You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
49



Ya Allah, jadikanlah diri kami lebih baik daripada prasangka (Zhann) mereka. Janganlah Engkau hukum kami dengan (sebab) apa yang mereka katakan. Dan ampunilah kami dari hal-hal yang tidak mereka ketahui.


Doa Sayyidina Ali bin Abi Thalib


🌹


Setelah dari bangsal anak, Ita telah merampungkan semua pekerjaannya, pukul satu malam ia telah menyelesaikan round visit malam hari, Ita mulai berjalan ke ruangnya.


"Kalian bisa istirahat dulu, saya juga mau istirahat di ruangan saya, atau kalian mau ikut saja ke ruangan saya?" Tanya Ita menawarkan tempat mereka istirahat.


"Nggk usah dokter, saya sama Rangga istirahat di dormitory saja" ucap Kiki sembari menyenggol bahu Rangga.


"Ha?!" Rangga refleks karna sedari tadi ia melamun alias melihat Ita sampai tidak berkedip.


"Ah iya dok, saya sama kiki ke domitory saja"jawab Rangga kikuk.


"Yaudah ayook" kiki menarik lengan Rangga setelah pamit kepada Ita.


"Lu duluan aja dulu, masih ada yang harus gue urus" ucap Rangga.


"Oh yaudah." Kiki segera pergi meninggalkan Rangga yangbmasih ada urusan, kaki Kiki sudah tidak kuat berdiri lagi, karna setiap ikut round visit bersama Ita pasti akan sangat melelahkan, tak ada satu bangsal yang terlewat, kakinya harus segera ia rebahkan.


Kiki sudah berjalan jauh meninggalkan Rangga, sedangkan Rangga masih berdiri tak jauh dari Ita, ia masih ingin melihat Ita sampai ia masuk ke Ruangannya. Jadi Rangga memperhatikan Ita tak jauh dari pandangannya.


Setelah Rangga dan Kiki meninggalkan Ita, kini Ita mulai berbalik badan dan berjalan menuju ruangannya, baru beberapa langkah tiba-tiba ia merasa keram yang sangat luar biasa di bagian perutnya. "Aarrgghhh" pekik Ita sembari menekam perutnya kuat, Ita bersandar pada tembok sembari terus berusaha berjalan.


"Aarrghh" ita menahan sakitnya di bagian perut dengan menekam keras, Rehan berjalan dengan tertatih, badannya terus bersandar di tembok sembari berjalan, Ita mengambil hpnya menghidupkan Hp yang sembari tadi ia matikan.


Ita tak kuat lagi, hp yang ia pegang terjatuh, tangannya gemetar karna menahan rasa sakit yang ia rasakan. saking sakitnya keram yang ia rasakan di perut, Ita sampai tersungkur ke lantai, "aaarrrghhhhh" pekik Ita lebih keras.


Rangga terkejut melihat Ita yang tiba-tiba jatuh tersungkut ke lantai. Secepat kilat, Rangga langsun lg menghampiri Ita. "Dokter!! Dokter Ita!!" Panggil Rangga khawatir melihat Ita tersungkur di atas dinginnya ubin dengan tak berdaya.


"Aduh gimana!!" Ucap Rangga kalang kabut, ia hendak menggendong Ita, namun langsung Ita tepis, "jangan!! Jangan sentuh saya!! Panggil dokter Rehan, saya mohoon" rintih Ita mendekam perutnya.


Rehan?? Rangga tidak punya kontak dokter Rehan. Tangan kanan ita mengelilingi sekitarnya mencari jatuhnya hpnya, sedangkan tangan kiri ita terus mendekam perutnya.


Tanpa ia sadari, di kaki ita terdapat darah yang mengalir, sepanjang roknya juga terlihat banyak noda darah, "hah?!" Tangan Rangga semakin gemetar, Ita tidak ingin ia sentuh, "dokter hamil??" Tanya Rangga semakin kalang kabut, tangannya juga dingin gemetar.


Tak ada waktu lagi, Rangga tidak bisa melihat Ita yang sedari tadi merintih, badannya juga terlihat sangat lemas tak berdaya, "ahh bodo amat" ujar Rangga.


