
Jurang yang dulu hampir menenggelamkanku kini kembali hadir di hadapanku. Dengan godaan manis yang meluluhkan hati, perlahan kakiku melangkah sedikit demi sedikit. Hingga aku tiba di ujung jurang tanpa dasar. Begitu kelam dan gelap.
Air mataku masih tergenang, memangnya kenapa kalau bukan aku orang yang dia cari? Memangnya kenapa kalau memang bukan aku yang berada dalam ingatannya? Lalu, kenapa aku harus merasa marah, kesal, tidak adil karena fakta tersebut? Apa karena selama ini aku terlena dengan rayuannya yang seakan mabuk cinta padaku?
...***...
“Aku tidak bermaksud membuatmu menangis, Asqyla. Itu hanya pikiran kekanakan yang pernah terlintas di benakku. Kali ini aku tidak bisa melepaskanmu, tidak akan pernah.”
Iya, Werrent memang berbicara seperti itu. Tapi, rasanya tetap saja menyesakkan. Kata-kata lampau yang terus terucap dari mulutnya seakan membenarkan semua dugaanku akan perempuan yang sama sepertiku di ingatan Werrent. Kepalaku sakit sekali, entah karena tangisku atau karena penuturan Werrent.
Penglihatanku memburam, sebelum aku menutup mataku rapat-rapat, Werrent menampakkan wajah khawatir yang tidak pernah terpahat di wajahnya selama ini. Dan aku sepertinya mulai berhalusinasi, karena Werrent memelukku erat seraya menangis.
...***...
Aku pingsan beberapa hari yang lalu dan terbangun di rumah sakit sendirian. Tidak ada Werrent mau pun Marlo. Perawat yang berulang kali memeriksa kondisiku selalu berkata bahwa aku tidak sendiri dan Werrent akan segera datang. Sebenarnya memang benar aku merasa sendiri karena tidak ada seorangpun yang aku kenal di mari. Tapi, bukan berarti aku benar-benar tidak bisa ditinggal sendiri. Tidak masalah aku sendiri selama Werrent berjanji akan datang.
Tok, tok. Ketukan di pintu membuatku melirik ke arah samping, di mana letak pintu berada. Siapa? Pikirku. Karena kalau Werrent atau Marlo, aku yakin mereka tidak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.
(A/N: Dari sini gue tulis miring dialog yang mereka ucapkan dalam Bahasa Inggris, ya. Selamat membaca, Readers kesayangan gue.)
“Iya ... siapa?” jawabku kaku.
Perlahan pintu terbuka dan terdengar suara perempuan lalu orang itu masuk dan menyapaku dengan ramah.
“Nyonya Orlov, perkenalkan saya Neva. Sekretaris Tuan Orlov, saya dengar dari beliau kalau Nyonya sakit. Maka itu saya ingin menjenguk Nyonya dan menyapa Nyonya dengan benar."
Wah .... Aku menampakkan senyum kaku, formal sekali perempuan ini. Aku sampai bingung sendiri untuk menjawabnya. Dia berjalan ke arahku dan menyimpan bingkisan buah di meja, dengan senyuman yang begitu cantik, dia menggenggam tanganku.
“Nyonya pasti terkejut melihat saya berada di hadapan Nyonya sedang Nyonya sendiri tidak pernah melihat saya. Ah, maafkan saya. Sepertinya kita sudah pernah berpapasan, benar kan, Nyonya?” tanyanya memastikan.
Aku lebih canggung lagi karena perempuan tersebut benar-benar berada di hadapanku. Saking cantik wajahnya, aku merasa sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Rambut semi pirangnya itu terlihat begitu berkilauan seperti pantulan sinar matahari. Lalu, netranya berwarna biru. Sangat indah seperti hamparan samudera. Hidungnya yang kecil namun mancung itu sangat cocok dengan wajah mungilnya. Lalu, bibirnya yang tidak terlalu tebal namun tidak terlalu tipis juga terpoles oleh lipstik berwarna merah terang. Membuatnya begitu dewasa walau dengan wajah mungil seperti gadis remaja. Bahkan aku pun rasanya malu karena orang secantik dia memperlakukanku seperti Nyonya besar.
Sebentar, sepertinya aku mendengar panggilan yang tidak asing.
