You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
20



Iman adalah, kau memilih kejujuran meski membahayakanmu daripada kebohongan yang yang menguntungkanmu, kau tak berkata lebih banyak daripada yang kau lakukan, kau tak berbohong dalam menyampaikan ucapan orang lain


Ali bin Abi Thalib ( Al Hikam Ali bin Abi Thalib, 106 )


🌹


Ceklekkk....


"assalamu'alaikum, permisi" salam ita saat memasuki ruangan.


Terlihat rona sumringah dari wajah pak bagas saat melihat Ita masuk, " wa'alaikumussalam, senang melihat dokter kembali, dokter sudah sehat?."


"Alhamdulillah, saya baik-baik saja, kalau bapak sendiri bagaimana keadaanya?" Tanya Ita.


"Saya baik-baik saja dokter,untuk itu saya ingin segera keluar dari rumah sakit."


Ita tersenyum mendengar pernyataan dari pak bagas,pernyataan macam itu sepertinya sudah setiap hari ita dengar dari pasiennya, "secepatnya kalau bapak sudah benar-benar pulih" jawab Ita.


"Oh iya dokter, terimaksih sudah menolong saya, mungkin malam itu saya sudah mati, tapi saya juga minta maaf karna saya, dokter sampai terluka" ucap pak bagas dengan tulus berterimakasih.


"Ah iya pak, ngga apa-apa,"


"Bapak, maaf sebelumnya, tapi kenapa ada orang yang mau berniat membunuh bapak?" Tanya Ita mulai menanyakan apa yang mengganggu dipikirannya.


Pak bagas tersenyum, ia merasa baru kali ini ada yang memperhatikannya,"mungkin setelah ini, saya akan sering mengalami penyerangan macam itu."


Ita menatap pak bagas dengan pandangan bingung,


"kenapa begitu pak?" Tanya Ita semakin penasaran.


"Itu karna dosa dimasalalu saya" jawab pak bagas.


Kini Ita terdiam, tak mungkin juga Ita bertanya dosa apa, rasanya akan terkesan mencampuri urusan pak bagas.


Ita barusaja ingin menanyakan hubungan oak bagas dengan ayahnya, namun suara telpon Ita sudah berbunyi dan memaksa Ita untik segera keluar dari Ruangan.


"Assalamualaikum kak?."


"Ita lagi ada pasien?" Tanya Rehan.


"Ngga kak, ada apa?."


"Ke Ruangan kakak sebentar ya,"mendengar Itu,dengan segwra Ita berjalan ke Ruangan Rehan.


Tok tok tok...


"assalamualaikum," Ita langsung masuk ke Ruangan Rehan, padahal biasanya harus menunggu sampai Rehan bilang masuk, tapi untuk Ita, aturan seperti itu tidak berlaku.


"Wa'alaikumussalam." Ita segera mengmabil posisi duduknya.


"Ada apa kak?, Udah kangen ya sama Ita?" Goda Ita dengan senyum jahilnya itu.


Rehan mengernyitkan dahi, belum sempat Rehan menjawab, Ita sudah menggodanya lagi.


"Atau... udah mulai Cinta ya sama Ita?."


Kini rehan terkekeh geli dengan istri centilnya ini,


"belajar dari mana?" Tanya Rehan.


"Belajar apa?" Tanya Ita bingung.


"Belajar jadi istri centil gitu."


Ita kini tersenyum lebar, "ngga papa centil, kan sama cowonya sendiri" ucap ita dengan telapak tangan menangkuo diwajahnya bak chibi-chibi.


Rehan geleng-geleng kepala melihat Ita yang sangat menggemaskan.


"Ita?," kini Rehan mengubah nada biacaranya menjadi serius.


Saat seperti ini, Ita tidak bisa bercanda, sepertinya ada suatu hal yang ingin rehan katakan.


"Ya kak?."


"Kakak sebenarnya ingin sekali menanyakan hal ini, dan baru kali ini kakak sempat menanyakannya,"


"Apa Ita punya trauma atau masalalu buruk tentang kecelakaan?."


Pertanyaan Rehan sontak membuat jantung Ita tertampar, tentu semenjak ita menikah dengan Rehan, ia tidak pernah menceritakan masalalunya dengan Rehan.


"Maksut kakak?" Tanya Ita sedikit gugup.


