WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Ada apa dengan Zayn?



Aku memiringkan kepalaku, “Althaf Khalis Orlov? Ya, bagus. Aku suka.” Alice menggelengkan kepalanya, “Althaf Khalis Dinara.”


Apa katanya? Kenapa Alice mengatakan hal yang begitu aneh?


“Dinara? Kenapa namaku?” tanyaku heran. Alice tersenyum lebar dan mencium tangan Althaf.


“Memangnya kenapa? Kamu itu Ibunya, Asqyla. Lagi pula, kenapa harus Orlov? Aku ingin lihat yang beda.”


“Apa Althaf tidak pantas dengan nama Orlov?” tanyaku sedih.


Kenapa Alice tiba-tiba menyarankanku dengan nama belakangku. Apa dia mulai kesal dengan keberadaanku di keluarganya?


Alice terlihat kewalahan dengan pertanyaanku. Dia mencari kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. “Bukan begitu Asqyla! Begini, lho. Kalau kamu cerai sama Werrent, bukankah kamu bisa mendapat hak asuh lebih mudah? Althaf juga enggak perlu bertanya-tanya tentang nama belakangnya nanti. Bukan berarti aku enggak terima Althaf sebagai keluargaku. Aku cuman—” ucapannya tergantung.


Aku mengelus punggung tangannya perlahan. “Aku tidak akan berpisah dengannya, Alice. Memikirkan kalau Althaf akan tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap saja sudah mengerikan untukku. Apalagi tanpa Ayah. Setidakknya aku ingin Althaf bahagia, Alice. Aku mengerti perasaanmu. Tapi, Alice... ini bukan hal yang bisa kamu putuskan begitu saja.”


“Kamu tidak mengerti, Asqyla,” ucap Alice datar. Ekspresi wajahnya begitu kecewa. “Aku ingin segera melepaskan nama ini, Asqyla. Tapi tidak bisa. Bahkan setelah menikahpun aku tidak bisa membuang nama belakangku. Sejak Werrent diangkat menjadi CEO, aku merasa keberatan. Namun Alano tidak ingin merebut kursi tersebut dan aku tidak terlalu pandai untuk mengurus perusahaan. Banyak hal terjadi dan aku merasa kamu tidak seharusnya merasakan apa yang aku dan Alano rasakan.”


“Aku tidak begitu mengerti permasalahan apa yang terjadi. Tapi, Alice. Aku tidak ingin Werrent membuat alasan lain dan mengatakan kalau Althaf bukan anaknya. Hanya itu,” jawabku.


Baru kali ini aku melihat Alice yang begitu kecewa dan sedih sekali. Apalagi menceritakan sesuatu yang sedih. Alice tidak biasanya seperti ini.


“Sudah, sudah. Karena Althaf sudah tidur, kamu mau temani aku jalan-jalan?” tawarku.


Alice mengangguk dan membantuku bersiap-siap. Kami pergi ke atap rumah sakit. Ada taman bermain untuk anak-anak yang dirawat di sini. Banyak sekali anak-anak yang bermain seraya membawa tiang infus. Aku terharu melihatnya. Padahal mereka begitu sakitnya tapi masih bisa mengeluarkan senyum bahagianya. Aku merasa buruk karena kalah dari anak kecil.


Aku harus bisa seperti mereka juga.


“Asqyla? Oyy... aku panggil dari tadi, lho. Kamu gapapa, kan? Apa mau masuk ke dalam lagi?” tanya Alice.


Aku memandangnya. Rambut Alice yang berterbangan dan wajah cantiknya menatapku penuh khawatir. Dia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Membuatku terpanah.


“Kamu kenapa, Asqyla?” tanya Alice lagi.


Aku tersenyum lalu menggeleng. “Enggak. Di sini sejuk. Aku suka.”


Alice tersenyum juga, lalu mengembuskan napasnya pada telapak tangan. “Kamu gak dingin? Nanti malah tambah sakit,” ucap Alice seraya menempelkan tangannya pada pipiku. Hangat.


“Gak boleh kalah sama mereka, dong, Alice,” kataku lalu menunjuk pada anak kecil yang tengah berbincang-bincang bersama yang lainnya.


“Dasar kamu ini,” gumam Alice. Aku hanya tersenyum.


Pandanganku mengarah ke bawah, menatap jalan raya yang mulai bersinar. Langit sudah berwarna kekuningan, memantulkan refleksi cahaya yang indah.


“Hey, Alice?” sapaku.


Dia hanya menjawab dengan dehaman, masih meniup-tiup tangannya. “Sedingin itu, ya?” tanyaku. Dia mengangguk. Padahal seharusnya aku yang merasa kedinginan karena suhu di sini lebih dingin dari pada Indonesia. Apalagi musim sedang dingin sekali. Untung saja salju sudah tidak turun lagi.


