WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kevin Halton (2)



“Kenapa?” tanyaku.


Tidak biasanya Kevin mengajakku untuk makan, biasanya selalu aku yang menyarankan untuk mampir. Karena memang Kevin anti sekali dengan namanya makan di luar. Terlalu ramai orang katanya, tidak bisa menikmati makan dengan benar. Penjelasannya itu sudah seperti apa saja, dasar Kevin.


“Bukannya kamu selalu minta makan?” jawab Kevin dengan datarnya.


Aku tersipu malu, memang benar sih. Tapi, tidak perlu dijelaskan dengan terang-terangan begitu dong! Kevin melirikku lalu kembali menatap jalan di depannya, ini adalah jalan yang baru aku lihat. Sepertinya Kevin mengambil jalan lain.


“Tidak, tujuan kita memang bukan restoran langganan kamu. Aku mau coba cafe di dekat tempat kerjaku yang baru saja buka. Orang-orang kantorku selalu membicarakannya, aku jadi penasaran.”


Aku menggangguk dan mengiakan ajakannya. Terkadang Kevin berbicara panjang lebar seperti ini, namun nada bicaranya tetap dingin. Aku rindu canda tawa Kevin saat kami pertama kali berkenalan. Kulirik wajahnya, wajah khas dengan stereotype orang Indonesia terhadap Kevin benar-benar pas. Rambut pirang, hidung mancung, bibir tipis, kulit putih pucat, juga mata berwarna biru. Awalnya aku mengira kalau mata Kevin berwarna hitam legam, ternyata saat tersorot sinar matahari, warna biru gelapnya indah sekali. Seperti samudera yang terkena sinar rembulan, aku baru kali ini melihat orang dengan manik mata berwarna biru yang begitu gelap legam.


Tiba-tiba Kevin menikung dengan tajam, aku memegang sabuk pengamanku dengan erat. Kevin memang tidak pernah membawa mobil seperti orang biasanya, aku sampai harus menahan napas setiap melihat tikungan, apalagi tikungan tajam macam tadi. Bisa-bisa aku jantungan mendadak, orang-orang di sini memang begitu, ya? Tidak Werrent, tidak juga Kevin. Keduanya sama-sama gila. Aku bersyukur karena Marlo yang terlihat paling waras diantara keduanya.


“Entah kenapa jalanan ini sangat tidak asing di mataku,” ujarku tetiba. Kevin menanggapi, “Aku tidak pernah mengajakmu kemari. Ada apa?”


Aku memalingkan pandanganku pada jendela mobil, “Entahlah, sepertinya aku pernah melewati jalan ini. Tapi aku tidak ingat.”


Aku mendengar Kevin berdeham, tidak kutanggapi lagi. Entah kenapa perasaanku begitu familiar dengan tempat-tempat yang sedang kami lewati. Apa aku dulu pernah berlibur ke sini? Kupejamkan mataku untuk mengingat sesuatu mengenai tempat ini.


Namun, semakin aku mencoba mengingat, semakin sakit kepalaku. Aku kembali membuka mataku, melihat jalanan di sampingku yang dipenuhi dengan lalu lalangnya manusia-manusia. Aku menghela napas, menyandarkan badanku sepenuhnya pada pintu mobil.


“Kamu sakit?” tanya Kevin seraya menjulurkan punggung tangannya untuk memeriksa kondisiku.


Aku menggeleng, hanya kesal karena aku tidak bisa mengingat apapun tentang tempat ini tapi perasaanku seakan memberitahuku kalau aku pernah berkunjung kemari. Aku kembali menghela napas, sudahlah. Mungkin aku melihat tempat ini lewat internet.


“Masih jauh, Vin?” tanyaku.


Aku mulai kebosanan di dalam mobil, tidak ada yang bisa dibicarakan hingga rasanya aku ingin cepat-cepat sampai di cafe yang Kevin sebutkan. Pria itu melirik ke arahku, dengan tatapan datarnya.


“Kamu lapar? Di belakang ada pizza, tadinya ingin aku bawa pulang untuk Lou, tapi kalau kamu selapar itu tinggal makan aja. Aku bisa suruh Lou buat pesan makan sendiri.”


