
Janji yang tidak dipenuhi tuhanmu pada waktunya jangan sampai membuau ragu, agar keraguan itu tidak menjadi perusak pandanganmu dan pemadam cahaya kalbumu.
Al-Hikam.
🌹
Ita tetap nekat pergi ke Rumah sakit, itupun setelah berdebat alit demgan Rehan, akhirnya Rehan mengijinkan karna Ita bersikeras kalau dirinya tidak apa-apa, hanya sekedar masuk angin.
"Pagi kiki" sapa Ita saat melihat kiki yang sudah berada di Loby rumah sakit.
"Ohh pagi dokter" sapa Kiki semangat melihat kedatangan Ita.
"Sudaj sarapan?" Tanya Ita.
Kiki tersipun malau saat Ita bertanya seperti itu kepadanya, "eumm sudah dokter."
"Bagus, lain kali jangan lupa sarapan, jangan hanya bisa menyuruh pasien menjaga kesehatan, kamu juga harus bisa jaga kesehatan" titah Ita.
"Siyap dokter" kiki memasang posisi hormat, ia kemudian mulai berjalan mengikuti Ita yang mulai berjalan menuju lift.
"Oh iya, dokter Rangga belum datang??" Tanya Ita.
"Belum dokter, sebentar lagi juga sampai, dia bilang terjebak macet."
"Ah iya, bahkan jam segini sudah macet" keluh Ita sembari berjalan. Keadaan jalanan ibukota memang padat sekali dipagi hari.
"Hari ini jam 12 siang akan ada penghargaan dokter teladan di rumah sakit ya dokter??" Tanya Kiki penasaran, maklum saja ini pertama kalinya bagi kiki.
"Iya, acaranya ngga lama kok, sekitar 30 menit, kita hanya perlu mendengarkan kepala Arga berpidato, kemudian pengumuman dokter teladan, setelah itu mendengarkan pidato dari penerima penghargaan, selesai deh." Ita menjelaskan hal itu sembari berjalan.
"Wahh, ngga sabar pingij tahu yang dapat penghargaan dojter teladan tahun ini," ujar Kiki begitu bersemangat.
Ita hanya tersenyum menanggapi ocehan Kiki yang begitu bersemangat dengan event ini, sedangkan bagi Ita sendiri, event ini hanyalah sebuah acara tahunan agar para dokter bisa tetus berpacu agar bisa lebih baik kedepannya. Acara itu tidak berarti apa-apa kalau orang tidak bisa mengabil teladan dari si penerima penghargaan.
Ita berjalan menuju ruang praktiknya dibagian neurosurgery,
"Permisi?"salam Rangga yang baru saja sampai di ruangan praktik Ita.
"Ahh dokter Rangga."
"Maaf dokter saya terlambat" Rangga minta maaf karna ia datang terlambat hari ini, padahal ia masih terbilang sangat baru di rumah sakit ini.
"Iya ngga apa-apa, lagipula hari ini kita mungkin akan sedikit lengah, jadi hari ini kita bisa sedikit santai,"
"Oh iya tadi Kiki sudah bilang tadi kalau kamu bakal telat, kayaknya kalian kalau di Rumah sering Chattan deh" goda Ita terhadap keduanya.
"Apa?? Sering? Chattan?" Ulang Rangga.
"Ah nggak dokter, nggak bener, orang dokter kiki duluan yang ngChat saya" tepis Rangga dengan cepat.
Mampush, mati gaya lah ini Kiki pas Rangga blak-blakan kalau kiki yang ngChat Rangga duluan. "Apaan sih, nggak dokter, nggaj bener, saya ngChat juga kalau butuh aja" kini kiki mulai membela diri.
"Ha? Penting apanya? Orang tanya udah makan apa belum emang penting??" Jawab Rangga.
Wah, kiki semakin salting saat Rangga bongkar Chatnya dideoan dokter Ita, "wah, ngada-ngada di anak, emng lo siapa sampe gue tanya lo udah makan apa belum ha??" Sahut Kiki ketus.
Perdebatan mereka seperti anak kecil saja, bahkan diusia mereka saat ini, mereka bisa-bisanya salah-salahan tentang siapa yang ngChat duluan,?? Itu membuat Ita jadi ketawa di pagi hari ini.
"Sudah-sudah, memangnya kalian ini umur berapa masalahin katak ginian ha??" Tanya Ita mencoba melerai mereka.
"Aah maaf dokter" keduanya kompak minta maaf.
