
“Qyla, apa makna langit bagimu?” tanya Radith membuatku mengkerutkan keningku.
Aku berdeham, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang Radith lontarkan. Makna langit katanya?
Aku menatap langit yang mulai sedikit terang. Makna, ya? Aku agak bingung untuk menjawab pertanyaan dari Radith. Aku menghela napas panjang.
“Hal indah yang selalu menyelimuti dunia dari hujan, badai, panas, juga dingin. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” ucapku balik bertanya.
Radith terdiam untuk sesaat, lalu menatapku penuh arti. Keheningan ini membuatku tidak nyaman, karena pada biasanya, Radith sangat-sangat berisik hingga aku terbiasa. Namun, kesunyian ini membuatku bemar-benar cemas dengan kondisiku dan dirinya.
“Kenapa tidak mencoba sepertinya? Menyelimuti orang-orang di sekitarmu, walau semuanya tidak selalu tahu apa yang sedang kamu alami. Dengan bersikap seperti Asqyla Dinara yang selalu resek dan menyebalkan.”
Aku memutar bola mataku kesal, “Kamu sedang memujiku atau menghinaku, Dit?”
“Keduanya mungkin?” jawab Radith ragu.
Aku melototinya, “RADITH!”
“Ouch, aku bercanda, La.”
Aku terus mencubit pinggangnya hingga dia meminta ampun untuk menghentikan cubitan mematikan kepadanya, kami terus bersenda gurau hingga rasanya aku harus pulang karena bagaimana pun aku sudah punya seseorang yang sedang menungguku di rumah.
...***...
Radith berpamitan setelah mengantarku sampai ke depan rumah. “Yakin gak mau mampir dulu, Dit? Aku buatin kopi, gimana?” tanyaku berbasa-basi.
Radith menerima jaketnya yang tadi dia pinjamkan kepadaku lalu memakainya tanpa turun dari motornya, “Gak perlu, sudah waktunya aku siap-siap untuk berangkat sekolah. Nikmati minggu ini, Qyla. Aku tunggu kamu di sekolah minggu depan.”
Radith mengecup pipiku lalu pamit, aku melihatnya pergi menjauh lalu masuk ke dalam rumah. Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.50 pagi, dan aku masih belum mengantuk. Aku melepas sepatuku lalu melangkah menuju kamar, tapi cahaya di dapur menarik perhatianku. Aku melangkah perlahan menuju dapur lalu menyalakan lampu tanpa ragu sama sekali.
“Kakak?!” seruku terkejut dengan kehadirannya.
“Baru pulang?” tanya Werrent datar.
Werrent menyandarkan badannya di lemari es, tangannya sedang memegang ponsel. Sepertinya dia sedang menghubungi seseorang, lalu tangan satunya memegang botol air mineral. Dengan tatapan tajam dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kamu keluar tanpa jaket? Bagaimana kalau kamu sakit? Angin malam itu berbahaya, Asqyla.”
Dia mengatakan itu dengan nada khawatir, tapi tidak dengan air mukanya. Sebuah kerutan di dahinya terlihat sedang menahan emosi. Namun, aku tidak perduli dan mencoba untuk menghilangkan kekhawatiran dan amarah yang tengah melanda Werrent.
“Tadi Radith sempat meminjamkan jaketnya, Kak.”
“Radith?” tanya Werrent kesal.
Dia beranjak menghampiriku, menatapku lebih tajam dari pada tadi. Botol air mineral yang dia pegang ia remas, mungkin sebentar lagi tutupnya akan melayang karena remasannya begitu kuat. Rahangnya mengeras, dia terus menyudutkanku sampai badanku menambrak pilar karena Werrent terus menyudutkanku. Dia memang sering menatapku dengan tajam sejak saat kita berjumpa pertama kali. Tapi, kali ini tatapannya benar-benar membuat tubuhku merinding.
“Qyla memang benar-benar mencari angin, lalu kebetulan kami bertemu.”
“Sampai harus berpelukan?” tanyanya memastikan.
“Tidak, kita tidak melakukan hal itu, Kak.”
Werrent semakin mengintimidasiku, ia meninju pilar yang aku sandarkan tepat di samping wajahku lalu wajahnya semakin mendekat.
