WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Werrent punya anak?



“Asqyla?! Kenapa ... kenapa kamu datang ke sini?” tanya Werrent dengan kagetnya.


Aku terdiam untuk sesaat. Jantungku seketika jatuh, rasanya hampa sekali. Aku memegang perutku perlahan. Sudah mulai membesar, namun tak terlihat dengan jelas. Aku memengang perutku dengan lumayan keras. Kakiku mundur beberapa langkah. Kekecewaanku begitu dalam, tak ada satu hal pun yang tidak bisa membuat aku tidak terkejut dengan seluk-beluk hidup Werrent. Aku lelah.


“Asqyla?” tanyanya lagi. Kali ini dengan nada yang begitu lembut.


Dan ini lah yang terjadi. Aku terdiam di tempat, padahal seharusnya aku pergi saat ini juga. Aku benci dengan diriku sendiri yang masih mencintainya begitu dalam. Karena apa? Karena apa aku mencintainya? Aku sendiripun masih bertanya kenapa.


“Duduk lah, mau sampai kapan kamu berdiri di depan pintu?”


Ucapan Werrent mengalihkan perhatianku serta membuat wanita yang tidak aku ketahui itu marah. “Siapa dia?! Kenapa kamu berkata lembut padanya sedangkan aku tidak? Apa bagusnya dia dibandingkan aku, Werrent?!” teriaknya.


Aku masih terpaku di depan pintu. Wanita itu berjalan kepadaku dengan langkah besar dan ekspresi kesal di wajahnya. Aku mundur beberapa saat hingga menabrak pintu yang sudah tertutup di belakangku. Wanita itu mengerikan sekali.


“Aw!” ringisku.


Dia mendorong bahuku dengan telunjuknya dan mengakibatkan punggungku terbentur gagap pintu. “Kamu itu siapa, hah? Bahkan wajahmu tidak bisa bersanding denganku. Apa yang kamu inginkan darinya? Harta? Kekuasaan? Atau tubuhnya? Ha ... menjijikan,” bisiknya di telingaku.


Aku tertegun dengan ucapan wanita itu, namun tak berapa lama kemudian dia menjambak rambutku dan menyeretku menuju Werrent. Aku berteriak kesakitan, tarikan tangannya begitu kuat hingga sepertinya rambutku akan lepas semua dari kulit kepalaku.


“Ah--hey! Sa-sakit! Lepas, hey!” ringisku berkali-kali agar dia melepaskan tangannya dari rambutku. Namun, apa yang terjadi membuatku kaget sekaligus senang.


“Jangan sentuh wa.ni.ta.ku.”


Werrent menekan kan ucapannya pada wanita yang masih setia menjambak rambutku. “Haha? Wanitamu? Jadi dia yang menjadi istrimu itu? Apa bagusnya, Werrent? Dia bahkan bukan selebritis!” teriaknya di sebelah telingaku.


Tiba-tiba dia mengangkat kepalaku agar sejajar dengan wajahnya dan menatapku dengan tatapan kasihan. Tangannya masih menjambak rambutku lalu tangan satunya membelai pipiku perlahan dan menekan daguku. Wajahnya kian dekat denganku, aku menutup mataku.


“Dia bahkan anak kecil sepolos ini Werrent. Apa yang kau harapkan dari anak kecil macam dia? berguna saja tidak!”


Dengan sekali hentakan, wanita itu mendorongku dengan keras. Aku terpental hingga meja Werrent yang tidak terlalu jauh dari posisi kami berdiri tadi. Werrent langsung berdiri dan menatap wanita itu dengan tajamya.


Plak!


Satu tamparan terlayangkan dari tangan Werrent menuju pipi wanita itu. Suara yang begitu nyaring menandakan kalau tamparan Werrent begitu keras. Aku juga bisa melihat wanita itu membeku seraya memegang pipinya yang merah sekali. Bahkan cap tangan Werrent tercetak di pipi putih wanita itu. Aku berusaha untuk berdiri namun perutku sakit sekali.


Iya! Anak! Anakku! Aku memegang perutku dengan erat. Aku tidak membenturkan perutku pada meja. Yang terbentur hanya pinggangku saja, mungkin karena itu perutku sakit. Aku yakin kandunganku baik-baik saja selama aku tidak mengalami pendarahan. Yang perlu aku khawatirkan saat ini adalah Werrent. Dia berniat untuk memukul wanita itu lagi.


