
Aku menghela napas panjang, Werrent bukanlah Radith atau para orangtua yang memaklumi kelakuanku. Werrent juga belum terbiasa dengan tindakan kekanakanku dan juga Werrent belum mengenalku lebih dalam. Rasa kekhawatiranku akan perginya Werrent semakin menjadi. Aku tidak ingin ikatan ini hancur. Ikatan yang aku buat sekali untuk selamanya. Bahkan aku tidak ingin membayangkannya kalau aku berpisah dengannya.
Hah ... aku dilema dengan perasaan ini. Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk mengistirahatkan pikiranku sejenak. Aku akan meminta maaf pada Werrent di pagi hari nanti.
Krieeet ... suara pintu terbuka dan terdengar suara yang familiar. “Aku pulang, Asqyla.”
Rasanya aku ingin segera berlari dan meminta maaf padanya, tapi aku membeku di tempat. Entahlah, aku merasa aku tidak seharusnya berbicara terlebih dahulu saat ini. Werrent berjalan ke arah ranjang dan duduk di sampingku. Dia menghela napas panjang dan mengusap kepalaku perlahan. Gumamnya tidak terlalu terdengan namun setiap sentuhan tangannya begitu menghangatkanku. Tidak sadar aku meraih tangannya yang mengusap pipiku.
Werrent sedikit terkejut, “Aku membangunkanmu?”
Aku membuka mataku, menatap Werrent yang dihiasi dengan wajah lelahnya. Seberapa banyak pekerjaan yang Werrent lakukan hingga wajahnya terlihat sangat lelah seperti ini. Walau dengan keterkejutannya, dia masih bisa tersenyum dan tetap mengusap pipiku. Belaiannya yang begitu lembut membuatku kembali memejamkan mataku, suasana kamar begitu hangat dan berbunga. Rasa bersalah yang sedaritadi menghampiriku hilang dalam sekejap. Apa aku begitu menantikan kepulangan Werrent?
“Ada apa?” tanya pria itu. Membuatku menepis tangannya yang masih membelai pipiku.
Seketika jantungku berdegup dengan kencang. Apa sih yang kamu lakukan Asqyla? Aku bisa gila!
Werrent menatapku bingung dan berdiri, melepas jasnya, jam tangan dan kemeja bajunya. Dia mengambil handuk lalu berlalu menuju kamar mandi. Sekarang aku tidak sekaget dulu lagi melihat Werrent membuka atasan bajunya, walau masih tersisa perasaan malu, tapi aku masih bisa menahan teriakan yang menyuruhnya untuk membuka pakaian di closet.
Selama Werrent membersihkan diri, aku berguling kesana-kemari di atas ranjang. Gugup karena aku harus meminta maaf sesegera mungkin, aku tidak ingin kejadian pagi tadi malah membuat hubunganku renggang dan retak. Aku tidak ingin ada celah di mana Werrent bisa menceraikanku. Apapun asal tidak dengan cerai.
Werrent keluar dengan baju tidurnya dan handuk yang berada di kepalanya, aku sedikit tersentak kaget karena Werrent yang tiba-tiba keluar dari sana. Namun, sepertinya Werrent tidak begitu memperhatikanku yang terus memandanginya hingga dia duduk di sampingku.
“Apa wajah suamimu sebegitu tampannya sampai kamu tidak mengalihkan pandangan, Asqyla?” goda Werrent dengan senyumnya.
Aku mengalihkan pandangan, wajahku bersemu malu. Aku tarik semua ucapanku yan mengatakan bahwa pria itu tidak sadar akan pandangannya. Lagi pula orang macam apa yang tidak bisa merasakan pandangan yang begitu terang-terangan seperti ini?! Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam sampai inti bumi.
“Ada apa, Istriku? Sepertinya dari tadi kamu ingin menyampaikan sesuatu padaku.”
Is-istriku? Wajahku sepertinya sudah semerah kepiting rebus. Kenapa dia bersikap biasa-biasa saja setelah pertengkaran itu? Ada apa ini? Tubuhku merinding, Werrent tidak akan bertindak aneh-aneh, kan? Dia begitu mencurigakan, Tuhan!
“Qyla minta maaf karna kejadian tadi pagi, seharusnya Qyla tidak marah-marah kayak gitu sampai tampar Kakak,” ucapku seraya memainkan jari-jari tangan.
“Qyla sedikit terbawa suasana dan tidak mengontrol emosi. Harusnya Qyla lebih hati-hati lagi. Hm ... Kakak tidak akan meninggalkan Qyla, bukan?” ucapku hati-hati.
Werrent tertawa di sampingku, dia tertawa dengan keras hingga membuatku menunduk. Ternyata Werrent memang tidak menganggapku seberharga itu, mungkin jika sudah saatnya, aku akan terbuang seperti baju yang sudah tak terpakai lagi. Aku ... salah melangkah.