“Nyo-nyonya? Haha, Nona Neva tidak perlu berlebihan seperti itu.”
Orang-orang di sekitar Werrent tidak ada yang bisa memanggilku dengan nama apa? Rasanya aku muak dengan panggilan besar seperti itu. Bahkan di banding aku, sepertinya Neva lah yang pantas disebut Nyonya di banding aku.
“Tidak, Nyonya. Panggil saya dengan nama saja, Nyonya tidak perlu berbicara formal kepada saya,” jawabnya dengan lembut sekali.
Aku malah terbebani kalau hanya dia yang memanggilku dengan formal, tidak bisa, ya, kita berbicara seperti biasa saja?
“Ah, Neva juga tidak perlu memanggilku Nyona. Cukup dengan Asqyla saja.”
“Tapi, aku sungguh tidak apa-apa. Panggil saja senyamanmu, tapi tidak dengan Nyonya.”
Neva mengangguk, “Baik, akan saya usahakan.”
Dan setelah itu kita saling terdiam, suasana tegang macam apa ini? Aku sudah memikirkan berbagai macam topik obrolan, tapi aku urungkan karena setiap aku melirik Neva, perempuan itu langsung tersenyum. Aku sendiri jadi malu karena tidak tahu harus membicarakan apa, aku terlalu takut perbincanganku membuatnya tidak nyaman.
“Hm ... Neva?” tanyaku ragu. Aku menggaruk pipiku, karena suasana canggung ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Setidaknya ucapkan beberapa kata lalu ikuti alurnya.
Neva yang sudah duduk di seberang ranjangku langsung menatap dan menutup katalog yang sedang dia baca. Masih dengan senyum manisnya. Duh, bisa-bisa aku benar-benar jatuh cinta pada Neva.
“Memangnya tidak ada pekerjaan yang sedang kamu kerjakan?”
Kalau memang ada, dia tidak seharusnya mampir untuk menjenguki aku. Aku malah jadi bersalah kalau pekerjaannya tertunda hanya karena mendatangi Istri bosnya yang sedang sakit. Padahal tidak perlu serepot itu.
Tiba-tiba Neva berdiri seraya membawa tasnya, dia mendekatiku dan tersenyum canggung. Aku sendiri jadi bingung dengan sikap Neva yang tiba-tiba seperti ini. apa memang benar dia punya pekerjaan yang sangat penting itu dan menungguku untuk menyinggung perihal pekerjaan?
“Maafkan saya karena tidak bisa membaca suasana, Anda pasti tidak nyaman karena saya tiba-tiba datang tanpa janji. Kalau begitu saya permisi, maaf karena saya mengganggu waktu berharga Anda,” jawabnya dengan nada bersalah.
Aku gelagapan, bukan ini yang aku maksud. Sudah kubilang bukan? Aku takut kejadian seperti ini terjadi. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Argh ... aku bingung.
“Tidak, Neva. Bukan seperti itu, aku tidak terganggu sama sekali. Malah aku merasa kalau aku yang menghabiskan waktu Neva.”
Ah, aku harus bagaimana?
“Jangan bicara seperti itu, Anda sama sekali tidak menghabiskan waktu saya. Saya baru tersadar kalau seharusnya saya membuat janji terlebih dahulu dan tidak datang dengan tiba-tiba seperti ini. maafkan saya,” ucap Neva dengan nada bersalah lagi.
Aku mengipaskan tanganku di udara dan tersenyum selebar mungkin. “Tidak benar. Neva bisa mampir kapan saja Neva mau, tapi aku merasa tidak enak karena Neva pasti mengorbankan waktu kerja Neva untuk aku.”
“Itu bukan apa-apa karena kondisi Anda lebih penting dari jam kerja saya.”
Tapi, itu jadi apa-apa untukku, Neva. Kamu tidak perlu sebegitu niatnya menjengukiku. Ya, ampun. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak merasa bersalah lagi.
“Tapi—”
“Asqyla, kamu sudah—Neva? Apa yang sedang terjadi di sini?” tanya Werrent.
Tanpa sadar aku memegang pergelangan tangan Neva agar tidak pergi. Aku segera melepaskan tangan Neva dan diam.
“Sir,” sapa Neva.