
Dalam sekejap, suasana bising tadi menjadi hening seketika. Begitu mencekam dan menusuk jiwa. Tatapan juga ucapan Werrent lagi-lagi menyakiti hatiku. Aku mendua katanya? Dia bahkan tidak tahu seberapa keras aku menolak ajakan Kevin untuk bertunangan dengannya. Dan sekarang dia bilang aku bermain-main di belakangnya?
Bukankah dia yang selama ini selalu berpaling dariku? Dengan tidak tahu diri dia berkata demikian. Seakan aku yang selama ini berbuat seenaknya dan berbuat salah. Memang. Memang benar aku salah menikahinya. Namun tak bisa aku pungkiri lagi kalau aku mencintainya dengan sepenuh hati.
Kenapa semesta? Kenapa kau membuatku jatuh cinta sedalam ini padanya? Seakan hanya ada dia dalam hidupku. Kenapa dari sekian banyak lelaki yang tercipta, kenapa kau lebih memilih Werrent? Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan saat ini?
“Jawab Asqyla! Benda itu bukan anakku, bukan?!” seru Werrent, marah.
Aku meremas selimut yang berada di bagian bawah tubuhku. Rasa pedih menjalar masuk ke dalam kerongkongan hingga paru-paruku. Aku sesak. Anak yang seharusnya Werrent banggakan, malah dianggap sebagai barang.
“Ini anak kita Mas. Bayi kita. Bukan benda!” teriakku pilu.
“Mas ... Qyla enggak tahu apa yang membuat Mas marah seperti ini. Jujur saja Qyla enggak pernah tahu kenapa Mas selalu marah sama Qyla. Kalau marahnya Mas karena Qyla berteman dengan Kevin, kenapa Mas harus buat pertemuan berkedok kebetulan? Kalau memang Mas enggak suka Qyla dekat dengan Kevin, Mas seharusnya bilang sama Qyla. Tapi Mas sendiri paham bukan? Qyla juga butuh teman di sini. Teman yang benar-benar teman. Dan Kevin melakukan itu dengan baik, bukan berarti Qyla menjadi jatuh hati padanya. Qyla hanya ingin teman, Mas,” rengekku padanya.
Namun, yang namanya Werrent tetaplah Werrent. Dia marah besar dan menyalahkan semuanya padaku dan Kevin lalu pergi begitu saja. Selalu seperti itu. meninggalkanku di saat aku membutuhkan kehadirannya.
“Asqyla ... aku—”
“Kenapa ... kenapa kamu melakukan itu Kevin?” tanyaku penuh amarah.
Aku mempercayai Kevin dengan sepenuh hatiku, aku bahkan sudah menganggapnya sebagai Kakakku sendiri. Namun pada akhirnya, semua terjadi karena campur tangan Werrent.
“Aku ... tidak bermaksud membohongimu, Asqyla. Aku hanya ...,”
Aku tersenyum simpul, menatapnya dengan mata berair. “Kenapa? Kalau memang bukan maksudmu membohongiku, kenapa kamu terus menutupi hal itu dan bungkam. Kenapa aku harus mendengar kenyataan pahit itu dari suamiku? Kamu itu temanku, Kevin. Kalau kamu menyatakan semuanya sebelum ini semua terjadi, aku pasti bisa memaafkanmu. Tapi sekarang berbeda, kamu sendiri mengakui ucapan Werrent dengan membuat alasan yang aku sendiri tidak paham.”
Mata Kevin sendu, terlihat dirinya kesakitan. Aku memalingkan wajahku, Kevin hanya terdiam tak berkata apapun. Aku marah, aku kesal, aku kecewa. Kenapa hal kecil yang bahkan teman sendiripun hanya kepalsuan belaka?
“Apa aku semenyedihkan itu sampai kamu memaksakan dirimu untuk menjadi temanku, Kevin?” tanyaku penuh kekecewaan.
“Tidak Asqyla. Kamu tidak menyedihkan, aku hanya ... hanya ... ini semua salahku.”
Aku menatapnya tajam, “Salahmu? Kenapa berteman denganku harus menjadi kesalahan di hidupmu? Apa aku memang bukan temanmu? Apa selama ini kamu tidak pernah menganggapku sebagai teman, Kevin?!” amarahku.
“Bukan begitu Asqyla.”
“Lalu apa?!”
“Aku pernah menganggapmu temanku, tapi—”
“Pernah? Lalu sekarang? Tidak?” tanyaku.
Aku harap dia menyangkal perkataan itu. Namun ....
“Maaf, Asqyla. Maaf aku malah membuatmu menderita,” ucap Kevin lalu pergi.
Aku ditinggal sendirian lagi. Selalu seperti ini, sebenarnya aku telah berbuat salah apa di masa laluku hingga aku terlahir dengan penuh kemalangan. Anakku sendiri tidak diakui oleh Ayahnya dan sekarang orang yang sudah aku anggap Kakakku malah menganggapku sebagai orang asing. Bahkan sekadar teman saja tidak. Hidup penuh kemalangan apa ini? Apa kau akan terus membuatku sengsara, semesta?
