
“Ada apa dengan wajahmu, Asqyla? Kamu terlihat seperti sedang mengkasihaniku,” ucap Werrent dengan santainya.
Aku terperanjat dan terkekeh, “Mana mungkin, Kak.”
Sebenarnya iya, tapi kapan lagi aku mempermainkan Werrent seperti ini.
“Ah, iya, Kak. Qyla ingin membahas suatu hal sama Kakak,” pintaku. Werrent melirikku, “Sebentar.”
Dia menyimpan tabletnya dan duduk di sofa, dia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku menurut dan dia tersenyum menatapku. Perasaan macam apa ini? Rasanya hangat sekali di dalam dadaku. Bagaimana bisa Werrent yang sifatnya dingin beberapa waktu ini bisa membuatku terhanyut? Sikap Werrent selalu berubah-ubah. Aku sendiri bingung harus menanggapinya seperti apa.
“Ada apa?” tanyanya seolah tidak perduli.
Werrent menimpakan kepalanya di bahuku, aku mengelus rambutnya perlahan. Senyum terbit di bibirku, rasa hangat menyelimuti dadaku. Werrent seperti anak kecil.
“Aku ingin bekerja, di perusahaan Kakak,” ucapku dengan paten.
Dia segera menarik kepalanya dan menatapku serius, “A-aku bisa di tempatkan di mana pun, Kak.”
“Tidak, Asqyla.”
Penolakan dengan tegas seperti itu menusuk dadaku, setidaknya aku tidak diam di rumah terus dan tak melakukan apa-apa. Aku juga ingin berguna untuk Werrent.
“Qyla memang tidak tahu mengenai pekerjaan Kakak, tapi ... kalau Kakak mau mengajari Qyla. Dengan senang hari Qyla akan—”
“Tidak, Asqyla. Apa yang kamu bicarakan?”
Aku terdiam. Nada bicara Werrent sudah mendatar. Aku tidak berani untuk menjawab pertanyaan Werrent. Yang bisa aku lakukan hanya mengalihkan pandanganku dan menunduk.
Tangan Werrent menangkup pipiku, mengangkat wajahku agar melihatnya. Dia tersenyum lembut kepadaku, degupan jantungku mengeras. Perasaan apa ini?
“Aku tidak bisa membuatmu bekerja bukan karena kamu tidak berpengalaman, Asqyla. Tapi, kamu itu Nyonya Orlov. Seorang Nyonya tidak seharusnya bekerja, bahkan posisi Sekertaris atau Asisten Direktur saja masih terlalu rendah untuk kamu tempati.”
“Tapi, Qyla terlalu bosan diam di rumah, Kak. Kakak bahkan gak biarin Qyla pergi keluar rumah tanpa Marlo. Lalu, apa yang harus Qyla lakukan di rumah? Pekerjaan rumah pun kadang sudah terselesaikan oleh Asisten Rumah Tangga. Qyla bingung harus menghabiskan waktu dengan cara apa.”
Werrent tertawa kencang, aku mengerutkan dahiku. Apa yang salah dari ucapanku? Apa begitu kekanakannya hingga Werrent sendiri tertawa terbahak-bahak seperti itu?
“Aku kira ada kejadian seperti apa hingga kamu tiba-tiba ingin bekerja, ternyata kamu hanya kebosanan di rumah. Kamu bisa pergi ke kantor untuk mengunjungiku ketika kamu bosan. Aku melarang kamu pergi keluar sendirian karena aku takut kamu tersesat, Asqyla. Dan sulit untuk menemukan orang yang tidak tahu jalan pulangnya sendiri seperti kamu,” goda Werrent.
Mukaku merah padam, Werrent benar-benar, ya! Aku tidak seceroboh itu, masa saja aku bisa tersesat di zaman secanggih ini? Masih ada orang-orang baik yang bisa aku tanyai untuk pulang. Kenapa juga dia bisa seyakin itu kalau aku akan tersesat? Padahal sebelumnya saja aku tidak pernah menunjukkan kecerobohanku padanya.
Perkataan Werrent menghangatkan perasaanku juga membuatku kesal. Di sisi lain dia berusaha memberitahuku kalau aku bisa mempercayakan semuanya pada Werrent dan bergantung padanya tapi di sisi lain dia seakan menyampaikan suatu hal lain kalau aku akan menjadi bebannya kalau aku tidak menuruti perkataannya. Apa selama ini yang aku rasakan adalah kebimbangan semata? Aku pikir setelah pernikahan ini, hal-hal yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi. Hal-hal yang luar biasa akan muncul di hadapanku. Namun, aku merasa seperti di penjara dengan sel yang terbuka. Yang bisa membiarkanku untuk pergi kapanpun itu. Dan aku memilih untuk diam di sana sampai seseorang mengizinkanku untuk keluar. Benar-benar menyedihkan.
