
“Hm? Benar tidak ada, bukan?” tanyanya meyakinkan.
Lagi-lagi aku tersenyum, bukan karena tidak ada hal yang tidak pernah dia palsukan padaku. Namun, karena aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Mungkin dia hanya bergurau atau bahkan memang tidak ingat akan semua hal yang begitu menyakitiku.
Seharusnya hal sensitif seperti itu tidak perlu dibahas, karena Werrent sendiri tidak sadar akan prilakunya sendiri. Dan akhirnya berakhir dengan aku yang memendam sendirian. Harus berapa lama lagi aku menahan semua beban ini, Tuhan?
“Jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi, Istriku. Sekarang kita punya buah hati yang harus kita besarkan. Terlalu memikirkan hal-hal buruk, tidak akan baik untuk kondisimu. Jadi, tolong istirahat. Aku akan mengurus semuanya.”
Iya. Dia benar. Aku masih tidak rela dengan kepergian anakku. Namun aku harus bersyukur karena salah satu dari anakku masih bertahan hingga saat ini. Dan aku baru saja menyadari kalau tenggorokanku begitu serak karena menangis tanpa henti beberapa hari lalu.
Kupikir lelapnya aku hanya berlangsung selama semalam, ternyata aku yang memutuskan untuk tidak mengingat kepedihan yang aku luapkan beberapa hari lalu. Itulah mengapa sekarang penampilan Werrent sudah lebih baik dan lebih segar dari sebelumnya.
Bahkan senyum hangatnya semakin bersinar. Entah berapa kali lagi aku tertegun dan terpaku pada wajahnya yang dingin namun hangat dalam satu waktu.
“Ah, sepertinya aku lupa menyampaikan kabar ini padamu, Istriku. Ada seseorang yang menunggu di depan ruangan, harus aku persilahkan masuk?” tanya Werrent meminta izin.
Aku mengerutkan alisku bingung, namun mengangguk karena tidak enak membiarkan orang lain menunggu lebih lama lagi.
“Kalau begitu sebentar, akan aku panggilkan. Aku juga akan mengurus beberapa pekerjaan yang beberapa hari ini tertinggal, tidak apa-apa jika aku meninggalkan kalian berdua, bukan?”
“Tapi—”
Aku tidak ingin ditinggal lagi. Tanganku meraih lengannya. Aku takut Werrent pergi dan tak kembali seperti saat-saat lalu. Aku takut kepergiannya kali ini tidak akan bisa aku temui dalam kurun tahunan. Bukan lagi bulan seperti saat aku sedang mengandung.
“Asqyla ... sayangku ... aku pergi sebentar. Kalau kamu gak mau aku tinggal, aku akan membawa berkas pekerjaanku ke mari. Jadi tunggu sebentar, ya?” bujuknya.
Namun aku tidak mau. Aku ... masih terlalu takut.
“Tapi, Mas. Qyla enggak mau ketemu sama orang itu. Mas tinggal di sini aja, ya? Biar suruh dia atau Marlo buat bawa pekerjaan Mas ke sini. Pokoknya Qyla gak mau Mas pergi,” racauku.
Jelas terlihat seperti anak kecil. Jika tanpa melihat statusku sebagai istri jua ibu, jelas sekali aku masih bocah yang begitu egois. Delapan belas tahun. Aku sendiri tidak menyangka di umurku yang masih belasan sudah menanggung banyak tanggung jawab. Hanya sedikit ego ini yang ingin aku miliki. Hanya ini saja.
“Yakin kamu gak mau ngobrol sama orang ini?” tanya Werrent membuatku curiga.
“Emangnya siapa, sih, Mas? Kevin?” tebakku.
Dia menggelengkan kepalanya, “Orang yang merindukanmu.”
Orang yang merindukanku? Siapa? Memangnya ada selain Papa, Mama, Bunda, Ayah dan ....
“Radith?!” teriakku.
Pintu ruanganku terbuka, menampilkan seorang pria jangkung dengan wajah bahagianya. Aku tersenyum lebar, tak bisa berkata-kata. Ingin sekali aku melompat ke arahnya saat ini juga. Menerjangnya dan memeluknya dengan erat. Tidak bisa aku lukiskan betapa aku merindukan sosok pria yang sedang terdiam di depan pintu.
“Jadi bocah itu masih aja ganggu adik kesayangan gue nih?” ucapnya dengan bahasa yang begitu aku kenali.