"Ita, kakak tau kamu itu dokter yang berkompeten, tapi setiap ada pasien kecelakaan,kakak perhatikan kamu merasa sedikit kewalahn menangani, kakak rasa kamu perlu menguatkan diri kamu dulu sebelum menanganinya, jadi kenapa seperti itu?" Tanya Rehan menyelidik.


kini ita tak bisa berbohong,mungkin ini waktunya Ita menceritakan masalalu pahitnya, lagipula untuk apa Ita harus menyembunyikan masalah ini ke Rehan.


Ita mengirup napas panjabg sebelum bercerita tantang masalalu pahitnya itu.


"Jadi, 12 tahun silam, Ita pergi bersama Ibu, Ibu yang menyetir mobil, waktu itu, Ita sangat bahagia di hari wisuda Ita, ibu menghabiskan banyak waktu dengan Ita, karna sebelum itu, ibu sangatlah sibuk debgan pekerjaannya, Ita pikir itu akan menjadi hari terbaik bagi Ita," Ita menghela napas dan meneruskan ceritanya.


"Tapi Ita salah, itu bukan hari terbaik, itu hari hari terburuk bagi Ita,mobil yang kami tumoangi mengalami kecelakaan, dan Ibu tidak bisa diselamatkan" ucap Ita yang tanoa ia sadari, air mata mulai lolos dari pelupuk mata Ita.


Rehan bangkit dari duduknya, ia kini bersimpuh memeluk tubuh Ita yang muali beegetar karna tangisnya. Pelukan teduh Rehan selalu berhasil menengkan suasana hati Ita.


Ita teringat sesuatu, ia tidak boleh menghentikan ceritanya sampai sini saja, ita kemudian menghapus air matanya dengan kasar, dan mulai melanjutkan ceritanya dideoan Rehan yang sedang bersimpuh didahadapannya.


"Ibu menyetir mobil dengan baik,kecepatannya waktu itupun tidaklah kencang, karna kita memang sedang menikmati kebersaman kita, suasana jalananpun lengah, namun dari belakang, tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kencang, pengemudi mobil itu seakan sedang mabuk saat mengendarainya, karna mobil itu terus-terusan mendekati mobil ibu, terus memepet sampai akhirnya ibu kehilangan kendalinya dan mobil menabrak bahu jalan,"


"Ita pikir itu bukanlah kecelakaan biasa, Ita lihat sendiri bagaimana usaha mobil itu untuk memept mobil ibu sampai akhirnya mobil ibu menabrak bahu jalan, setelah mobil ibu menabark, Ita masih bisa lihat mobil itu yang jalannya normal tidak ugal-ugalan lagi,"


"Tapi Ita masih kecil untuk menjelaskan kecelakaan itu, semua yang ita katakan tidak ada yang percaya, sampai akhirnya kasus itu ditutup dengan keputusan itu hanyalah kecelakaan tunggal, padahal jelas-jelas Ita lihat sendiri mobil itu yang berusaha mencelakai kami" jelas Ita disela tangisnya.


Rehan memeluk Ita, mengelus lembut kepala istrinya, Rehan menyesal karna tak pernah bertanya hal ini dari dulu, di pertemuan pertama mereka di UGD pun saat Ita tidak bisa menangani sendiri pasien kecelakaan,


Rehan langsung memarahi Ita tanpa ingin tau penyebab Ita seperti itu, Rehan tidak tau kalau ita punya masalalu yang memilukan.


"Maafkan kakak ya" ucap Rehan tanpa melepaskan pelukannya.


( . . . ) tak ada jawaban dari Ita, ia masih menagis tergugu di pelukan Rehan.


"Kamu melupakan sesuatu ta" ucap Rehan menghapus air mata Ita.


Ita menatap Rehan dengan tatapan penuh tanya, "apa kak?."


"Kalau kejadian itu 12 tahun silam, kakak rasa ada rekaman CCTV di jalan itu, kamu jangan sedih ya, kakak akan bantu kamu, kita cari tahu sama-sama" Ucap Rehan dengan nada optimis.


Ita tersenyum bahagia mendengar kata itu akhirnya keluar dari Rehan, kata yang ingin sekali Ita dengar, kini bukan ia sendiri yang berjalan mebguak semua ini, kini ita punya Rehan yang selalu menemaninya,


"Udah jangan nangis lagi," rehan menghapus air mata Ita.


