
“Kamu enggak apa-apa ‘kan, Qyla? Dia kenapa?” tanya Radith.
Dia berusaha membopong Werrent menuju kamar kami, aku memperhatikan Radith dengan seksama. Perasaan sakit apa ini? Bukan karna Werrent sakit, tapi karna melihat Radith yang menunjukkan ekspresi biasa saja yang dipaksakan.
“Kamu bisa pulang sekarang, Dit.”
“Ngusir nih ceritanya?” goda Radith.
Setelah aku menyelimuti badan Werrent, aku berjalan diiringi Radith menuju depan pintu kamar. Tidak enak jika berbicara di depan orang yang sedang sakit dan tertidur pulas seperti Werrent, takutnya mengganggu istirahat Werrent.
“Bukan seperti itu, Dit. Bunda pasti suruh kamu ke sini sepulang sekolah, kamu aja belum ganti pakaian, Dit. Besok kan masih sekolah, pasti ada tugas dari sekolah kan?”
Radith menyandarkan badannya di pintu kamarku, dia menatapku dengan tawaan kecil, “Kamu lagi ngejek aku ‘kan, Qyla? Mentang-mentang masuk sekolah minggu depan.”
“Enggak, kok. Serius, Dit. Aku cuman takut repotin kamu.”
“Bukannya emang gitu, Qyla? Kamu selalu repotin aku, makannya aku datang.”
“Jahat banget lidah kamu, Dit.”
Dia hanya menjulurkan lidahnya dan mencubit hidungku, aku menatapnya kesal dan menyuruhnya untuk menyingkir dari pintu kamar karena aku ingin menutupnya agar Werrent tak terganggu, tapi Radith terus menjahiliku dengan mencubit terus hidungku. Aku menarik tangannya dan mencubit pinggangnya, dia kehilangan kendali dan tak sengaja memelukku.
Dengan kesempatan yang ada di depan matanya, Radith mencium pipiku dan berlari saat aku meneriakan namanya, tidak lupa aku menutup pintu kamar dengan bergegas dan mencari Radith yang sudah pergi menuju halaman belakang rumah.
Radith tidak ada di mana-mana, aku menelusuri seluruh penjuru rumah dan hasilnya nihil. Tidak ada jejak Radith di manapun, seperti dia telah meninggalkan rumah ini dan pulang ke rumahnya. Tapi itu tidak mungkin, karna tas sekolah serta ponselnya masih berada di sini.
Aku mengambil tasnya Radith juga ponselnya ke halaman rumah, berjaga-jaga siapa tahu dia sedang duduk di motornya. Saat langkahku tepat berada di depan halaman rumah, aku mendengar sesuatu di atas atap rumahku.
“Kamu gila, Dit? Kenapa malah diam di atas sana?! Cepat turun!”
Mataku terbelalak melihat Radith sedang duduk santai di atas atap rumahku, dia benar-benar gila. Aku terus membujukknya untuk segera turun, bagaimana jika dia terjatuh? Radith tidak pernah perduli dengan dirinya sendiri, membuatku kesal sendiri.
“Asqyla.”
Aku melirik kebelakang dan menemukan Werrent sedang menatapku tajam, Radith berhasil turun dengan selamat lalu berpamitan kepadaku saat melihat lirikan Werrent yang sangat dingin. Werrent berhasil menarikku kedalam rumah sebelum aku mengucapkan selamat tinggal kepada Radith, lagi-lagi Werrent terdiam tanpa kata hingga membuatku bingung.
...***...
Werrent memegang kepalanya yang sedikit pusing, dia mendengar seseorang berbicara didepan kamarnya. Matanya perlahan terbuka dan melihat dua sosok manusia sedang berdiri tepat di depan pintu, dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang sedang berada di depan matanya. Mulutnya hendak berteriak memanggil istrinya, tapi suara teriakan khas Asqyla terdengar di telinganya dan kejadian tak mengenakkan itu terpampang jelas di matanya.
Mereka, Radith dan Asqyla sedang bermesraan di hadapannya, tangan Asqyla berada di pinggang Radith dan Radith sendiri sedang mencium Asqyla. Kepalanya semakin sakit, Werrent marah, kesal, juga emosi melihat miliknya bersama pria yang sangat dia benci. Dia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Asqyla tersenyum lebar kepada Radith, kepada orang yang tidak terikat apapun lalu pintu kamarnya pun tertutup.