Rangga langsung mengangkat gubuh Ita yang sudah tak berdaya, "maaf dokter," Rangga mengangkat tubuh Ita.


Tak ada penolakan lagi dari Ita, tubuhnya terkulai lemah di gendongan Rangga, dengan sedikit berlari Rangga segera menuju ke UGD.


Rangga bergemu dengan nurs Salwa, mata salwa mengamati seorang yang yang berada di gendongan Rangga. Mata salwa membulat sempurna saat sadar siapa yang ada di gendongan Rangga, "dokter Ita!! Dokter Ita kenapa??!" Tanya Salwa khawatir sembari mengikutinlangkah Rangga yang sedikit berlari.


"Suster tolong panggil dokter kandungan sekarang!!" Titah Rangga.


"Kandungan!? Ah iya." Tanpa ingin banyak bertanya, meskipun banyak yang ia tanyakan, Salwa segera memanggil dokter kandungan yang sedang siff malam.


Rangga segera menempatkan Ita di ranjang pesakitan, tanpa menunggu lama, dokter Kia yang kebetulan siff malam ia sudah sampai dan langsung memeriksa keadaan Ita.


Selama pemeriksaan, Rangga dan salwa menunggu kabar dari dokter di luar, dengan harap-harap cemas mereka menunggu kabar Ita, kaki Rangga tak hentinya bergetar karna cemas.


Setelah menuggu, akhirnya dokter kia keluar karna telah menyelesaikna pemeriksaannya terhadap Ita, "gimana dokter?? Gimana kedaan dokter Ita??" Tanya Rangga seketika saat dokter Kia keluar.


"Maaf dokter, tapi saya hanya bisa memeberitahu keluarga dokter Ita" ucap dokter Kia.


Rangga menghembuskan napas kecewa, ia bukanlah siapa-siapa dokter Ita, jadi dia bukanlah orang yang tepat untuk mengetahui keadaan Ita.


"Euum nurs salwa??" Panggil Rangga.


"Ya?."


"Punya nomor dokter Rehan kah??" Tanya Rangga.


Salwa baru ingat, kalau dokter Rehan belum tau keadaan istrinya, "ah iya punya," Salwa segera mengeluarkan handphonenya dan mencari kontak dokter Rehan, salwa segera menghubungi nomor tersebut.


Saat Salwa menelpon Rehan, Rangga memilih untuk menjauh dari mereka, Rangga sadar Rehan pasti akan segera datang dan itu akan baik bagi kesehatan jantung Rangga, karna mungkin itu akan terlalu sakit bagi Rangga saat melihat laki-laki mengkhawatirkan orang yang Rangga cintai, dan ia tak bisa melakukan apa-apa selain melihat Rehan yang akan selalu menjaga Ita.


Tak perlu menunggu lama, Rehan yang saat itu baru saja menyelesaikan operasi, seketika langsung melesat ke UGD saat mendengar kabar dari salwa.


Langkah panjang Rehan dengan cepat membawanya ke ruang UGD tak perlu waktu2 menit ia sudah sampai di depan UGD.


"Gimana dok?? Ada apa? Kenapa dengan istri saya? Anak saya?" Tanya Rehan khawatir, pertanyaan yang mengganggu pikiran Rehan langsung saja ia tanyakan.


"Euumm.. nurs salwa?" Panggil Dokter Kia.


"Ya??" Sahut Salwa, mengerti akan kode dari dokter kia, tanpa banyak tanya ia langsung pergi, "ah iya, saya pergi dulu permisi" pamit Salwa, ini adalah privasi dan hanya Rehan yang bisa mendengar kabar dari Ita.


Sekarang, hanya ada Kia dan Rehan yang sling berhadapan, entah kabatlr apa yang akan siberitahukan, namun raut kecemasan sudah terlukis kuat di wajah Rehan.


"Gimana dokter?" Tanya Rehan.


"Begini pak, maaf sekali tapi saya sampaikan kabar ini, janin bu Ita tidak bisa dipertahankan lagi, ibu Ita keguguran."


Tubuh Rehan langsung jatuh terduduk di kursi, Rehan menguspa wajahnya kasar, ia juga mengusap kasar rambutnya frustasi, tangis yang ia tahan langsung saja pecah, ia bahkan tidak ingin mendengarkan penjelasan dari dokter, baru awal saja sudah membuat Rehan hancur.


