WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Sebuah Kepercayaan (2)



“Itu tidak mungkin,” gumam Werrent.


“Mas, Qyla tidak sepintar itu untuk bisa memanipulasi pesan. Kenapa Mas tidak pernah mempercayai Qyla sedikitpun? Mas bilang Qyla adalah pelindung Mas, lalu apa gunanya pelindung kalau Mas sendiri gak pernah taruh kepercayaan Mas ke Qyla?” jawabku penuh penekanan.


Werrent memijat pelipisnya, dia menghela napas berat dan menatapku dengan tatapan kecewa. Seharusnya aku yang kecewa padamu! Kenapa kamu terus bertindak seolah aku yang salah selama ini?!


“Karena orang itu masih ada di hatimu, Asqyla.”


“Jangan sangkutkan masalah ini dengan orang yang tidak ada hubungannya, Mas. Qyla diam dengan kenyataan Mas yang selingkuh dengan Neva, bahkan berkencan dengan Neva. Dan lagi ... Mas tidur dengan perempuan itu.”


Tenggorokanku tercekat, hatiku tersayat-sayat. Mengucapkan semua fakta menyakitkan yang terjadi pada suamiku sendiri benar-benar membunuhku. Werrent hendak berkata, namun tidak akan aku biarkan Werrent memojokkanku lagi.


“Qyla tahan Mas, Qyla sakit. Perasaan Qyla benar-benar sakit. Kadang ... Qyla berpikir kalau Qyla memang melukai perasaan Mas sampai Mas berpaling dari Qyla. Qyla selalu berusaha ... berusaha yang terbaik jadi Istri Mas tapi Mas sendiri yang selalu tolak Qyla.”


Tangisan yang sempat reda kini datang kembali. Pedih sekali kerongkonganku, benar-benar sakit. Tapi, aku tidak bisa berhenti sampai di sini. Akan aku luapkan semua keluhanku.


“Qyla kadang menyalahkan diri Qyla karena gak bisa buat Mas percaya sama Qyla. Tapi ternyata apa, Mas? Mas sendiri yang lukain perasaan Mas. Pikiran Mas yang membuat Mas terluka karena keraguan Mas terhadap Qyla. Sebenarnya apa yang Mas takutkan dari Radith? Dia bahkan anak kecil bagi Mas, tidak bisa di bandingkan dalam segala hal. Antara Mas dan Radith, posisi Mas itu tertinggi walau kita tidak menikahpun. Tapi kenapa, Mas? Kenapa Mas begitu takut Qyla pergi karena Radith?”


Werrent terdiam, dia hendak menjawab namun tak jadi. Air mataku terus turun, tanpa isakan tangis. Perasaanku campur aduk saat ini, Werrent tidak menatap ke arahku. Aku yakin dia pasti mendengar jelas apa yang aku ucapkan.


“Coba Mas jelasin ke Qyla, apa yang buat Mas gusar dengan kehadiran Radith?” tanyaku dengan susah payah.


Setidaknya pertanyaan ini bisa Werrent jawab bukan? Aku lelah terus di sangkut-pautkan dengan Radith yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pernikahanku. Apa yang Radith buat hingga Werrent begitu membenci lelaki itu?


“Dia pernah menjadi bagian dari hidupmu, Asqyla.”


Aku menatapnya tajam, “Lalu? Radith hanya aku anggap sebagai teman tidak lebih, Mas! Kenapa Mas berbicara seakan aku dan Radith itu berkencan?” tanyaku dengan nada rendah.


Werrent memegang pergelangan tanganku erat. “Karena kalian memang berkencan, Asqyla!” teriak Werrent.


Aku tersentak karena teriakan Werrent, hatiku seperti terhujam belati berkali-kali. Tangisku pecah saat itu juga. Bentakan Werrent membuatku semakin hancur.


“A-Asqyla, aku tidak bermaksud meneriakimu. Aku hanya—”


“Harus berapa kali lagi Qyla jelaskan kalau Qyla tidak pernah pacaran dengan Radith, Mas?! Harus berapa ribu kalimat lagi yang Qyla jelaskan kalau Radith adalah keluarga Qyla? Harus sekeras apa Qyla teriak supaya Mas tahu kalau Qyla tidak pernah menganggap Radith lebih dari teman!”


Werrent melepas cengkraman tangannya dan menunduk menatapku lekat. “Kamu tidak paham, Asqyla.”


Aku menatapnya sinis, “Mas yang enggak paham!”