"Kita mulai hari ini bagaimana? Kita langsung mwncari informasi cctv itu" ajak Rehan.


Ita mengangguk pasti menjawab ajakan Rehan.


"Oh iya ta, mengenai masalah abi, kakak berniat akan menyewa detektif swasta untuk mengusut kasus ini, kakak ingin pelakunya cepat terungkap" ucap Rehan beralih topik.


Tidak, ita tidak ingin rehan tau masalah ini, Ita tidak ingin Rehan menjebloskan ayahnya di penjara, meskipun Ita tau ayahnya salah, tapi Ita tetaplah ita, seorang anak yang ingin melindungi ayah yang selama ini juga selalu melindunginya.


Ita mulai menggenggam erat telapak Rehan, "kak, apa sebaiknya kita tutup saja masalah abi" Ucap Ita berharap Rehan menuruti apa kata ita.


"Kenapa? Kita hampir sampai ta, tidak mungkin kakak berhenti di tengah jalan" Ucap Rehan eeperti tidak suka dengan apa yang barusan ita katakan.


"Ketamine yang ada di obat abi, itu dosisnya rendah kaka, penggunaan dosis rendah menyebabkan halusinasi, sedangkan abi meninggal?," Ita tau pernyataannya ini membingungkan bagi Rehan,dari kemarin Ita selalu bersemangat menguak kasus ini, tapi kali ini? Ita justru ingin segera meluoakan kasus ini.


"maafkan kakak ita,tapi kali ini kakak tidak bisa menurutimu,kalau kamu memang tidak ingin meneruskan pencarian ini, kakak terima,tapi jangan suruh kakak menghentikan kasusu ini,"


"Bagaimana bisa kakak membiarkan pembunuh abi masuh berkeliaran? Ini bukan soal ikhlas atau tidak, tapi seorang penjahat memang seharusnya mendapat ganjaran atas apa yang ia lakukan" ucap Rehan yang kemudian pergi meninggalkan Ita.


Tangis Ita kembali pecah,apa yang ia katakan pada Rehan,sudah membuat hatinya terluka. Tapi Ita todak punya pilihan lain, Ita tidak bisa memilih diantara keduanya.


🌹


Tugas Ita di Rumah sakit telah selesai,kini ita bersiap untuk pulang, sebelum pulang, Ita menelpon Rehan dulu mengabari kalau ia akan pulang sekarang, "Assalamualaikum kak?" Salam ita.


"Wa'alaikumussalam,"suara Rwhan terdengar dingin dan Kaku, persis seperti saat Ita belum menjadi istri Rehan.


"Ita mau pulang sekarang" ucap Ita mengabari.


"Hmmm"sahut Rehan.


Kata 'hm' sudah cukup menggores luka dihati Ita,tidak biasanya dia menajawab seperti itu, Rwhan biasanya akan memberitahu juga kapan ia pulang, tapi kini hanya 'hm', apa Rehan masih marah dengan kejadian tadi siang.


"Eumm, kak Rehan kapan pulang" tanya Ita ragu.


"Belum tau" jawab Rehan dingin, perkataan Rehan mampu membekukan selauruh tubuh Ita.


"Yasudah, ita pulang sekarang," belum sempat Ita mengucapkan salam, Rehan sudah memutus sambungan telponnya, sepertinya Rehan benar-benar marah dengan Ita.


Lagipula siapa yang tidak sakit hati, saat sesuatu yang memang harusnya dikuak namun orang yabg dahulu sangat antusias membantu, kini justru berlagak sperti tak ingin tau lagi, Ita sadar perlakuannya tadi telah menyakiti hati Rehan.


Ita melangkahkan kaki keluar dari dari rumah sakit dengan langkah berat,ini hari yang berat untuk ita.


🌹


"Assalamualaikum ummik?"


"Wa'alaikumussalam Ita, sudah pulang nak?" Sambut Yasmin membukakan pintu.


"Rehan ngga bareng sama kamu ta?," pertanyaan Yasmin berhasil menampar Ita.


"Ngga ummi, masih banyak pasien" jawab Ita dengan mencoba tersenyum.


