WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Pernyataan cinta



“Turun, Asqyla.”


Kevin mengulurkan tangannya setelah membuka pintu mobil sebelahku, aku meraihnya dan mencoba untuk berdiri dengan kuat. Ternyata pergelangan kakiku benar-benar bengkak dan sangat sakit. Aku baru merasakannya di perjalanan tadi. kehingan di dalam mobil begitu mendinginkan kepalaku dan menyadarkanku bahwa bukan hatiku saja yang terluka, namun kakiku juga.


“Aku bisa masuk sendiri, kamu pulang saja Kevin. Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapku pada Kevin.


Pria itu masih terpaku sedang taksi tadi sudah pergi meninggalkan kami berdua. Dia sangat diam dan santai sekali dengan ucapanku yang jelas-jelas menyuruhnya untuk segera pulang. Namun, bukannya pulang, dia malah membukakan gerbang lalu menggendongku kembali menuju dalam rumah. Satpam serta para pelayan menatapku dengan khawatir. Aku hanya berkata tidak apa-apa dan menjelaskan kalau Kevin membantuku. Lalu, mereka mengarahkan Kevin menuju kamarku dan Werrent. Namun, di tengah jalan menuju kamarku, aku meminta Kevin masuk ke ruangan lain. Kamar tamu yang belum pernah terpakai sama sekali.


Dia mengangguk dan mendudukkanku di atas ranjang lalu meminta pelayan membawakan alat-alat kesehatan. Aku hanya menundukkan wajahku, seharusnya aku tidak perlu sampai diam di kamar tamu ini. Aku hanya marah pada orangnya, bukan barang atau tempat miliknya. Tapi tetap saja dia menjengkelkan, aku masih marah padanya.


“Kalau tidak mau cerita apapun, tidak apa, Asqyla. Aku hanya perlu berada di sisimu dan menjadi tempatmu bersandar. Iya, kan?”


Aku tidak menjawab pertanyaan Kevin, dia hanya orang luar yang tidak mengetahui apapun tentangku. Aku tidak ingin bergantung dengan orang lain lagi, aku tidak ingin kecewa.


“Ini Tuan. Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pelayan yang membawakan kotak P3K.


Kevin menggeleng dan menyuruhnya untuk pergi. Aku semakin mendunduk saat Kevin meraih kakiku dan membuka flatshoes yang aku pakai lalu mengoleskannya dengan sesuatu. Begitu dingin hingga aku mengerang.


“Kalau sakit bilang saja,” ujarnya dengan dingin.


Aku mengangguk dan memperhatikannya dengan seksama, dia membalutkan perban di kakiku dan menyuruhku untuk berbaring. Aku perlu istirahat dan jangan pergi kemanapun selama dua hari agar kakiku cepat sembuh. Dia berkata seperti itu seakan dia adalah dokter yang tahu dengan kondisiku hanya dengan melihatnya saja.


“Sejak kapan kamu bisa mengobati orang, Kevin?” tanyaku.


Aku sudah terbaring dan Kevin duduk di sampingku. Dia menyelimutiku dengan baik dan mengelus kepalaku.


“Memangnya aku belum bilang kalau aku sedang studi kedokteran? Walau lagi cuti, sih.”


Aku membelalakkan mataku, “Kamu gak pernah bilang! Terus kenapa kamu memilih buat cuti sekolah lalu bekerja?”


“Seingatku aku juga pernah bilang kalau aku sangat ingin masuk perusahaan tadi.”


“ROLOV?”


“Kamu tahu perusahaan itu? Padahal nama yang tercantum di luar kantor gak sependek itu.”


Gimana aku gak tahu, Kevin? Perusahaan itu kan punya Werrent, suamiku. Ah, sudahlah! Aku tidak ingin membahas orang itu. perasaanku masih sakit.


“Aku masih penasaran,” ucap Kevin.


Aku meliriknya, “Tumben sekali kamu penasaran, kenapa?”


“Hm, kejadian tadi.”


Deg. Jantungku seketika berhenti berdetak, bukannya sudah jelas aku tidak ingin menjelaskan kejadian tadi? Apa Kevin setidak peka itu, hah?!


“Aku ingin bertanya apa yang terjadi, aku ingin tahu kejadian apa yang membuatmu kesakitan seperti ini. Lalu, apa yang membuat kakimu sampai terkilir begitu. Pasti bukan karena terjatuh di toilet, bukan? Aku tahu cerita itu kamu buat-buat.”


