
Seutas benang merah takdir yang mengikatku semakin melonggar. Entah menyuruhku untuk menyerah atau terus menguatkan benangnya di tanganku. Namun, semakin aku jauh, semakin tertarik tanganku ke depan dan semakin aku melangkah maju, semakin longgar pula ikatan benang merah ini.
Tuhan ... aku harus memilih jalan yang mana?
Karena anakku tercinta, akan aku titipkan padanya jika aku memilih untuk pergi. Bukan karena tak ingin merawatnya, tapi tak ingin ia ikut hidup susah bersama denganku.
“Asqyla!” teriak Alice dari belakangku.
Aku langsung saja mengusap wajahku, menutup buku harian yang sudah jarang aku tulis sejak aku mengandung Althaf. Buku yang sudah usang ini selalu menemani hatiku yang terluka.
“Kenapa, Alice? Kamu gak perlu teriak kencang-kencang di dalem rumah,” jawabku yang langsung berdiri.
Aku juga menutupi badanku dengan outer panjang dan berjalan perlahan-lahan menuju Alice yang terdiam di depan pintu kamarku.
Kini penampilanku benar-benar seperti seorang Ibu. Rambut yang cempol acak-acakan, outer yang sudah melar, rok panjang yang menjuntai ke lantai dan kaus yang terkena noda makanan Althaf.
“Aku bingung sama Althaf! Aku yakin banget kemaren dia ngomong sama mainannya, lho! Sekarang aku ajak ngobrol malah diem aja! Dia bahkan gak respon suara di sekitarnya! Kamu yakin dia gak apa-apa?!”
Sontak aku membelalakkan mataku, langsung berlari ke arah luar kamar. Aku menyenggol bahu Alice begitu kuat, tidak peduli dengan apa yang ada di depanku. Fokusku hanya ingin melihat anakku yang baru saja Alice jelaskan kalau ia tidak baik-baik saja.
Dengan jantung yang terus berdegup kencang, aku berlari menuju halaman belakang rumahku. Althaf selalu bermain di sana dan Alice juga meneriaki kalau anakku ada di sana.
Pikiranku kalang kabut. Ini tahun ke 3 untuk Althaf. Ia memang jarang bicara, tapi aku tahu kalau Althaf bisa bicara. Lupakan soal bicara karena Alice juga menangkap momen Althaf sedang bicara. Yang aku khawatirkan adalah soal Alice yang bicara kalau anakku tak bisa mendengar keadaan di sekeliling.
“Althaf!” teriakku begitu aku membuka pintu menuju halaman belakang.
Jantungku akan meledak begitu aku terus memanggil Althaf berkali-kali, tapi tak ada jawaban.
“Althaf Sayang, kamu dengar suara Ibu, Nak?” tanyaku sambil meremas erat kaus di dadaku.
“Althaf ...,” bisikku perlahan.
Anakku langsung saja membalikkan kepalanya, ia tersenyum melihatku dan mengangkat kedua tangannya. Air mata yang aku tahan, langsung turun seketika. Aku memeluk Althaf dengan erat, sekuat tenagaku dan mencoba untuk menenangkan diriku dari segala serangan panik yang sempat menyerangku.
“Sayang ...,” panggilku sambil melepaskan pelukanku.
Aku mengusap wajah Althaf perlahan, mengecup keningnya dan tersenyum sebisa mungkin. Hanya Althaf yang aku punya, aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Akan aku lakukan apapun untuk membuat Althaf hidup bahagia.
“Maafkan Mama, Sayang. Maaf karna kamu harus hadir sebagai anak Mama,” bisikku semakin pelan.
Althaf tersenyum, ia mengusap pipiku dan menciumku. Setelahnya ia langsung bermain kembali dengan mainannya dan aku langsung terduduk dengan perasaan yang begitu lega. Althaf ... anakku. Ia akan tetap menjadi anakku, tapi aku sangat menyesal karena ia memiliki Ibu dan juga Ayah yang buruk macamku dan Werrent.
“Qyla!” teriak Alice dari belakangku.
Aku langsung mengusap wajahku, merapikan pakaianku dan berdiri untuk menyambut Alice. Dia datang dengan wajah paniknya dan aku hanya tersenyum sambil menyambutnya untuk ikut duduk bersamaku di bangku.
“Kenapa, Qyla? Althaf tidak apa-apa, kan? Dia baik-baik aja? Aku panik sekali dan sampai sekarang jantungku masih terus berdetak kencang. Dia bisa bicara dan mendengar, kan?” tanya Alice seraya duduk di sampingku.