“Abang Zayn!” teriakku.
“Zayn?” tanya Abang ragu.
“Ah, maksud Qyla Abang Danish! Hahaha, bisa-bisanya Qyla lupa sama nama Abang. Tapi ... Zayn siapa, ya?” tanyaku tak sengaja.
Werrent melirikku lalu melirik Abang. Jantungku bedetak dengan begitu cepat. Aku takut juga khawatir dengan jawaban mereka. Namun sebagian dari diriku berharap kalau orang tersebut baik-baik saja.
“Entahlah, memangnya siapa, Sayang? Karna Danish sudah di sini, aku berangkat dulu. Setelah semua pekerjaan selesai, aku akan kembali secepat mungkin, ya?” bujuk Werrent.
Aku menggelengkan kepalaku, menahan lengan Werrent agar tidak pergi. “Katanya Mas mau bawa pekerjaan Mas kemari, kenapa Mas jadi pergi ke kantor?” melasku.
Namun, Werrent berbalik dan menatapku dengan penuh kehangatan. “Banyak hal yang aku tinggalkan selama beberapa minggu ini, Istriku. Di sini juga ada Danish, memangnya kamu enggak rindu?”
“Enggak! Qyla mau Mas tetep di sini.”
“Aku janji malam ini pasti pulang.”
“Enggak! Mas bohong. Gak mungkin pekerjaan yang banyak begitu bisa selesai dalam semalam!”
“Asqyla, tolong, ya? Hanya aku yang bisa menyelesaikan pekerjaan ini. Ada Danish di sini dan kita juga bisa berbincang lewat telpon. Okay?”
Aku mengepal erat tanganku. Kalau aku lepas Werrent sekarang, entah kapn lagi ia akan kembali. Namun jika aku egois seperti ini, mungkin saja dia akan pergi dan tak pernah kembali. Lalu aku harus memilih pada pilihan yang mana?
“Qyla? Jahat banget lo sama Abang sendiri. Kita udah berapa tahun gak ketemu dan lo bilang gak kangen gue? Wah hebat banget, ya, suami lo sampe gue terlupakan gini? Udah udah, mending lo pergi deh, Ren. Sebelum dia jerit-jerit gak mau lo tinggalin,” ucap Abang pada Werrent.
Aku mencubit lengannya dengan keras, kelakuan Abang memang tidak pernah ada baiknya. Dan Werrent malah menampilkan ekspresi bingungnya. “Ya?” tanya Werrent berusaha untuk mengerti apa yang Abang Danish bicarakan.
“Shut the **** up and go,” ucap Abang dengan tampang dinginnya.
Tanpa basa-basi lagi, Werrent mengangguk dan pergi. Aku hendak meneriaki nama Werrent namun Abang langsung menutup mulutku dan membiarkan Werrent keluar dari ruanganku dan berlalu.
“Bang Danish! Kenapa Abang biarin Mas pergi, sih?! Siapa yang suruh Abang buat ngusir dia?!” tukasku, kesal.
“Emangnya gue butuh izin lo, Qyla? Kenapa, sih? Lo kenapa sampe semarah ini Cuma karna Werrent berangkat kerja?”
“Abang gak tahu apa-apa. Jadi diem aja.”
“Lho, kok gitu? Cerita dong, biar gue paham kenapa lo sejengkel ini.”
Aku menatap Abang Danish dengan tatapan tajam. Aku hanya kesal karena dia membiarkan Werrent pergi begitu saja, bukan malah bertanya sejauh ini. dan hal yang paling aku benci adalah diriku yang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dengan baik di hadapan Danish.
“C’mon, Qyla. Gue tahu lo gak baik-baik aja. kenapa lo gak pernah cerita ke Mama atau Bunda, La?” tanya Danish penasaran.
Aku menatapnya dengan dalam. Ucapan Danish menusukku. Kenapa aku tidak bisa bercerita kepada mereka? Karena Danish sendiri tahu dan paham, aku tidak ingin membuat semua hal yang bersangkutan denganku menjadi rumit dan masalah.
“La. Duh, gue benci, sih, kalau harus ngomongin lo gini. Tapi, La ... kamu kuat, Abang tahu itu. Tapi, Abang tahu juga kamu lelah. Jadi ... apa salahnya untuk istirahat sejenak?”
Dan saat detik itu juga, aku termenung lalu menangis dengan histerisnya. Melebihi tangisan anakku sendiri.