
Sesungguhnya emas ditimpa dengan api, dan orang beriman ditempa (diuji) dengan kesusahan (musibah) "
- Sayyidina Luqman al-Hakim -
🌹
Ita bangun seperti biasanya, ia juga menempelkan kertas seperti yang berisi kabarmya seperti biasanya, kebiasaan yang selalu ita dan Rehan lakukan saat mereka tak bisa saling bertemu.
Rehan yang menuliskan kegiatannya di kertas kemudian menempelkannya di almari, kemudian saat Ita datang ke Rumah, Ita bisa mengetahui kabar Rehan lewat kertas itu. namun untuk kali ini ita sendiri yang menulis kertas itu, meski ia sadar Rehan tak akan membacanya, namun tetap saja Ita menuliskak kegiatannya hari demi hari kemudian ia tempelkan di almari.
"Kak, hari ita harus melakukan rawat inap, jadi mungkin untuk beberapa minggu kedepan ita tidak bisa datang ke rumah sakit" tulis Ita sebelum ia pergi dari rumah, ita kemudian menempelkannnya di almari.
Kertas yang ia jejerkan dengan kertas-kertas lain yang ita tulis kemarin-kemarin namun belum Rehan baca, mulai dari kertas rasa yang berisi rasa sakit Ita saat Rehan melukai hatinya, namun tetp saja ia tak bisa membenci Rehan, sampai kertas berisi ucapan pamit ita untuk menjalani perawatan. Ita masih berharap suatu hari Rehan akan membacanya.
Pagi ini ita bersiap-siap pergi ke rumah sakit, hari ini ia berniat untuk membuat surat cut ini aku untuk beberapa minggu ke depan, ia harus menjalani rawat inap di seruni hospital.
"Dokter kiki dan dokter Rangga, meminta bantuan kalian untuk terus memantau keadaan pasien meski saya tidak berada di rumah sakit, saya minta kabar pasien dari kalian" pinta ita.
"Apa dokter akan mengambil cuti??" Tanya rannga.
Ita hanya mengangguk mngiyakan pertanyaan Rangga, "ini tidak ada hubungannya dengan masalah kesehatan dokter ita kan??" Yamya Rangga khawatir tentang kesehatan dokter itayang memang akhir-akhir ini menurun.
"Kalian tidak perlu khawatir kan saya, kelihatannya perlu menjaga pasien untuk saya."
"Apa dokter akan lama mengambil cuti??" Tanya kiki, ia tak sanggup saat di masa terakhir intershipnya ia harus ditinggal oleh dokter telada yang baik hati seperti dokter ita.
"Kalian doakan saja supaya saya tidak lama-lama dalam cuti kali ini."
Setelah verbicara dengan Kiki dan Rangga, Ita kemudian menemui Airin di jam makan siang, di jam segini Airin pasti ada di Ruangan kerja untuk makan siang sembari menggarap beberapa catatan medis.
"Rin?" Panggil Ita lembut.
"Ah iya ta kenapa" Airin masih fokus terhadap kertas-kertas yang berada di depannya.
"Rin gue mau ngmong sama lu."
"Yaudah si ngomong aja" Airin tetap mendengarkan Ita namun pandangannya tidak fokus kepada Ita.
"Gue bakal ambil cuti beberapa minggu kedepan."
"Uhuk.. uhukk... What??!! Lo kenapa ambil cuti ta?? Kenapa??" Tanya Airin begitu heboh.
"Ngga apa-apa, aku cuma mau istirahat dulu" jawab Ita.
"Lo jangan bohong sama gue deh ta, lo jujur aja sama gue" desak Airin, ia paham sekali kalau Ita tidak mungkin mendadak mengambil cuti kalau bukan karna hak yang penting,Airin tau Ita paling susah meninggalkan pekerjaan, bukan karna ia gila dunia, namun Ita selalu bilang kalau ia jatuh cinta dengan semua yang ada di Rumah Sakit ini yang memberinya banyk pelajaran kehidupan.
"Lo serius bakal cuti,??" Tanya Airin lagi memastikan.
"Iya rin, lagi pula gue ini cuti bukan mau keluar, jadi lo ngga usah heboh gitu deh."
Setelah menemui Airin, kini Ita meminta ijin kepada pak Arga selaku pemilik Angkasa hospital Center, dan syukur Alhamdulillah, dengan alasan yang logis akhirnya Ita diperbolehkan untuk cuti beberapa minggu kedepan.