"Sudah-sudah, duduk dulu sambil nunggu pasien ya, masih sekitar sepuluh menit lagi."ita melirik jam tangannya.
"Oh iya dojter Rangga, apa sudah makan??" Tanya Ita.
Waw, demi apa?? Dokter Ita tanya dirinya sudah makan apa belum?? Pliss kalau seperti ini, sama aja Rangga seperti di PHP sama Ita, Rangga suka sana Ita, tapi dianya malah nganggep Rangga cuma seperyi adek.
"Ah sudah dokter terimakasih" jawab Rangga.
"Kalau kalian belum sarapan, saya ada makanan di ruang kerja, kalian bisa ambil kalau kalian mau."
"Kalau tawarannya dokter Ita masih berlaku nggak untuk nanti siang??" Tanya kiki.
"Apaan sih lu, maunya gratisan" sindir Rangga pada Kiki.
"Dih, kayak lu ngga mau aja" sahut Kiki.
Lagi-lagi kelakuan mereka berdua membuat Ita ngakak, "hahah, iya-iya berlaku kapanpun kok, kalau kalian merasa antri panjang di kantin Rumah Sakit, kalian bisa makan di Ruangan Saya, tapi jangan sering-sering yaa" ujar Ita sembari terkekeh, berniat bercanda.
"Aahh.. nggak dokter, nggak akan sering kok" sahut kiki.
"Iyalah, sering juga ngga apa-apa." Jawab Ita terkekeh.
"oh iya dokter, kenapa dokter lebih memilih bedah saraf dibanding dengan spesialis lainnya??" Tanya Rangga penasaran.
"Eumm apa ya," .... "Mungkin karna, otak manusia yang dibekali Allah oleh akal pikiran adalah suatu keistimewaan bagi manusia yang diberikan Allah, dibanding makhluk Allah lainnya, akal pikiranlah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya, itu adalah suatilu keistimewaan, untuk itu, saya ingin ikut menjaga keistimewaan itu dengan ilmu yang saya peroleh" jawab Ita.
Lagi-lagi jawaban Ita mampu membuat Rangga terkesan dengan Ita, kata-katanyabselalu terdengar indah di telinga Rangga, dan begitu lembut mamou menyentuh hati Rangga.
"Tapi ada satu lagi yang membuat saya sangat tertarik masuk ke bagian neurosurgery."
"Apa dokter?" tanya Rangga dan Kiki kompak.
"Bedah saraf, satu-satunya yang saat operasi bisa duduk" cletuk Ita sembari terkekeh geli.
"Yah dokter, masih banyak yang operasinya sambil duduk" sahut Kiki.
"Padahal Operasi saraf operasi paling lama, bisa sampai 13 jam??" Ujar Rangga menyauti.
"Tinggal bagaimana.niat kita, kabahagiaan akan kita rasakan, saat ada senyuman yang bisa kita kembalikan, bukankah itu hal yang sangat membahagiakan, seperti kata iklan 'memberikan kebahagiaan adalah kebahagiaan' nah begitu juga dengan pekerjaan kita, sesulit apapun, sekeras apapun kita menjalani, pasti kita bisa ikut merasakan kebahagian saat bisa mengembalikan senyum sesorang," jelas Ita panjang lebar.
Tentu saja setiap penjelasan Ita mampu ditangkap baik oleh Kiki dan Rangga. Setiap petuah dari Ita, berhasil membuat Rangga jatuh dan lagi-lagi jaruh dalan kisah cinta yang tak mungkin.
.
Usai bercakap-cakap, kini pasien mulai berdatangan menemui Ita untuk mengetahui penyakitnya, sampai tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, kini jan sudah menunjukkan jam 12 siang, acara penghargaan itu akan segera dimulai.
Memang benar yang dikatan kepala Arga, hari ini bagian neurosurgery tidak ramai seperti biasanya, bahkan sebelum jam 12pun Ita sudah menyelesaikan para pasiennya.
"Dokter, ayo dok ke auditorium rumah sakit sekarang" ajak Kiki bersemangat ingin menjadi saksi siapa yang akan menjadi dokter teladan tahun ini.
Seperti biasa, Ita, Rangga dan kiki jalan bertiga dimana Rangga dan Kiki berjalan dibelakang Ita, ini sudah soeerti kebiasaan, padahal mereka bisa saja jalan disamping Ita, tapi mereka lebih nyaman seperti ini.
Sesampainya di auditorium, Ita mencari keberadaan seseorang, siapa lagi kalai bukan mencari keberadaan suami tercinta, namun sepertinya ia belum datang, "dojter ayo duduk sana aja" ujar Rangga mencarikan tempat duduk untuk Ita.
