You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
part 2 ep.1



Mana yang lebih utama


Fakir sabar atau kaya bersyukur?


Orang kaya yang mau memberi, berbuat baik, bersyukur pada Allah itu lebih utama dari fakir yang ridho dan sabar


🌹


Hari demi hari berganti bulan, hingga tahun demi tahun terus berganti, kehidupan rumah tangga Yusuf Ilham Maulana dan Yasmin Anandya Putri bersama putra tunggal mereka AlRescha Ilham Maulana sudah berjalan 26 tahun lamanya. Kehidupan yang tak selalu berjalan mulus, dan tak selalu  manis namun didasari cinta terhadap Allah, mereka mampu berjalan bersama sejauh ini. Mereka tak hentinya bersyukur atas ni'mat yang telah Allah berikan, terlebih karunia menjaga dan mendidik putra tunggal mereka.


Yusuf bersama teman seperjuangannya Pram, berhasil mendirikan Yayasan yang menaungi sekolah dari SD Sampai SMA swasta terbaik di daerah Jakarta, 15 tahun lamanya yusuf bersama pram berhasil membangun dan membesarkan nama yayasan yang mereka dirikan bersama, tak hanya sekolah formal SD sampai SMA, yayasan ini juga menaungi pondok pesantren putra maupun putri. Yayasan mereka diberi nama Yayasan Bhakti.


Yayasan Bhakti didirikan diatas tanah wakaf yusuf, juga kerja keras yusuf mengembangkan yayasan bhakti.  bisa dikatakan yusuflah yang paling berjasa di yayasan ini. Sehingga yusuf mempunyai hak untuk menetapkan peraturan di yayasan Bhakti. Salah satu peraturan yang ditetapkan yusuf adalah tidak ada biaya untuk pondok pesantren, santri hanya diwajibkan mengaji dengan tekun, dan untuk setiap anak yatim/ piatu bebas biaya sekolah mulai dari SD-SMA.


Pram sebagai teman seperjuangan yusuf dalam mendirikan yayasan bhakti pernah menolak peraturan untuk menggratisi biaya pondok pesantren, bagaimana bisa digratiskan sedangkan pondok-pondok yang lain saja bayar, dan merekapun mendapat fasilitas yang sama. Namun penolakan temannya ini tak digubris oleh yusuf, yusuf tetap menggratiskan biaya untuk pondok.


di ruang kepala yayasan yang merupakan ruangan yusuf, pram mulai bernego dengan yusuf


"Suf? Apa ngga sebaiknya kita terapkan uang syahriyah untuk pondok?." Ucap pram pada yusuf yang sedang duduk bersebrangan dengannya.


"Kenapa harus bayar?."


"Suf, kamu lihat pondok-pondok lain, mereka menetapkan biaya syahriyah pada pondok mereka suf." Pram terus saja bernego pada yusuf.


"Kalau bayar buat ikut-ikutan pondok lain ya ngga usah, pondok ini digratiskan supaya semua bisa mengaji disini, semakin banyak yang mengaji itu semakin bagus, tidak usah mikir dunia yang fana, ingatlah akhirat yang kekal pram." Ucap yusuf dengan santainya.


Diam, itulah yang sekarang pram lakukan,ia tak bisa berkutik saat yusuf sudah berbicara.


🌹


"Assalamualaikum." Salam laki-laki tampan berprawakan seperti yusuf,kulit putih, hidung mancung, alis hitam tebal dan bulu mata lentiknya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab yusuf dan pram bersamaaan.


"Sudah selesai han?." Tanya yusuf pada putra tunggalnya itu.


"Iya bi sudah."


AlRescha Ilham Maulana atau biasa dipanggil Rehan, ikut membantu abinya mengajar dipondok sejak ia SMA, dan sekarang Rehan bukan lagi anak SMA melainkan sudah mendapatkan gelar dokter spesialis pada namanya.


"Pram, aku sama rehan duluan ya." Pamit yusuf pada pram dan rehan kemudian mengucapkan salam pada pram.


🌹


"Han?." Panggil yusuf kepada rehan di mobil saat perjalanan pulang.