Aku membelalakan mataku, bukan seperti itu! Kenapa dia terus menyinggungku tentang makan sih? Aku tidak selapar itu sampai meminta Kevin untuk segera menuju tujuan kami. Aku hanya merasa canggung karena tidak apa hal apapun yang dibicarakan. Walau aku sudah bicara panjang lebar pun, Kevin hanya mengangguk atau menjawab dengan dehaman. Bisa mati kebosanan aku di sini!


“Di depan nanti kita naik bus,” ucap Kevin.


Aku mengangguk, “Lalu, mobilmu di simpan di mana?”


“Turun,” titah Kevin.


Aku membuka pintu mobil dan keluar, Kevin melaju masuk ke dalam bengkel mobil. Ternyata sudah waktunya untuk perawatan mobil, kita sudah terbiasa dengan hal-hal ini. Sebulan sekali Kevin memintaku untuk menemaninya, biasanya kami akan duduk di dalam dengan secangkir kopi dan coklat panas untukku. Tapi, sekarang kita berdua sedang berjalan menuju halte bus, menunggu bus yang terhenti di depan kita.


Kevin bilang tempatnya tidak terlalu jauh, hanya satu kali naik bus kami sudah sampai. Tadinya Kevin mengubah pikiran untuk memesan taksi, tapi aku tolak karena sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan dengan kendaraan umum. Duduk di halte bus ini saja rasanya sudah nostalgia sekali. Aku rindu tanah kelahiranku, kapan ya aku bisa pulang?


“Asqyla.”


Kevin mengulurkan tangannya setelah memasuki bus, aku memegangnya dan masuk ke dalam. Kevin memilih kursi yang dekat dengan pintu keluar, aku duduk di sebelah jendela dan Kevin berada di sebelahku. Tak sadar aku tersenyum, pemandangan melihat kendaraan-kendaraan lain dari dalam bus benar-benar mengingatkan akan rumah. Aku begitu merindukan mereka, aku akan meminta Werrent untuk memberikanku izin pulang.


“Kevin, aku terkesima. Terima kasih sudah mengajakku dan berjalan-jalan dengan bus begini. Rasanya sudah lama sekali aku merasakan perasaan rindu, hidup di negara lain tidak semudah itu ternyata. Banyak yang harus aku tinggalkan, tapi aku beruntung bisa kemari. Beruntung karena aku bisa berteman denganmu dan Louis.”


“Kamu rindu rumah?” tanya Kevin.


Aku mengangguk, “Sangat-sangat rindu.”


“Kalau begitu nanti aku antar saat aku cuti kerja,” ucap Kevin terang-terangan. Aku tertawa, “Tidak perlu, Vin. Aku juga punya rumah di sini, lagipula aku harus meminta izin pada Werrent.”


Kevin mengerutkan keningnya, “Kenapa?”


“Apanya?” Aku memiringkan kepalaku menatap Kevin.


Pria itu menghela napasnya dan menatapku dengan datar kembali. “Kenapa harus meminta izin dia?” tanyanya dengan nada kesal.


Aku semakin menatapnya, “Memangnya kenapa? Aku memang seharusnya meminta izin pada Werrent.”


“Termasuk pergi keluar bersamaku?”


Aku mengangguk, Kevin menghela napas kasar. Dia memandangku cukup lama, gelagatnya dia akan mengatakan sesuatu namun tidak jadi ia ucapkan lalu terdiam dengan sendirinya. Aku bingung dengan sikapnya yang terang-terangan begitu, biasanya dia tidak mempermasalahkan apapun dan menjawab tanpa ingin tahu kelanjutannya. Kali ini dia seperti sedang kesal sekali.


“Kamu tidak apa-apa, Kevin?” tanyaku memastikan.


Dia menatapku dan tersenyum tipis lalu kembali menatap ke depan. Dia berkata baik-baik saja. Tapi, tetap saja masih mengganjal di pikiranku, kenapa Kevin sampai sekesal itu? Sudah jelas aku harus meminta segala izin pada Werrent yang notabenenya adalah suamiku. Ah, Kevin memang belum tahu aku menikah, ya? Padahal dia selalu memuji cincin pernikahanku, aku kira dia sudah sadar dari lama. Atau memang bukan itu yang dia kesalkan, tapi hal lain yang membuatnya tersinggung?


Ah, aku bingung. Kusandarkan kepalaku di jendela, untuk sesaat aku terlelap ke dalam mimpi. Aku sekilas merasakan ada sebuah tangan yang mengelus kepalaku lalu aku terlelap dengan cepatnya.