
...Kalaupun kamu mempelajari ilmu sampai seratus tahun dan mengumpulkan seribu kitab, maka hal itu tidak akan menjadikanmu terlimpahkan Rahmat Allah kecuali dengan mengamalkan ilmu....
...Imam Ghazali. Ayyuhal Walad, 4...
...🌹...
"kamu dimana?" Tanya Ita sembari masuk ke dlm mobil.
"Di Rumah Ummi."
"Ah di rumah ummi, yaudah Ita kesana sekarang, Ita kangen sama ummi" sahut Ita yang kemudian mematikan sambungan telpon setelah salam.
Ita melajukan mobilnya menuju rumah Yasmin.
***
"Ita??" Tanya Yasmin pada Rehan.
"Iya ummi, bentar lagi kesini."
Yasmin hanya mengangguk menimpali kabar Ita akan kemari.
"Ummi" Panggil Rehan pada Yasmin yang sedang sibuk menatapnya makan.
"Iya?."
"Sebenarnya Rehan mau kesini ada yang mau Rehan kasih tau."
"Apa tuh?" Yasmin mulai menatap Rehan dengan tatapan serius.
"Jadi bentar lagi, Ummi bakal punya cucu" ucap Rehan semangat dengan senyum yang semakin melebar.
"Wuuuahhh... Alhamdulillah wasyukurillah..." Ucap Yasmin penuh bersyukur, Yasmin terlihat sangat bersemangat dengan kabar baik dari Rehan.
"Alhamdulillah... Ummi seneng banget dengernya han" Yasmin mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh.
Tentu saja Rehan yang melihat langsung mengusap pipi mulus umminya, "lah.. seneng kok nangis sih" ujar Rehan.
Yasmin tersenyum, bahkan kali ini Rehan tak bisa membedakan umminya sedang senyum atau nangis.
"Ummi seneng banget han, sampe nangis gini" ujar Yasmin.
Yasmin bangkit dari duduknya menuju sebelah Rehan "Utututuutu selamat ya sayang" Yasmin memeluk Rehan.
"Makasih ummi, minta doanya ya biar Ita sama debay sehat terus."
"Pasti-pasti, ummi pasti dan selalu doakan kalian." Yasmin menepuk-nepuk punggung Rehan.
"Assalamualaikum" suara melengking dari Ita terdengar saat di ambang pintu depan Rumah.
Ita langsung saja masuk tanpa dipersilahkan si penghuni rumah, Ita justru langsung saja masuk dan mencari keberadaan Rehan dan ummi yang biasanya ada di dapur.
Yasmin langsung menyambut kedatangan Ita saat ia ia mendengar suara salam dari Ita, "Wa'alaikumussalam tata?."
Yasmin menyambut Ita dengan pekukan erat. "Gimana kabar kamu??" Tanya Yasmin sembari memeluk Ita.
"Baik ummi alhamdulillah."
Yasmin tak hentinya tersenyum, Ia kemudian mengurai pelukannya dari Ita dan mempersilahkan Ita duduk di samping Rehan.
"Mau makan apa sayang?" Tanya Yasmin.
"Ah nggak usah ummi."
"Eh eh.. nggak boleh nolak, kamu harus banyak makan sekarang, janin di perut kamu juga perlu makan."
"Ha??" Gumam Ita keget saat umminya menyebut bayi di perutnya, Ita melirik ke arah Rehan. Dan Rehan mengangguk membalas lirikan Ita, pertanda Rehan telah memberitahu soal kehamilannya.
Yasmin mengambilkan nasi dan lauk untuk yasmin, "ummi nggak usah."
Ita menahan tangan Yasmin.
"Nggak, pokoknya kamu harus makan."
"Iya maksutnya ummi ngga usah ngambilin buat ita, biar Ita ambil sendiri ya." Ita mencoba mengambil alih piring yang ada di tangan Yasmin.
"Eh.. nggak-nggak, biar ummi akan yang ambilin."
Mau gimana lagi kalau ummi sudah keukeh seperti itu, jadi Ita hanya menurut saja dengan umminya.
"Euumm.. ummi masakin ikan tawar kesukaan kamu." Yasmin mengambilkan ikan bendeng untuk ita dan juga beberapa lauk lainnya.
