
Aku menangis semalaman. Menggenggam erat ponsel Werrent yang terus berbunyi semalaman sampai aku sendiri tidak ingat kapan aku terlelap. Yang jelas, doktor memarahiku karena aku tidur larut malam dan memikirkan banyak hal. Kini aku sedang berdiam di taman kemarin. Di mana Danish menemaniku.
Masih dengan ponsel Werrent yang aku bawa ke mana-mana. Rasanya aku bisa sedikit tenang jika membawa benda pipih ini ke mana-mana. Harapan kecil hanya karena fotoku terpampang di sana memberikanku sedikit kepercayaan. Itu sudah cukup untukku.
“Qyla?” tanya seseorang. Aku memalingkan wajahku. Melihat seorang lelaki dengan seragam putihnya. “Kevin?”
Aku berdeham saat dirinya berlutut di hadapanku. Rasa tidak nyaman ini membuat perasaanku kesal. “Kamu masih kerja di sini ternyata,” ucapku asal.
Kevin tersenyum, “Suamimu memecatku. Aku hanya melanjutkan studiku yang sempat terputus. Dan mereka membiarkanku untuk mangang di sini.”
Aku mengangguk perlahan. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Rasa kecewaku masih ada. Tapi, Kevin memang tidak seburuk itu sampai harus aku hindari. “Louis bagaimana? Apa dia masih suka makan permen?”
Lelaki itu tertawa renyah lalu berdiri. Mendorong kursi rodaku menuju ujung taman. “Anak itu terus menanyakanmu, Asqyla. Katanya kenapa dia tidak boleh berkunjung lagi. Dia rindu dengan pelukanmu. Wah, aku iri sekali.”
Aku sedikit tertawa mendengar perkataan Kevin. Sudah kubilang bukan? Kevin tidak seburuk itu. Tapi aku tetap kecewa padanya.
“Tidak baik juga untuk Louis terus keluar masuk rumah sakit. Dia bisa menunjungiku ketika aku pulang. Kamu juga bisa datang, Kevin,” ucapku seraya memalingkan wajahku padanya.
“Ah. Tidak perlu. Biar Louis saja yang pergi. Aku tidak apa-apa,” ucapnya seakan aku akan terus memaksanya untuk datang menjengukku ketika aku sudah di perbolehkan untuk pulang.
“Oke. Tapi kamu bisa datang kapanpun. Sekedar minum kopi juga tidak masalah. Aku ingin kita berteman seperti dulu lagi,” ucapku langsung pada intinya.
Kevin terlihat kaget dengan perkataanku lalu tersenyum. Aku tidak pernah bisa menebak isi hatinya.
“Kenapa kamu sendirian di sini, Asqyla? Alice atau Alano tidak menemanimu?” tanya Kevin penasaran. Aku menganggukkan kepalaku, “Mereka sibuk mengerjakan sesuatu. Aku hanya ingin menghirup udara segar. Sedikit berlari dari kenyataan juga.”
Kevin langsung berdiri di hadapanku dan berjongkok. Menatapku penuh arti. Aku hanya tersenyum. Tidak tahu harus bicara apa.
Tiba-tiba Kevin menghela napasnya dan berdiri di sampingku. “Waktunya kembali ke ruangan.”
Aku menatap kepadanya. Meminta penjelasan lebih, kenapa dia harus membuatku kembal ke ruanganku.
“Jangan menatapku seperti itu, Asqyla. Kamu itu pasien. Aku tidak akan membuatmu semakin sakit. Udara semakin dingin. Tidak baik untuk kesehatanmu. Bukankah kamu ingin cepat pulang?”
Aku menghela napasku, kesal. Kevin benar. Tapi aku terlalu bosan berdiam diri di ruanganku. Sepi sekali tak ada yang menemani. Kevin juga pasti harus melakukan pekerjaannya.
“Kevin?”
“Hm,” jawabnya seraya terus membawaku menuju ruanganku.
“Tak bisakah kita berteman seperti sebelumnya?”
Aku merasakan Kevin sedikit memperlambat langkahnya lalu kembali maju. Apa pertanyaanku begitu keterlaluan?
“Asqyla... bukannya aku tidak ingin menjadi temanmu. Tapi—”
“Situasi macam apa yang sedang aku lihat saat ini,” ucap Werrent dengan datar.
