
“Qyla!” panggil Alice.
Aku langsung memalingkan wajahku, menatap padanya dengan senyum di wajahku. Sempat aku termenung karena tawaran Alice. Entah bagaimana, aku merasa kalau aku dan Zayn memiliki hubungan yang erat sekali.
“Apa ... Zayn itu Kakakku? Kakak Angkatku?” tanyaku pada Alice.
Yang membuat aku berasumsi seperti itu adalah panggilanku padanya. Dalam ingatanku yang tiba-tiba saja muncul, aku memanggilnya Mas Zayn. Aku pikir, untuk anak sekecil itu memanggil orang dewasa dengan panggilan Mas, sudah pasti itu Kakaknya.
Namun, jika Zayn memang Kakakku. Kenapa sekarang aku menikah dengan Adiknya? Argh! Pikiranku berantakan sekali! Apa yang harus aku lakukan sekarang!
“Hahaha!” tawa Alice.
Aku langsung menatap pada Alice. Dia memegang bahuku sambil menggelengkan kepalanya. Tangan satunya ia tempelkan di perutnya. Semakinlah aku memandanginya, tidak mengerti kenapa dia tertawa terpingkal-pingkal seperti itu.
“Kamu ini lucu banget, sih, Qyla! Mana mungkin Kak Zayn itu Kakak Angkatmu! Yang ada, kamu gak bisa menikah sama Kak Werrent dong!” serunya, masih dengan tawa yang belum mereda.
Aku hanya tersenyum padanya dan kembali memandang ke depan. Pertanyaanku berhasil di jawab, tapi aku tidak punya asumsi lain tentang sosok Zayn ini.
“Sudah, sudah. Jangan terlalu dipikirkan, Qyla. Beberapa bulan lagi aku akan membawamu padanya. Di sana, aku akan jelaskan semuanya. Kamu tenang aja,” ujar Alice sambil menepuk pundakku beberapa kali.
Aku sedikit menghela napasku dengan lega dan menganggukkan kepalaku. Perlahan-lahan, aku mulai mengerti perjodohan ini. Aku juga mulai mengerti dengan hubungan yang aku jalani ini.
“Jangan banyak ngelamun, dong! Ayo kita pulang!” seru Alice sambil menarik tanganku keluar dari lift.
Alice membawaku ke tempat Sir Harris memarkirkan mobilnya, orang-orang yang Alice bayar untuk membawakan barang-barang belanjaannya kini sudah kembali setelah menyimpan semua shopping bag ke dalam bagasi.
“Saya tidak menyangka akan secepat ini, Nona Alice,” ujar Sir Harris sambil membukakan pintu belakang mobil.
“Hehe, Qyla bujuk aku pake bawa-bawa Althaf. Menyebalkan, bukan Sir Harris?” tanya Alice.
Aku hanya bisa tersenyum. Kalau dibiarkan, bisa-bisa kita pulang sampai Mall ini tutup.
“Saya jadi bernostalgia. Nona Alice tidak pernah bisa kalah dalam urusan jam pulang jika bersama dengan Nona Qyla,” ujar Sir Harris sambil tersenyum lebar.
“Benarkah? Aku enggak ingat itu, Sir Harris,” jawabku.
Alice langsung menatap pada pria tua itu. Dia menyenggol pinggang Sir Harris perlahan dan terkekeh.
“Sir Harris ini bisa aja. Udah, yuk. Kita pulang. Kamu bilang kangen sama Althaf, Qyla,” ajak Alice yang langsung masuk ke dalam mobil.
Aku tersenyum pada Sir Harris dan mengikuti Alice masuk. Dia langsung menarik tanganku, memeluknya dan bersandar di pundakku. Aku mengusap puncak kepalanya perlahan, senang sekali memiliki Adik manja seperti Alice.
“Oh, iya, Qyla. Alano tadi mengirimiku pesan, dia bilang Kak Werrent ada di rumah. Kamu masih mau pulang?” tanya Alice.
Aku tersenyum, “Kenapa aku tak mau pulang? Mas Werrent, kan, suamiku.”
Alice hanya tersenyum, dia menganggukkan kepalanya dan kembali bersandar padaku. Alice tidak pernah memojokkanku seperti Alano, tapi jelas sekali kalau dia memang tidak suka aku bersama dengan Werrent.
