WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Yakin, dia bukan pacarmu, Asqyla?



Angin membuat wajahku semakin dingin, jaket yang diberikan Radith tidak bisa membuat wajahku hangat tapi bisa membuatku menjadi lebih tenang sedikit. Aku mencengkram kemeja seragamnya lalu menyandarkan kepalaku di punggung Radith, motor Radith melaju dengan perlahan, menikmati setiap moment yang tidak akan bisa kita alami lagi. Aku sudah menceritakan setiap hal yang aku bingungkan, poin pentingnya adalah pernikahan, lalu sisanya adalah hubunganku dengan Radith juga sekolahku. Semua pertanyaan yang aku ajukan sudah terjawab olehnya, menjauh atau tidaknya diriku, tidak akan pernah membuatnya berhenti untuk menjadi sahabatku, itu adalah jawaban yang membuatku semakin tidak ingin memiliki jarak dengan Radith.


“Maaf.”


“Untuk apa, Qyla? Perkataan tadi? Gapapa, kok. Aku saja yang terlalu sensitif.”


“Tapi kenapa?”


“Kan sudah kubilang—”


“Tapi aku jahat, Dit.”


“Kamu nggak jahat, kok. Perkataan itu emang benar, kita hanya teman bukan? Lalu, kesalahan mana yang kamu maksud? Apa selama ini kamu menganggap aku musuh?”


“Adit....”


Aku memang jahat Radith. Benar-benar jahat. Seharusnya kamu membiarkanku berusaha keluar dari tempat ini sendirian. Seharusnya kamu tidak menghampiriku tadi sore. Kalau begini caranya, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu, Radith? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan semua ini?


Seharusnya kamu biarkan saja aku, supaya aku paham apa artinya perasaan seseorang. Supaya aku tidak menyesali semuanya di masa depan nanti.


“Sudahlah, masa calon pengantin galau karena cogan satu ini. Atau mau aku gantiin? Jangan deh, kasihan penggemarku.”


“Radith!”


Bercanda mulu, kesal. Tuhan, kenapa aku harus mengenal pria macam dia sih? Aku turun dengan terburu-buru saat kita berdua sudah berada di depan rumahku. Baru kali ini Radith mengagungkan fans-fansnya yang biasanya dia hiraukan.


“Qyla!”


Aku tetap melanjutkan langkah kakiku menuju rumah, tidak menyahuti teriakan-teriakan dari Radith hingga satu kalimat yang langsung membuatku berbalik dan menatap Radith dengan wajah malu.


“Masa mau di bawa pulang, nanti kalau aku antar kamu, kan nggak lucu kalau kena tilang.”


Radith melepaskan helm yang aku pakai, dia masih menertawaiku, malu sekali. Lagian, ini memang salah dia yang sangat menyebalkan. Aku memalingkan pandanganku saat Radith menatapku dengan senyuman puasnya, mataku terpaku saat melihat sosok pria berdiri tidak jauh dari tempat Radith memarkirkan motornya. Helm yang aku pakai sudah Radith lepas, dia merapikan rambutku yang berantakan. Sudah seperti kebiasaan memang, tapi aku merasa risih karena Werrent memperhatikanku juga Radith dari depan sana.


Aku memegang tangan Radith yang sedang merapikan rambutku, dia menatap heran tapi aku menghiraukan tatapan matanya yang seakan berkata ‘Kenapa?’. Aku beranjak dari tempat itu dan menghampiri pria yang masih setia berdiri di depan mobilnya, Radith memperhatikanku. Sama denganku tadi, dia kaget melihatku menghampiri Werrent.


“Kakak ngapain di sini?” tanyaku kaget.


“Lihat kamu lagi pacaran.”


Aku tersentak, dia memang tersenyum, tapi kenapa pandangannya sangat tajam menatap Radith. Dan lagi bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak punya pacar? Setidakpercaya itukah Werrent kepadaku? Lagian, di lihat dari sisi manapun sudah jelas kalau aku dan Radith sama sekali tidak berkencan.


“Bukan kok, Kak. Dia Radith, yang kemarin Qyla ceritakan ke Kakak.”


“Iya, pacar kamu kan?” tanya Werrent dengan nada tidak enak.


