WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kevin Halton



Seminggu berlalu sejak Werrent pulang di siang hari, belakangan ini Werrent benar-benar sibuk sekali. Bahkan dalah tiga hari belakangan ini dia tidak pulang ke rumah sama sekali. Aku sudah cukup kebosanan hingga akhirnya ada seseorang yang menghubungiku.



“*Masuk*,” ucapku pada Kevin yang sudah berdiri di depan rumahku sejak tadi.



Aku tak habis pikir, dia terdiam di depan rumahku cukup lama dengan tidak melakukan apa-apa, untung saja aku berniat keluar rumah untuk memeriksa apakah Kevin sudah datang atau belum. Dan ternyata dia sedang terdiam di depan rumahku sambil bolek-balik seperti setrikaan. Saat aku memangilnya dia cukup terkejut lalu menatapku dengan datar.



Begitulah kepribadiannya, selama ini aku bahkan tidak pernah melihatnya tersenyum sedikitpun. Aku jadi tertantang untuk membuatnya tersenyum, akan aku lihat seberapa sulitnya membuat dia tersenyum.



“*Tidak perlu, aku menunggu saja di sini*.”



Begitulah ucapnya, padahal dia sering kali ke rumah untuk menjemputku, tapi tak pernah sekali pun masuk ke dalam. Padahal kalau dia masuk ke mari, akan aku tunjukkan setiap sudut ruangan dengan senang hati, bahkan membuatkannya coklat panas kesukaanku yang tidak pernah disukai Werrent. Terlalu manis katanya, namun tak semanis aku. Ada-ada saja.



“*Kamu yakin? Masuk saja dulu, akan aku buatkan minum untukkmu*,” ajakku lagi.


Kevin menggeleng, “*Tidak perlu, aku ingin lihat taman dulu*.”


Aku mengangguk, kalau dia sudah bilang seperti itu masa aku terus memaksanya untuk masuk? Jadi, biarkan saja. Aku akan bersiap sesegera mungkin. Dengan setengah berlari aku masuk ke dalam kamarku, mengambil tas kecil lalu outer dan kembali turun. Tidak perlu banyak hal yang perlu aku lakukan, ini bukan kencan atau semacamnya. Aku tidak perlu berpenampilan cantik.


"Sudah, kita mau pergi ke mana sekarang?" ucapku menghampiri Kevin.


Dia sedang memandang taman, seperti yang sempat ia ucapkan tadi. Aku melihatnya dari samping, sepertinya ucapanku tak terdengar olehnya. Buktinya saja dia tidak menanggapi perkataanku atau bahkan menyadari kehadiranku. Aku perlahan mendekati Kevin, dia masih termenung menghadap semak-semak yang sengaja dirawat oleh tukang kebun, walau aku masih belum mengerti tujuannya apa.


Semilir angin menerbangkan rambutku juga rambutnya. Rambut blonde terang milik Kevin membuatku terpaku, begitu indah dengan wajah datarnya yang putih bersih beserta hidung mancung dan bibir tipisnya. Ciptaan indah lain yang aku lihat dengan mata kepalaku, sejenak aku berpikir, mengapa aku dikelilingi oleh orang-orang tanpan seperti ini? Bahkan Marlo saja juga kalah tampan dengan Radith.


Ah, pria itu. Radith ... aku merindukannya. Sudah berapa lama tidak ada kabar apapun darinya. Terakhir kami berbincang, Radith mengatakan dia akan mempersiapkan segala persiapan untuk pendidikannya. Aku memang menyuruhnya untuk fokus dan tidak perlu mengkhawatirkanku, aku berjanji padanya untuk tetap baik-baik saja dan menghubunginya ketika aku membutuhkan seseorang untuk berbincang.


Namun, karena Werrent mulai membalik dan Kevin juga Louis terkadang mengajakku bermain, keseharianku meningkat sedikit demi sedikit hingga aku terbiasa dan merasa bisa melakukan hal-hal kecil dengan tanganku sendiri. Papa, Mama, Ayah, Bunda, juga Radith pasti bangga padaku. Aku juga merasa diriku mulai berguna untuk Werrent.


“Kevin?” panggilku.


