
“Sudah aku bilang, maaf, bukan? Kalau begitu sebagai gantinya aku akan mengantar kalian berdua pulang,” ucap Kevin.
Aku melirik Alice dan Alice malah melirikku balik, seperti sedang memberitahu kalau aku saja yang menjawab ucapan Kevin. Aku tersenyum pada Kevin dan menghampirinya.
“Terima kasih untuk ini,” ucapku seraya menunjukkan cup Es Krimku. “Hm, untuk minuman tadi juga terima kasih dan juga hiburan kecil ini,” lanjutku.
Alice menatapku heran, seakan mempertanyakan apa yang sedang aku ucapkan pada Kevin. “Jadi ... untuk tumpangan itu aku menolaknya karena kami sudah—”
“AH! Sudah membatalkan pesanan taksi kita, jadi terima kasih karena sudah mau mengantar kita pulang. Iya, kan, Asqyla?” tanyanya dengan ekspresi yang begitu memaksakan agar aku bisa mengiakan permintaan Kevin.
Aku mengerutkan keningku, memangnya Alano mau di kemana kan? Di suruh pulang duluan saja? Memangnya tidak apa? Dia itu tidak mengerti Kakaknya itu apa? Hah ... bisa-bisa aku kena marah sepulang nanti.
“Tapi, Alice. Kita kan sudah menyuruh Alan—”
“Alano tidak jadi menjemput kita,” potong Alice dengan cepat. Aku semakin mengerutkan keningnya, yang ini Alice berbohong. Kita kan ke sini bertiga, yang ada Alano itu menunggu kita bukan menjemput.
“Alice kamu tidak boleh—sebentar,” ucapanku belum rampung.
Namun, Kevin tiba-tiba memberikan ponselku yang tadi dia simpan di kantong celananya. Ternyata ponselku berdering menunjukkan Alano yang memanggilku. Aku menunjukkan ponselku pada Alice dan dia tiba-tiba terdiam. Maafkan aku Alice, aku tahu kamu ingin pulang diantar kevin, namun kamu juga tidak bisa meninggalkan orang bertempramental buruk seperti Alano ini.
Ya, ada ap—
Pulang sendiri saja. Aku ada urusan.
Aku menatap Alice dengan bingung, dia menyodorkan ponselnya padaku. Aku melihat pesan yang berisi transferan uang yang tidak sedikit dari Alano. Lalu, pesan berikutnya muncul. Berisi;
Belanja sepuasmu dan pulang dengan taksi, jangan menungguku. Aku sibuk.
Aku mengangguk pada Alice dan menyahuti Alano.
Kenapa? Terjadi sesuatu?
Ada yang harus aku urus. Aku sudah mengirimkan sedikit uang pada Alice, kalau kurang bilang saja. Lalu, jangan pulang lebih dari jam 4 dan jangan menungguku pulang. Alice akan menginap. Ingat. Jangan pulang lebih dari jam 4!
Setelah itu panggilan berakhir. Aku menyimpan ponselku dan Kevin memberikan minumanku yang dia pegang agar aku tidak kesulitan mengangkat panggilan Alano.
Alice dan Kevin menungguku menjelaskan apa yang terjadi. Aku menghela napasku, “Sepertinya kita ikut mobil kamu, Vin. Alano ada urusan mendadak dan tidak bisa mengantar kami pulang.”
Alice berdecak sebal, “Pantas saja dia mengirimiku uang. Memangnya aku tidak tahu itu sogokan biar aku gak tanya yang lain-lain apa?! Aku juga punya uang sendiri, argh!”
Alice memaki ponselnya dan memelukku. Aku menatap Kevin sedangkan Kevin hanya mengangkat bahunya menandakan dia tidak tahu. Aku menghela napas lagi, Adik-Kakak ini, memang tidak ada habis-habisnya bertengkar.
“Tadi Asqyla, sekarang Alice. Kevin itu menarik para wanita, ya?” ucap Louis dengan polosnya. Aku tertawa seraya mengusap kepalanya dengan gemas, anak kecil ini belajar kata-kata dewasa seperti itu dari mana sih? Astaga, Kevin tidak baik sekali menjadi Kakak.
Aku memajukan badanku ke depan. Alice duduk di kursi penumpang dan aku ada di belakang bersama Louis. Suasana di depan sangat hening sekali sampai aku merasa bersalah karena berisik sedaritadi.
“Kalian kenapa saling diem gini, sih? Kalian sudah saling kenal, coba kenali lebih jauh lagi,” ucapku asal karena Louis terus memainkan rambutku.
“Kamu bicara apa, sih, Asqyla?!” seru Alice dengan telinga merahnya. Aku menatap Kevin, memangnya aku salah bicara, ya?
“Maksudku, berbincang apapun itu. Suasana di sini dingin sekali, memangnya kalian masing-masing tidak penasaran atau bagaimana gitu?” tanyaku.
“Bagaimana apanya?” ucap mereka bersamaan. Aku tersenyum puas, “Cocok! Sudah cocok!”
Louis menarik badanku agar aku kembali menyandar dan dia bisa lebih leluasa memainkan rambutku. Aku masih memperhatikan mereka berdua dari belakang sini. Awalnya mereka masih terdiam, namun setelah itu Kevin mencoba menanyakan sesuatu dan terjalinlah sebuah percakapan hingga mereka tertawa kecil karena membahas sesuatu.
Aku juga tidak ingin kalah, Louis masih memainkan rambutku sedangkan aku mencoba untuk menghubungi Werrent. Aku sudah berkata akan menghubunginya lagi, suasana hatiku sedang baik saat ini. Jadi ... tidak masalah kalau aku menghubunginya.
Sudah di dering ketiga dan dia belum mengangkat ponselnya, aku penasaran apa yang terjadi sampai Werrent tidak mengangkat panggilanku. Aku tadinya berpikir kalau dia sedang sibuk dengan urusan kantornya, namun aku sadar suatu hal. Kalau hari ini adalah hari libur. Itulah mengapa Kevin dan Alano bisa meluangkan waktunya untuk berjalan-jalan seperti tadi.
Kali ini ketiga kalinya aku menghubungi Werrent, kalau memang tidak di angkat lagi, ya sudah. Aku tidak akan menghubunginya lagi. Bisa saja aku mengganggu acara berliburnya ini.
Kenapa?
Ya??
Jawabku spontan, ternyata Werrent langsung mengangkatnya. Aku terdiam lama karena dari suara Werrent terdengar sekali dia sedang marah. Apa aku salah menghubunginya di jam seperti ini?
Ada apa, Istriku?
Ah, tadi Qyla bilang kalau Qyla bakal hubungin Mas lagi. Kalau waktunya enggak tetap, nanti Qyla hubungi Mas lagi.
Aku menjelaskan dengan susah payah, karena walau dia memanggilku dengan manisnya, tetap saja nada suaranya tidak enak sekali.
Tidak, bukan begitu. Tidak ada apa-apa yang ingin aku sampaikan. Jadi, tidak perlu hubungi aku lagi. Aku tutup.
Ap—Mas! Sebentar! Halo? Mas?
Panggilan terputus. Aku menghela napasku dalam, apa maksudnya dengan ‘Tidak perlu hubungi aku lagi?’ Apa itu maksudnya dia tidak ingin bertemu denganku? Atau aku tidak perlu menghubunginya karena dia akan menemuiku?
Ya, ampun, Werrent. Apa yang ingin kamu coba sampaikan? Aku tersenyum dengan sangat terpaksa, dia benar-benar membuatku emosi. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sepertinya sih?!