
Aku tertawa melihat ekspresi Radith yang kesal karena Bunda.
“Dasar Bunda, tapi aku sayang.”
“Sayang aku juga nggak, Qyla?” tanya Radith menyebalkan.
“Nggak.”
“Tidur di luar sana,” titah Radith.
Aku terkekeh, “Bercanda kok.”
Aku meraih ponsel Radith yang berada di tengah kasur dan memainkan ponselnya, dia tidak pernah mengubah Password ponselnya, padahal aku sering menjahilinya dengan menghubungi beberapa teman perempuannya berusaha untuk mendekatkan mereka dan di akhiri dengan permintaan maaf Radith kepada perempuan-perempuan itu juga amukan yang dia berikan padaku. Lagian salah siapa dia memakai tanggal lahirku, sudah jelas aku akan mengingatnya.
Radith membuka tasku dan mengeluarkan baju yang akan aku pakai untuk besok, dia menggantungkannya agar tidak kusut dan memasukkannya kedalam lemari bajunya.
“Jangan dimasukin lemari, Dit,” sanggahku.
“Tumben Nona Qyla protes.”
“Aku lupa nggak bawa parfum, nanti bajunya bau kamu.”
“Nggak apa-apa dong, kapan lagi cium wangi aku.”
“Nggak. Kamu bau bukan wangi.”
“Terserah. Dalemannya mana? Mau aku simpan.”
“ADIT!” teriakku.
Aku melemparkan bantal sekencang mungkin kepada Radith dan dia tangkis begitu saja, bagaimana bisa seorang pria menanyakan hal itu dengan entengnya? Argh, Radith memang menyebalkan! Dia menatapku sambil tersenyum, sialan. Aku masuk kedalam perangkapnya, Radith benar-benar menyebalkan.
“Nggak usah dicari,” jawabku datar.
Radith tertawa puas, “Iya, bercanda kok.”
Ah iya, aku lupa tujuan awalku kemari. Radith kembali membuka lemari bajunya dan akan menyimpan tasku, aku menghentikannya dan menyuruh dia membuka tas bagian depan. Dia meliriku heran, tatapannya begitu menggangguku. Kenapa dia menatapku seperti itu? Dia tidak melihat dalamanku kan? Aku sangat ingat di mana aku menyimpan coklat yang tadi aku ambil.
“Qyla? Maksud kamu itu apa?”
Sial. Sepertinya Radith tidak menemukan coklat di tas bagian depan.
“Maksud kamu apa, Qyla?” tanya Radith untuk kedua kalinya.
Aku menatapnya seolah tidak tahu apa-apa, dia kembali berucap, membuatku mengerutkan keningku.
“Kamu ngambil semua ini dari kulkas aku, Qyla?”
“Maksudnya?” tanyaku bingung. Syukurlah bukan dalaman yang Radith lihat.
“Coklat ini.”
“Iya, itu buat kamu, Dit.”
Aku kembali memainkan ponselnya dan melihat sosial media yang dia gunakan, banyak sekali perempuan yang mengirimi pesan padanya. Tapi, sepertinya Radith sangat tidak perduli dengan mereka, apa harus aku balas semua pesan-pesannya? Radith menghampiriku, lengannya masih memegang tasku dan mengeluarkan semua coklat yang aku bawa. Aku menatapnya bingung, dia juga menatapku heran.
“Kenapa, Dit?”
“Tunggu sebentar, aku mau ngambil sesuatu.”
Dia meninggalkanku dengan semua coklat yang aku berikan padanya. Pintu terbuka dan aku melihat Radith membawa kotak kado, apa untukku? Dia berjalan dan memberikannya kepadaku, kotak itu dingin. Aku membuka tutup dari kotak itu dan isinya adalah coklat yang sama dengan coklat yang Mama berikan.
Pantas saja Radith heran dengan coklat yang aku bawa, aku melihat coklat didalam kotak dan coklat yang berserakan di ranjang Radith lalu menatapnya. Kita tiba-tiba tertawa, aku mengerti apa yang dia tertawakan, astaga kenapa hal seperti ini bisa terjadi.
“Untuk apa kamu bawa coklat sebanyak ini, Qyla?”
“Untukmu.”
“Untukku?” Radith mengerutkan keningnya.
