WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Werrent gila!



“Gimana? Ada yang kurang?” tanya Werrent.


Sudut bibirku naik dengan terpaksa, Werrent gila, ya? Kencan macam apa sampai kita berdua ada di dalam helikopter dengan ketinggian yang tidak ingin aku lihat. Aku memijat telapak tanganku perlahan, kenapa aku bisa ada di sini, sih?


“Kita mau ke mana, sih, Kak? Jawab dulu, jangan diem aja!” seruku kesal.


Pasalnya dari tadi Werrent hanya menyetir tanpa berbicara padaku. Kesal? Sudah pasti. Mana Werrent hanya senyam-senyum tidak karuan setiap aku bertanya ke mana tujuan kita. Werrent meresahkan!


“Qyla mau pulang aja,” rajukku.


Akhirnya Werrent menengok dan mengelus kepalaku. Dia berkata, “Nanti juga tahu, pokoknya tempatnya bagus banget. Kamu pasti suka, deh.”


Dari sekian kalimat yang ada, Werrent hanya menyuruhku untuk bersabar? Sudah lah, aku menyerah kalau Werrent sudah bersikeras seperti itu. Rasanya buang-buang waktu saja kalau aku berdebat dengannya.


Aku menyandarkan kepalaku pada kaca mobil, memandangi jalan yang sepi dan dipenuhi dengan pepohonan. Sejak kapan, ya, aku mulai terbiasa bedara dekat dengan Werrent? Lalu, apa kabar dengan Radith? Dia pasti sedang sibuk mempersiapkan kelulusannya. Ah, aku juga ingin merrasakan kelulusan sekolah. Werrent tidak membiarkanku masuk sekolah di sini dan mengandalkan Marlo untuk mengajariku.


Terkadang Marlo pun mengajariku beberapa point penting tentang bisnis, walau agak sulit tapi setidaknya aku paham kalau hal yang dikerjakan Werrent tidaklah mudah. Maka aku tidak perlu merengek untuk ditemani Werrent, dia saja sudah sibuk dengan pekerjaannya, mana bisa aku bersikap egois seperti itu. Dan lagi Werrent selalu mengirimku keluar rumah dengan Marlo untuk sekadar berjalan-jalan.


Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan si Kakak-Adik Halton itu, belakangan ini mereka tidak menghubungiku, mungkin karena sibuk. Atau aku yang merasa kesepian sekali hingga menunggu telepn dari mereka? Ah, sudahlah! Untuk apa aku memikirkan itu semua? Rumit sekali.


“Kita sudah sampai.”


Aku tersadar dari lamunanku, Werrent keluar dari mobil untuk membukakan pintu untukku. Aku keluar dari mobil dengan memicingkan mataku. Melihat tempat di mana Werrent membawaku. Dan itu adalah lapangan luas, sangat luas sekali hingga rasanya aku akan mati kehabisan napas jika berlari mengitari tempat tersebut.


Werrent menggandeng tanganku dan berjalan menuju Helipad. Dia menyuruhku untuk diam dan tidak lama kemudia angin kencang menerjangku dan Werrent. Sebuah Helikopter terparkir di depan kami. Seseorang keluar dari Heli tersebut dan menyalami Werrent lalu mengajak kami untuk masuk. Aku masih tertegun, tidak mengerti kenapa Werrent membawaku kemari hingga akhirnya Werrent menggendongku untuk masuk ke dalam Helikopter.


Dan sekarang, entah sudah seberapa jauh kami dari tanah. Yang jelas, orang-orang di bawah sudah tidak terlihat lagi. Werrent merangkul pundakku dan membisikkan sesuatu di telingaku, awalnya tidak terdengar karena suara dari Helikopter ini saja sudah bising. Lalu, bisikan kedua membuatku membulatkan mata.


“Kita sebentar lagi bakal loncat, kamu kuat kan?”


Jelas tidak! Werrent gila. Dia tidak punya perasaan. Kenapa tidak bilang dari awal sih kalau tujuan kita kemari?!


“Kakak harusnya bilang sama Qyla kalau kita bakal ke sini!” teriakku agar Werrent mendengarkan ucapanku yang pasti teredam oleh suara bising ini.


Werrent tersenyum lalu mencium keningku, “Kalau bilang, kamu pasti tolak.”


Aku tersenyum kaku. Jelas sekali aku tolak, aku masih sayang nyawa dan wisata seperti ini bukanlah kesukaanku. Bisa-bisa aku benaran mati karena jantungku berhenti saat turun nanti.