Aku mundur beberapa langkah lalu berjalan menuju pintu, Werrent memanggilku. “Asqyila!”


“Sekarang terserah Mas mau apa. Tidur di rumah Neva atau bertunangan dengan Neva. Qyla gak perduli, Qyla cuman minta Mas jangan dekati Qyla lagi. Qyla capek, Mas. Qyla kecewa,” ucapku lalu meninggalkan Werrent di dalam kamar.


Marie menghampiriku dengan mata berkaca-kaca setelah melihatku keluar dari kamar dengan air mata yang tak kunjung reda. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang tanpa Werrent. Sudah aku putuskan, aku akan hidup seperti orang mati yang tidak akan pernah muncul di hadapan Werrent.


...***...


Namun aku merasa aku semakin sekarat karena kehilangan udara. Apa yang selama ini aku cari? Kesejukan di atas lahar panas? Atau kehangatan di dalam Iglo?


Aku tutup buku harianku, sudah satu minggu lebih sejak aku memutuskan untuk tidak melihat Werrent lagi. Sering kali aku berpikir ingin pulang, tapi saat Mama menghubungi dan menanyakan kabarku, aku tidak sanggup untuk berbicara jujur padanya. Terlebih lagi Mama selalu menanyakan hubunganku dengan Werrent dengan ekspresi wajah yang bahagia. Mana mungkin aku bisa merusak kebahagiaan di wajah Mama dengan ucapanku.


Pada akhirnya aku hanya bisa bertahan di sini, entah sampai kapan. Terkadang Werrent berusaha ingin masuk ke kamar tamu yang sekarang aku claim sebagai kamarku sendiri. Aku tidak akan pernah pergi ke kamar Werrent apa lagi berbicara dengannya. Urusanku dengan Werrent selesai saat aku melangkahkan kaki keluar dari kamar saat itu juga.


Dan Werrent sudah tidak ada urusannya lagi denganku. Aku hanya ingin mengobati luka di hatiku, aku hanya butuh ruang agar tidak tersesat. Seharusnya Werrent tahu itu.


“Nyonya, Tuan masih ada di depan kamar. Menunggu Nyonya untuk berbicara padanya,” ucap Marie.


Aku menggelengkan kepalaku dan Marie mengangguk paham lalu keluar dari kamar. Terlihat Werrent berdiri di balik pintu dengan penampilan rapinya. Dia sempat menatapku lalu pintu tertutup begitu saja.


Aku menengadah, menatap langit-langit kamar. Kenapa hidupku begitu terjal? Tuhan, ini yang Kau inginkan? Harus seberapa lama lagi aku bersabar? Hatiku tidak terbuat dari baja, Tuhan. Kalau memang itu keinginanMu, kenapa tidak sekalian saja Kau berikan aku hati yang luas?


“Tidak bisa Tuan! Nyonya tidak memberikan izin, saya tidak bisa membiarkan Tuan masuk!” teriak Marie dari depan kamar.


Baru kali ini Marie berteriak seperti itu, aku menatap pintu lekat-lekat. Lalu ....


“Minggir.”


Pintu terbuka, terlihat sosok Werrent dengan jas yang dia sampirkan di tangannya. Setelah netra kami saling bertemu, Werrent menjatuhkan Jasnya lalu berlari menghampiriku, memelukku erat.


“Asqyla! Sayang, Istriku. Aku rindu, aku tidak bisa seperti ini lagi. Asqyla, aku mohon kembalilah,” melas Werrent di tengah-tengah pelukannya.


Aku tidak membalas pelukannya sama sekali. “Keluas, Mas.”


Aku menekankan kalimatku dan itu bekerja. Werrent melepas pelukannya dan menatapku sendu.


“Kenapa?” tanyanya dengan kecewa.


“Qyla pengen Mas keluar sekarang juga!” ujarku tegas.


Werrent mencengkram erat kedua bahuku, “Kenapa, Asqyla?”


Aku memalingkan wajahku, tidak ingin menatap wajah Werrent. Hatiku semakin sakit dengan kehadiran Werrent di sini.


“Qyla mohon, jangan buat luka baru di hati Qyla, Mas.”


Werrent menundukkan wajahnya lalu turun dari ranjangku dan melangkah mundur tanpa berkata apapun. Dia membalikkan badannya dan mengambil jas yang diambil Marie lalu pergi begitu saja.


A/N:


Makin sini makin runyam, ya?


Aku pusing ngetiknya wkwk