
“Enggak apa-apa, Alice. Kamu gak perlu khawatir tentang kondisiku, pulanglah. Lagi pula aku harus istirahat, dokter bilang begitu juga kan? Aku gak bakal kemana-mana. Tenang aja,” ucapku hangat.
Niatku memang untuk membuatnya tidak khawatir karena aku sudah tidak merasa sakit lagi. rasa nyeri memang tidak sepenuhnya hilang, tapi masih bisa aku tahan dan memang tidak mengganggu aktivitasku. Aku hanya tidak ingin membuat orang lain khawatir lagi. Tapi, yang namanya Alice tetaplah Alice. Dia keras kepala.
“Lho? Aku harus temenin kamu di sini. Alano pergi, Kakak juga gak ada, terus siapa yang bakal jaga kamu kalau bukan aku?” tanyanya dengan kesan dan khawatir.
“Kan masih ada Dokter dan Suster yang rawat aku, Alice. Kamu istirahat di rumah aja, besok kan masih bisa datang. Setidaknya kamu gak tidur di sini, pasti gak nyaman, kan?”
“Wajar dong seorang keluarga jaga keluarganya yang lagi sakit. Walau gak nyaman juga kamu gak bakal sampai berbulan-bulan di sini, kalau memangpun nanti aku minta ganti sofa ini sama kasur di rumahku biar aku sekalian tinggal di sini!” seru Alice dengan candaannya.
Aku terkekeh, “Kamu itu, ya? Ternyata ada orang yang lebih keras kepala dari aku.” Alice memegang tanganku lembut, “Seharusnya aku yang bilang begitu tahu!”
Aku terkejut dengan ucapan Alice. “Memangnya iya, ya?”
Satu pukulan kecil mendarat di kepalaku, “Enggak tahu, deh. Coba kamu pikir sendiri.”
Bukannya kesal karena pukulan Alice, aku malah tertawa karena membuatnya kesal gara-gara pertanyaanku. Hah ... aku cukup menyukainya. Spiritnya membuatku ikut semangat dan tertawa juga. Alice mengingatkanku akan seseorang.
Keluarga, ya? Aku tidak menyadari kalau Alice dan Alano sudah lama menjadi keluargaku. Hampir satu tahun berlalu ternyata, mereka terasa seperti teman sebayaku. Aku merindukan sekolahku, mereka apa kabar, ya?
“Asqyla?” tanya Alice membuyarkan lamunanku.
“Iya, kenapa, Alice? Kamu butuh sesuatu?” balasku refleks. Alice terkekeh, dia berdiri untuk mengambil tasnya lalu duduk kembali di sampingku.
“Harusnya aku yang bilang begitu, Asqyla. Jadi ... apa yang kamu pikirkan? Kalau Alano, abaikan saja dia. memang seperti itu kepribadianya. Jngan terlalu dipikirkan.”
“Iya, aku tidak memikirkan hal lin, kok.”
“Uh-huh, sepertinya tidak tuh. Kenapa? Coba jelaskan, pasti Kevin, ya?” tanya Alice.
Aku tersenyum simpul, “Bukan, kok. Kamu mungkin yang mikirin dia. hayo, jujur aja.”
“Apaan, sih? Mana mungkin, dia kan gak suka aku,” ujar Alice dengan nada sedihnya. Aku mengusap punggung Alice perlahan, “Gak apa, kamu kan suka dia.”
Aku tersenyum lebar, selebar mungkin seakan Alice masuk ke dalam duniaku dan tahu kalau mencintai orang dalam satu sisi itu tidak ada buruknya juga. Walau banyak yang harus di korbankan. “Tetap aja, Asqyla. Aku pasti kalah sama orang yang dia suka dan aku yakin kalu nanti kami di hadang untuk memilih, jelas sekali dia akan memilih orang yang dia suka.”
Alice membulatkan matanya, “Memangnya iya?! Siapa perempuan yang dia suka.” Seketika aku tertegun, apa yang harus aku katakan padanya? Bahwa Kevin menyukaiku dan sempat ingin bertunangan denganku? Aku salah memilah kata.
“Entahlah ... mungkin seseorang yang kalah cantik dan tulus dari kamu,” ucapku terkesan asal. Alice memukul bahuku perlahan, “Apa, sih. Kevin itu tampan, gak mungkin perempuan yang dia suka itu gak lebih cantik dari aku.”