Aku hanya mengangguk, Radith menatapku heran dan memasukkan coklat yang aku bawa ke dalam kotak berisi coklat yang dia berikan untukku. Aku terdiam dan memperhatikan apa yang Radith lakukan, dia keluar dari kamar sambil membawa kotak kadoku, sepertinya dia akan menyimpannya kembali kedalam kulkas agar tidak meleleh. Dia kembali lagi dan duduk di sebelahku, kembali menanyakan hal yang tak aku jawab tadi.
“Untuk apa kamu bawa coklat itu, Qyla?”
“Untukmu, Radith.”
“Kenapa?”
“Kamu bilang, coklatmu diambil bukan? Itu hadiah dari Mama dan dia beri aku banyak coklat. Kupikir kamu akan sedikit lebih baik jika aku berikan coklat itu untukmu.”
Dia tertawa, apa aku salah? Sebentar. Sepertinya aku melupakan sesuatu.
Iya. Aku ingat!
Radith bilang coklat itu aku, tandanya dia kehilangan aku kan? Kenapa? Aku kan disini. Aku menujuk diriku sendiri dan meminta penjelasan yang lebih jelas lagi dari Radith.
“Coklat yang kamu maksud itu aku?”
“Lama sekali sadarnya, Qyla.”
Radith tertawa setelah berusap seperti itu. Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa hal yang dia maksud itu aku?
“Kapan aku hilangnya, Dit?”
“Sebentar lagi.”
“Sebentar lagi?” tanyaku mengulang ucapan Radith.
“Kamu lupa, Qyla?”
“Perihal coklat?”
“Pernikahanmu.”
Radith membaringkan tubuhnya di pangkuanku, dia memejamkan matanya lalu menutup wajahnya dengan bantal. Benar. Aku lupa. Bagaimana bisa aku melupakan hal yang paling penting? Aku mendorong Radith lalu berlari keluar kamar, semoga Papa belum pulang.
“Papa?!” seruku mencari Papa.
Bunda melihatku dibalik sofa ruang keluarga, kenapa Bunda sendirian? Bunda menghampiriku dan menanyakan kenapa aku berteriak mencari Papa. Aku menjelaskan kepada Bunda kalau aku ingin menanyakan perihal pernikahan yang tadi sore Bunda beritakukan kepadaku.
“Tadi Papa kamu sudah jelaskan tentang pernikahan kamu ke Bunda, katanya pernikahan kamu tidak bisa di undur lebih lama lagi. Sekitar dua bulan lagi upacara pernikahan akan diadakan.”
Jantungku terhenti sesaat, paru-paruku tidak bisa memperoleh oksigen untuk sesaat, rasanya sakit sekali. Kakiku lemas, bahkan untuk menopang tubuhku saja sudah sulit. Tanganku dingin, keringat dingin juga sudah turun melewati pipiku. Aku terdiam, menatap Bunda dan berharap bahwa semua yang Bunda ucapkan adalah kebohongan belaka.
“Bunda akan minta Radith untuk tidak terlalu dekat denganmu, tapi kalau kamu rindu Bunda atau Ayah, kamu bisa datang kerumah. Radith juga pasti kangen sama kamu.”
Bunda pintar sekali membuatku kaget, pasti Bunda sedang bersandiwara bukan? Sekolahku saja baru memasuki semester pertama di tahun terakhir, mereka masih memiliki akal sehat bukan? Aku masih sekolah, kenapa orangtua ku tidak bisa menungguku sampai aku lulus? Atau satu, dua bulan sebelum aku melepas statusku sebagai pelajar?
Aku menatap Bunda tidak percaya dan kembali kekamar Radith, dia sedang sibuk dengan ponselnya hingga tatapannya beralih kepadaku saat aku memanggilnya.
“Kamu balas chat mereka lagi, Qyla? Sudah kubilang, abaikan saj—”
Radith terperanjat dan menghampiriku, mataku tidak bisa diajak bekerja sama. Dia terus menanyakan aku kenapa, aku tidak bisa berhenti menangis. Yang bisa aku ucapkan adalah aku ingin pulang.
Dengan segera dia menarikku dan membawaku pulang ke rumah, seakan tahu apa yang terjadi pada diriku, dia sama sekali terbungkam. Radith yang biasanya penasaran akan segala sesuatu, sekarang terdiam karena sesuatu yang ingin dia tanyakan akan sangat menyakitiku.