“Aku tidak suka jika kamu menjadi pembohong, Asqyla.”
Aku menjatuhkan badanku saat dia menjauh dan meninggalkanku di dapur, seluruh energiku hilang, jantungku masih berdetak dengan kencang hingga membuatku kesulitan mengambil napas. Werrent yang sangat manis yang pertama kali aku kenal bukanlah Werrent sekarang yang penuh dengan amarah setiap aku berhubungan dengan Radith. Aku tahu dan sadar apa yang aku lakukan bisa saja melukai perasaan Werrent, tapi maksudku hanya berbincang, tidak lebih. Dan lagi aku sudah bilang berkali-kali padanya kalau aku dan Radith hanya teman masa kecil.
...***...
“Siang nanti keluargamu datang kemari bersama keluarga lelaki itu, ingat, Asqyla. Jangan bertindak seenaknya.”
Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan badanku langsung menerima ancaman dari Werrent tentang permintaannya yang menyuruhku untuk tidak terlalu dekat dengannya, aku menjelaskan padanya kalau Radith mungkin saja tidak akan hadir karena hari ini dia harus berangkat sekolah. Tapi, tetap saja dia memintaku untuk menjaga jarak dari Radith.
“Aku tidak ingin kejadian kemarin pagi dan tadi pagi juga terjadi hari ini, kalau bisa— tidak. Kalian harus akhiri hubungan kalian yang tidak aku mengerti.”
“Kakak ingin aku menjauhi Radith karena dia teman kecilku? Kami tidak mempunyai hubungan apapun selain teman.”
Werrent turun dari ranjang lalu mendekatiku yang sudang duduk di meja rias, dia menatapku kesal lalu mendekatkan bibirnya tepat ditelingaku.
“Semua tindakan itu sama sekali tidak wajar untuk hubungan sebatas teman, Asqyla. Pelukan, ciuman, harapan. Semua itu tidak wajar dilakukan kepada teman.”
Aku menjauh dan berdiri tidak jauh darinya, aku menatapnya kesal karena tidak mempercayai ucapanku sedikitpun.
“Kami memang teman, Kak. Itu semua sudah seperti kebiasaan kita karena dari hal itu aku tahu dia benar-benar peduli padaku. Dan aku sendiri yakin masing-masing dari kita hanya punya perasaan sebagai teman.”
Werrent menghampiriku, dia menarik daguku hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku. Setiap hembusan napas yang keluar dari hidung Werrent membuat degupan jantungnya berdetak semakin cepat. Bukan karena reaksi dua insan yang saling jatuh cinta, namun ketakukan akan hal yang akan Werrent lakukan padaku. Lelaki yang tak bisa aku tebak prilakunya, kini mengintimidasiku semakin dalam.
“Kebiasaan? Sejak kapan hal itu menjadi kebiasaan?” tanya Werrent tajam.
“Sejak—”
Kepalaku tidak bisa memproses apapun, sejak kapan hal semacam itu menjadi kebiasaan? Aku hanya merasa itu hal yang wajar dilakukan mengingat kita sudah bersama dari kecil. Tapi, sejak kapan Radith mulai sedekat itu dengan semua hal itu? Seingatku dia sangat tertutup sekali dengan perempuan, bahkan dulu dia tidak berani bertatap mataku kalau kita sedang berbincang.
“Lupakan, Asqyla. Aku hanya ingin kalian saling menjauh, menjadi teman yang hanya teman. Tidak saling memberikan pelukan, kecupan, atau hal lainnya. Aku tidak suka hal yang aku miliki di pegang orang lain.”
Aku mengangguk paham, sekujur tubuhku merinding saat dia menciumku penuh nafsu juga amarah, ciuman kini turun menuju leherku. Aku mengerang karena gigitannya lalu memaksanya untuk tidak melanjutkan hal itu, mataku berair karena tindakan Werrent yang tiba-tiba. Matanya yang terus menatapku tajam kini berubah menjadi lembut, dia memelukku dan meminta maaf karena membuatku kaget dengan kelakuannya.
“Kali ini tolong dengarkan aku, Asqyla. Aku tidak ingin melukaimu.”