
Werrent membawaku keluar dengan tangan yang masih memeluk pinggangku. Aku tidak bisa komplain tentang hal ini meskipun aku malu. Karna jujur saja, untuk berjalan seperti inipun pinggangku rasanya sakit sekali. Mungkin akan ada beberapa memar, tapi aku yakin dalam beberapa hari memarnya akan sembuh jika aku olesi salep.
“Haha. Ada apa? Kenapa kamu ingin tahu tentang itu?” tanyanya.
“Qyla cuman tanya, Mas.”
Lagi-lagi aku berbohong. Aku hanya ingin memastikan kalau Werrent menginginkan anak, dengan begitu aku bisa leluasa mengatakan kalau aku sedang hamil anaknya. Aku juga bisa sedikit lega dengan perkataannya jika itu benar.
Werrent semakin mengeratkan pelukan tangannya di pinggangku, semua orang menatapku dengan tajam. Kadang aku mendengar cibiran halus mengenai aku yang menarik perhatian Werrent dan perkataan iri dari mereka semua.
Aku menghela napasku, begitu sulitnya hanya berjalan bersama dengan Werrent. Aku baru saja ingat kalau tadi mereka mendukungku karena aku memojokkan Neva dan sekarang mereka berbalik menatapku dengan tajam begitu seakan mata mereka akan keluar saat ini juga.
“Kamu sampai menghela napas, apa sepenasaran itu sampai aku membuatmu khawatir begini, hm?” tanyanya.
Aku hanya bisa terkekeh, bukan karena itu, sih. Tapi terserah jika Werrent menanggapinya seperti itu. “Enggak usah khawatir, aku tidak begitu suka anak kecil. Jadi aku yakin seratus persen anak itu bukan anakku. Lagian aku bermain aman, kamu gak perlu khawatir.”
Aku terbungkam. Bermain aman katanya? Harusnya dia menyaring perkataannya sendiri. Bagaimana dia bisa setenang itu mengatakan hal yang sensitif untuk di bahas di hadapan istrinya sendiri? Dia memang tidak punya perasaan, ya?
“Hm ....”
Werrent berdeham cukup lama, tangannya seketika masuk ke dalam pakaianku. Aku memukul tangannya karena memijat perutku cukup keras. Aku meringis seketika karena rasa nyeri itu kembali datang dengan sakitnya.
“Aw. Mas! Ini tempat umum!” seruku malu seraya sakit.
“Berarti kalau di rumah boleh?” tanyanya lalu mengecup pelipisku. Aku mendorongnya sedikit namun Werrent hanya tertawa dan semakin memeluk pinggangku erat. Kami sekarang sedang berada di dalam Lift. Jadi orang-orang tidak akan tahu kecuali orang yang mengawasi pengamanan kantor ini lewat CCTV?
“Aku baru tahu kalau kamu jadi segemuk ini selama aku tidak di rumah.”
Deg.
Jantungku berdegup dengan cepat. Apa aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada Werrent kalau aku hamil? Bagaimana jika Werrent juga menyangkal anak ini dan malah mengusirku seperti wanita tadi?
“Hm, Mas. Ada satu hal yang harus Mas tahu,” ucapku.
Iya, benar. Aku harus memberitahu Werrent bagaimanapun juga, karena ini adalah anakku dan Werrent. Tidak mungkin aku terus bungkam.
Pintu Lift terbuka, kami berdua keluar dari ruangan itu dan Neva terlihat menatapku begitu tajam. Kami berpapasan dan dia menabrak bahuku. Seketika aku terjatuh, bukan karena aku terlalu lemah menahan dorongan dari Neva. Tapi karena kakiku yang begitu lemas dan badanku yang aku paksakan berjalan.
Rasa sakit yang aku tahan sedaritasdi seketika semuanya meledak seperti bom waktu. Perutku sakit sekali. Aku memang tidak terjatuh membentur lantai, tapi refleks Werrent yang menahanku dan tidak sengaja menahan bagian perutku dengan erat. Aku melepaskan rangkulan Werrent dan terduduk di lantai. Perutku sakit sekali. Rasanya tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.