"Huuuekkk..." Ita kembali mual saat Yasmin menyodorkan piring kehadapan Ita, entah kenapa Ita merasa mual dan ingin mutah saat mencium bau ikan bandeng yang selalu jadi favoritnya.
"Hueekkk.." Ita menutup mulutnya, yasmin segera menjauhkan piring yang berisi makanan dari Ita.
"Aduuh maaf ummi, maaf" ucap Ita tidak enak.
"Ngga apa-apa sayang, ummi ngerti, kamu mungkin lebih sensitif sama bau-bau yang menyengat."
"Ta?? Kenapa? Mual lagi?."
"Nggak, nggak apa-apa kok kak."
"Tata tadi pagi udah sarapan??" Tanya Yasmin memastikan pola makan Ita.
"Belum."
"Hei..., Rehan.! Gimana bisa kamu biarin istri kamu telat sarapan" dan Ya, kali ini Rehan yang dapat semprot dari umminya.
"Ummi kenapa marahin ka Rehan."
"Maaf umki, soalnya baru tau kehamilannya juga tadi pagi" jelas Rehan menyesal.
"Memangnya kalian ini sarapan kalau Ita hamil saja" potong Yasmin.
"Sudah lah ummi, lagipula Ita juga ngga kenapa-napa" ucap Ita dengan suara lemas, badannya seperti tak berdaya lagi.
Yasmin menghembuskan napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Yasudah Ita, kamu mau makan apa?? Ummi ganti lauknya."
"Nggak usah ummi, Ita nggak nafsu makan" ucap Ita dengan nada lemas, akhir-akhir ini ia memang tidak nafsu makan, bahkan mencium bau makanan saja sudah membuat dirinya pusing setengah mati dan ingin mutah.
"Ta.. jangan gitu dong, kamu makan ya." Rehan kini mengambilkan beberapa sayuran, kini ia tidak mengambilkan ikan untuk Ita.
Ita terdiam saja dan Rehan sudah menyiapkan makanan untuk Ita, Rehan menyodorkan sendok ingin menyuapi Ita.
Namun Ita geleng-geleng kepala, ia benar-benar tidak nafsu makan, bahkan sedari pagi ia juga belum minum, bibirnya bahkan sampai terlihat pucat.
"Ta... Makan, demi anak kita" titah Rehan lembut dengan posisi tangan yang masih memegang sendok ingin menyuapi Ita.
Mendengar kata 'anak kita' akhirnya Ita luluh dibuatnya, Ita mau membuka mulutnya, dengan penuh kasih sayang, Rehan mulai menyuapi Ita.
Ita mengunyah satu suapan nasi dengan lama sekali, rasanya meskipun sudah sangat lembut Ita mengunyah, tetap saja rasanya tidak bisa melewati kerongkongan Ita.
Ita memaksakan untuk menelan makanan di mulutnya, dan Al-hasil, "hueekkkk.." Ita memutahkan makanan sudah bercampur air ke paha Rehan.
"Hueekkk syoorrr... Uhuk.. uhukk."
Ita membulatkan matanya lebar saat memutahkan makanannya di atas paha Rehan, segera Ita ingin mengelap, namun keburu Ita mual lagi "hueekkk.."
"Ya Allah ta.. kamu kenapa, minum dulu" Rehan memberikan air putih kepada Ita, ia membantu Ita untuk minum.
Dan lagi, baru juga Ita meminum beberapa teguk, mual kembali dirasakan Ita, Ia kembali mengeluarkan apa yang baru saja ia minum. Dan payahnya lagi, Ita memuntahi Rehan lagi.
Terlihat dengan jelas wajah kekhawatiran Rehan dan juga Yasmin, mereka khawatir atas kehamilan Ita, sepertinya Ita tidak ingin makan apapun, dan tentu itu sangat buruk untuk kehamilannya.
"Kak, Ita bersihin celana kamu dulu ya." Ita hendak berdiri dan ingin pergi ke kamar mandi mengambilkan Rehan air juga kain bersih.
"Ngga usah." Rehan menahan tangan Ita, Rehan mendudukkan kembali Ita.
