
“Ayolah, Asqyla. Masa begitu saja marah? Aku bercanda, lagi pula kamu tidak perlu memaksakan hal itu. Aku tidak apa.”
Aku membalikkan badanku dan menatapnya kesal, tidak apa katanya?! Coba lihat siapa orang yang bilang seperti itu? Dia sendiri yang selalu marah saat pulang setelah minum-minum dengan orang-orang kantor dan menyalahkanku atas segalanya. Aku memang belum siap saat itu, tapi mendengar dia berkata seperti itu, tandanya dia selama ini mencoba menghargai keputusanku bukan? Lalu, kenapa dia tidak paham dengan perkataanku yang sudah jelas-jelas aku pikirkan dengan matang.
“Gak apa-apa, kok, Asqyla. Take your time. Tidak perlu terlalu terikat dengan hal itu, jangan terlalu di pikirkan,” ucapnya seraya mengelus kepalaku lembut.
Aku menepis tangannya, ucapanku sebelumnya yang mengatakan bahwa aku tidak akan menjawab ucapan Werrent aku tarik detik ini juga. Apa-apaan perkataannya itu?
“Jangan terlalu di pikirkan? Kakak anggap Qyla ini apa, sih?” tanyaku penuh dengan emosi.
Werrent terkejut dan menatapku heran, “Lho, kok kamu marah?”
Aku mencengkram selimut di sampingku dengan kencang dan duduk, Werrent masih kebingungan dengan tindakanku. Apa-apaan, sih dia?
“Jelaslah Qyla marah. Itu kan salah satu tugas Qyla melayani Kakak dan Kakak bilang jangan terlalu di pikirin? Selama ini Kakak menganggap Qyla hanya pajangan? Lalu, tujuan pernikahan kita itu apa?”
Suasana kamar sudah tidak enak, Werrent tersenyum simpul. Posisinya masih berbaring, dia menatapku dengan lembut dan meraih lenganku dan mencium punggung tanganku.
“Bukan begitu, Istriku.”
Dia terduduk dan menatapku dalam. Jujur, ucapannya membuatku luluh. Tapi, perkataan selanjutnya membuatku menampar pipinya.
“Aku merasa kamu belum cukup pantas untuk melakukan hal itu, jadi—”
Plak! Satu tamparan kencang terlayangkan menuju pipi Werrent. Rasanya aku belum puas melimpahkan kemarahanku padanya, rasa sesak ini terasa kian dalam. Werrent benar-benar tidak bisa di maarkan.
Keadaan hening seketika sebelum Werrent berteriak memarahiku.
“Maksud kamu apa, Asqyla?! Apa pantas kamu menampar suamimu sendiri hanya dengan alasan seperti itu?!”
Werrent menahan tanganku yang hendak menamparnya kembali, hatiku rasanya sakit sekali. Aku hanya berniat untuk melayani, lalu kenapa dia membawa kata tidak pantas yang selama ini sudah aku kubur dalam-dalam. Sebenarnya di sini siapa yang pantas atau tidaknya?
“Tidak pantas? Suami? Alasan seperti itu?!” teriakku kecewa. Werrent hendak benjawab perkataanku namun aku tidak membiarkannya berbicara.
“Apa yang Kakak maksud dengan tidak pantas itu karena Qyla masih kecil? Karena Qyla belum cukup dewasa untuk bersanding dengan Kakak? Seperti itu? Qyla selama ini berusaha untuk menyamai langkah Kakak, tapi jelas sekali Kakak tidak pernah mau berhenti atau menyamai langkah Kakak sendiri. Kakak hanya berbalik sekilas lalu kembali melangkah. Terus bagaimana cara Qyla memantaskan diri?!”
Sudah cukup. Selama beberapa bulan ini aku mencoba untuk beradaptasi, tapi seperti yang kalian kira. Hubunganku dan Werrent hanya di dekat di sisi luar, tidak dalamnya.
“Asqyla, tenangkan diri kamu dulu. Baru kita bicarakan hal ini lagi, ya? Maaf aku tidak bermaksud seperti itu,” bujuknya dengan begitu lembut. Tapi, tidak bisa. Aku tidak bisa menahan kemarahanku lagi.
Dia mengusap kepalaku lembut dan aku menepisnya. “Tidak bisa, Kak. Kalau Kakak memang mengakui diri Kakak sebagai suami Qyla, seharusnya Kakak yang menyaring perkataan yang keluar dari mulut Kakak dengan baik. Kakak sendiri yang bilang kalau pantasnya seseorang itu bukan karena tangapan orang tapi bagaimana cara kita memantaskan diri kita dengan suatu hal tersebut. Dan sekarang apa yang Kakak katakan? Aku belum cukup pantas?!”