“Kalau kata maaf bisa menjadi penolong di setiap waktu, seharusnya aku hidup bahagia dari dulu. Aku hanya perlu mengucapkan maaf. Mau itu ratusan, ribuan, bahkan jutaan kali! Jika itu demi terakuinya anakku dan tulusnya seorang teman. Maka dengan sukarela aku akan mengucapkannya bahkan jika pita suaraku putus sekalipun,” ujarku bermonolog.
Kepergian Werrent dan Kevin membekas dihatiku. Rasa marah, kesal dan kecewa langsung menyeruak memenuhi pikiran dan jiwaku. Aku ... begitu terpuruk.
...***...
“Hey! Kamu lagi lamunin apa, sih?” tanya Alice penasaran.
“Jalannya pelan-pelan. Aku gak masalah kok kalau kita telat ke Bandara,” lanjutnya.
Kali ini aku yang menyunggingkan senyum. Lapisan es dan salju tak bosannya menerobos kakiku yang sudah dipasangi sepasang sepatu boots di bawah lutut. Karet yang begitu tebal masih saja menghantarkan dingin yang menggelirik kakiku.
Terkadang hampir saja aku salah berpijak, kalau saja Alice tidak memegangiku, mungkin aku sudah jatuh beberapa kali. Kenangan di hari itu terus mengganggu pikiranku hingga aku tidak sadar Alano sedang menatapku dengan tajam di samping mobilnya.
Indonesia adalah tempat yang akan kami kunjungi, kami akan berlibur hingga aku melahirkan dan kembali ke tanah ini. Sayangnya, ini hanya sebuah alasan agar aku bisa dipulangkan. Sepertinya Alice selalu mendengar isakan tangisku tiap malam. Aku merindukan masa-masa sekolahku, di mana aku hanya tahu belajar dan makan saja. Tidak ada hal lain seperti perasaan, rasa sesak, anak dan tanggung jawab melayani sebagai Istri.
Dulu aku pikir semua akan baik-baik saja. Namun ternyata, aku tidak pernah merasa baik. Apa yang harus aku ceritakan terlebih dulu padanya sebelum dia tahu hal ini dari orang lain? Walau aku tutupi sekalipun, aku tidak akan pernah bisa mencari celah dalam matanya yang tajam seperti elang.
Aku harus apa?
“Asqyla! Sudah aku bilang hati-hati, bukan? Alice! Apa-apaan ini, kenapa Asqyla bisa sakit? Kalian terjatuh tadi?” tanya Alano khawatir.
Dia berlari dari tempatnya berdiri saat aku terduduk lemas dihamparan salju putih nan dingin ini. Perutku sakit, sakit yang tak bisa tertahankan lagi hingga aku meneteskan air mata. Sakit yang tidak pernah aku bayangkan dalam hidupku. Sakit sekali rasanya.
“Asqyla. Asqyla! Buka matamu, jangan tertidur. Tetap buka mata!” teriak Alano di depan wajahku.
Tidak bisa, rasanya akan semakin sakit jika aku tidak terlelap sekarang. Dan aku merasa nyaman dan tak kesakitan jika aku memejamkan mataku.
“Alano ... hiks, cepat bawa Asqyla ke dalam mobil,” tangis Alice. Perempuan itu terus merengek menyuruh Alano untuk membawaku ke dalam mobil. Alano yang panik dan pusing karena rengekan Alice, seketika darahnya naik.
“Bisa diam sebentar, Alice?! Aku juga sedang berpikir—”
“Tidak ada waktu untuk berpikir, Alano! Asqyla berdarah!” teriaknya.
Aku membuka mataku perlahan, hanya terlihat dua orang manusia buram yang sedang menahan tubuhku. Salju putih nan suci yang aku duduki sudah berubah warna menjadi merah legam. Bau besi menyeruak hingga penciumanku. Mataku begitu berat, apa ini akhir dari penderitaanku? Pada akhirnya aku tidak bisa menikmati kehidupanku seperti yang aku impikan.
“Asqyla! Bertahanlah!” seru Alice khawatir.
Bertahan? Rasa sesakit ini masih ada yang memintaku untuk bertahan? Kantukku makin melanda, mataku semakin berat dan suara keduanya mulai memudar dan melebur hingga hitam kelam yang aku dapati. Mungkin ... ini sudah saatnya.
Lalu ... semuanya lenyap.
A/N:
ASQYLA END!!!!
Aku gak nyangka bisa update sejauh ini, padahal biasanya sampe 40 bab tuh udah tamat.
Terimakasih kalian-kalian yang telah mendukungku sampai sekarang.
Untuk saat ini ASQYLA SUDAH TAMAT.
Dua atau tiga minggu lagi aku akan kembali dengan SEASON II!
Ada yang penasaran gak nih siapa yang Asqyla bilang di akhir kalau orang itu pasti mengerti dia? Orang yang selama ini hilang dari beberapa bab, rindu gakkk nihh?
Kalau begitu, aku pamit undur diri.
As always,
Be wise, Darling.