Aku menatap lurus ke depan. Werrent dengan wajah kusamnya menatapku tajam. Rambutnya berantakan, pipinya merah seperti tertampar.
“Kenapa aku melihatmu berdua dengan Istriku lagi, Halton?” tanya Werrent begitu marahnya.
“Diam kamu, Asqyla. Aku tidak bertanya padamu,” ucapnya menatapku tajam. Dia melirik Kevin, “Apa yang kau rencanakan Halton? Apa uang yang aku berikan tidak cukup untukmu?”
Kevin beranjak dari belakangku dan menghampiri Werrent dengan ekspresi kesalnya. “Saya hanya mengantarnya kembali ke mari. Tidak ada hal lain. Pikir semaumu jika tidak percaya. Kalau begitu permisi. Masih ada hal yang harus saya kerjakan.”
Aku hanya menatap mereka berdua dengan kebingungan. Kenapa Werrent selalu marah ketika aku bersama dengan Kevin. Kami hanya berbincang dan dia mengantarku kembali. Hal apa yang harus ia kesalkan? Seharusnya aku yang marah besar padanya.
“Kenapa harus dia?” tanya Werrent padaku lalu membawaku masuk ke dalam ruangan. Dia juga membantuku berbaring di ranjang.
Aku masih memegang erat ponsel milik Werrent. Dia terlihat menghela napas beberapa kali dan mempererat kepalan tangannya.
“Asqyla. Jangan membuatku kecewa. Anak itu... benar-benar anakku, kan?” tanyanya penuh penekanan.
Hatiku hancur seketika. Werrent mempertanyakan kembali kebenarannya. Harus berapa kali lagi aku mengatakan hal serupa kalau anak yang aku lahirkan adalah anaknya?
“Aku tidak ingin sebuah alasan keluar dari mulutmu, Asqyla.”
“Alasan?” tanyaku dengan marah.
Emosiku sudah tak tertahankan lagi. Aku memegang erat ponsel Werrent. Meminta sedikit keberanian dari harapan yang aku buat.
“Apa Qyla harus serepot itu buat alasan? Althaf itu anak Mas!” teriakku. Werrent mengerutkan keningnya, “Althaf?”
Aku menarik napasku dalam-dalam. “Ya. Althaf. Anak kita.”
“Aku tidak ingat pernah memberinya sebuah nama. Apa maksudmu Asqyla. Kamu bilang dia anakku, kenapa kau begitu egois untuk menamainya sendiri?”
Aku menggigit bibirku. Kesal sekali dengan perkatannya. “Apa Mas pernah berbincang tentang anak kita? Apa Mas sekedar datang buat periksa kondisi Qyla atau lihat anak kita? Apa Mas paham perasaan Qyla?”
“Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, Asqyla. Kau tidak akan bertindak sejauh ini kalau dia memang benar anakku.”
“Dia anak kita! Harus berapa kali lagi Qyla bilang kalau dia anak kita, Mas? Harus berapa kali lagi Qyla teriak kalau Althaf memang anak kita. Apa selama ini Mas punya tempat untuk memikirkan nama anak kita? Mas sendiri bahkan meninggalkan Qyla dan bermain dengan wanita lain. Seharusnya Qyla yang meragukan Mas! Bukan Mas yang terus menyalahkan Qyla!”
Keluar. Semuanya keluar dalam pikiranku. Semua beban dan rasa tertekan dalam hatiku meluncur begitu saja. Aku muak dengan ucapannya.
“Wanita lain? Apa yang kau bicarakan, Asqyla!” teriaknya.
Aku bahkan bisa merasakan ada seseorang yang memandang ke dalam ruanganku. Melihat apa yang sedang terjadi. Tapi tak begitu penting. Werrent takkan pernah berubah sekeras apapun aku menahan diriku.
“Wanita yang terus menghubungi Mas semalam. Mengatakan bahwa dia punya janji. Padahal Mas sendiri belum menemui Istri Mas. Qyla kecewa.”
Aku melemparkan ponsel di tanganku padanya. Dia membiarkannya begitu saja sampai terjatuh di lantai. Perasaanku benar-benar hancur sekali. Werrent terus membuat luka di hatiku.
“Kamu melihat ponselku tanpa izin, Asqyla?”
Dari sekian banyak kalimat, hanya itu yang bisa Werrent katakan. Apa baginya, perasaanku bukanlah hal yang penting?
“Bagi, Mas, Qyla itu siapa, sih?”