"Ta... Jangan gini, kakak jadi ngga tega lihat kamu" selama mengenal Ita, Rehan tidak pernah melihat Ita tidak selera makan, ia selalu bersemangat saat makan, apapun itu lauknya, walaupun kalau itu lauk yang ia sukai.
Tapi kini, bahkan air putihpun tidak bisa dengan mulus melewati kerongkongan Ita. Itu yang membuat Rehan sedih.
Rehan mengusap sebulir air mata yang berhasil menetes dari pelupuknya.
"Kak.. jangan gitu dong, Ita juga pingin banget makan, tapi Ita ngga bisa, ummi maafin ita... hiks.. hikss.." kini Ita justru ketularan dengan Rehan yang mellow.
"Astaghfirullah." Yasmin harus dihadapkan dengan dua anak yang sama-sama mellow.
Rehan mungkin sangat sedih dengan keadaan Ita, namun pasti Ita juga sangat tertekan dengan keadaannya, ia harus bisa menjaga kandungannya agar tetap mendapat nutrisi, namun badannya menolak untuk dimasuki apapun.
"Sudah-sudah, Rehan.. kamu jangan mellow kayak gitu, istri kamu sedang butuh dukungan dari kamu supaya segera bisa melewati masa ngidamnya."
"Ummi, biasanya Rehan kalau nonton Film, ibu hamil yang ngidam pingin makan sesuatu, tapi kenapa ini tidak ingin makan sesuatu apapun.." suara Rehan terdengar sedih.
"Tata bilang sama kakak, apapun makanan yang ingin tata makan, bilang sama kakak, sekarang juga aku carikan" pinta Rehan agar Ita mebgatakan sesuatu yang ingin dia makan.
Rapi Ita memang tidak inginmakan apapun, mencium bau makanan justru membuat Ita semakin pusing dan mual.
"Ita.. bagimanapun juga, kamu harus makan, perut kamu tidak boleh kosong ya sayang" ucap Yasmin, meskipun yasmin tau ini susah dilakukan Ita, namun itu sangat perlu untuk kesehatan Ita dan kandungannya.
Ia meraih piring di depan, segera ditahan Rehan. Namun Ita menggeleng, ia ingin memakannya sendiri, siapa tau ita bisa menelannya sedikit demi sedikit.
Satu suapan mulai ita masukkan ke mulutnya, ita mulia mengunyah sampai lebut makanan di mulutnya, dengan sekuat tenaga ita mencoba menelannya.
Berhasil, naum selang beberapa detik, Ita hampir memuntahkannya, Ita segera menutup mulutnya, dan mencoba menahan agar makanan tidak keluar. Meski sangat menyiksa, ia harus makan.
Berhasil satu suapan, ita mengulang lagi satu suapan dengan cara yang sama, saat makanan ditolak perutnya, dan ingin keluar, ita menutup mulutnya rapat dan menelannya lagi, makanan tidak boleh keluar.
Begitu miris Rehan melihat kedaan istrinya, ia bahkan tidak bisa menikmati makanan.
Rehan tak tega melihat keadaan Ita, dan lagi, sebulir demi sebulir air mata
Rehan mulai menetes, namun ia seka segera agar Ita yang tengah berjuang tidak melihat air mata Rehan.
Terserah dengan apa yang orang bilang, Rehan tetaplah laki-laki berhati lembut yang tidak bisa melihat wanitanya sakit atau kesulitan. Kalau saja rehan bisa membagi kesulitannya, biarlah Rehan saja yang merasakan.
Akhirnya selesai juga, Ita berhasil makan meski hanya 7 suapan, ia tidak bisa memakannya lagi. Dan Rehan juga tidak bisa memaksa Ita untuk menghabiskannya.
Rehan kemudian membantu Ita untuk minum. "Tata istirahat disini dulu ya" titah yasmin.
"Iya Ita istirat disini dulu aja." Rehan kemudian memapak Ita ntuk naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Rehan menidurkan Ita, tak lupa Rehan melepaskan jilbab Ita agar ia bisa nyaman beristirahat.
setelah itu Rehan berniat pergi untuk membersihkan celananya.
Baru saja Rehan akan pergi, namun tangan Rehan ditangan oleh Ita.
"Mau kemana kaa" panggil Ita lemah, pandangan Ita juga sedikit membuka matanya.
