
“Apa yang terjadi di sini? Neva?” tanya Werrent. Dia melirik Neva dan meminta jawaban dari pertanyaannya. Aku pikir masalah itu tidak perlu dibahas, karena aku tidak apa-apa.
“Saya datang menjenguk Nyonya, tapi saya terlalu lancang karena tidak membuat janji terlebih dahulu dan datang tiba-tiba.”
Werrent terdiam dan menatapku. “Qyla sudah bilang kalau Neva gak usah buat janji dulu sama Qyla, tapi daritadi Neva malah minta maaf. Padahal Qyla gak bermaksud kayak gitu, Kak.”
Iya, aku harus menjelaskannya dengan jelas kalau ini bukan salah Neva. Karena terlihat dari wajah Werrent kalau dirinya sedang menahan kesal. Aku mengulurkan tanganku, meminta Werrent untuk memberikan bunga yang dia bawa.
Helaan napas keluar dari mulut Werrent dan menghampiriku seraya memberikan bunga dan mengecup keningku sekilas. “Seharusnya kamu buat janji terlebih dahulu sebelum datang kemari.”
Werrent melirik Marlo tajam, “Antar dia kembali ke kantor.”
Mereka berdua pamit dan Neva kembali meminta maaf padaku. Namun, sebelum Neva merampungkan perkataannya, Marlo segera menarik Neva keluar dari ruanganku. Werrent duduk di sampingku dan menggenggam kedua tanganku lembut.
“Seharusnya kamu marah, walau jabatannya tinggi, tidak seharusnya dia bersikap seenaknya seperti itu. Kamu mengerti, Asqyla?”
Aku menggeleng, “Qyla tidak mengerti, Kak. Memangnya kenapa kalau Neva datang tanpa pemberitahuan? Kami juga sudah beberapa kali bertemu dan dia juga sudah meminta maaf walau sebenarnya gak perlu.”
Werrent mengelus punggung tanganku, “Walau begitu, tetap tidak bisa, Istriku. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan hal-hal semcam ini.”
Aku mengangguk, mau sekeras apapun aku meminta Werrent untuk membuat pengecualian, tetap saja aku harus berusaha membiasakan diri walau hal yang Werrent bilang hanya semacam itu benar-benar membebaniku.
...***...
“Bagaimana kalau kita kencan?”
“Hah?”
Aku terkejut dengan ucapan Werrent. Hari ini aku baru saja di izinkan pulang, belum sempat aku duduk, Werrent sudah mengejutkanku dengan ajakannya. Ini hari kerja, lho. Bukan hari libur, Werrent kenapa, sih?
“Gak bisa! Gak boleh!” seruku padanya.
Werrent terlihat santai-santai saja dengan penolakkan kerasku, bukannya kesal atau bingung, dia malah menyeringai kepadaku dengan tatapan tajamnya.
“Oh ... jadi ada orang lain selain aku yang ingin kamu kencani? Tidak, bukan. Apa dia masih mengusik milikku ini, wahai Istriku?”
Ucapannya yang begitu lugas dan menekan mengarahkanku kepada satu sosok pria yang tidak pernah Werrent mention dan sudah lama tidak aku hubungi langsung terlintas dibenakku. Radith. Seharnya aku tidak memikirkan pria lain saat Werrent sedang kesal seperti ini. Tapi, seketika kepalaku terus menerus memikirkan kabar, kondisi, kesehatan dan apa yang sedang pria itu lalukan. Jujur saja selama ini aku tidak begitu memikirkan Radith karna kadang-kadang Kevin dan Louis berbincang denganku. Mengisi waktu luang disaat Werrent tidak di rumah.
Tapi, apa lagi yang terjadi hingga Werrent masih sempat-sempatnya berpikir kalau aku mengalihkan pandangku pada Radith? Bukannya sudah berkali-kali aku jelaskan kalau aku dan Radith tidak ada hubungan apapun selain keluarga, belum pernah dan tidak akan pernah.
“Apa maksud Kakak?” tanyaku tidak ingin menduga-duga terlebih dahulu.
Werrent tersenyum, “Tidak perlu pura-pura tidak tahu, Asqyla. Pasti sulit menyembunyikan perasaanmu padanya. Apalagi kalian sudah tidak berada di tempat yang sama lagi.”
Gocha! Werrent memang membicarakan Radith. Rasanya lelah aku terus mengulang perkataanku berkali-kali. Aku mendekatinya dan memeluk Werrent dari depan. Dia sama sekali tidak membalas pelukanku, tapi tak apa. Memang bukan itu yang aku inginkan.
“Sebenarnya Qyla sudah bosan menjelaskan kepada Kakak bahwa prioritas utama Qyla sekarang adalah menjadi Istri Kakak, melayani Kakak dengan baik dan yang paling penting adalah Kakak di atas segalanya. Qyla kadang bingung, sebenarnya apa yang Kakak takutkan dari Qyla? Padahal—”
“Fffttt....”
