WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Sebuah potongan ingatan masalalu



“Alice? Zayn itu siapa?” tanyaku penasaran.


Sir Harris, seorang supir yang Werrent tunjuk untukku, tiba-tiba saja menghentikan mobil. Membuatku kaget namun Alice seperti kalut dalam pikirannya. Aku terdiam beberapa saat, binggung dan betanya-tanya kenapa. Apa pertanyaan itu memang begitu sensitif? Memangnya Zayn ini siapa, sih?


“Nyonya dan Nona tidak apa-apa, kan? Maaf karena saya menghentikan mobil tiba-tiba,” ucap Sir Harris.


Aku mengganguk dan memperhatikan Alice dengan seksama. Sir Harris kembali menjalankan mobil. Tapi Alice masih terdiam.


“Alice?” tanyaku seraya mengguncangkan tubuhnya. “Ya?” tanyanya spontan.


“Kalau emang gak mau cerita gapapa, Alice. Aku cuman penasaran aja siapa dia. Belakangan ini kalian bahas orang itu,” jelasku.


Sir Harris tampak melirikku dari kaca spion atas kepalanya. Aku memberikan senyuman padanya dan dia mengangguk lalu kembali fokus pada jalan.


Alice terlihat begitu ragu untuk membalas ucapanku. Padahal aku sudah bilang padanya tidak apa-apa. Tapi sepertinya Alice terlalu memikirkannya sampai dia akhirnya membuka mulut. Padahal aku tidak memaksanya untuk menceritakan soal pria bernama Zayn itu.


“Kamu mau tahu tentang dia, Asqyla?” tanyanya memastikan.


Aku penasaran sekali. Benar-benar penasaran. Tapi, apa Alice akan memberitahuku semudah itu? Perdebatannya dengan Alano dan Alano yang mengatakan saat aku pernah bersama Zayn. Dan Alano yang sempat mengatakan bahwa aku harus tahu dari Werrent. Apa memang seharusnya aku menyakan pada Werrent saja?


“Gapapa, Alice. Aku bisa tanya Mas Werrent,” jawabku.


Terlihat wajah Alice yang begitu kecewa dan lega. Aku sendiri tidak paham kenapa dia sekecewa itu. Apa karena aku tidak menanyakannya pada Alice? Ah tidak tahulah! Biar nanti aku pastikan pada Werrent saja.


“Sudah sampai,” ucap Sir Harris.


Pada akhirnya kami hanya terdiam. Alice tidak mengucapkan apapun setelah bertanya padaku dan aku juga tidak memulai pembicaraan karena sepertinya akan membuat Alice tidak nyaman.


Kami berdua turun dari mobil. Sir Harris menurunkan kaca mobil, menatap lembut padaku. “Saya akan memarkirkan mobil dan menunggu Nyonya. Kalau ada apa-apa atau Nyonya sudah selesai berbelanja, Nyonya bisa hubungi saya.”


Aku tersenyum, “Sir Harris bisa panggil Asqyla atau Qyla. Qyla belum terbiasa dipanggil Nyonya.”


Entah kenapa aku merasa pernah mengucapkan kata-kata ini.


“Nyonya masih sama, ya? Ah, maksud saya Nona Qyla,” jawab Sir Harris.


Aku lagi-lagi tersenyum, “Sebenarnya Qyla juga belum terbiasa sama nama Nona. Tapi khusus buat Sir Harris, gak apa-apa. Sir Harris juga boleh pulang, aku sama Alice pasti lama. Nanti kalau kami mau pulang, Qyla hubungi—”


“Nyonya! Nyonya tidak apa-apa?” tanya Sir Harris langsung keluar dari mobil. Alice juga menahan tubuhku. Padahal aku sudah bilang untuk memanggilku dengan nama saja.


Tapi, kepalaku terasa sakit sekali. Semuanya memburam. Pikiranku berputar-putar sampai aku bisa melihat seorang gadis tengah berdiri di depan mobil yang sedang dikendarai Sir Harris.


Aku menghampirinya perlahan, hendak menanyakan siapa anak kecil itu. Tanganku terulur, ingin menyentuh bahunya. Tapi dia berbalik dan tersenyum dengan ceria padaku. Dengan wajah yang sangat aku kenal.


“Aku?” tanyaku pada diri sendiri. Dia tersenyum dan mengangguk. Tidak. Senyumnya bukan untukku. Tatapannya juga bukan untukku. Tapi untuk orang di belakangku. Dari semua yang aku bingungkan, kenapa aku yang berumur 10 tahun itu ada di sini? Aku tidak pernah ingat pernah pergi ke luar negri selain setelah menikah dengan Werrent.


“Kakak udah sampe? Qyla baru aja diantar sama Kakek ini. Dia baik banget! Qyla dikasih permen. Kakak pengen tahu gak permennya rasa apa?” tanya anak itu dengan bahasa inggris yang begitu lancar.


