WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Sapaan Neva



Hari-hari berlalu begitu saja tanpa sempat bertanya apa aku masih ingin diam atau maju. Usia kandunganku sudah berumur dua bulan. Masih kecil memang, namun aku bahagia. Karena pada dasarnya ini adalah anakku. Walau mungkin Werrent masih belum mengetahui pasal ini sampai sekarang.


Aku ingin sekali memberitahunya ketika ada kesempatan, namun kesempatan itu tak pernah terjadi selama ini. Dia tak pernah pulang ke rumah atau bahkan menghubungiku. Pada akhirnya aku kembali jauh dalam kesengsaraan. Pertanyaan yang sempat mendapat jawaban kini kembali membuatku ragu dengan jawaban yang aku dapatkan.


Apakah selama ini seharusnya aku mengikuti kata-kata Alano untuk tahu batasanku dan sadar akan tempatku? Semuanya begitu simpang-siur bagiku dan aku lelah akan semuanya. Aku ... lelah.


Aku menyimpan buku harianku, sudah penuh padahal ini buku kedua. Aku harus mengganti bukuku, masih ada stocknya namun sepertinya aku akan mampir ke toko buku setelah menemui Werrent. Aku berniat mengunjunginya, untuk memberitahu kalau aku sedang mengandung anaknya.


“Marie, tidak perlu kamu temani. Aku bisa pergi sendiri.”


“Tidak bisa Nyonya, saya harus menemani Nyonya.”


Aku mengangguk, lagi pula kapan lagi aku bisa berjalan-jalan keluar bersama Marie. Aku malangkahkan kakiku sampai ke depan rumah. Aku tidak bisa mengendarai mobil hingga terpaksa Marie yang membawanya, sebenarnya ada sopir pribadi yang Werrent berikan, namun karena biasanya aku keluar dijemput oleh Kevin atau Alice dan Alano, makan dari itu aku memberitahu Werrent untuk tidak menempatkan sopir di rumah.


“Jadi kita mau ke mana Nyonya?”


“Kantor Mas Werrent.”


“Baik, Nyonya.”


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, Marie tidak buruk dalam mengendarai mobil. Aku malah merasa nyaman dan tenang karena Marie tak berkata apapun. Biasanya selalu ada pembicaraan di dalam mobil kemanapun aku pergi. Lalu, hari ini memang sangat melelahkan. Entah karena hormonku atau memang aku sudah termakan usia hingga berdiam diri di rumah saja rasanya sudah begitu melelahkan.


Kupandangi jalanan sekitar, pemandangan yang sama saat aku dan Kevin mampir ke bengkel mobil lalu mampir ke kantor Werrent. Dan kejadian di mana aku mengetahui bahwa aku bukanlah satu-satunya untuk Werrent dan aku bukanlah prioritasnya.


Aku hanya sebuah tali untuk mengikatnya agar tidak kelebihan batas. Namun sayangnya aku adalah tali yang begitu panjang hingga aku tidak tahu sudah sejauh mana Werrent berlari dengan tali yang melilit di tangannya. Apa mungkin dia sudah terbang menuju bulan? Atau bahkan luar galaksi? Akupun tidak tahu itu semua.


Pelahan-lahan aku memejamkan mataku, rasa sakit itu datang kembali. Sedalam apapun aku menguburnya, kenyataan itu takkan hilang. Kenyataan di mana Werrent bermain dengan wanita lain di belakangku.


Aku menyandarkan badanku lebih dalam dan menatap langit-langit mobil. Semuanya semu, anganku tak ada yang terwujud. Tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain menerima. Aku benci dengan diriku, benci karena tidak bisa berhenti untuk mencintainya. Akupun lupa dengan alasan apa dan tindakan apa yang membuatku bisa jatuh cinta dengan pria itu. Pria yang selama ini aku tidak tahu sifat dan wataknya.


Setiap dia bertindak aneh, aku selalu merasa kalau aku tidak mengenalinya dengan baik bahkan aku merasa asing dengan dirinya. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, apa orang yang selama ini bersamaku itu siapa?


“Nyonya, kita sudah sampai.”