Setelah dari ruangan pak Arga, ita buru-buru pulang untuk memebereskan beberapa barang yang akan ia bawa saat di rawat inap. Beberapa langkah ita berjalan, kaki ita terhenti saat berada di depan ruangan Rehan, ita dapat melihat Rehan dari kaca yang ada di ruang praktek Rehan.
Ia melihat Rehan yang tengah memberikan pemeriksaan kepada pasien, ingin sekali rasanya memeluk erat Rehan, namun apalah daya, melihatnya saja sekarang sudah seperti sesuatu yang langka.
"Aku merindukanmu" ucap Ita kirih sembari mengwasi gerak gerik Rehan, dan tanoa Ita sadari, sebulir air mata menetes membasahi pipi mulus Ita.
Ita mencoba mengatur napasnya, saat dadamya kembali sesak merasakan hal seperti ini. Ita kemudian melanjutkan langkahnya, ita sanggup ketika melihat Rehan tanpa bisa memeluknya, itu yang membuat dada Ita sesak dan sakit terasa.
🌹
Sebelum ita pergi ke Rumah Sakit untuk rawat inap, Ita memilih untuk pergi ke Runah ummi terlebih dahulu, lagipula Rehan juga pulang ke rumah, Ita hanya ingin bertemu dengan Ummi, karna ia sangat merindukannya.
Ita mamatikna mesin mobilnya saat sampai di depan rumah Yasmin, waktu menunjukkan pukul 7 malam. "Assalamualaikum??" Salam Ita sebelum masyk ke dalam rumah.
"Iya masukk!!" Teriak Yasmin sebelum keluar menemui tamu.
Yasmin keluar untuk menemui tamu yang datang, dan apa yang Yasmin lihat, ia melihat Ita yang tengah berdiri tegap di ambang pintu, senyum lebarnya juga selalu menghiasi wajah cantiknya.
"Wuaahhh" mata Yasmin berbinar saat mendapati sosok yasmin yang datang, seketika Yasmin berlari ke ambang pintu, buukkkk dan langsung memeluk Ita. "Ummi sampai takut kalau kamu lupa dengan ummi karna tidak pernah datang" ujar Yasmin memeluk Ita erat.
"Ummi kenapa bilang seperti itu?? Mana mungkin Ita melupakan Ummi" Ita memeluk erat yasmin, pelukan seperti ini juga yang Ita rindukan , memluk orang yang Ita sayangi, ita rindu itu.
"Jangan pergi lagi, ummi ngga bisa ijinkan kamu pergi lagi" yasmin mengurai pelukannnya, mengusap air mata Ita yang sudah menetes sejak tadi.
Ita hanya terdiam tak mengiyakan pertanyaan yasmin, Ita memeluk yasmin lagi, sebagai permintaan maafnya karna tidak bisa memenuhi peemintaan Yasmin.
"Maaf ummi, tapi Ita harus pergi lagi."
"Kenapa sayang?? Ummi hanya berharap kalian menghadapi ini bersama-sama, mengobati luka kalian bersama, bukan malah sendiri-sendiri" titah Yasmin sembari memeluk Ita.
Ita juga ingin seperti yang Yasmin katakan , mengobati luka bersama, tapi ini sudah keputusan Ita, dan Ita sadar ternyata jauh dari orang ia sayang, bukanlah perkara yang mudajh, justru memperburuk keadaan Ita.
Ita mengurai pelukannya,
"maaf ummi, Ita harus pergi sekarang"Ita merai tangan Yasmin, dan mencium punggung tangannya, "Ita minta doa ummi."
"Pasti sayang, ummi akan selalu doakan yang terbaik untuk anak-anak ummi" Yasmin mengelus lembut kepala Ita.
"Ita minta sama ummi untuk jaga kak Rehan,."
"Heiii... Seharusnya Rehan yang bilang seperti itu, bukan kamu." Yasmin memeluk kembali fubuh Ita sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Yasmin.
*****
Dengan sekuat tenaga ita kelur dati mobil, namun sepertinya keadana ita semakin parah, pandangannya kini kabur kembali ia kehilangan penglihatan normalnya. Dan BRUK ita terjatuh dihalaman rumah sakit, Ita mengalami kejang-kejang.
Sontak mereka yang melihat ita kejang, langsung saja menghampiri Ita.