"Iya bi."


"Kamu ngga mau cepet-cepet nikah? Umur udah tua gitu kok." Goda yusuf pada rehan.


"29 udah tua banget ya bi?".


"2 bulan lagi juga 30." Sahut yusuf.


Rehan hanya tertawa kecil, "ya gimana bi, belum ada yang mau."


Itulah jawaban rehan, tentu saja bukan itu alasan sebenarnya mengapa rehan belum menikah, banyak wanita yang dengan beraninya menyatakan cinta pada rehan, namun rehan menolak, itu karna rehan masih nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Mengajar dan membantu pasien.


"Masa anak abi yang ganteng plus sholih gini gaada yang mau sih?."


"Ya gitu lah bi."


"Han, anaknya om pras itu  perempuan lho han, cantik, lulusan pesantren dan abi dengar tahun ini dia mau selesaikan spesialisnya bc gimana han? Sefrekuensi sama kamu kan?" yusuf sedikit menggoda rehan dengan senyum jahilnya itu.


"Abi ngomongin apa sih." Rehan pura-pura mengerti dengan pembicaraan abinya itu.


"Tenang han, masalah restu umimu biar abi yang urus." Ucap yusuf dengan menepuk lembut kepala rehan.


🌹


Atma Anindhita seorang gadis cantik, manis dengan lesung pipit, yang kini berusia 27 tahun dan baru saja menjadi residen spesialis bedah saraf di Rumah Sakit Kasih sebagi tim ahli neurosurgery.


Suara sirine ambulance terdengar dari jarak 20 meter dari Rumah sakit, ita bergegas menuju ke ruang UGD, pasien  laki-laki korban kecelakaan dengan luka yang parah.


"Dokter yang lain ngga ada sus?." Tanya ita pada suster yang sedang bersamanya.


"Semuanya sedang ada pasien dok." Jelas suster.


Ita semakin gusar, bukan karna apa-apa, ita paling lemah dalam menangani pasien kecelakaan, ibunya dahulu meninggal karna kecelakaan, dan saat itu ia sedang bersama ibunya.


Tentu melihat pasien kecelakaan membuatnya teringat pada ibu yang meninggalkannya 12 tahun yang lalu.


"Sus, bisa tolong panggil doker lainnya?." Pinta ita dengan suara yang lemas.


🌹


"Assalamualaikum." Salam yusuf dan rehan saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam para pangeran surgaku." Jawab yasmin yang sedari tadi menunggu kepulangan dua laki-lakinya itu.


Rehan menyambut uluran tangan uminya dengan mengecup telapak tangan dan pelukan hangat dari umi.


Tangan  yasmin kemudia  beralih ke tangan yusuf, mencium punggung tangan yusuf dan tak lupa kecupan di pipi yasmin.


"Rehan kenapa mas?."tanya yasmin polos.


Yusuf mengkat kedua bahunya "Ngga tau, cemburu mungkin." Mata yusuf menatap yasmin dengan tatapan jail.


🌹


Kaki rehan mulai melangkah menuju kamarnya dilantai atas, rehan baru saja duduk diatas kasurnya sembari membuka kancing lengan kemejanya dan berniat untuk mandi di jam 10 malam.


Baru punya niat ingin mandi, gawai rehan berdering tanda panggilan masuk. Dengan segera rehan mengangkat telpon.


"Wa'alaikumussalam ada apa?."


"Ada pasien di UGD dok, keadaannya parah dan di Rumah sakit sekarang hanya ada dokter baru saja." Jelas suster yang menelepon rehan.


Tanpa pikir panjang, rehan segera bergegas pergi ke rumah sakit, bagi rehan menjadi seorang dokter bukanlah hanya sebuah pekerjaan, namun baginya ini adalah tentang tanggung jawab kemanusiaan.


Dengan tergesa gesa rehan menuruni anak tangga rumahnya, melihat abi dan uminya sedang menonton tv, rehan menghampiri mereka berdua, mencium punggung tangan mereka berdua dengan tergesa-gesa.