Werrent menahan tawanya, aku tidak sedang melucu. Kenapa dia tertawa? Aku menengadahkan kepalaku, masih dengan memeluk Werrent. Senyumnya yang manis itu seketika membuat seluruh keluh kesalku hilang. Bisa-bisanya aku punya suami setampan dia.
Ya, sebenarnya aku tidak ingin terlalu percaya diri, tapi dilihat dari sisi manapun Werrent sudah jelas-jelas tidak suka jika aku bersama Radith. Bahkan hanya mendengar nama pria itu saja Werrent sudah tidak ingin diam di rumah seharian walau itu haru liburnya. Jadi, bukankah aku bisa sedikit sombong kalau Werrent memang cemburu pada Radith, ‘kan?
“Qyla yakin, Kakak pasti takut Qyla berpaling ke orang lain, ‘kan?” jawabku menggoda Werrent.
Pelukkanku masih belum aku lepas, rasanya aku bisa tahu Werrent berkata jujur atau tidak jika aku berada sedekat ini. Walau aku akui jantungku tidak bisa berdetak dengan normal.
“Marlo? Kamu yakin sekali sekali bisa berpaling dariku, Asqyla.”
Aku tersenyum, “Siapa bilang Qyla akan berpaling kepada Marlo? Sudah jelas sekali bukan kalau Marlo langsung menolak Qyla karna Kakak?”
Haha. Senang sekali rasanya, tubuh Werrent langsung menegang. Memangnya dia saja yang bisa menggodaku? Aku juga bisa tahu!
“Hm ... apa yang terjadi, ya, kalau orang itu bisa sampai ke depan pintu dan menyapaku? Kayaknya Qyla mulai rindu deh,” ucapku dengan lemah lembut.
Werrent terpancing. Dia menarik pinggangku dan kami semakin menempel, aku merasakan cengkraman Werrent di pinggangku mengeras ketika aku sedikit tertawa di balik dadanya. Aku berusaha melepaskan pelukanku, Werrent malah merengkuhku dengan kuat. Sebuah kemenangan untukku.
“Apa yang jadi milikku, tidak bisa di rebut dengan mudah.”
Aku mengelus punggung Werrent perlahan lalu tertawa. “Qyla tidak akan direbut oleh siapapun, Kak. Kalau ada pun, mana mungkin Qyla melepas cincin yang begitu indah ini?”
Werrent melepaskan rengkuhannya dan memegang kedua bahuku dengan tatapan kaget. “Mau aku belikan cincin yang lebih mewah lagi? Sebut saja, Qyla. Ruby, Emerald, Gold, Diamond, apapun itu. Selama kamu tidak pergi, apapun akan aku bawakan. Tapi, jangan minta aku mengeringkan samudera atau membawa bintang. Itu mustahil,” ucap Werrent.
Aku semakin tertawa kencang, dia tidak seperti Werrent pada biasanya. Seperti Raja yang tidak ingin kehilangan tahtanya. Seperti kucing yang sedang memelas meminta makan. Ah, gemas sekali.
“Tidak, Kak. Ini saja cukup.”
“Cukup darimananya? Hanya cincin seperti itu saja kamu bilang cukup? Bahkan berliannya saja sangat kecil, Asqyla.”
Aku melihat cincinku, mengusapnya lembut. Berlian ini cukup besar, bahkan ini lebih besar dari yang aku pernah lihat. Dan lagi, bukan itu maksud yang aku ingin sampaikan. Kalau hanya sekadar cincin biasa, untuk apa aku dia di samping Werrent untuk selamanya?
“Gak, Kak. Ini bukan cicin yang seperti itu. Tapi, ini cincin pernikahan kita. Walau ada orang lain yang memiliki cincin yang sama, tetap aja ini spesial. Tidak bisa dimiliki siapapun termasuk Ibu Ratu.”
“Aku sampai dibuat tidak bisa berkata-kata, Asqyla. Bahkan sampai bawa nama Ratu, berani sekali, ya, kamu?”
“Lho, Qyla kan gak bilang yang aneh-aneh.”
Werrent tersenyum, dia mengelus kepalaku. “Iya, iya. Jadi, kencan kita jadi, kan?”
Aku menahan tangan Werrent, “Kakak harus kerja, masa mau bolos kerja?”
“Ini hari liburku, Asqyla.”
“Kakak bohong. Ini hari Rabu!”
“Memangnya libur harus selalu di hari Sabtu dan Minggu, ya?”
Sudahlah, lebih baik aku mengalah. Berdebat dengan werrent hanya akan membuat kita saling marah. Werrent dan Radith sama-sama satu tipe. Tidak bisa dikalahkan dalam debat.
“Jadi, kita mau ke mana, Kak?”