"Kamu istirahat saja, kakak mau bersih-bersih sebentar." Rehan membelai rambut Ita.
Mendengar jawaban Rehan, Ita mulai melepaskan genggaman tangannya dan mulai mentup matanya, kali ini Ita butuh istirahat setelah tiga jam berdiri sewaktu operasi.
🌹
Rehan selelsai mengganti celananya dengan sarung, karna Rehan sudah terbiasa mengenakan sarung dan ia nyaman dengan itu.
"Han sini han." Yasmin yang sedang duduk di ruang makan, memanggil Rehan untuk duduk disebelahnya.
"Iya ummi?" Tanya Rehan saat ia sudah duduk diseberang Yasmin.
"Gini, ummi minta kamu sama Ita tinggal disini dulu ya, paling tidak sampai Ita melewati masa ngidamnya, ummi ngga tega lihat Ita seperti itu."
"Rehan juga berpikir kayak ummi, Rehan pikir kalau Ita ada disini, minimal ummi bisa bantu kasih tau apa aja yang baik untuk Ita, ini kan kehamilan pertama jadi masih banyak yang belum diketahui" ujar Rehan.
***
Setelah melakukan sholat isya berjamaah, yasmin kemudian menyiapkan makan malam bersama dengan bi heni.
" ita bantuin masak ya ummi." ita langsung turun ke dapur untukmu memasak makan malam. Namun segera yasmine melarang ita, yasmin tidak ingin kita kelelahan atau kembali mual muntah karena mencium bau dapur.
" hai gak usah ita duduk aja nunggu makanannya siap" titah yasmin.
Kita pun menurut perkataan yasmin,
Ia hanya bisa duduk tidak bisa membantu apa-apa selain melihat turunnya yasmin dan bi heni memasak
Setelah semua makan malam siap, yasmin menyiapkan semua makanan di meja makan.
"rehan ada dimana ta?."
"masih di kamar umi lagi nyelesaiin baca jurnal kesehatan" jawab ita.
"Biar ita yang panggil ya ummi, ita ke atas dulu." Ita hendak ke atas memanggil rehan, namun lagi-lagi dengan segera yasmin melarang ita.
"Eit ngga usah, kamu jangan capek-capek ya, biar ummi panggil pasti denger kok dia." Yasmin tersenyum.
"Reehhaaann!!! Turun nak makan malam udah jadi."
Benar saja, baru juga satu panggilan, Rehan sudah tampak keluar dari persemediannya.
"Wahh... Huumm baunya harum bangaet nih pasti enak lah" Rehan segera duduk di sebelah Ita.
"Ini ummi ngga goreng ikan tawar,karna tadi siang ummi perhatikan tata kayaknya mual dan pingin muntah karna bau ikan tawar deh,"
"Jadi ini, bi heni sama ummi masaknya yang baunya nggak terlalu menyengat."
"Makasih ya ummi" ucap Ita, ia sangat bersyukur berada ditengah-tengah keluarga yang menyayanginya, mereka juga sangat bersemangat dengan kehamilan Ita.
"Ita ambilin kak" Ita hendak mengambil centong yang ada di tangan Rehan, namun segera Rehan menolak.
"No no, kali ini biar kakak yang ambilin."
"Kakak juga bakal suapin kamu, sampai kamu selesai makan, baru kakak yang makan" ujar Rehan.
"Kaaaakkk... Ngga usah gitu laaah." Rehan merasa tidak enak kalau dilayani oleh suami, apalagi ini di depan ummi.
"Ngga usah sungkan sama ummi" clethuk yasmin yang bisa membaca raut sungkan dari Ita.
Rehan tersentak saat Ummi bicara seperti itu, umminya ini benar-banar ajaib, macam bisa membaca pikiran Ita saja.
Seperti tadi siang, Ita juga susah sekali menelan makanan, perlu waktu yang lama agar Ita menelan makanannya.
Ia juga ingin sekali memuntahkan kembali makanannya, namun ia harus memaksakan makanan itu untuk masuk ke tubuhnya.
"Sabar ya sayang, sesikit lagi" ujar Rehan mencoba memberi semangat kepada Ita.
Ita mengangguk, ia juga harus makan untuk kesehatan janinnya, banyak orang yang telah lama menantikan kehadiran nya.