‘Gak baik lho kamu cerita masalah rumah tangga kamu ke orang lain, apa lagi aku.’


Seketika perkataan Radith terngiang di kepalaku. Radith benar, tidak boleh. Orang lain tidak boleh tahu masalah rumah tanggaku.


Aku tersenyum, “Aku--”


“Tapi ... seharusnya aku tidak boleh penarasan akan apapun, bukan? Karena kalau kamu bicara, tandanya aku sudah kamu percayai.”


“Bukan begitu, Kevin.”


“Tapi begitu kenyataannya, Asqyla. Memang begitu, kamu bahkan tidak pernah menceritakan dirimu sendiri sedangkan kamu sudah tahu kehidupanku seperti apa. Kalau kamu menaruh kepercayaan sedikitpun padaku, kamu pasti akan bergantung. Selama ini kamu hanya menganggapku teman, Asqyla?"


Aku terduduk kaku, apa yang sedang Kevin bicarakan? Kita memang teman, apa maksud dari perkataannya? Apa dia menganggapku sahabat? Ya, kupikir hubungan kami memang sedekat itu.


“Apa kamu belum sadar selama ini? Apa kamu tidak sadar kenapa aku bersikap dingin padamu? Apa kamu tidak penasaran kenapa aku berubah? Itu semua karena kamu Asqyla. Kamu!”


Aku menunjuk diriku sendiri, “Aku kenapa?”


Kevin menghela napasnya, dia berdiri dan menatapku lekat.


“Aku menyukaimu, Asqyla.”


Jantungku seketika berdetak dengan cepat, namun bukan perasaan senang yang aku rasakan. Perasaan takut kehilangan, karena jelas sekali Kevin tidak tahu aku sudah menikah. Dia tidak tahu sama sekali. Aku harus bagaimana?!


Tiba-tiba Kevin berlutut di hadapanku, aku menyembunyikan tangan kananku dan Kevin meraih tangan kiriku lalu mengecupnya. Aku tahu kemana arah tujuannya berbicara.


“Maukah kamu menjadi pasanganku, Asqyla? Dalam tiga tahun lagi aku akan kembali berlutut dengan cincin pernikahan. Untuk saat, apa kamu mau bertunangan denganku?”


Pernyataan itu keluar, bahkan jauh dari ekspetasiku. Aku membayangkan bahwa dia akan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tapi, apa-apaan dengan pertunangan? Dia benar-benar serius padaku? Bagaimana bisa aku menyakiti perasaannya?!


“A-aku, aku tidak—”


“Tidak perlu di jawab hari ini. Aku hanya ingin menyatakan perasaanku, berikan aku jawaban di lain hari.”


Kevin pamit padaku, “Kalau begitu jaga diri, ingat jangan lakukan hal berat seperti naik turun tangga, panggil pelayanmu atau Marlo kalau kamu butuh sesuatu. Atau hubungi aku juga tidak masalah, aku pulang.”


Aku menghela napasku panjang setelah Kevin meninggalkan kamar, rasanya lega sekali diam di dalam keheningan ini. Para pelayan tidak berani masuk untuk sekedar menanyakan kabarku, aku hanya pernah berbicara kalau aku tidak terlalu nyaman di depan para pelayan dan meminta Werrent untuk tidak merekrut banyak sekali pelayan hanya untukku. Aku bukan puteri atau apapun itu yang tidak bisa melakukan apa-apa. Juga tidak enak saja menyuruh orang lain melakukan sesuatu untukku.


“Nyonya, sudah waktunya makan malam. Perlu saya bawakan makanan Nyonya ke dalam kamar?” ucap salah satu pelayan dari depan pintu.


Sebenarnya mereka tidak perlu menjaga jarak sejauh itu, aku hanya kurang nyaman karena mereka terlalu memperlakukanku berlebihan. Rasanya aneh saja. Aku menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan, bisikan-bisikan dari depan pintu terdengar hingga kemari. Namun, aku memutuskan untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Karena pasti ada baik-buruknya aku yang mereka bicarakan.


“Ada apa, Nyonya?” tanyanya sangat rendah. Dia menunduk dan tangannya gemetar.


Aku tersenyum, aku tidak akan melakukan hal buruk pada kalian. Apa ini waktunya aku untuk mulai terbiasa dengan hal-hal berlebihan macam ini?