Werrent berhasil memecahkan kaca yang berada di dalam kamar mandi, kubu-kubu tangannya mengeluarkan darah. Luka yang belum sepenuhnya sembuh saat hari pernikahannya kini terluka kembali dengan luka yang semakin banyak, dia kesal dengan dirinya sendiri juga marah kepada Asqyla yang tidak pernah sadar akan posisinya yang sudah menjadi Istri Werrent.
...***...
“Kakak bisa melampiaskan semua rasa kesal Kakak ke Qyla, Kakak nggak bisa terus lukain tangan Kakak seperti ini. Qyla bisa jadi pendengar yang baik untuk Kakak.”
Kotak P3K yang ku pegang sudah berpindah tangan, Werrent mengambilnya dan menyuruhku untuk segera membereskan barang-barangku. Aku menolaknya dengan tegas, dia selalu berlaku seenaknya tanpa memikirkan orang disekitarnya.
“Untuk apa? Tinggal beberapa hari lagi Qyla akan masuk sekolah.”
“Tidak perlu, kamu ikut bersamaku.”
“Kak!” teriakku tidak terima.
Aku berdiri, menatapnya dengan kesal. Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Indonesia dengan secepat ini. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan di sini, hanya satu tahun. Tidak lebih. Mengapa hal itu sangat sulit untuk Werrent kabulkan? Kami akan selalu bersama hingga tua nanti, lalu kenapa dia tidak bisa meninggalkanku di sini hanya untuk satu tahun saja?
“Ada apa? Karna lelaki itu?”
Werrent ikut berdiri di hadapanku, dia menatapku tak kalah kesal. Perkataannya sangat keterlaluan sekali. Apa semua isi kepalanya hanya berisi tentang Radith saja?
“Cukup, Kak. Sudah berulang kali Qyla jelaskan kalau Qyla dan Radith hanya teman. Jangan jadikan hubungan Qyla dan dia menjadi alasan kuat untuk membawa Qyla pergi dari sini. Kakak sendiri yang bilang kalau Qyla bisa tinggal di sini sampai sekolah Qyla selesai. Apa Kakak tidak mengingat tentang perbincangan itu?”
“Tindakanmu yang membuatku seperti ini Asqyla Dinara Orlov. Tidak pernahkah kamu sadar dengan posisimu itu? Kamu sudah menikah, Asqyla. Apa pantas seorang wanita yang sudah menikah berpelukan dan berciuman dengan pria lain?!”
“Ber— apa?! Qyla tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu, Kak!”
Mataku terbelalak, tidak mungkin aku melakukan itu semua. Aku sadar akan posisiku dan aku tahu jelas kalau hal itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita yang sudah menikah sepertiku. Tetapi, ekspresi wajah Werrent menampakkan ketidakpercayaan yang sangat jelas, langkahnya semakin mendekatiku. Mulutku kaku tidak bisa berkata-kata, tatapannya membuatku terpaku, rasa takut menghampiriku.
“Pagi hari tadi kamu berpelukan dengan lelaki itu di jembatan dan beberapa saat tadi tepat di depan mataku, kamu memeluk dia yang sedang menciummu. Bahkan aku saja belum pernah memelukmu selekat itu, Asqyla.”
Kedua tangan Werrent berada di pundakku, dia meremasnya dengan kuat hingga aku mengaduh. Dia sama sekali tidak berniat melepaskan cengkramannya di bahuku yang semakin erat. Tatapannya menusuk ke dalam diriku, dia marah, benar-benar marah. Aku menghela napas panjang sebelum menjelaskan apa yang terjadi.
“Semua yang Kakak lihat hanya ketidaksengajaan, Qyla tidak pernah ingin semua hal itu terjadi.”
“Sudahlah, Asqyla. Berkemaslah dan jangan membuatku mengucapkannya untuk kedua kali.”
Cengkraman tangannya mulai memudar, dia menatapku dengan penuh kecewa. Dirinya mundur beberapa langkah, aku terdiam memperhatikannya, tidak ingin membuatnya semakin kecewa juga kesal. Kemudian dia berbalik dan melangkah menuju kamar kami, perasaan akan takut karna dia semakin kecewa seketika menghilang. Kesal yang sedikit memudar kini datang kembali berkali-kali lipat. Tidak bisa aku biarkan dia pergi begitu saja.