Namun, mau tidak mau dia harus menyelesaikan studinya karena bagaimana pun perusahaan yang memperkerjakan dia hanya menerima pegawai dengan lulusan terbaik walau posisi yang akan ditempati itu termasuk rendah. Tapi, walaupun begitu, Kevin bilang kalau tempatnya berkerja memang tidak main-main. Walau posisi terendah sekalipun, dalam urusan gaji, jumlahnya sangat besar, setara dengan kepala bagian di perusahaan lain. Siapa yang tidak tergiur sih? Tadinya aku ingin meminta Kevin untuk merekomendasikanku karena aku ingin menghasilkan uang sendiri, tidak bergantung pada Werrent melulu.


Tapi, itu tidak mungkin. Menyinggung tentang pekerjaan di perusahaan Werrent saja sudah membuatnya mengeluarkan kartu hitam milik dia, apalagi kalau aku bilang akan bekerja di perusahaan lain. Bisa-bisa Werrent mengatasnamakan perusahaan itu menjadi milikku. Dan aku tidak mau jika hal itu terjadi.


“Sebenarnya kita mau ke mana, sih, Vin?” tanyaku lagi.


Dia tidak menjawab sama sekali, tipikal Werrent sekali. Tapi, Kevin lebih dingin dibandingkan Werrent. Namun, aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya, dia itu kelewat dingin dan tidak perduli. Tapi, tetap saja mengajakku bermain. Terkadang aku berpikir kalau Kevin terlalu memaksakan dirinya untuk berteman denganku, sekelebat pikiran akan Werrent yang sengaja membelikanku seorang teman terlintas di benakku. Namun tidak mungkin, bukan? Untuk apa juga Kevin bersusah payah seperti itu.


“Jadi kamu juga gak bakal bilang mau bawa aku pergi ke mana, nih?” tanyaku dengan nada merajuk.


Kevin mulai melambatkan laju mobil dan melirikku tanpa menengok ke arahku. Dia berkata, “Lagi?”


Aku mengangguk, “Werrent juga begitu, selalu diam kalau aku tanya ke mana tempat yang akan kami tuju.”


Kevin mengangguk beberapa kali lalu mengajukan pertanyaan lagi. “Dia pacarmu? Aku tidak tahu kalau kamu punya pacar selama ini.”


Aku memelototi Kevin, lagipula dia tidak pernah menanyakan tentang kehidupanku. Malah dia tidak tertarik sama sekali, lalu apa gunanya aku bercerita dengan sendirinya kalau dia saja tidak berminat mendengar?


“Bukan pacar, sih. Tapi, dia itu—”


“Bukan, kan?” potong Kevin.


Aku mengangguk, “Iya. Tapi ....”


“Yang penting bukan. Gak perlu dijelaskan lebih lanjut.”


Aku menatapnya dengan bingung, terlihat dia menarik sedikit sudut bibirnya. Dia itu kenapa sih? Masa aku belum selesai berbicara dia susah memutuskannya sendiri? Werrent memang bukan pacarku, karena jelas dia suamiku. Tapi, Kevin sama sekali tidak ingin aku melanjutkan kata-kataku seakan dirinya hanya butuh jawaban iya atau tidak dari pertaannya perihal aku memiliki pacar atau tidak.


Aku menyandarkan badanku, menghembuskan napas dan memejamkan mata. Aku tidak ingin banyak berbicara dengan orang yang tidak membalas ucapanku dengan benar. Walau sebenarnya Kevin dan aku sudah dekat, rasanya malas saja jika aku bercerita dan Kevin hanya menanggapi dengan anggukan. Kevin mulai berubah beberapa waktu ini, mungkin karena pekerjaannya atau masalah lain.


Tapi, aku lebih menyukai pribadinya yang dulu, dia yang selalu bercanda dengan receh dan membuatku tertawa terbahak-bahak. Sekarang sosok pria itu hilang, tapi tak apa. Aku bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang. Begitu sulitnya mendapatkan teman yang tidak mengharapkan apapun dariku. Kebanyakan orang yang mendekatiku pasti berujung dengan kata-kata yang ingin dikenalkan dengan Werrent. Aku sampai lelah meladeni mereka semua.


“Sebentar lagi kita sampai,” ucap Kevin.


Aku mengangguk, “Memangnya kita mau ke mana?”


“Makan.”