Aku hanya tertawa, tidak bisa lagi menjawab apa-apa. Karena mau aku tepis sejauh apapun, Kevin selalu bilang kalau dia serius dengan kata-katanya. Dan aku tidak akan pernah bisa menjawab pernyataan darinya karena Kevin sama sekali tidak ingin mendengar penolakan dariku.
“Hm ... aku dan kamu, lebih cantik siapa?” tanyaku asal. Dengan percaya dirinya dia menunjuk diri sendiri, aku tertaa cukup kencang. Dia sepercaya diri itu. “Iya-iya, aku percaya,” ucapku.
Tapi, dia menggelengkan kepala dengan cepat. Lalu berkata, “Aku tidak mungkin bisa bersanding denganmu. Kamu itu cantik, Asqyla. Walau banyak orang yang bilang kalau aku cantik sekali, tetap saja kecantikan kamu itu bukan cantik orang sini. Wajah kamu polos namun tegas. Tapi lucu di saat bersamaan. Terdiam saja sudah berwibawa, lho. Apalagi kalau kamu benar-benar menjadi wakil dari keluarga kami,” jawab Alice.
Aku tersenyum tipis. Alice benar, bukan hanya omong kosong saja tentang kecantikannya. Bahkan dia bisa disandingkan dengan artis yang sering muncul di layar kaca. Dan dengan wajah yang seperti itu, dia khawatir Kevin akan menolaknya dan malah memujiku yang tidak ada apa-apanya ini.
“Ah! Maafkan aku, Asqyla. Aku gak bermaksud buat kamu berpikir kalau kamu bukan wakil keluarga kita. Tapi, karena Werrent sendiri gak pernah serius sama perempuan-perempuan yang dia kencani. Tapi aku yakin, kamu pilihan tepatnya dia, kamu pasti satu-satunya di masa depan nanti!” seru Alice.
Aku terkejut karena dia tiba-tiba memegangi tanganku sembari meminta maaf berkali-kali, aku sampai kelabakan. Aku tidak terpaku pada ucapan Alice di akhir kalimatnya, namun sepertinya Alice terganggu dengan ekspresi wajahku yang tidak terlalu baik.
Aku memaksakan senyumku, “Gak apa-apa, Alice. Aku tidak terganggu dengan pemikiran itu, aku malah lebih khawatir sama pujian berlebih yang kamu tujukan padaku.”
Alice kembali duduk dan mengembuskan napasnya perlahan. “Aku kira kamu sedih karena itu. Aku jujur, kok, Asqyla. Kamu memang cantik dan untuk masalah Kakak, dia pasti dan bakal bisa setia. Aku percaya kalau kamu bisa rubah dia, karna dia enggak rusak seperti ini sebelum ketemu kamu,” gumam Alice di akhir kalimatnya.
Aku bisa mendengar apa yang dia ucapkan walau samar, ada yang Alice sembunyikan. Apa maksud dari Werrent tidak serusak seperti sekarang? Lagi-lagi ada yang menunjukkan potongan masa lampau yang tidak aku ketahui. Apa karena aku mirip sekali dengan perempuan tersebut sampai mereka mengklaim diriku itu orang yang sama di masa lalu?
Aku tidak pernah mengingat kenangan seperti itu apa lagi bertemu dengan mereka yang sangat asing bagiku. Jelas sudah kalau aku memang seorang pengganti.
“Asqyla? Kamu melamun lagi, kali ini kenapa? Ah, sudah petang. Makan malam akan segera siap, aku ke depan dulu, membeli sesuatu untukku. Aku tinggal gapapa, kan, Asqyla?” tanyanya khawatir.
Aku mengangguk, Alice juga butuh makan dan aku tidak serewel itu sampai harus ditemani seharian penuh. Mungkin akan terasa sunyi tapi aku sudah terbiasa ditinggal sendiri. Ah ... Marie tidak berpikir yang aneh-aneh kan karena aku tidak pulang ke rumah selama seminggu penuh? Alice pasti memberitahu kabarku pada orang rumah.
Lalu kevin? Aku tidak tahu lagi kabarnya bagaimana. Padahal kami baru saja berjumpa. Aku tidak enak jika aku mengabarinya saat aku sedang tidak berdaya seperti ini.
“Hah ... terlalu sunyi.”