Memori semua tentang kebaikan Rwhan terhadap Heni dan Adam kembali terulang, apalagi sampai saat inipun Rehan masih sangat mempedulikan Heni dan Adam.


"AH TIDAK!" Pekik Heni yang langsung menghempas satu suapan nasi gorenga yang kurang sedikit lagi akan masuk ke mulut Rehan.


Plaaaaankkkk suara sendok yang Heni hempas. Rehan dan Ita di buat kaget oleh kelakuannya.


Bukan hanya sesuao yang Hwni buang, Hebi kini menghempas satu piring nasi goreng di depan Rehan.


Pyaaarrrr . . . Rehan sampai kaget saat piringnya dipecah oleh Heni.


"Allah" pekik Ita mendengar pecahan piring yang mengejutkannya.


Heni melakukan itu semua sembari menangis, ia kini sedang menangia terisak usai menumpahkan nasi goreng Rehan.


Rehan dan Ita masih kaget, mereka sampai melongo emlihat ini semua, pandangan Rehan dan Ita menunjukkan pendangan penuh tanya melihat kelakuan bu Heni.


Ita yang melongo segera mengerjap sadar, Ita segera bengkit dari duduknya saat melihat Heni yang hampir jatuh karna lemas.


"Buk, ibuk ngga apa-apa??" Tanya Ita khawatir saat berhasil menangkap tubuh Heninyang lemas, heni dan Ita kini terduduk di lantai yang dingin.


"Buk.. ada apa?? Ada apa!? Cerita sama kami" tanya Ita melihat Heni yang sepertinya sedang penuh tekanan.


( . . .) Heni tak menanggapi, ia masih menangis terisak. Ita bisa merasakan isakan Heni karna ita memegang kedua pundak Heni dari belakang.


"Kak?!" Ita memanggil Rehan yang masih mlongo.tak ada jawaban dari Rehan, karna merasa yang ia panggil belum juga menyaut, Ita memanggilnya lagi lebih keras,


"Kak Rehan!?."


Rehan mengedipkan mata, satu kali kedipan langsung membuat Rehan sadar. "Ha?" Ucap Rehan refleks.


Rehan ikut jongkok di lantai, Rehan menanyakan keadaan Heni yang masih menangis,


(. . . ) masih tak ada jawaban, heni masih saja menangis.


"Ta, angkat bawa duduk" titah Ita, Ita mengangguk mengerti dan segera mengangkat tubuh heni, Ita mendudukkan Heni di kursi meja makan.


Rehan mengambilkan segelas air putih untuk heni, Ita membantu heni untuk minum.


Setidaknya Rehan dan Ita tidak menanyakan apapun dulu sampai Heni sudahbmerasa sedikit tenang, karna bisa dilihat Ia yang lebih shock.


"Atur napas dulu bu" ujar Ita memberi saran yang kemudian diikuti oleh Heni.


Heni terlihat lebih tenang, meskipun ia msih belum bisa berhenti menangis. Ita dan rehan saling beradu tatap, tidaknada yang ingin memulai obrolan duluan sampai Heni benar-benar siap menceritakannya.


"Maafkan saya dokter hiks hiks hiks" ucap Heni dengan isakan tangis, "maafkan saya."


Rehan semakin tam mengerti, ada apa sebenarnya yang mengganggu heni sampai seperti ini.


"Iya bu, saya maafkan tapi ada apa?" Ucap Rehan sangat lembut.


"Saya sudah berniat meracuni dokter hiks.. hiks.. hiks.." ucapan Heni sontak membuat Rehan dan Ita kaget bukan main.


Salah apa Rehan sampai heni berniat meracuni Rehan?.


Tapi Rehan bukanlah orang yang mudah emosi, apalagi emosi terhadap wanita, oa akan tetap melihat sisi baik heni, karna kenyataannya Heni tidak jadi meracuninya dan langsung membanting makanan itu.


Rehan mulai mengatur nada bicaranya, "apa saya punya salah dengan ibu?" Pedkataan Rehan selalu lembut agar tidak menyakiti hati siapapun.


Mendengar pertanyaaan Rehan, heni segera menyangkal,


"ah tidak, tidak dokter, justru saya yang salah hiks.. hiks.. hiks.."


"Kalau begitu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi bu" Ujar Ita memgang lembut kedua pundak Heni.


Heni mulai mengangkat kepelanya yang sedari tadi tertunduk, ia mulai bicara jujur apa yang sebenarnya terjadi, Heni berharap dengan ia membicarakan ini pada Rehan dan Ita, mereka bisa segera bisa membantu Adam.


"Kemarin, pak pras datang kemari." Satu kalimat yang keluar dari mulut Heni sudah bisa mmebuat Ita dan Rehan mebulatkan matanya kaget.


"Dia datang bersama ketiga anak buahnya,ia mengancam saya,ia ingin saya meracuni dokter hiks hiks hiks" Heni tak bisa menahan tangisnya.


Kalimat itu lebih membuat Ita dan Rehan tercengang, bedebah itu kembali membuat masalah.


"Ia membawa Adam pergi, ia mengancam saya, kalau hari ini ia tidak mendengar kabar buruk dari dokter, maka ia akan melakukan sesuatu pada Adam. Hiks.. hiks.. hiks.." Ita segera memberikan pelukan keoada Heni, ita yakin ini pasti bukan pilihan yang mudah karna ankanya sebagai taruhan.