Aku duduk dengan benar, melihat sekeliling. Iya, kami sudah berada di depan lobby. Marie bilang dia akan menunggu di luar selama aku masuk bertemu Werrent. Aku hanya mengangguk dan keluar dari mobil. Tidak ada sambutan besar namun setiap orang yang melihatku langsung tertunduk hormat dan pergi dengan perlahan.


Ini yang paling aku tidak sukai. Karena pada dasarnya saja aku tidak tahu kalau aku pantas diperlakukan seperti ini.


“Ah, Nyonya Orlov.”


“Apa kabar Nyonya, lama tidak bertemu. Nyonya pasti sehat-sehat saja bukan? Sampai datang kemari tanpa pengawalan,” ucapnya cukup menyindir.


Aku tersenyum tipis, “Iya tentu saja saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda sendiri? Apa Anda tidak kelelahan karena bekerja dengan sangat keras hingga suamiku sulit sekali untuk pulang ke rumah? Saya yakin sepertinya Anda perlu istirahat beberapa hari karena saya bisa melihat dengan jelas kerutan di ujung mata Anda.”


Neva menunjukkan ekspresi kesalnya dan orang-orang di sekitar terkekeh geli karena ucapanku. Aku memang tidak ingin cari masalah, tapi aku tidak ingin ada gosip aneh yang bertebaran di dalam kantor Werrent hanya karena aku datang kemari sendirian.


“Hahaha, terima kasih atas perhatian, Nyonya. Lain kali saya akan lebih memperhatikan diri saya. Kalau begitu mari saya antar menuju ruangan atasan saya.”


Tawanya itu begitu renyah hingga orang sekitar terkekeh kembali. Haduh, dasar Neva. Aku juga bisa melawanku, selama ini mungkin aku diam. Tapi, Alice mengajarkanku bagaimana caranya aku mengatasi orang-orang macam dirimu yang tidak tahu malu.


“Baik Nyonya, saya hanya bisa mengantar anda sampai depan pintu. Kalau begitu saya pamit, ada urusan lain yang perlu saya kerjakan. Selamat menikmati hari yang begitu cerah ini, Nyonya.”


Aku sama sekali tidak membalas ucapannya dan dia pun langsung pergi tanpa mendengar apapun dariku. Aku ingin mengetuk pintu ruangan Werrent. Namun, suara bising yang aku dengar dari depan sini membuatku penasaran hingga aku terdiam di sini tanpa bergerak satu langkahpun.


“Kamu ingin menyangkalnya, hah? Aku serius! Apa selama ini aku pernah berbohong padamu?!” teriak seorang wanita dari dalam ruangan.


Aku baru mendengar suara ini. Semakin lama, aku semakin penasaran dengan pembicaraan mereka. Tidak baik memang menguping, tapi aku begitu ingin tahu kenapa wanita tersebut marah-marah.


“Hubungan kita berakhir dari tahun lalu. Anda juga tahu sendiri saya sudah punya istri bukan? Pergilah. Saya tidak akan meminta kembali properti yang sudah saya berikan. Saya sibuk, silahkan keluar sendiri.”


Apa itu mantannya Werrent? Satu tahun lalu? Berarti sebelum pernikahan kami. Kenapa mantannya itu tiba-tiba datang ke mari?


“Rumah saja tidak cukup! Kamu pikir aku bisa menghidupi diriku hanya dengan uang yang kamu kirim setiap bulannya?! Jelas tidak!”


Apa?! Werrent masih membiayainya? Kenapa? Kenapa dia membiayai mantannya itu? Lalu rumah? Apa maksud dari wanita itu?


“Anak! Anak kita mau makan apa?! Memangnya segitu saja cukup?! Aku kekurangan uang!”


Tanganku yang sedang memegang gagang pintu begitu gemetar. Anak katanya? Anak Werrent? Pantas saja Werrent memberikan rumah dan uang setiap bulannya karena anak dia? Werrent punya anak dan dia tidak bilang padaku?


Mereka masih bertengkar di dalam. Werrentpun tersulut emosi, namun aku tidak bisa mendengar semua yang mereka tengkarkan. Yang aku lakukan, hanya membuka pintu dan menatap Werrent dengan begitu kecewanya.


“Asqyla?!”


A/N:


Ekhem, aku mencium bau-bau mau tamat nih