Lagi-lagi kepalaku pusing. Seingatku, aku tidak begitu bagus dalam bahasa lain. Apa anak itu hanya orang yang mirip denganku? Tapi dia menyebut namaku.


“Hm? Rasa apa emangnya? Pasti coklat, ya?” jawab seorang pria di belakangku. Aku membalikkan badanku. Pria yang sedang berbincang padaku itu tidak memiliki wajah. Maksudku, wajahnya buram. Aku sama sekali tidak bisa mengenali wajahnya. Sontak tanganku terulur untuk memegang wajahnya.


“Ah!” seruku. Tanganku menembus wajahnya.


Apa ini? Di mana aku? Dunia lain? Kenapa hal-hal aneh ini terasa begitu nyata?


“Yah, Kak Zayn payah. Masa langsung ketebak, sih!” seru anak itu merajuk.


“Kamu apa-apaan, sih. Panggil supir kita Kakek. Dia kan punya nama. Dia juga bukan Kakek kamu,” ucap seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil.


“Siapa lagi dia?” tanyaku lagi.


Aku mulai membiasakan diri dan melihat apa yang sedang terjadi di sini. Berusaha memahami semuanya.


“Werrent. Kamu gak boleh bilang begitu sama Qyla,” jawab Zayn.


Tunggu. Werrent? Dia itu Werrent?! Anak sekecil itu?


“Apa, sih, Kak. Aku masih gak suka anak itu. Kalau mau pergi jalan-jalan, gak usah ajak aku. Ajak Alice atau Alano aja!” serunya dan pergi begitu saja.


Zayn mengelus kepala anak yang mirip denganku. Dia memberikan permen padanya. “Jangan sedih. Werrent emang begitu. Dia cemburu aja kalau yang diajak jalan-jalan itu aku, bukan dia.”


“Qyla kan udah bilang sama Kakak kalau Qyla gak mau pergi sama Kak Werrent. Dia jahat, Kak!” seru anak itu. Zayn tertawa renyah dan menarik tangan anak itu.


“Sebentar, Kak. Qyla harus pamit dulu sama Kakek.”


“Kamu bisa panggil dia Sir Harris.”


Sir Harris tersenyum di samping mobil. Dia berjongkok dan mengusap kepala anak kecil itu. “Iya, benar kata Tuan Muda. Nona bisa panggil saya, Harris.”


“Iya! Qyla panggil Sir Harris. Kalau begitu, Sir Harris juga panggil Asqyla atau Qyla aja!” serunya.


Sir Harris berdiri dan menggelengkan kepala, “Tidak bisa Nona. Saya tidak bisa memanggil nama Nona begitu saja.”


“Eh? Kenapa?,” rengeknya. “Kalau gitu Qyla panggil Kakek aja!” serunya melanjutkan ucapan sebelumnya.


Sir Harris tampak kewalahan tapi Zayn mengangguk dan memegang pundakku. “Baik. Saya panggil Nona Qyla, ya?”


Anak itu mengembungkan pipinya. Aku sedikit tertawa. Apa aku pernah melakukan itu semua?


“Yaudah, deh. Khusus buat Sir Harris, gapapa panggil pake Nona. Padahal Qyla gak suka nama itu. Tapi gapapa. Sir Harris juga boleh pulang. Gak usah tunggu kita, soalnya Qyla mau main sampe malem! Nanti Kak Zayn telfon Sir Harris buat jemput kita!” serunya girang sekali.


Aku terkaku di tempatku berdiri. Apa ini yang Sir Harris maksud? Tentang aku yang tidak berubah? Aku pikir dia membicarakan wajahku yang tidak berubah sejak pertemuan pertama dengannya.


Apa anak itu memang diriku?


“Kak Zayn! Ayo pergi!” seru anak yang sepertinya adalah diriku.


Zayn menyentuh hidungku. Terlihat sekali kalau aku tidak suka. Pria itu langsung tertawa melihat ekspresiku. “Sepertinya aku pernah bilang kalau kamu gak boleh panggil aku, Kak Zayn, deh,” ucapnya.


Anak itu langsung menutup mulutnya dan memegang tangan Zayn dengan ekspresi sedih. “Maaf, Mas Zayn. Gak bakal Qyla ulang lagi.”


Mas? Panggilan khas dari daerah di Indonesia itu?


Aneh. Benar-benar aneh. Kenapa ada Sir Harris, Werrent bahkan nama Alano dan Alice. Apa Zayn itu memang anggota keluarga Werrent? Tapi kenapa Werrent menikahiku kalau dia saja bilang bahwa dia tidak suka padaku? Dan aku juga jelas sekali mengatakan kalau Werrent itu jahat.


Tuhan... cobaan apa lagi yang Kau berikan padaku? Siapa sosok Zayn ini?


A/N:


Kalau ada typo mohon dimaafkan. Aku udh stress banget sampe males baca ulang tulisanku🤣