Aku menghampiri Radith dan menyuruhnya untuk mengikutiku, awalnya dia bingung dengan tindakanku yang tiba-tiba seperti ini. Lalu dia menyadarinya, Radith menggelengkan kepalanya karena dia tahu aku akan memperkenalkan dirinya kepada Werrent. Tapi, bukan Asqyla namanya kalau tidak bisa bujuk Radith. Aku menarik lengannya agar dia segera turun dari motornya, dia menggelengkan kepalanya berkali-kali berharap aku menyerah. Namun, tidak semudah itu Radith! Walau aku sempat menangis karena tempat gelap tadi, tapi aku masih punya kekuatan untuk menyeret Radith. Werrent masih setia menungguku yang sedang membujuk Radith, dia tersenyum saat aku meliriknya, bercahaya sekali astaga. Dia itu manusia atau malaikat sih, Tuhan?


“Nggak mau, La. Aku pulang aja.”


“Gapapa, Dit. Sekalian aku kenalin, dia kan orang yang curi coklatmu? Nggak mau apa gitu, Dit?”


“Apanya apa sih, La?”


Aku tertawa melihat ekspresi Radith yang kebingungan, tatapan matanya tak henti-henti melirikku juga melirik Werrent. Menggemaskan sekali melihat Radith seperti orang yang sedang kebingungan. Aku masih terus membujuk Radith hingga dia menyuruhku untuk berhenti menariknya dan turun dari motor.


“Kenalan doang, kan?”


“Sekalian marahin juga gapapa, kok.”


“Karena telah mencuri coklatku?”


Aku mengangguk cepat sambil tersenyum, dia ikut membalas senyuman yang aku berikan dengan elusan di kepalaku, aku menahan tangannya karena rambutku yang semakin berantakan karena tangannya. Aku menarik tangan Radith lalu menghampiri werrent, Radith melirikku dan menahan dirinya agar tidak tertarik olehku.


Aku terus mencoba membujuk lelaki itu. Bujukanku tidak pernah bisa Radith tolak kalau aku sudah bersikeras seperti ini. Kalian berdua harus mengakrabkan diri bagaimana pun caranya. Karena tidak mungkin aku harus kehilangan salah satu dari kalian berdua.


“Jangan bilang soal coklat kepadanya, Qyla. Aku hanya menyapa lalu pulang.”


“Kenapa?” tanyaku menggoda Radith.


Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah menyuruhku untuk segera memperkenalkan dirinya kepada Werrent, dia ingin segera pulang katanya. Aku meliriknya kesal lalu kembali menghampiri Werrent tanpa menarik tangannya. Radith menyebalkan. Giliran aku yang menggodanya, dia malah kesal seperti ini. Benar-benar tidak adil!


Werrent masih memperhatikanku dengan senyuman, kita sudah berada di hadapannya, Radith menatapnya dengan intens sedangkan Werrent masih dengan senyumnya. Aku menyiku pinggang Radith agar bersikap biasa saja dengan Werrent, dia yang akan menjadi suamiku, aku tidak ingin mereka berdua bertengkar lalu membuatku merasa jauh dari salah satunya.


Werrent mengulurkan tangannya, menunggu Radith untuk menjabat tangannya. Tapi, Radith masih menatap Werrent tanpa memberikan jabatan tangan yang sudah Werrent tunggu. Aku menyiku pinggangnya sekali lagi, dia segera melirikku lalu mengulurkan tangannya juga.


“Radith.”


“Saya Werrent, cal—”


“Sudah tahu.”


Werrent menatapnya bingung, dia ingat betul bahwa dirinya tidak pernah memberikan fotonya pada keluarga Asqyla juga selalu menghapus postingan yang berisikan wajahnya di internet. Dia juga tidak pernah mengingat Asqyla mengambil fotonya apalagi foto bersamanya. Seakan mengerti apa yang di bingungkan oleh Werrent, Radith menjawabnya dengan dingin.


“Bohong kalau saya bilang saya tidak tahu anda. Tidak mungkin Asqyla bersikap biasa saja kepada seorang pria yang belum pernah saya tahu kalau bukan calon suaminya sendiri.”


Werrent menatapku dengan senyuman yang semakin mengembang. Penuturan dari Radith begitu jelas menohok kebingungan yang Werrent rasakan. Bahkan kata calon suami yang Radith lontarkan pada Werrent seakan memberitahunya kalau Radith sendiri paham akan posisinya dan tahu sampai batas mana dia bisa bertindak.


“Yakin, dia bukan pacarmu, Asqyla?”