“Qyla paham kalau Qyla mungkin membebani Kakak. Tapi, Qyla juga ingin membantu. Setidaknya sedikit saja,” jawabku dengan ragu-ragu.
Werrent tersenyum, mengusap kepalaku penuh perhatian.
“Dengan berdiam diri di rumah sudah membuatku terbantu, Asqyla. Kamu bisa menghabiskan waktumu dengan pergi berbelanja, mungkin kekosongan itu bisa tergantikan dengan berbelanja barang-barang yang kamu sukai.”
Werrent merogoh saku dalam jasnya, dia mengeluarkan dompet dan memberikan kartu padaku. Aku menatapnya bingung, dia tersenyum seraya meraih tanganku dan memintaku untuk menyimpan kartu debit tersebut. Aku semakin di buat pusing karena kelakuan Werrent. Aku tidak pernah berbicara ingin belanja, juga tidak ada yang aku butuhkan saat ini. Perlakuannya sangat membuatku curiga.
Aku mengambil tangan Werrent dan mengambalikan kartu tersebut. Dia menatapku dengan tajam.
“Apa ini kurang? Ha, ha. Ternyata kamu juga seperti itu, ya, Asqyla. Maafkan aku, bisa-bisanya aku memikirkan hal lain tentang dirimu. Terimalah ini dan gunakan dengan baik, masa depan perusahaanku ada di tanganmu sekarang.”
Aku merinding mendengar penuturan itu, dia mengganti kartu debit itu dengan sebuah kartu berwarna hitam pekat. Desainnya sangat mewah dan aku sempat terlamun dengan keindahan sebuah kartu. Namun, masa depan perusahaan katanya? Hanya dari sebuah kartu yang tipis begini? Bisa-bisanya Werrent memberikanku hal yang begitu berat.
“A-apa yang Kakak maksud? Perusahaan?” Aku menatap kartu yang berada di tanganku.
“Kakak bicara apa, sih? Mana mungkin aku membawa-bawa hal yang besar seperti itu. Qyla hanya bosan, bukan berarti Qyla bisa seenaknya kesana-kemari dengan uang perusahaan Kakak. Dan lagi, Qyla tidak membutuhkan hal-hal lain. Peralatan di rumah ini lengkap bahkan bisa di bilang terlalu lengkap. Lalu, barang-barang Qyla pun sudah banyak. Tidak ada yang perlu Qyla beli lagi, bahkan cemilan saja masih penuh di lemari.”
Jabarku dengan jelas. Aku mengembalikan kartu Werrent dan dia tertawa dengan keras. Kenapa bisa sih ada orang yang dengan polosnya memberikan orang lain aset perusahaannya? Aku mengerti karena aku sekarang adalah Nyonya dari pemiliknya. Tapi, bagaimana kalau aku adalah orang jahat? Bagaimana kalau aku menghabiskan seluruh uang itu dan kabur? Kekuatan uang itu sangat berbahaya, bisa-bisanya Werrent bertindak seceroboh ini.
“Kenapa, Asqyla? Kamu marah padaku, hm?” tanyanya menggodaku.
Jelas bukan? Walau tidak bisa di bilang marah, tapi kesal juga. Aku memang tidak ikut andil dari bagian perusahaan Werrent, tapi bukankah aku bisa saja marah karena Werrent memberikan hal berharga baginya dengan percuma seperti ini?
“Qyla hanya tidak menyangka kalau Kakak bisa dengan mudahnya memberikan aku hal yang begitu berharga untuk Kakak.”
“Aku juga tidak menyangka kalau alasan penolakanmu itu karena ini adalah hal yang berharga untukku.”
Aku mengernyit, “Memang, kan? Soalnya Qyla pasti kesal kalau hal yang berharga untuk Qyla tiba-tiba berada di tangan orang lain.”
Werrent mengangkat kedua alisnya, seperti tidak percaya aku berkata-kata seperti itu lalu tersenyum. Tidak. Dia menyeringai.
“Ho, begitu, ya? Kalau begitu, aku juga sama. Kamu tahu Asqyla betapa kesal dan marahnya ketika milikku di sentuh orang lain?” tanya Werrent mengancam.