"Saya minta maaf sekali dokter, tapi saya harus mengatakannya, keguguran dapat disebabkan karena berbagai hal, terkadang keguguran bisa dialami tanpa diketahui apa yang menyebabkannya, terlebih usia kandungan bu Ita masih di trimester awal itu memang masih rentang" ucap kia, ia menghentikan penjelasannya saat melihat Rehan yang tampak tak mendengarkan penjelasan kia ,ia sibuk menutup wajahnya yang begitu tampak frustasi.


Rehan kemudian membuka wajahnya, ia harus terima dan hadapi, jangan sampai Rehan menghindar dari kenyataan, itu hanya akan membuat dirinya tak bertumbuh menjadi seorang yang lebih dewasa lagi.


"Kelelahan karena melakukan aktivitas berat mungkin dapat meningkatkan resiko keguguran, apalagibsaat ibu hamil tak mendapatkan istirahat yang cukup. tetapi yang oerku diingat, kelelahan tidak langsung dapat menyebabkan keguguran sendiri masih banyak faktor lainnya" lanjut Kia.


"Aaiishhhh" Rehan kembali mengusap rambutnya frustasi, ini pasti karna Ita yangbselalu kekeh untuk bekerja, dia kelelahan karna aktifitas yang berat, ia juga kurang dalam istirahat,


"Aishh Hah, ia tidak pernah mendengarkanku!" Ucap Rehan kesal.


"Saya mohon kepada dokter Rehan untuk tetao hari-hati saat memberitahukan dokter Ita, bagaimapun juga ia akan sangat terpukul, jangan sampai ia menyalahkan dirinya sendiri karna keguguran ini, itu bisa saja mengguncang kejiwaan dokter Ita" Kia mewanti-wanti agar Rehan bisa memberitahu istrinya dengan penih kehati-hatian.


"Iya dokter, terimakasih" ujar Rehan dengan lemas.


Setelahnya, dokter Kia meninggalkan Rehan, kini Rehan hanya terduduk di kursi ruang tunggu, ia tak tau bagaimana caranya memberitahu Ita.


"Bagaimana aku bisa memberitahumya, saat aku saja begitu sangat terguncang, laku bagimana dengannya nanti??!" Rehan mengusap wajahnya kasar, sembari menunghu Ita sadar, Rehan memutuskan untuk ke musholla rumah sakit, bagaimanapun kacaunya hati Rehan, Allah lah sebaik-baiknya pendengar.


****


Rangga teringat saat ia membwa Ita, sebelumnya Ita mencari hpnya yang jatuh, sebenarnya Rangga tidak ingin mempeduliknnya, karna semakin ia mempedulikan Ita maka semakin dalam rasa sakit yang akan ia rasakan.


"Ah bodo amat bodo amat bodo amat!!!" Rangga melanjutkan langkahnya saat terbesit niat untuk mengambilkan hp ita.


Rangga melanjutkan langkahnya mencoba tak peduli sembari mebgucap "bodo amat" namun apalah daya, hati dan pikiran Rangga benar-benar tak berjalan selaras, "Ah SIAL!!" Rehan yltak bisa membiarkan hp ita begitu saja, pasti Ita membutuhkan hpnya.


Rangga berbalik arah dan menuju ke tempat saat ita terjatuh, ia harus mengembalikan Hp Ita. Rangga langsung menemukan hp Ita, ia berdiri sebnatar di tempatnya, "bagaimana kalai disana aku melihat dokter Rehan dan Ita sedang bermesraan??" Gumam Rangga, membayangkannya saja ia tak sanggup "aah sial-sial, kenapa aku peduli banget sih" ocwh Rangga pada dirinya sendiri.


Rangga berjalan kembali, kakinya mengantarkan dirinya tepat di depan UGD, "apa aku ketuk dulu ya sebelum masuk, biar mereka nggak mesra-mesaraan" guman Rangga di depan pintu.


"Tapi masa diketuk?? Kok gw ngga pernah lihat dokter ngetuk pintu UGD ya?? Perasaan mereka malah buru-buru kalau mau masuk" Rangga terus saja mengoceh pada dirinya sendiri, ah tidak! Mungkin kalau orang lihat, Rangga terlihat seperti sedang mengoceh pada pintu.