Yang aku lihat Werrent sedang memarahi Neva namun aku tidak peduli. Orang-orang menghampiriku dan menolongku untuk berdiri namun seorang wanita yang berdiri di samping Werrent teriak menunjuk ke arahku dengan kagetnya. Aku memeluk perutku dengan erat. Sakit sekali rasanya.
“Darah!”
Suasana langsung berubah menjadi kacau. Darah katanya? Apa kepalaku terluka? Lenganku? Tapi aku tidak bisa menahan rasa sakitku ini hingga aku merasa basah sekali di tempat aku terduduk. Dan begitu mengejutkannya ketika aku melihat darah yang keluar dari bawah tubuhku, Werrent menggendongku dengan hati-hati dan menyuruh seseorang untuk menyingkir.
Sekilas aku tersenyum padanya, air mataku turun tanpa izin karena rasa sakit yang aku rasakan. Lalu, itu ingatan terakhir yang aku ingat sebelum aku terbangun dengan selang infus di ruangan yang serba putih.
Aku melirik sampingku, ada Alice yang tertidur sembari memegang tanganku dan di seberang kasurku ada Alano yang sedang tertidur. Aku mengedarkan pandanganku mencari Werrent. Namun nihil, tak ada siapapun lagi selain kedua orang ini.
“Mas ...,” ucapku parau.
Alice terusik karena gerakan tangan yang aku buat dan Alano langsung menghampiriku karena aku mencari Werrent. “Asqyla!” seru Alano.
Alice langsung terbagun saat Alano menanyakan kondisiku. Perempuan itu langsung memelukku erat. Aku tersenyum simpul padanya, perutku sudah tidak sesakit sebelumnya. Seketika aku langsung mendorong Alice dan memegang kedua bahunya erat.
“Anak ... anakku, Alice. Dia ... gak apa-apa, kan?” tanyaku dengan nada bergetar.
Rasanya aku ingin menangis sekarang juga. Aku usap perutku yang sedikit mengecil, tidak mungkin bukan? Tidak mungkin aku keguguran. Aku mohon, jangan sampai. Tuhan, jangan ambil anak yang tidak bersalah ini.
“Alice jawab pertanyaannya,” ucap Alano.
Aku tidak bisa menebak jawaban dari mereka karena ekspresi mereka begitu sedih, aku tidak mau menerima jawaban yang buruk.
Alice seketika menangis dan memelukku dengan hangat, aku menangis juga sedang perlahan. Jawab pertanyaanku Alice!
“Dia ... dia tidak apa-apa, hanya saja kamu sudah terbaring selama seminggu lebih, Asqyla. Aku khawatir dengan kondisi tubuhmu. Dokter bilang kalau kamu tidak bangun dalam dua minggu, dengan terpaksa dokter harus mengeluarkan bayi dari janinmu karena bisa membuat nyawamu dalam bahaya.”
Aku menangis dengan kencang, “Setidaknya kamu sekarang sudah bangun dan anak-anakmu tidak kenapa-napa.”
Aku mengusap air mataku dan menatap Alice dengan bingung. “Anak-anakku?” tanyaku heran seraya dengan isakan tangis yang belum reda.
Alice tersenyum dengan hidungnya yang memerah, “Iya, dokter bilang mereka kembar. Ah ... hiks, aku gak sabar ketemu mereka. Pasti lucu bukan?”
Aku tersenyum, tapi ... apa Werrent juga bahagia? Dia bilang tidak ingin mempunyai anak. Bagaimana jadinya dengan dua anak ini.
“Di mana Mas Werrent?” tanyaku pada mereka.
“Asqyla!” teriak seseorang dari balik pintu.
Seketika pintu terbuka memperlihatkan sosok Werrent yang ingin masuk namun Alano tahan. Aku bisa melihat wajah Werrent yang begitu kusam, penampilannya tidak rapi seperti biasanya. Dia juga mempunyai kantung mata yang begitu gelap, rambutnyapun berantakan.
“Minggir!” teriak Werrent pada Alano dan memelukku erat. Dia mencium bibirku dengan intens dan jujur aku juga merindukannya.
A/N:
Kalau aku hiatus lagi, gimana nih?