Kecewa. Aku benar-benar kecewa dengannya. Tak habis pikir aku dengan hal yang terucapkan dari mulutnya. Semuanya menusuk perasaanku, apa tidak bisa dia sedikit berbohong kalau memang ucapannya sudah tidak bisa diubah lagi? Rasanya aku menyesal atas segalanya.
“Lalu, apa?”
“Hanya....”
Diam. Werrent tidak melanjutkan ucapannya, aku tersenyum kaku. “Hanya apa? Tidak ada alasan lagi untuk menjawab pertanyaanku? Lalu, untuk apa kita menikah!”
Kali ini tatapan Werrent yang sendu serta tangannya yang memegang lembut tanganku berubah menjadi kasar. Hingga aku mengaduh dan memintanya untuk melepaskan tanganku. Tapi, dia terlalu marah untuk mendengar keluhanku.
“Asqyla! Cukup! Tidak perlu bawa ikatan yang mengatakan kalau aku salah meminangmu. Mau kamu bawa sejauh apa lagi pertengkaran ini, hah? Sampai kata cerai keluar dari salah satu mulut kita? Bukannya aku sudah meminta maaf padamu?! Untuk apa kamu membawa ikatan pernikahan? Seakan kamu menyesal telah menerima lamaranku.”
“Lamaran? Bukannya ini hanya perjodohan?” jawabku dingin.
Werrent melepas tanganku dan turun dari ranjang, dia berkacak pingang dan mondar-mandir di hadapanku dengan helaan napas berat. Lalu kembali menghampiriku dan menindihku.
“Jadi ini kan yang kamu mau? Fine, I’ll do that.”
Werrent mulai membuka kemejanya dan mencium leherku, aku terbelakan dan berusaha mendorongnya dengan sekuat tenanga.
“Cukup, Kak!” teriakku. Werrent yang sedang mencium leherku segera menatap dengan tajam. “Bukannya ini yang kamu mau?” tanya Werrent dengan tajam. Seketika tubuhku merinding, Werrent mengerikan.
Setelah berkata seperti itu, dia melanjutkan kegiatannya. Aku mencoba sekuat tenaga untuk keluar dari dekapannya dan satu hal terlintas di kepalaku.
“Cukup, Kak. Atau Qyla teriak kencang!”
Rasanya tenggorokkanku tercekat hanya karna mengucapkan hal itu. Ternyata aku belum terlalu siap dengan hal tersebut. Seluruh tubuhku terasa meleleh. Aku menyesal memarahi Werrent hingga menamparnya dengan keras.
“Hah ....”
Werrent menghela napas dan beranjak dari ranjang, aku meraih selimut dan menatap Werrent dengan penuh rasa menyesal. Werrent menatapku tajam dan berkata, “Kembalilah tidur, aku akan pulang terlambat malam ini. Tidak perlu menungguku pulang.”
Setelah itu dia pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Aku menutup wajahku dengan selimut dan menangis dengan kencang. Rasa takut, kecewa, dan menyesal menerpaku dalam sekali terjang. Aku benar-benar dikalahkan oleh egoku sendiri. Kemana Asqyla yang berpikir terlebih dahulu lalu bertindak?
Ingin sekali aku kembali beberapa jam yang lalu dan menampar diriku sendiri yang sudah termakan oleh emosi yang membuatku semakin menderita. Seharusnya aku diam saja tidak mengatakan apapun dan tidur di samping Werrent. Bukan malah bertengkar dan membuatnya semakin terbebani. Werrent pasti kesal, bagaimana kalau dia meninggalkanku?
...***...
Kini malam sudah menghampiri, bahkan sudah memulai hari baru. Namun, Werrent belum pulang. Dia memang menyuruhku untuk tidak menunggunya, tapi tetap saja. Setelah aku memikirkan ini baik-baik, yang salah adalah aku. Karena aku berteriak dan marah seenaknya. Aku harus minta maaf, tadinya aku berpikir akan meminta maaf saat Werrent pulang dan langsung tidur untuk mengistirahatkan tubuh ini. Tapi, rasa bersalahku membuat aku menungguinya hingga tengah malam begini.
“Asqyla, apa sih yang sebenarnya kamu inginkan?” tanyaku bermonolog.