Saat seorang yang menyalami Werrent memasangkan segala macam alat pengaman di tubuhku, Werrent terus menenangkanku yang hampir menangis karena melihat keluar jendela saja sudah sangat sulit untukku apa lagi terbang. Werrent gila.


Sekarang orang itu mulai memasang alat pengaman pada Werrent sedangkan aku sedang terduduk meratapi nasibku yang sebentar lagi mungkin akan pingsan. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Lalu, pria itu membawaku berdiri dan menyuruhku untuk menempel pada Werrent, aku menatap Werrent dengan tatapan takut. Tidak bisakah aku turun nanti saja saat Helikopter sudah mendarat di Helipad?


“Kemari,” ucap Werrent lalu memelukku.


Aku menengadah, memandang wajahnya yang begitu tampan. Seketika aku melupakan kenyataan kalau aku sedang berada diantara hidup dan matiku. Lalu, Werrent menarik pinggangku agar aku semakin melekat padanya.


Dia berbisik, “Kalau gak gini, nanti kamu bisa jatuh.”


Aku mendorong Werrent dan membalikkan badanku, telingaku memerah. Apaan, sih, Werrent tuh? Masih bisa-bisanya dia menggodaku di dalam kondisi seperti ini. Argh, aku tidak habis pikir dengan jalan pikirnya!


“Ga-gak perlu, Qyla balik ke depan aja. Percuma udah sejauh ini kalau yang Qyla lihat malah wajah Kakak,” ucapku tegang.


Aku melirik Werrent perlahan, dia tersenyum dan mengangguk kepada orang yang membantu kami memasangkan alat pengaman. Perlahan, tubuhku dan Werrent semakin mendekat bahkan tidak ada jarak diantara kami. Dengan datarnya Werrent memeluk perutku dan mengecup pipiku dari belakang.


Seketika suara keras yang dibuat oleh baling-baling Helikopter kalah kencangnya dari debaran jantungku. Aku memegang tangan Werrent perlahan, aku takut sekali. Lalu, pintu Helikopter terbuka, aing kencang langsung menerpa wajahku. Tuhan, hari ini tidak akan mati bukan?


“Anda yakin untuk turun tanpa saya?” tanya pria itu. Werrent mengangguk yang aku bisa lakukan adalah memegang erat tangan Werrent dan memejamkan mataku dengan kuat. Tidak, aku tidak bisa melakukan ini.


Perlahan-lahan Werrent mendorongku untuk melangkah, lalu kami terhenti. Jantungku memompa dengan cepat. Seluruh tubuhku menegang saat Werrent berbicara padaku.


“Buka matamu Asqyla dan lihat mahakarya yang terpahat, aku tahu kamu pasti suka.”


Setelah itu kami berdua jatuh, aku berteriak dengan kencang, bahkan sampai menangis. “Kakak! Qyla takut, Qyla gak mau!”


Werrent semakin mengeratkan pelukannya dan aku mencengkram tangan Werent dengan kuat. Kecepatan kami terus menambah, aku bahkan tidak bisa lagi bernapas karena angin yang menerpa wajahku begitu kencang. Tiba-tiba Werrent melepaskan pelukannya. Jantungku serasa melompat keluar, sepertinya memang ini akhir dari hidupku. Aku tidak bisa membuka mataku sedikitpun, aku takut.


Dan seketika ... badan kami tertahan lalu turun dengan perlahan. Werrent berbisik dengan lembut dan kembali memelukku. “Buka matamu Asqyla, pemandangan dari sini bukan main-main. Sayang sekali kalau kamu tidak sempat melihat ini semua.”


Aku menggelengkan kepalaku, Werrent terus membujukku hingga akhirnya aku membuka mata perlahan. Warna biru terbentang luas dengan hijaunya gunung di depan. Aku terkesima melihat semuanya, langit begitu bersahabat denganku. Warna biru mudanya begitu menenangkan mataku dan segarnya udara membuatku terbuai untuk menikmati setiap detik.


Werrent benar, aku sangat menyukai pemandangan ini. secara tidak sadar aku membentangkan tanganku dan menikmati setiap sentuhan angin yang menerpa kulitku. Sayang sekali sebentar lagi kami akan mendarat. Namun, Werrent membelokkan arah. Kami mengarah ke arah pantai, aku berkeringat dingin. Dia akan mendarat di air? Werrent memang gila!