Dan secara kebetulan, Rangga yang saat itu sedang bermain dengan eza dan anak-anak lainnya di dekat rumah sakit melihat kejadian itu, "kak lihat ada yang kejang-kejang" seru eza kepada yang lain. "Tentulah, mereka pasti langsung mendapatkatkan pertolongan" sahut Rangga santai, karna berpikir Eza sedang membicarakan pasien yang datang dengan ambulance.
"Tapi dia kejang di halam Rumah sakit" sahut yang lainnya.
"Ha??" Sontak Rangga langusng menoleh kebelakang, ke arah Rumah Sakit, langsung saja Rangga dan lainnya menghampiri perempuan yang jatuh dan kejang di halaman Rumah Sakit.
"What?! Dokter Ita??" Pekik Rangga kaget saat melihat wanita yang tengah kejang.
"Dokter Ita?? Dokter Ita?? Kau mendengarku??!" Rangga menanyai Ita yang tengah kejang, namun tak ada respon dari Ita.
"Dokter Ita-dokter!!" Rangga terus menepuk pipi Ita, sampai taknlama kemudian, petugas di dalam rumah sakit datang dengan membawa brankar, Rangga dengan segera menempatkan Ita ke atas brankar.
Rangga juga ikut menemani Ita ke Rumah Sakit. "Cepat bawa ibu Ita ke runag tindakan" ujar dokter wanita yang langsung menangani ita.
"Dia tau nama dokter Ita?? Apa dokter Ita pasien disini??" Gumam Rangga dalam hati, melihat Ita seperti ini membuat Rangga juga ikut merasakan sakit.
Rangga menunggu dokter memeriksa keadaan Ita di ruang tunggu, dengan cemas rangga menunghu, ini kedua kalinya Rangga menunggu Ita, namun menunghu dengan situasi yang tidak Rangga inginkan.
Rangga langsung menemui dokter yang keluar dari ruangan, "gimana dokyer??" Tanya Rangga khawatir.
"Apa anda walinya??."
Dengan berat hati, Rangga harus mengucapkan, "tidak, tapi saya mengenalnya baik, anda bisa katakan keadaanya."
"Begini, pasien kemarin telah melakukan tes MRI dan hari ini jadwal pasien unguk rawat inap, sebenarnya saya sudah membrikan saran padanya agar rujuk ke Angkasa hospital Center, nmaun ia kekeh menolak, mungkin jika anda memang anda orang terfekatnya, saat pasien sadar anda bisa membujuknya" ujar Alya.
"Memangnya dia sakit apa dokter?."
"Maaf, untuk itu saya tidak bisa memberitahukan kepada sembarang orang."
Rangga mengangguk mengerti, hanya keluarga pasien yang boleh tau keadaan pasien, Alya kemudian pamit dari hadapan Rangga.
Setelah dokter pergi, Rangga dengan segera masuk ke ruang rawat Ita. Hati Rangga ikut teriris melihat ita terkulai lemah di ranjang pesakitan, infus yang menancap di punggung tangannya, juga mata yang tak kunjung membuka.
"Apa ini alasanmu mengambil cuti?? Kau memang orang yang tak sayang pada dirimu swndiri, kau terlalu egois" tangis Rangga di sisi Ita, saat Ita tak sadarkan diri, saat itulah Rangga bisa mengeskpresikan perasaannya langsung kepada Ita.
"Seharusnya kau lebih sayang terhadap dirimu sendiri hiks.. hiks.."
"Aku tak bisa mencintaimu terang-terangan, juga tak bisa menjagamu secara terang-terangan jadi aku mohon kau cintai dorimu dan jaga dirimu" tambah Ranga, saat Ita tak sadar, saat itulah Ita bisa mengucapkan apapun yang ia pendam.
"Kaak..." Mulut Ita mukai berbicara meskipun tidak terlalu jelas terdengar.
Rehan segera mengusap air matanya, "kau sudah sadar??" Tanya Rangga, sedikit demi sedikit Ita mengerjap dan melihat sosok laki-laki yang berada di sisinya, pandangan Ita kabur itu yang membuatnya tak bisa melihat jelas laki-laki yang tengah duduk disisinya.
"Kak Rehaan" panggil Ita lemah, tangan ita mulai ia angkat, Rangga membulatkan matanya sempurna saat melihat tangan Ita yang ia akan dan hendak menyentuh wajah Rangga.