Aku mengerti kalau dia mengkhawatirkanku, tapi yang Werrent hadapi itu wanita. Dia itu perempuan dan Werrent ingin memukulnya?


“Bagaimana rasanya? Enak? Ha ... aku tak habis pikir, kenapa aku bisa mengencani manusia picik macam kau. Tidak cukup dengan uangku, kau malah bermain dengan lelaki lain di belakangku. Aku masih diam karena kau masih membutuhkanku. Namun apa-apaan ini? Anak? Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu? Kita bahkan hanya tidur dua kali selama berkencan. Dan aku ingat jelas, aku tak pernah sekalipun melepas pengamanku. Karena aku tahu, orang-orang macam kalian bisa membuatku jatuh dengan hanya asumsi tidak jelas seperti itu.”


“Ah! Werrent! Aku mohon, maaf ... maafkan aku. Argh! Sa-sakit, sakit sekali, Babe! Lepas!” serunya. Aku diam mendengar semua ucapan Werrent.


Aku sudah tahu betul sifat Werrent selama ini karena penuturan yang Alice dan Alano jelaskan. Werrent itu badjingan, brengs*k, tidak punya hati dan hal buruk lainnya dalam urusan percintaan. Werrent itu tidak setia, tidak walau hanya sedikitpun.


Tapi untuk sesaat, aku tersenyum karena walau di bilang ini menjijikan tapi Werrent tahu hal yang begitu dia sayang dan dia lindungi. Berdiri di puncak tertinggi itu tentu harus bertahan dengan segala hal buruk yang akan menerpa. Termasuk hal yang bisa melemahkannya. Aku bangga padanya untuk sesaat, namun perasaanku juga terluka. Karena pada dasarnya, aku tumbuh dilingkungan yang begitu kental dengan banyaknya adat. Dan salah satunya adalah menjaga kesucianku hingga menikah.


Namun di tempat Werrent tumbuh, itu hanya sebuah selaput yang bisa rusak kapanpun pemiliknya mau tanpa berpacu pada apapun. Bagi mereka mungkin biasa, namun bagiku tidak.


“Siapa yang kamu panggil? Orang itu sudah tidak ada, sekarang pergi dari hadapanku!” teriak Werrent lalu mendorong wanita itu hingga tergeletak di lantai. Aku berniat menghampiri wanita tersebut untuk menolongnya, namun saat aku mencoba untuk mengulurkan tanganku, wanita itu menarik lenganku hingga aku terjatuh di lantai dengan perutku terlebih dahulu.


Aku menahan nyeri yang begitu memilukan. Perutku sakit sekali, rasanya aku mual sekali. Namun Werrent menarikku untuk berdiri dan memeluk pinggangku agar aku bisa berdiri dengan benar.


“Pergi dari hadapanku atau semua propertiku, aku cabut!” teriak Werrent lagi.


Jika di ingat-ingat, Werrent tak pernah membentakku dengan kasar. Hanya dengan kelakuannya yang begitu bejat saja dia melukai perasaanku. Namun tetap saja, aku tidak bisa menerima semua kenyataan itu dengan lapang.


“Kamu gak apa-apa, kan? Coba lihat ada yang memar? Atau ada yang sakit?” tanya dia dengan Khawatir. Aku tersenyum lebar padanya, “Gak perlu khawatir, Mas. Qyla gak apa-apa.”


Bohong. Jelas sekali aku kenapa-napa. Perutku sakit, namun tidak ada darah yang keluar dari kemaluanku. Jadi aku masih aman, mungkin pulang dari sini aku harus mampir ke dokter untuk memeriksa kondisiku.


“Hm ... Mas?” tanyaku.


“Iya, Sayang?”


“Kalau yang perempuan itu bilang bener gimana? Siapa tahu dia anaknya Mas.”


“Enggak mungkin, Istriku. Aku tahu apa yang aku lakukan, jadi gak mungkin.”


Aku terdiam untuk sesaat, kenapa dia begitu kerasnya bilang tidak ingin? Apa karena dia benci anak kecil?


“Hm, kalau tiba-tiba Mas punya anak, gimana, Mas?”


A/N:


Rasanya pengen buat mereka akur kyk gini aja~~