“Aku kira ada kejadian apa, ternyata hanya masalah itu. Tidak apa, Asqyla. Tidak perlu dipikirkan, aku saja sudah lupa tentang kejadian tadi pagi,” jawabnya dengan hangat. Dia mengelus kepalaku lembut.
“Tapi ... Kakak tidak akan meninggalkanku, kan?” gumamku.
Rasanya aku tidak ingin mengatakan hal itu walau dalam hati sekalipun. Werrent terkekeh, “Kalau kamu bilang seperti itu, rasanya aku tertarik untuk meninggalkanmu, Asqyla.”
“Kakak!” teriakku dan memandangnya langsung ke dalam bola mata abu terangnya itu. Iris matanya begitu indah hingga aku menghela napas dan tidak jadi kesal padanya.
“Aku hanya bercanda, mana mungkin aku membuang Istriku yang cantik ini,” jawabnya seraya mencium kepalaku. Lagi-lagi seperti ini. Kelakuan Werrent sangat manis, tapi perasaanku tetap tidak bisa tenang.
Werrent menidurkan kepalanya di pahaku, aku mengusap rambutnya perlahan. Terbuai dengan belaianku, Werrent menutup matanya dan menarik tanganku lalu menciumi telapak tanganku.
“Pernah. Pernah terlintas dipikiranku untuk meninggalkanmu.”
Badanku menegang, tanganku yang membelai kepala Werrent terhenti seketika. Werrent membuka matanya dan menatapku yang terdiam kaku. Tangannya terulur menyentuh pipiku.
“Memang pernah, tapi itu dulu. Sudah sangat lama sampai aku sendiri hampir melupakannya.”
Jantungku masih berdetak tak karuan, dulu? Hubungan kami tidak selama itu sampai dia bisa menggunakan kata dulu. Werrent kembali meraih tanganku dan memejamkan matanya kembali.
“Awalnya aku ingin menyerah, Asqyla. Bahkan memanggilmu dengan panggilan Istriku saja sudah terasa seperti mimpi. Tapi, tidak lagi. Kehadiranmu di sini sudah cukup membuktikan bahwa aku tidak bermimpi. Walau kadang rasanya semua ini hanya delusiku.”
Semua perkataan Werrent tidak bisa aku cerna dengan baik, dia seakan mengatakan kejadian lampau dan menjelaskan bahwa aku ada dalam ceritanya. Tapi, itu tidak mungkin. Tidak pernah ada kejadian di mana aku bertemu dengan Werrent di masa lalu. Tidak sama sekali. Jangan katakan padaku kalau dia salah mengira bahwa aku adalah orang yang selama ini dia cari.
Apa ini maksud dari perkataannya tempo hari yang menyatakan bahwa dia yang memilihku untuk menjadi pendampingnya? Jadi ... ini adalah maksud semuanya, ya?
Hatiku mendadak panas, kulanjutkan membelai kepala Werrent. Hanya dengan ini perasaanku bisa membaik. Iya, aku harus melupakan perkataannya agar tidak jatuh terlalu dalam. Namun, rasanya benar-benar sakit hingga aku menitihkan air mata. Harusnya tidak seperti ini karena aku tidak pernah menyimpan perasaan apapun pada Werrent. Harusnya tidak seperti ini karena aku memang tidak pernah mengharapkan cinta secepat ini.
Tapi, kenapa perasaanku seakan tidak menerima itu semua?
Sakit ... sakit sekali hatiku, harusnya tidak seperti ini bukan? Karena aku tidak pernah menyimpan perasaan apapun. Harusnya aku menjawab, kalau aku bukan orang itu dan dia salah memilih orang. Tapi apa ini? Rasanya kerongkonganku meleleh, pedih sekali menahan isakan tangis ini. Kenapa rasanya bisa sesakit ini? Siapapun itu, tolong peluk aku dengan erat agar suara tangisku tidak bisa di dengar orang lain atau bahkan diriku sendiri. Aku mohon ....
Werrent tersentak kaget karena air mataku mengenai wajahnya, dia terduduk dan membelai rambutku. Perlakuan Werrent malah membuatku semakin sakit dan terluka. Wajah khawatirnya itu seharusnya bukan ditunjukkan kepadaku, tapi kepada pemilik hati Werrent yang sebenarnya.
Tapi, itu semua tidak penting lagi saat Werrent memelukku dan mengusap punggungku dengan perlahan. Tangisanku yang tak bersuara berubah menjadi isakan tangis dan bahkan lebih kencang dari pada tangisan anak kecil. Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Kenapa? Kenapa Werrent harus membicarakan orang lain dengan perasaan yang begitu merindukannya? Kenapa dia bisa menjelaskan dengan hati-hati seperti itu seakan dia tidak ingin menyakitinya sehelai rambut pun? Siapa perempuan yang dicintai orang sedingin Werrent?
Apa aku telah menghancurkan kehidupan seseorang dengan keputusan yang tidak pernah terpikirkan akan aku sesali di kemudian hari?