Setelah berhasil makan beberapa suapan, Ita menghentikan makannya. Ia tak sanggup jika harus menelan lagi.
Kemudian Rehan membantu Ita untuk minum susu khusus ibu hamil yang tadi siang Rehan beli.
Ita kembali harus memaksakan dirinya untuk meminum satu gelas susu. Yang terasa enek bagi ita. Namun lagi-lagi, Ita harus menahannya demi si calon debay, ia mengingat betapa banyak cinta bahkan kasih sayang orang-orang yang mereka curahkan bahkan sebelum anak ini lahir.
🌹
Usai makan malam, Ita berbaring di kasur ternyaman sembari menatap langit-langit. "Kalau anak kita lahir kita kasih nama apa ya kak?" Tanya Ita mulai berimajinasi.
Rehan yang sedang melanjutkan bacaan jurnal kesehatan berhenti Saat mendengar pertanyaan dari Ita, itu adalah hal yang dari dulu ingin sekali Rehan diskusikan dengan Ita.
Rehan mulai bangkit dari duduknya dan ikut berbaring disebelah ita, mereka menatap langit-langit atap.
"Gimana kalau perpaduan nama kita?" Usul Rehan.
"Emang nama kita kalau digabung pantes dijadikan nama baru??" Ita meragukan ide Rehan.
"Eumm.. entah kakak juga belum pernah buat singkatan nama kita" rehan menjawab dengan terkekeh geli.
"Reta?? Rehan Ita, gimana menurut kamu??" Rehan bertanya kepada Ita tentang usulan yang ia anggap cemerlang itu.
"Ta Reta?? Kereta!??" Ita memparodikan saat nanti anaknya dipanggil oleh teman sekolahnya.
"Pasti temennya bakal panggil kereta, kan sekarang nama suka diplesetin gitu." Ita tidak setuju dengan usulan Reta, rasanya tidak enak kalau dipanggil kereta.
"Iya juga ya, eumm bentar-bentar kakak mikir lagi."
"Anta? Gimana?."
"Anta?? Maismuka??" Ita kembali memparodikan ketika nama anaknya nanti dipanggil oleh guru bahasa arab.
"Ya jangnlah kak kedengeran kayak anta antuma antum" protes Ita.
"Yahh terus apa dong??" Rehan mulai dibuat fristasi hanya dengan membuat satu singkatan dari nama ita Rehan.
"Yang jelas, nantinya, nama anak kita belakangnya harus ada nama 'maulana'" ujar Ita sembari menoleh ke arah Rehan.
Rehan mengalihkan fokus dari yang asalnya menatap langit-langit,kini menoleh menatap lekat bola mata Ita.
"Ya pasti lah, itu wajib." Rehan tersenyum lebar kepada Ita.
"Oh iya kak, terus gimana kalau anak kita manggil kita??"tanya Ita lagi.
"Eumm apa ya?? Biar lebih kejawa-jawaan, gimana kalau biyung romo??" Usul Rehan. Usulan tehan kali ini terdengar bergurau bagi Ita, tapi nyatanya Rehan tak menganggap ini sebagai candaan.
"Yang bener aja dong kak!! Emang Kita hidup di zaman Mataram apa!?" Sahut Ita geram dengan usulan Rehan yang tak masuk akal.
"Tapi kan bagus, zaman sekarang ngga ada yang nyamaain, ya kan."
"Ya ngga gitu juga hih."
Terkadang, hanya dengan membicarakan hal yang terdengar sepele, namun nyatanya membuat kebahagiaan yang besar bagi Rehan dan ita.
Ita bersyukur atas karunia Allah, nikmat yang luar biasa, kebahagiaan bisa terasa bahkan sebelum anak ini lahir. Begitulah malam itu berlalu dengan indah, hanya dengan berdebat masalah nama atau panggilan untuk anak mereka nanti. Mereka sudah lama menantikan kehadiran si kecil di tengah kekuarga.
"Semoga kita cepat bertemu" ujar Rehan sembari mengusap perut Ita. Ita dan Rehan sudah sangat berharap agar mereka segera dipertemukan dengan anak yang ada di kandungan Ita. Mereka sudah menunggu lama.
"Aaamiiinnn."