Aku menganggukkan kepalaku. Tentu saja Althaf baik-baik saja, aku tidak secuek itu untuk menelantarkan anakku. Walau jujur untuk tahun-tahun pertama kelahirannya, aku agak acuh dan lebih sering meninggalkannya dengan Mary.
“Kamu yakin?” tanya Alice kembali.
“Kamu benar-benar yakin soal itu, Qyla? Aku bisa panggilkan Dokter untuk memeriksa keadaan Althaf,” saran Alice.
Entah mengapa, dari tatapan dan tingkah lakunya, Alice seperti menganggap kalau ucapanku itu bohong.
“Buat apa, Alice? Anakku baik-baik aja. Kamu gak usah panggil Dokter segala.”
Alice menatapku semakin lekat. Ia tersenyum kecut dan perlahan-lahan memegang tanganku begitu lembut dan mengusapnya penuh kasih sayang.
“Tak apa, Qyla. Aku mengerti perasaanmu, kamu pasti terluka. Tapi alangkah baiknya Dokter memeriksa kondisi Althaf sebelum lebih parah.”
Aku mengerutkan alisku, agak menarik perlahan tanganku sambil menampakkan ekspresi kesal. Aku tak butuh seorang Dokter untuk memeriksakan kondisi anakku karena aku yakin betul ia baik-baik saja. Namun, kenapa mereka berdua menatapku seakan aku ini tengah bertindak aneh.
“Lebih parah gimana maksudnya, Alice? Dia baik-baik aja. Kenapa aku harus memeriksanya lebih lanjut?” tanyaku agak kesal.
Tanganku yang masih Alice pegang, semakin erat ia pegang. Namun aku memilih untuk menarik tanganku, tidak ingin disentuh oleh Alice.
Karena kondisi mulai terasa tidak enak, Mary langsung menggendong Althaf dan membawanya ke dalam rumah, meninggalkan kami berdua.
“Jelas sekali ada sesuatu pada Althaf, Qyla. Jika ia punya usatu penyakit atau sebuah kondisi di mana ia harus ditangani sejak dini, hal buruk di masa depan bisa dihindari,” jawab Alice dengan wajah penuh keibaannya.
Aku mengepalkan tanganku dengan erat. Perasaanku terluka ketika Alice tidak mempercayai perkataanku. Bukan hanya Werrent saja yang menjauh, kini Alice juga mulai meragukanku.
“Aku tahu betul anakku bagaimana, Alice! Ia baik-baik saja!” teriakku pada akhirnya.
Perasaanku, kepalaku dan juga benakku mulai berbenturan, hingga aku ingin menangis begitu saja.
“Tapi dia—” ucapan Alice terpotong.
“Panas sekali suasana di sini. Kalian sedang bertengkar?” tanya Alano yang sedang berdiri tepat di depan pintu belakang rumah yang mengarah pada halaman tempat kami bicara.
Alice langsung membalikkan badannya, menatap pada saudara kembarnya yang sudah lama tidak datang kemari.
“Alano!” teriaknya sambil berdiri.
Sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku. Aku ingat betul soal terakhir kali aku bicara pada Alano. Ia mendesakku untuk segera meninggalkan Werrent dan kami bertengkar hebat karena bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah bercerai dengannya. Lalu, disaat itupula Alano pergi untuk mengejar pendidikannya yang lebih tinggi.
“Minggir Alice. Aku sedang bicara dengan Qyla,” jawab pria itu dengan datar sambil mengabaikan Alice yang hendak memeluk Alano.
“Kau lagi-lagi berulah, ya? Tak pernahkah kau ingin mendengarkan kata-kataku sedikit saja? Apa dia sudah pernah kemari dan bicara pada anakmu? Mengajaknya jalan-jalan?” tanya Alano.
Jelas sekali aku mengerti siapa orang yang dia maksud. Aku bahkan tak pernah membayangkan hal-hal tersebut akan terjadi padanya juga pada Althaf. Beakangan ini Werrent semakin sulit untuk ditemui dan sudah tidak pulang ke rumah.
“See? Dia saja tidak peduli denganmu dan juga anakmu itu, Qyla. Apa yang harus kau pertahankan lagi?”
Pertanyaan Alano membuatku kesal sekali. Aku langsung berdiri dan berjalan mendekat padanya.
“Tak perlu ikut campur urusanku, Alano!”