Rangga memutuskan untuk langsung masuk, ia tak melihat seorang laki-laki sedang menjaga Ita yang tenagh terkulai tak berdaya di ranjang pesakitannya.


Rangga menatap sayu wajah pucat Ita, taknoernah ia melihat Ita yang begitu semangat dan energik, kini terkulai tak berdaya. Rangga memberanikan dirinya untuk masuk, ia meletakkan ponsel Ita di atas laci smaping ranjangnya.


"Dokter cepat sembuh, aku bahkan tak bisa melihat orang yang membuatku bersemangat kini ia jatuh sakit" ujar Rangga tulus.


Rangga sebenarnya ingin sekali berlama-lama menjaga Ita, jangankan menjaga menatapnya saja ia tak bisa, ia harus segera pergi sebelum Rehan datang, pasti akan sulit menjelaskannya.


"Ku mohon jaga dirimu saat aku tak boleh menjagamu, Aku pergi dulu, semoga lekas membaik" ujar Rangga yang kemudian memutuskan keluar, dengan langkah berat, ia mulai berjalan meningglkan Ita sendiri.


****


Tak lama setelah Rangga keluar dari ruangan Ita, akhirnya Ita mulai mengerjapkan matanya, menggerakkan jarinya, kemudian mampu membuka matanya, Ya! Akhirnya Ita sadar setelah pingsan.


Ita mendekam keoalanya yang terasa pusing, ia mencoba mengingat apa yang terjadi terhadapnya, "aaahhhh" kejadian itu terulang kembali dalam pikiran Ita, saat dirinya merasa keram yang luar biasa diperutnya kemudian ada Rangga, dan pasti ia yang membawanya kemari.


Ita mulia memposisikan dirinya dengan duduk, ia melihat ke sekitaran, ia tam melihat sosok Rehan di sampingnya, yang ia tenukan adalah handphonenya yang tergeletak di atas laci.


Tangan Ita meraih ponsel miliknya, ia menghidupkan ponselnya, dilayar depan nampak 16 panggilan tak terjawab dari Rehan,"apa kak Rehan belum tau keadaanku??" Ita berniat akan menelpon Rehan, namun urung saat ia melihat chat yang masuk bertubi-tubi.


Jadi Ita memutuskan untuk membaca chat dari Rehan terlebih dahulu, Rehan mengirim pesan pada Ita pukul 11 malam, saat Ita masih emlakukan round visit, Ita membuka spam chat darinya.


"Ta.. jangan capek-capek ya, banyakin isntirahat, jangan diforsir." -21:30


"Kakak ada operasi, nggak lama kok abis itu kakak datengin kamu, kita pulang bareng." -21:30.


"Oh iya ta, kakak udah kepikiran nama buat anak kita, nama gabungan kita." -22.00


"Yang pasti kali ini nggak aneh deh kedengerannya." 22:00


"Kamu lagi sibuk ya, dari tadi hpnya dimatiin." 22:20


"Kakak kasih tau sekarang, namanya ya." 23:00


"Jadi namanya Hanin?? Rehan dan Anin, Gimana?? Bagus kan?? Ngga aneh kan?." -23:00


"Tapi itu kalau cwe, kalau cowo ntar kakak pikirin lagi setelah operasinya selesai." 23:09


"Huhuhu kakka ngga sabar baby H lahir:)." 23:09


"Nanti kakak kabari lagi ya, kamu jangan capek-capek inget." 23:09


***


Ita mngurungkan niatnya yang ingin menelpon Rehan toh mungkin ia masih ada di ruang operasi, lebih baik kalau Reha tidak tau kalau dirinya sedang di rawat, itu pasti membuatnya khawatir, daripada membuat Rehan khawatir lebih baik ita pulang saja. Ita susah tidak sabar membicarakan soal nama anak mereka nantinya, pasti sangat menyenangkan.


Ita tersenyum sembari mengelus perutnya, "kamu kalau nggak setuju sama nama yang atah kamu beri, kamu bilang aja sama bunda ya" ujar Ita menatap dan mengelus perutnya, ia berimajinasi sedang bicara dengan baby H.