Awalnya aku kira dia tidak suka karena aku orang asing yang tiba-tiba saja masuk ke dalam keluarganya, tapi ternyata dia memang tidak suka saja aku bersama dengan Werrent yang kelakuannya begitu bejat.
Aku tersenyum padanya, “Gak apa-apa, kok. Aku sayang sama dia, Alice. Gak masalah.”
Alice melepaskan pelukannya di lenganku, dia bersedekap dan menyandarkan badannya dengan kesal. Matanya juga melirik padaku penuh dengan amarah.
“Kamu ini terlalu baik, Qyla!” seru Alice begitu tidak sukanya.
Aku hanya bisa tersenyum saja, tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Sekarang, kebaikan juga jadi sebuah kesalahan?
“Maaf, Qyla,” ucap Alice tiba-tiba.
“Kenapa?” tanyaku yang langsung menatap pada wanita di sampingku ini.
Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu bersandar padaku. Padahal Alice lebih tinggi dariku, tapi dia dengan tidak nyamannya menyandar dibahuku yang lebih pendek darinya.
Aku memang tidak mengerti apa yang Alice rasakan, tapi permintaan maafnya pasti tertuju pada sesuatu. Apapun itu, jika Alice berbuat kesalahan. Aku yakin kalau aku pasti bisa memaafkannya.
“Enggak apa-apa, Alice. Kita pulang,” gumamku sambil mengusap kepalanya perlahan.
Sepanjang perjalanan di mulai, sesudah perbincangan kami berdua. Alice tertidur di bahuku dan aku hanya menatapi keluar jendela. Rintik hujan mulai membasahi jalanan dan aku mulai menikmati pemandangan tersebut hingga kita sampai ke rumah.
Aku membangunkan Alice, dia yang setengah terbangun langsung menatap keluar jendela dan melangkah keluar begitu salah satu pelayan menghampiri mobil menggunakan payung.
Aku juga ikut keluar dari sisi mobil yang lain dan masuk ke dalam rumah sedangkan Sir Harris juga beberapa pelayan lainnya mengeluarkan barang-barang yang Alice beli.
Aku pikir ia akan masuk ke dalam rumah dan merebahkan dirinya di sofa ruang tengah, tapi ia malah berlari dengan sorakan semangatnya sambil meneriaki nama Althaf.
“Dasar Alice,” ujarku sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
***
Aku duduk di ranjangku, menatap lekat ke arah pintu kamar yang tertutup begitu rapat. Aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran Werrent, tapi sejak ia bersikap baik sebelum kepulanganku kemari, aku merasa kalau Werrent lebih memperhatikanku dan aku terus menungguinya.
Kini bulan demi bulan berlalu. Althaf sudah mulai bicara walau tidak jelas. Lebih membahagiakannya lagi, dia mengucapkan ‘Mama’ ketika Alice sedang iseng-isengnya mengabadikan momenku bersama dengan Althaf dan Alano.
Sekarang, aku kembali sendiri. Di ruangan yang seharusnya dipakai oleh sepasang suami istri untuk tidur bersama. Aku bahkan tidak bisa menghitung lagi kapan Werrent pulang kemari. Bukan karena terlalu sering, tapi karena jarang sekali pulang hingga aku tidak ingat berapa kali ia pernah menampakkan dirinya di hadapanku.
Aku juga tidak berani datang ke kantornya karena aku pasti akan bertemu dengan Neva. Wanita ular licik itu. Werrent dan Neva jelas-jelas salah dalam hubungan mereka, tapi aku tidak berani untuk bicara di depan publik. Hatiku terluka, tapi aku tidak bisa menjatuhkan imej Werrent di depan rekan-rekan kerjanya.
“Kamu ini labil sekali, Asqyla. Apa, sih, yang kamu inginkan? Apa ini jalan terbaik buatmu? Apa ini adalah caramu melindungi Althaf? Perasaanmu akan hancur seremuk apa lagi, Asqyla?” tanyaku pada diri sendiri.
Aku tidak bisa mengendalikan diriku dari tangis yang setiap hari menghampiriku. Setiap malam selalu bersarang dalam hatiku. Semua ini terlalu menyakitkan, tapi aku tidak bisa mengambil keputusan untuk pergi.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Pulang ke rumah dan mengatakan bahkan aku dan Werrent usai? Mengecewakan kedua orangtuaku yang telah mendidikku dengan baik selama ini?
Dit ... kamu di mana sekarang? Aku ... butuh kamu.