"Ahh yasudah istirahat ya sayang" ucap Yasmin merangkul pundak Ita.


Ita hanya menimpali ucapan umminya dengan anggukan dan senyuman.


-


Ita melempar tasnya dengan kasar, merebahkan tubuhnya di kasur ternyaman, seperti biasanya, Ita akan menunggu Rehan sampai pulang, ia akan terjaga sampai Rehan datang.


Tapi hari ini begitu melelahakn bagi ita sampai tanpa Ita sadari ia tertidur,dan bangun kembali di jam 2 malam, Ita memandang sisinya yang masih kosong tanpa Rehan, rasa kecewa menyelimuti hati Ita, jam segini Rehan belum juga pulang.


Apa Rehan sengaja tidak pulang malam ini? Apa karna memang Rehan menghindari Ita? Apa segitu marahnya Rehan dengan Ita?.


Ita turun dari ranjangnya, ia berniat ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan segera melaksanakan sholat malamnya.


Setelah itu, Ita meraih alquran kecilnya, membacanya sampai tak terasa sudah jam 3 pagi, namun Rehan belum juga pulang.


Sekarang bukan lagi perasaan takut tentang Rwhan marah kepadanya atau tidak, tapi kini perasaan itu beribah menjadi perasaan cemas akan sesuatu terjadi pada Rehan,


Ita segera meraih pinselnya,mencari kontak Rehan yang berada di paling sering dihubungi.


Panggilan dari Ita tidak diangkat oleh Rehan, berkali-kaki Ita mencoba menghubungi Rehan, namun masih saja nihil. Ita tidak bisa cuma mondar-mandir dengan perasaan cemas yang tak berujung.


Ita mengambil kardigan panjangnya, dijam 3 dini hari, ita akan menyuaul Rehan di Rumah Sakit.


Ita takut kejadian pengroyokan itu terjadi kembali, dengan kecepatan tinggi Ita membelah jalan ibu kota dini hari yang cukup lengah, sampai di Rumah sakit, ita segera berlari ke Ruangan Rehan, benar saja, tidak ada Rehan disana, kini kecemasan Ita semakin menjadi-jadi.


Ita bertanya kepada perawat laki-laki yang biasa bersama Rehan,


"permisi pak, dokter Rehan kemana ya?" Tanya ita cemas.


"Dokter Rehan, tidak ada jaga malam ini, dari tadi jam 12 malam sudah pulang" jelas perawat itu.


jantunng Ita seakan mau loncat mendengar kalau Rehan sudah pulang dari tadi, lalu kemana dia? Ita harus mencari Rehan kemana?.


Ita benar-benar takut ayahnya akan melakukan hal buruk lagi kepada Rehan.


Ita masih menggigit jari cemas di loby Rumah sakit, ia tak tau harus kemana, sampai Ita teringat dengan Hammam, seorang selalu bersama Rehan, ya Ita lansung mencari kontak hammam dan menghubunginya


Lama sekali tidak diangkat oleh hammam, Ita semakin cemas,


"assalamualaikun ta?." Sahutan Itu langsung membuat Ita sedikit bernapas lega.


"wa'alaikumusslam dokter hammam, apa dokter lihat kak Rehan?" Tanya Ita cemas.


"Saya sudah ada di Rumah Ta, jadi ngga tau Rehan dimana, tapi tadi sebelum oulang dia bilang mau ke jalan cempaka" jawab Hammam.


(. . . ) telapak tangan ita semakin berkeringat dingin, saat hammam juga tidak mengetahui keberadaan Rehan.


"Memangnya ada apa ta? Rehan baik-baik aja kan" tanya Hamam yang juga iku cemas.


"Ita?."


"Ah iya dokter, doakan saja semoga kak Rehan baik-baik saja" ucap Ita sebelum menutup sambungan telpon.


Jalan cempaka? Itukan jalan kecelakaan ibu dulu "ada apa Kak Rehan kesana?"


Tanpa membuang waktu,ita segera melajukan kembali mobilnya, udara dingin jam 3 dini hari cukup menusuk tulang, tapi Ita harus melewati ini semua.


Ita masih saja tidak bisa bersikap tenang saat mengendarai mobilnya, bagaimana bisa tenang saat suaminya belum juga pulang, tak bisa dibungi, dan saat ada orang yang ingin mencelakakan dia.