"Tolong saya dokter, saya tidak ingin Adam kenapa-napa" pinta Heni dengan terisak.


"Tolong bantu saya..." tangisnya semakin menjadi jadi, Itapun semakin mengeratkan pelukannya.


Rehan terdiam sedang memikirkan sesuatu, ia ingin segera menyelesaikan bedebah ini yang berlangsung berlarut-larut.


"Jadi dia ingin mendengar kabar burukku hari ini?."


Heni mengangguk, "adam sedang dalam bahaya kak, kita harus segera menyelamatkannya, orang itu sudah terlalu gelap hatinya karna urusan duniawi" ujar Ita.


"Kalau begitu, kita buat kabar buruk pagi ini juga" ucap Rehan tegas.


Ucapan Rehan sangat ambigu bagi Ita, apa maksutnya membuat kabar buruk?? Maksutnya dia mau benar mengkonsumai racun??.


"Makstunya" tanya ita debagn tatapan penuh tanya.


"Ta, kita hentikan jadi detektif, ini waktunya kita jadi artis" ucap Rehan diakhiri senyuman.


"Hah? Maksutnya lagi?"Ita semakin tidak mengerti dengan ucapan suaminya yang ngalor ngidul.


"Kalau memang yang dia inginkan adalah beeita buruk kakak, kita buat saja skenario kalau kakak sudah minum racun itu, nah trus kita pancing dia untuk datang ke Runah sakit" jelas Rehan.


Ita kini menangangguk mengerti, tak perlu penjelasan panjabg lebar dari Rehan, Ita sudah mengerti dan tau apa yang harus ia lakukan, ia hanya perlu berpura-pura sedih.


"Dokter. . ." Panggil Heni denagn suara lemah.


Rehan segera mengalihkan pandangannya ke bu Heni yang masih dengan wajah sembabnya, "iya?."


"Maafkan saya, karna saya, hidup kalian jadi tidak aman" ucap Heni.


"Bu, kita punya Allah yabg akan memberi rasa aman kepada makhluk-Nya, jadi jangan merasa sepeeti itu"jelas Rehan.


"Tapi saya minta maaf, karna saya waktu itu tak sengaja mendengar rencana pras yang ingin meracuni tuan Yusuf hiks.. hiks.. hiks.." tangis Heni kembali pecah.


Ita dan Rehan tetcengang mendengar pengakuan Heni yang mengetahui tencana busuk bedebah itu.


"Saya meminta maaf karna saya tidak memebritahu dokter,karna Pras terus mengancam saya dengan Adam, ia terus menggunakan adam sebagai alat untuk mengancam saya," jelas Hwni dengan tangiaan menyesalnya.


Bedebah itu,tetnyata bukan hanya mengencam Bagas, tapi juga Heni. Rwhan bisa bayangkan seperti apa menderitanya Heni selama di teror dan diancam terus-terusan oleh Pras.


"Saya minta maaf dokter, karna saya, waktu itu dokter dikeroyok oleh orang-orang suruhan pras malam itu hiks... hiks.. hiks.."


hani meminta maaf akan segala kesalahannya, ia berbicara jujur, ia siap jika Rehan akan memekulnya, atau apapun ia siap meneeima balasan dari Rehan.


"Saya siap jika dokter akan menghukum saya, tapk saya mohon tolong Adam terlebih dahulu dokter hiks.. hiks.." pinta heni dengan terisak.


Mana bisa Rwhan menghukum orang, tidak berhak Rehan menghukum orang. Di posisi Heni bukanlah hal mudah, dan Rehan belum tentu bisa berada di posisinya,jadi Rwhan bisa memakluminya.


Tak perlu ada yang di derpanjang,yang diperlukan sekarang adalah, bagaimana caranya menangkap basah bedebah itu, dan menyelamatkan adam.


"Sudah bu, tidak usah disesali, saya mengeerti posisi ibu, itu bukanlah hal mudah, seharusnya ibu jujur dari awal kalau Ibu sering di teror oleh pras, kami pasti akan berusaha menjaga ibu dan Adam" ujar rehan.


"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya kita menyelamatkan Dama, dan menangkao bedebah itu, dia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya" ucap Ita.


Ita menghapus air mata heni yang tak henti menetes, ita mwmangdang heni dengan tatapan pilu, bagaimna tidak,wajahnya sembab, pucat, badannya kurus kering, ini pasti karan pengaruh tekanan yang ia hadapi selama ini,


"ibu jangan seperti ini,kita harus bisa kuat untuk menyelesaikan masalah ini, kalau kita lemah, orang itu akan semakin bertindak tidak rasional" ujar Ita.


Ita memegang tangan Heni yang bergetar dan berkeringat dingin, "kita pasti bisa melakukannya" Ita mencoba menguatkan Heni.


"Kak kita harus lakukan secepatnya, bagaimana kalu kita ambil rekaman cctv tadi malam, dengan kejahatannya itu, kita bisa langsung melaporkannya dengan dasar penculikan" ujar Ita menatap Rehan serius.


"Tidak bisa dokter, ia suah mematikan seluruh cctv tadi malam" sahut heni yang tengah sibuk menghapus air matanya.


"Ya tentu, pertama kita harus susun rencana sebaik mungkin, bedebah itu selalu melakukan kejahatannya tanpa meninggalkan jejak barang bukti, aku ingin sekali ia tertangkap basah dengan cara mengakui sendiri semua kejahatannya" ujar Reha dengan mengepalkan kedua tangannya.