"Ah iya." Ita memutusakan untuk duduk terlebih dahulu, tidaknmenunggu kedatangan Rehan.
****
"Assalamualaikum, Selamat siang semua," sapa pemilik Angkasa hospital center saat membuaka acara, tak lama pidato beliau, kurang dari 10 menit, kemudian waktunya pengumiman dokter teladan tahun ini.
"Huh ngga sabar" ujar Kiki sembari bertepuk tangan sendiri, sedari tadi ia memang yang pqling bersemngat.
"Jadi, untuk dokter tauladan tahun ini, diberikan kepada...."
Mc menghentikan ucapannya agar terkesan misterius.
"Diberikan kepada....". . . . "Dokter Atma anindhita dari bagian bedah saraf."
Sontak satu auditorium riuh dengan suara gemuruh tepuk tangan menyambut dojter teladan baru, setelah tahun kemarin jatuh keoada dokter Rehan.
"Huwaahhh, dokter Ita menang uhuuuuu" sorak Kiki terdengar sangat keras.
Ita bahkan masih spechless karna ia sama sekali tidak menduga oenghargaan itu akan ia terima.
"Ini beneran?" Tanya Ita tidak percaya, sedangkan semua orang meantap ke arah Ita sembari memberikan tepukan.
"Ya bener lah dokter, selamat dokter Ita" ujar Rangga memberikan selamat.
"Selamat atas kerja keras dan dedikasi tinggi seorang dokter Atma Anindhita terhadap pekerjaannya, demgan sangat berani dokter Ita mengambil keputusan untik mengoperasi pasien dengan kasus yang belum pernah ia tangani sendiri sebelumnya, dengan dasar panggilan hati, dokter Ita berhasil menyelesaikan operasi pasien yang tak lain adalah putra dari kepla Angkasa Hospital Center, selamat sekali lagi untuk dojter Ita, silahkan ntik maju kedepan" ujar MC.
"Ini beneran??" Ita masih saja terus bertanya pada dirinya sendiri, apa ia pantas mendapatkan ini??.
Di sisi lain, Ita menagkap sosok lqki-laki yang ia cintai, ia memberikan tepuk tangan bangga keoada Ita, ia juga tersenyum lebar keoada Ita, dengan Itu, Ita menjadi lebih PD untuk maju ke depan dan menerima penghargaan tersebut.
Rehan menatap kita dengan penuh bangga kemudian ia mengangguk pasti kepada melihat rehan kita kemudian dengan percaya dirinya mulai berdiri melangkahkan kakinya menuju ke depan.
Kepala rumah sakit sendirilah yang memberikan penghargaan itu kepada Ita.
"Terimakasih pak" ujar Ita.
"Kamu memang pantas mendapatkan ini" sahut pak Arga.
Silahkan kepada dokter ita untuk memberikan pidato atas terpilihnya dirinya menjadi dokter teladan tahun ini.
" terima kasih untuk semuanya ini adalah suatu penghargaan yang tidak akan berarti apapun jika kita tidak terus memperbaiki diri sebagai seorang dokter, jika kita tidak berani mengambil keputusan terbaik untuk pasien, kita tahu itu sulit bagi kita tapi kita tidak menyerah demi kesembuhan para pasien, seperti yang kita ketahui bersama, dokter bukan hanya sebuah pekerjaan, tapi ini adalah tugas mulia, panggilan hati, kita semua tahu ini adalah suatu pekerjaan yang melelahkan, tapi akan ada kebahagiaan bisa mengembalikan senyum seseorang, ambil hikmah dari setiap even ini, yakin kita bisa terus meningkatkan skill kemampuan kita, dan terimakasih dari saya. sekian selamat siang wassalamualaikum."
Ita mengakhiri pidatonya dengan senyuman kemudian mengangkat sertifikat penghargaannya, sontak saat Ita telah mengakhiri pidatonya, gemuruh tepuk tangan terdengar keras di auditorium rumah sakit, menyambut dokter teladan baru tahun ini.
ita kembali ke tempat duduknya di sebelah kiki, "wuaaahhh... Dokter keren sekali" ucap kiki saat kita sampai di tempat duduknya, kiki begitu bangga karena setelah mengenal dokter hebat seperti dokter Ita.
"Selamat dokter Ita." Kiki memeluk Ita.
Ita tersenyun kepada Kiki, "iya, makasih ya."
"Dokter Ita selamat ya," ucapan selamat kembali didapat Ita dari Rangga.
