WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Mencintai Werrent?



Hampa ... semuanya terasa semu. Degup jantungku berdetak kian rendah. Serendah posisiku dimatanya. Ada yang tak terisi namun bising. Ada yang bimbang namun hilang. Lalu, ada yang hancur namun tak lebur. Kian hari aku kian bertanya pada angan.


Apa puas bagimu memporak-porandakan hidup, pilihan, bahkan perasaanku?


Angan ... jika aku berandai seperti yang kau bisikan padaku, apakah semuanya bisa kembali seperti semua?


Angan ... jika aku bergantung padamu, apakah kau akan mengabulkan permintaanku?


Angan ... jika aku tiada, apa semua orang akan bahagia dengan hilangnya jejakku?


Semuanya demi mereka, mereka yang aku cinta, angan.


...***...


“Huh ... ternyata lebih membosankan dari yang aku duga,” ucapku bermonolog.


Aku menghela napasku beberapa kali dan mencari ponselku. Baik sekali mereka sudah mengisikan daya ponselku. Aku tersenyum lalu mencabut kabel penghantar listrik yang mengisi daya ponselku.


Tiba-tiba, satu notifikasi membuatku terheran-heran karena nomor tidak dikenal yang tertera.


Jadi, kamu masuk rumah sakit?


Dengan segera aku membuka isi pesan tersebut dan memberhatikan nomor yang tidak dikenal ini. Nomornya bukan nomor Indonesia, namun pesannya benar-benar berbahasa Indonesia. Apa ini Kevin yang sedang menjahiliku?


Tidak mungkin, aku sama sekali tidak mengabari siapun dan aku yakin Alice tidak akan mengabari Kevin mengenai kondisiku dan kalau iya pun, Kevin pasti langsung kemari. Dia juga tidak begitu tahu bahasa ibuku. Siapa orang ini?


Gak perlu dipikirin aku siapa, pokoknya kamu sehat terus, ya. Sebentar lagi kita ketemu.


Begitulah pesan berikutnya muncul. Aku melempar ponselku hingga jatuh ke lantai. Terkejut karena orang yang mengirimiku pesan seakan tahu apa yang aku pikirkan dan itu semua membuatku gila. Siapa yang menjahiliku seperti ini?


Aku menghela napasku, kubaringkan tubuhku di ranjang dan menutup mata. Memikirkan siapa yang jahil menghubungiku seperti ini. Terlalu larut dalam pikiran, akhirnya aku terpejam dalam lamunan. Hingga tak sadar bahwa aku sudah tertidur dan melihat wajah Alano yang sedang duduk di sampingku.


Aku mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan apa yang aku lihat. Namun nyatanya benar adanya. Dia Alano yang sedang sibuk memainkan ponselnya hingga manik matanya melirik perlahan ke arahku.


“Sudah tidurnya, Putri Tidur?” tanya Alano.


Seketika aku memalingkan wajahku, malu karena ditatap orang lain saat aku baru saja bangun dari tidur.


“K-kamu di sini dari kapan, Alano?” tanyaku kaku. Dia mematikan ponselnya dan menatap dalam pada mataku. “Sejak kamu melempar ponselmu ke lantai.”


Deg.


Memalukan! Aku berdeham, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ini. “Eum, terus Alice ke mana?”


“Kan kamu yang suruh dia pulang.”


Ah, sialan. Orang satu ini memang tidak bisa diajak bekerjasama. Dia meresahkan dan menyebalkan dalam satu waktu!


“Terus kamu ngapain di sini?” tanyaku.


Dia menatapku tajam, “Kita sedang ada wawancara, ya? Kenapa aku harus jawab semua pertanyaanmu? Dan lagi layar ponselmu retak, sudah aku perbaiki dan besok akan aku bawa kemari. Ah, aku di sini karena suamimu itu tidak berniat untuk menjaga istrinya ter.cin.ta. yang sedang terbaring di ruangan bau seperti ini karena kesalahannya sendiri. Aku bingung, deh. Kenapa, sih, kamu masih mau bertahan dengan orang setidaktahu diri itu?”


Aku kelabakan dengan ucapan dan pertanyaannya. Namun pada akhirnya, aku hanya terdiam dan tak bisa berkata-kata.


“A-aku ... aku cuman ... harus aku jawab, ya?”