"Kak Rehan" tangan Ita semakin mendekat hampir menyentuh wajah Rangga. Sepertinya Ita mengalami gangguan pada penglihatannya pikir Rangga, bahkan jarak dekatpun ia tak bisa mengenali wajah Rangga.
Bukannya membiarkan Ita menyentuh wajah Rangga, Ia justru menepis lembut tangan Ita dengan menyentuh lengan baju Ita Rangga sadar Ita wadalah wanita yang selalu menjaga kehormatannya, baginya itu adalah sesuatu yang sangat penting begitulah yang Ita pernh katakan kepada Rangga.
Jadi kalaupun Ita menyentuh wajah Rangga dan Rangga membiarkannya, itu pasti akan membuat Ita sedih saat tau dan ia akan menyalahkan dirinya sendiri karna telah menyentuh wajah laki-laki yang bukan mahramnya.
Jadi Rangga memilih menurunkan dengan pelan tangan Ita, "kaak" panggil Ita dengan faut kecewa karna pria yang ia sangka Rehan tak ingin wajahnya ia sentuh.
"Saya bukan dokter Rehan, jadi saat dokter ita menyentuh wajah saya, itu akna membuat dosa bagi dokter Ita" ujar Rangga.
Ita mendengarka dan mengenali betul suara itu, Ita benar-benar tak asing dengan suaranya, ita mengingat kembali suara itu, ia berpikir keras mengingatnya, karna tumor di otaknya itu yang membuat Ita susah untuk mengingat beberapa hal.
"Saya Rangga." Sepertinya Rangga melihat ita yang tak bisa mengenali suaranya, tapi tidak! Bukan mengenali tapi lebih tepatnya lupa, kedaan Ita pasti sangat padah sampai ia lupa beberapa hal, mengalami kejang, bahkan kemampuan melihatnyapun menurun.
"Dokter Rangga??kenapa bisa disini??."
"Saya tadi menemukan dokter Ita pingsan dan kejang di halaman Rumah sakit."
"Terimaksih sudah menolong saya lagi, tapi saya mohon jangan beritahu dokter Rehan saya mohon" pinta Ita dengan memohon.
Rangga tau alasan Ita pasti karna tidak ingin menyakiti Rehan, Rangga saja yang bukan siapa-siapa dokter Ita ikut teriris melihat keadaan dokter Ita, apalagi Rshan suaminya, Rangga trrheran dengan wanita satu ini, bahkan saat seperti ini, ia masih mempedulikan persaan orang lain.
Rangga berusaha menhan tangisnya, "iya dokter, saya akan rahasiakan dari dokter Rehan."
"Terimakasih lagi, maaf karna selma ini aku telah menyakitimu" ujar Ita yang merasa hutang budi kepada Rangga dan juga merasa banyak salah dengan Rangga.
"Saya mohon dokter Rangga untuk pergi dari sini, tidak baik laki-laki dan perempuan berduaan" pinta Ita lagi.
"Saya tidak berniat mengisir, tapi saya sungguh minta maaf."
Mana bisa Rangga melihat Ita sendirian disini?? Melakukna semuanya sendiri?? Tak ada satupun keluarga yang menemaninya, tapi Ita pasti akan marah kalau Rangga masih bersikukuh menemani Ita.
Jdai Rangga memutuskan untuk pergi, pergi dari dalam ruangan, namun ia akna tetap menunghu di diluar ruangan, "saya pergi dulu dokter, semoga cepat sembuh."
"Terimakasih" ujar Ita dengan nada lems.
Dengan langkah berat, Rangga keluar dari ruangan Ita,
****
Ita terduduk di atas ranjangnya, ia menatap jendela ruangnnya, meski pandangannya kabur, Ita masih bisa melihat lampu gedung oencakar langit diluar. Sepi, sunyi, gelap itulah yang Ita rasakan di dalam ruangannya, tak ada satupun orang yang menemaninya, bahkan orang yang mencintainyapun tak ada disini.
Ita menghela panjang panjang, tidak adanya Rehan disini justru lebih baik daripada Rehan mengetahui keadaan Ita, Rehan pasti akan sangat terpukul dengan kabar Ita. Sebulir air mata menetes dari pelupuknya, segera Ita menghapus air matanya, ia harus bisa menikmati kesendiriannnya kali ini.