"Iya, makasih ya dokter Rangga."
Ingin sekali rasanya rangga memeluk Ita, namun yang seperti ia ketahui, mungkin Ita kan mendorongnya saat mencoba memeluk Ita.
Jadi rangga memilih untuk tersenyum saja kepada Ita, bahkan senyum saja seperti diabaikan, senyuman rangga tidak pernah dibalas oleh Ita, Ita tidak pernah menatap mata rangga.
Terkadang rangga ingin sekali menanyakan hal tersebut. Kenapa ia tidak pernah menatap mata ranggarangga, berbicara santai kepada rangga, atau setidaknya tidak menganggap Rangga sebagai rekan kerja, Rangga ingin mengobrol santai dengan Ita.
Pandangan Ita beralih ke Rehan yang sedari tadi menatap lekat ke arah Ita, Ranggapun mulai menyadari kalau pandangan Ita sedari tadi fokus pada laki-laki yang duduk di bawah, laki-laki yang waktu itu membantu Ita dalam Operasi.
Sepertinya, Ita tidak pernah canggung dengan laki-laki itu, padahal seperti yang Rangga ketahui, Ita selalu menjaga jarak dengan laki-laki. Pasti ada sesutu diantara Ita dan laki-laki itu. Tak ingin hatinya terlalu panas karna terbakar api cemburu, Rangga memutuskan untuk jeluar terlebuh dahulu dari auditorium, ia memilih menenangkan diri.
Saat Rangga keluar dari Auditorium, dan acara siang ini telah selelsai, Rehan segera menghampiri Ita, Rehan tersenyum lebar, tak ada yang Rehan ucapkan, ia hanya tersenyum kemualdian berlalu meninggalkan Ita. Ita berharap ada hal lain yang akan dikatakan oleh Rehan, tapi apa?? Ia hanya senyum gitu aja??. "Kenapa dia?" Gumam Ita.
"Apa dokter?" Sahut Kiki yang samar-samar mendengar Ita bicara.
"Ah nggak, nggak apa-apa" ita tersenyum, "kita lanjut periksa pasien rawat jalan" titah Ita yang mulai berjalan.
"Oh iya, dokter Rangga kemana ya?" Tanya Ita kepada kiinyabg berjalan bersamanya.
"Entah, tadi sepertinya keliar terlebih dahulu" jawab Kiki.
****
"Aaakhhhhhhh" rangga mengusap kasar wajahnya, ia juga menjambak rambut bagian depannya, ia seperti orang frustasi.
"Aaakhh.. kenapa ia tidak pernah menganggapku" ujar Rangga frustasi menepuk dadanya. Di lorong Rumah Sakit yang sepi, Rangga meluapkan perasaannya, ia punya perasaan kepada Ita, tapi ita bahkan tidak pernah menganggap Rangga, ia hanya menganggap sebagai rrkan kerjanya
Mungkin Rangga tidak cukup berani untuk mengungkapkan perasaannya, tapi perlakuan Rangga selama ini kepada Ita. Apa tidak bisa membuka mata Ita kalau ia menyukai Ita??.
Rangga mengusap wajahnya saat teleponnya berbunyi, ada panggilan masuk dari dokter kiki, Rangga terdim sepentar, ia mencoba mengatuh napas dan nada bicaranya.
"Iya?."
"Dokter Rangga dimana?, Kita harus memeriksa kondisi pasien rawat jalan" ujar kiki.
Rangga menghela napas panjang, "iya, saya kesana sekarang." Suara Rangga terdengar lemah, Kiki menyadari akan hal itu, "kenapa dia?" Guman kiki saat menutup telponnya.
"Gimana ki?" Tanya Ita.
"Sebentar lagi kesini dokter."
"Kalau begitu, saya ke pasien ICU, kalian teruskan periksa pasien rawat jalan" titah Ita.
"Ah iya dokter."
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya," Ita kemudian ergi meninggalkan kiki.
Dan tak lama kemudian, Rangga datang menemui kiki. "Kalau ada rasa, lqbgsung aja ungkapin, dokter Ita bukan seorang yang akan merasa canggung kalau ada laki-laki yang mengungkapkan perasaanya" Ujar kiki saat melihat Rangga dengan wajah kusut, matanya merah padam seperti habis menangis.
Rangga terdiam, melihat disekitarnya, dan hanya ada dia dan pasien, apa kiki berbicara dengannya?? Apa dengan pasien yang sedang ia periksa?? apa kiki tau kalau ia menyukai Ita?? Kenapa ucapannya seperti itu.