"Rehan pamit dulu ya, mau ke Rumah sakit, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, rehan hati-hati." Ucap yasmin pada anak kesayangannya itu.


Pukul 10 malam, rehan melajukan mobil BMW miliknya menuju Rumah sakit, sampai disana rehan memarkirkan mobilnya dengan asal dan bergegas ke UGD.


1,5 jam berlalu, atas izin Allah rehan berhasil menyelamatkan pasien kecelakaan itu.


Rehan keluar dari ruang UGD, badannya benar-benar terasa lelah.


"Sus?." Panggil rehan pada suster yang tadi menelponnya.


"Iya dokter rehan?."


"Tadi katanya disini hanya ada dokter baru, lah saya kok ngga lihat ada dokter baru tadi yang bantu saya di UGD." Tanya rehan.


"Oh iya dok, itu tadi dokter ita saya tadi lihat dia ada di lobi." Jawab suster.


"Tolong panggil dia ke ruangan saya ya sus." Rehan mulai berjalan menuju ke ruangannya.


🌹


Tok tok tok.. suara pintu ruangan rehan diketuk.


"Masuk."


"Assalamu'alaikum dok, ada apa panggil saya?." Jawab ita berusaha bersikap tenang, meski hatinya sedang khawatir kena omel karna perbuatannya tadi, meninggalkan pasien.


"Dokter ita?." Tanya rehan memastikan.


Ita hanya bisa mengangguk.


"Saya mau tanya, kenapa dokter ita meninggalkan pasien sendiri, kenapa dokter tidak melakukan tindakan apapun,setidaknya kalau dokter tidak tahu,dokter bisa melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu saat menunggu saya." Rehan mulai tak bisa mengontrol nada bicaranya, ini membuat ita semakin takut.


"Mmm..aaf dok." Jawab ita pasrah, tidak mungkin juga ita curhat masalahnya kenapa ia tidak bisa menangani pasien kecelakaan dengan luka parah.


"Maaf?? Hah."


"Bagaimana bisa dokter yang tidak bisa menangani pasien kecelakaan sekarang berdiri didepan saya mendapat gelar doker?."


"Dimana tanggung jawab kamu?." Rehan menghela napas panjang, bagaimana bisa rehan berbicara dengan nada tinggi pada seorang perempuan.


Ita diam tak bergeming di depan rehan, ia tak membantah satupun ucapan rehan.


"Dokter ita, maaf kalau saya bersikap kasar pada anda."


Belum selesai rehan meminta maaf, ita sudah memotong pembicaraan rehan.


"oh ngga dok, ngga kasar sama sekali."


"Eh maksut saya, saya memang pantas dapat omelan dokter, saya benar-benar minta maaf karna sudah bersikap tidak profesional, maaf dok." Ucap ita polos, ia benar-benar menyesali perbuatannya, ita seharusnya bisa bersikap profesional dalam pekerjaan ini. Apalah gunanya ita mengusai materi dalam menangani orang kecelakaan jika saat praktik ita malah lemah.


"dokter ita, ini bukan hanya soal pekerjaan, tapi orang lain sedang membutuhkan anda, anda harus punya tanggung jawab akan hal itu."


"saya benar-benar menyesal, maafkan saya."


Rehan berdiri dari tempat duduknya, ini benar-benar membuat ita semakin takut, ia takut kalau dokter rehan akan memukulnya. Ita menutup metanya tak sanggup melihat apa yang akan terjadi.


"Ini." Ucap rehan sembari menyodorkan air mineral kepada ita, perlahan ita mulai membuka matanya dengan ragu.


"Hah?" Ucap ita refleks tak percaya.


Rehan menyodorkan air mineral yang tak kunjung diambil ita, lalu ita menerima air miner itu.


"Kalau kurang fokus jangan lupa minum air putih yang cukup." Ucap rehan sembari melangkahkan kaki keluar dari ruangannya.


Kini ita mampu bernapas lega, saat dokter tampan itu sudah keluar dari ruangannya.


"Huuuhhhhhh." ita meregankan pundaknya.


"Ya Allah, lagi marah aja ganteng banget." ucap ita setengah sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.