Hanya itu yang bisa aku ucapkan, aku masih terbaring. Ingin dudukpun rasanya sulit karena hawa intimidasi darinya. Yang aku lakukan saat ini adalah bungkam. Apapun yang Alano tanyakan seputar hubunganku, aku akan bungkam. Karena ...


“Kamu gak bisa jawab pertanyaan itu, bukan?”


Tepat. Aku semakin diam ketika Alano membungkamku dengan ucapannya yang begitu tepat tanpa celah.


“Asqyla ... aku hanya ingin bertanya dua hal. Apa dan kenapa,” ucapnya.


Aku mendudukan badanku dibantu oleh Alano dan mengangguk perlahan. Alano sudah berbaik hati memperbaiki ponselku yang bahkan aku sendiri abaikan, setidaknya aku bisa membalasnya dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak yakin dengan jawaban yang akan aku berikan.


“Apa kamu cinta Werrent?”


Aku mengangguk perlahan, dia menghela napasnya. Aku sedikit terkejut dengan helaan napasnya, begitu dalam dan terdengar menahan amarah.


“Kenapa?”


“Jadi ... kalau aku bilang aku gak cinta Mas Werrent, kamu bakal tetep tanya kenapa juga?”


“Kenapa? Kamu gak bisa jawab pertanyaan ini juga?”


Aku menggeleng, mengambil udara sebanyak mungkin lalu mengembuskannya perlahan. Aku tidak begitu ingin menjawab pertanyaan ini. Karena tidak ada hal yang perlu dipertanyakan lagi.


“Memangnya mencintai itu butuh alasan? Mungkin terkesan klise, tapi nyatanya memang begitu. Entah sejak kapan aku jatuh dalam dekapannya dan entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan segala sesuatu tentangnya dan entah sejak kapan aku terjebak dan terperosok dalam kabut mematikan.”


Alano mengepalkan tangannya, untuk sesaat aku memejamkan mataku karena takut akan pulukan yang akan Alano lontarkan padaku. Namun tak terjadi apapun, hanya helaan napasnya yang semakin dalam dan membuatku merinding.


“Tidak mungkin, Asqyla. Itu hanya perasaan sesaat. Karena kamu tidak bisa mencintai dua orang dalam satu waktu. Seperti saat itu, saat di mana kamu memilih untuk pergi daripada menetap. Dengan alasan mencintai itu tidak harus memiliki. Ucapan bodoh macam apa itu, Asqyla?”


Aku menatap Alano dengan bingung. Apa maksud perkataannya? Aku sama sekali tidak paham, maksudnya dengan mencintai dua orang dalam satu waktu itu apa? Walau tidak mungkin, tetap saja aku mencintai Werrent dan anak-anakku. Tidak kurang dan tidak lebih. Aku mencintai mereka dengan sepenuh hati. Dan aku yakin kalau aku bisa. Apa alasan Alano berkata demikian?


“Aku bisa mencintai lebih dari satu orang, Alano. Aku mencintai Werrent, anak-anakku, Alice, bahkan kamu. Lalu, kenapa kamu bicara seperti itu? Kita tidak sedekat itu sampai kamu tahu mengenai perasaanku!” seruku kesal.


Alano selalu bertindak seenaknya, seakan aku tidak bisa marah atau kesal padanya. Aku juga masih punya batasan dan aku tidak ingin Alano melewati batasan tersebut. Kami hanya Adik-Kakak yang terikat karena pernikahanku. Di luar dari itu, Alano hanya orang yang tidak berhak ikut campur dalam urusanku.


“Aku yakin kamu sendiri paham apa yang aku maksud, Asqyla. Bukan hal receh seperti itu yang aku perbincangkan. Dan jangan berkata seakan kita baru saja bertemu. Aku mengetahui segala tentangmu melebihi dirimu sendiri.”


Setelah berkata demikian, dia pergi tanpa berucap apapun lagi dan aku terdiam sendiri di ruangan serba putih dengan bau herbal. Apa yang sebenarnya kamu ketahui tentangku, Alano?


A/N:


Maafkan aku telat update~~


Dimaafin kan, ya?


Ah, iya. Ada satu hal lagi. Hm...


Asqyla sama Werrent bentar lgi tamat ceritanya 😭