“Ada apa?” tanya Alice menanggapi sapaanku.


Aku menangkup wajahku di atas pembatas kaca, masih menatap ke arah jalanan. “Aku sudah meluapkan semuanya,” ucapku dengan lega.


“Semuanya? Pada siapa?”


“Mas Werrent,” jawabku langsung. “Sekarang aku merasa lega sekali. Rasanya beban yang ada di dadaku ikut menghilang setelah meluapkannya padanya.”


Alice sedikit mengangguk. Terlihat jelas dia sedang memikirkan sesuatu. Aku mengusap punggungnya, dia sedikit tersentak. “Ada apa, Alice?” tanyaku penasaran.


“Untuk apa aku menyerah, Alice? Aku tidak ingin menghancurkan hidupku hanya karena keraguan. Aku yakin suatu hari nanti Mas Werrent pasti sadar dengan apa yang dia perbuat. Dan aku rela menunggu sampai kapapun itu.”


Tatapan Alice menusuk jantungku. “Walau sampai matipun?”


Mataku menyipit, tawa kecil keluar dari mulutku. “Ya, semoga saja tidak sampai selama itu.”


Alice tiba-tiba menjauhkan badannya dari pembatas, mendudukkan dirinya di lantai yang dipenuhi dengan rumput sintetis. Aku masih berdiri, menikmati angin yang menerpa wajahku.


“Kamu seharusnya bertindak selayaknya usiamu, Asqyla. Kadang sering kali aku berpikir kalau kamu itu memang anak kecil, tapi aku berlaku lebih kekanakan daripada kamu sendiri,” ucapnya.


Aku mendengarkan setiap katanya dengan anggukan. Membiarkan Alice menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan padaku.


“Kamu tahu? Aku bahagia saat kamu datang kembali bersama Werrent. Aku pikir dia akan berubah karena berhasil mendapatkanmu. Tapi ternyata, aku salah besar.”


Aku mengerutkan keningku tapi masih menatap jalanan.


“Werrent itu Kakak yang baik. Setidaknya pernah seperti itu.”


Aku tersenyum. Kini Alice sedang menceritakan Kakaknya yang pernah ia kagumi. Aku harap Werrent juga bisa baik, seperti yang kamu ucapkan, Alice.


“Setiap aku dan Alano bertengkar, dia selalu menengahi dan mengambil keputusan di mana aku dan Alano tidak berdebat lagi. Dia itu orang yang paling aku sayang selain Zayn.”


Deg.


Jantungku berhenti seketika.


Rasanya aku pernah mendengar nama itu. Rasanya aku begitu familiar dengan orang yang Alice maksud.


Iya, benar. Sepertinya aku mengenal orang yang bernama Zayn ini. Tapi... siapa?


“Zayn?” tanyaku seraya membalikkan badan.


Rambutku berterbangan diterpa angin. Wajah Alice yang merah menatapku penuh kesedihan. Dan seketika hatiku merasa diperas sampai kering. Rasanya sakit namun hampa. Ingin menangis tapi tak ingin. Ingin teriak tapi tak bisa.


Perasaan aneh dan menyakitkan ini menyesakkan dadaku.


“Siapa Zayn, Alice?” tanyaku dengan hidup merah dan mata berair.


Rindu sekali mendengar namanya. Aku tidak pernah memikirkan kenapa nama itu pernah keluar dari mulutku. Tapi sekarang, rasanya aku ingin tahu segala hal tentang orang tersebut. Bahkan aku sempat melupakan statusku sebagai seorang Istri dan Ibu.


“Siapa Zayn yang kamu sebut itu, Alice!” teriakku.


Orang-orang sekitar menatapku penuh tanya. Bahkan ada beberapa perawat yang menghampiriku untuk menanyakan keadaan. Namun Alice langsung membaca situasi dan menyuruhku untuk duduk.


Aku masih setia berdiri memunggungi pagar pembatas. Rasanya tubuhku kaku, hanya untuk menghirup udara saja begitu sesak rasanya.


Karena aku tidak ingin duduk, Alice berdiri dan menggenggam kedua tanganku erat. Dia juga menyampirkan rambutku ke belakang telinga.


Kenapa tatapan matanya begitu sedih? Seolah-olah tidak ingin menjelaskan apapun?


“Zayn itu...,” ucapnya menggantung.


Bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu, namun aku tak bisa mendengarnya. Kepalaku begitu sakit hingga aku terduduk lemas dan tidak ingat apa-apa lagi.


Zayn itu siapa, Semesta?