WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Rujak



“Kamu yakin gak mau mampir dulu? Masih siang juga, iya kan, Louis?” tanyaku pada Louis.


Kevin terdiam di depan mobilnya sedangkan Louis sudah menarik ujung pakaianku agar aku segera mengajaknya masuk ke dalam. “Ayo, Asqyla! Kita main di dalam!” serunya dengan histeris.


Aku tersenyum pada Louis dan merangkulnya, “Hm, bagaimana, ya? Kakakmu sepertinya tidak berniat untuk mampir ke rumahku dulu.”


Dengan kecewanya Louis menatap Kevin, aku sedikit menahan tawa. Sedangkan Alice sudah masuk ke dalam rumah dulua, katanya dia lelah. Aku tidak tahu apa yang mereka bincangkan saat di dalam mobil karena aku terlalu kalut dengan pikiranku sendiri lalu bermain bersama Louis. Aku memang merasa ada keheningan diantara mereka berdua namun aku memilih untuk tidak berkata apapun dan berpura-pura seakan aku tidak menyadari situasi tersebut.


“Jadi ... kita pulang, Kevin?” rengek Louis.


Aku tidak tega, tapi jika Kevin tidak ingin masuk ke rumah, aku tidak bisa apa-apa. Bagaimanapun juga aku tidak bisa memaksanya. Tapi, Louis sepertinya ingin main di rumahku. Ah, poor Louis.


“Gak apa-apa, Louis. Kita kan masih bisa berbincang di telfon. Biar aku yang main ke rumah kamu, sekarang turutin kata Kakak kamu, jangan jadi anak bandel, ya?” bujukku agar Louis tidak merengek lagi.


“Tapi, Asqyla ....”


“Kita masih bisa main, kok.”


“Janji?”


“Hm, aku janji. Sekarang masuk ke mobil, jangan jadi anak nakal, ya?”


Dia mengangguk, ah gemas sekali anak satu itu. Apa anakku bisa seperti itu? Perlahan aku mengusap perutku, kapan, ya, saat yang tepat untuk memberitahu kondisiku pada Werrent. Apa harus aku sembunyikan saja?


“Asqyla?”


“A-ah, i-ya? Kenapa, Vin?” jawabku spontan.


Kevin menggaruk belakang kepalanya, “Bukan apa-apa, sepertinya ada hal yang mengganggu pikiran kamu, jadi aku berniat—ah lupakan, aku pulang kalau gitu.”


Aku mengangguk, lagi pula kami hanya tidak sengaja berpapasan. Kevin melirik ke dalam mobil, aku menundukkan kepalaku. “Maaf, Kevin.”


Dia yang seakan tahu apa yang aku bicarakan langsung membalikkan badannya, dia hanya membalas dengan dehaman dan membuka pintu mobil. Sempat ada perdebatan kecil kenapa aku tidak bisa menerima tawarannya sebagai tunangan dia. Dan kami berhenti berdebat ketika aku menunjukkan cincinku. Dia hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Aku tersenyum tipis saat dia pergi dari hadapanku bersama Louis yang masih melambaikan tangannya padaku. Ah ... melelahkan sekali hari ini.


“Asqyla!” sapa Alice saat aku masuk ke dalam rumah.


Dia merangkulku dengan senyum lima jari di wajahnya, aku menyenggol pinggangnya dengan siku lenganku. “Apaan, sih, senyum-senyum gitu?” tanyaku.


“Haha, enggak. Kevin gak mampir, kan? Aku cuman kaget aja bisa ketemu dia. terus aku minta maaf karna kita gak jadi belanja. Maaf, ya?”


“Gak apa-apa, Alice. Lagian kan kita bisa belanja online atau besok lagi.”


“Nah! Kita belanja online aja!” teriaknya.


Aku hanya bisa mengikuti dia dari belakang. Padahal tidak perlu pun juga tidak apa-apa. Aku tersenyum kecil, senyum selebar itu hanya bisa dilihat ketika Alice berbelanja. Ya, ampun. Dasar anak itu.


“Lihat, Asqyla. Bagaimana kalau baju ini? Ini lucu, mau coba gak?” tanya Alice padaku.


Kami berdua sudah berada di ruang tengah. Alice menunjukkan gambar-gambar produk yang toko online itu jual. Aku melihatnya sekilas, tidak terlalu buruk tapi aku belum perlu baju lagi. Karena baju di rumah ini saja sudah banyak.


“Iya itu lucu, tapi aku belum perlu baju hamil seperti itu Alice. Lebih baik kita beli hal lain saja, seperti makanan atau barang.”


“Hm ... ide bagus, baiklah kalau begitu. Aku akan pilih-pilih barang, kamu pesan saja makanan untuk makan malam.”


Aku mengangguk. kubuka laman website yang berisi makanan. Aku mencari sesuatu yang unik di dalam website ini, hingga tidak terasa satu jam sudah berlalu dan Alice sudah menemukan banyak barang-barang yang ingin dia beli sedangkan aku masih mencari makanan apa yang akan kita makan untuk makan malam ini.


“Alice?”


“Ya? Sudah kepikiran ingin memesan apa?”


“Hm, ya. Mungkin spagetti, bagaimana?”


“Iya, aku tidak masalah. Lalu? Ada lagi?”


Aku ragu-ragu sekali mengatakannya pada Alice. Karena aku yakin Alice pun tidak akan tahu makanan apa yang aku inginkan.


“Hm ... tiba-tiba aku ingin makan rujak,” ucapku berbisik. Alice menatapku dengan bingungnya. “Rujak? Apa itu?”


“Ah, bukan apa-apa. Kita pesan makan sekarang saja. Apa Alano pulang malam ini? Perlu aku pesankan juga?” tanyaku pada Alice.


Dia terlihat sibuk dengan ponselnya, aku memperhatikannya dengan seksama. Setelah selesai memainkan ponselnya, dia menatapku.


“Kenapa, Asqyla? Maaf aku tidak mendengar ucapanmu tadi.”


“Ah, itu ... apa harus aku pesankan juga untuk Alano?”


“Iya pesankan saja, tapi sepertinya belikan Alano pizza saja.”


Aku mengangguk dan menghubungi restoran tempat saji yang biasanya kami kunjungi untuk makan. Untung saja mereka menyediakan jasa antar makanan, jadi aku lebih bisa menikmati makanannya di rumah.


“Apa ada hal lain lagi, Alice? Minumannya bagaimana?” tanyaku.


“Hm, pepsi untuk Alano dan aku ingin strawberry float.”


“Okay.”


Aku kembali ke ponselku dan memberikan pesananku. Waktu terus berlalu, termasuk makanan yang kami pesan sudah datang. Alice mengambil pesanan tersebut dan membawanya menuju ruang makan, aku baru saja membersihkan badanku. Alice terlihat sudah siap dengan makanannya, begitupun makanan di mejaku. Aku duduk di hadapannya dan makan. Kami membincangkan banyak hal, termasuk bergosip ria mengenai Kevin dan para mantannya Alice.


Hingga tiba-tiba Alano datang dengan bungkusan di tangannya dan memberikannya padaku. Aku kebingungan karena Alano datang tiba-tiba dengan wajah lelahnya di larut malam seperti ini.


Aku dan Alice memang berencana untuk begadang semalaman untuk menonton series film yang sedang populer belakangan ini. Dan Alano dengan tenangnya menyuguhkan aku sesuatu lalu pergi menuju ruang makan.


“Apa ini?” gumamku.


Alice menatapku, “Buka saja, itu hal yang kamu mau.”


Aku mengerutkan keningku, hal yang aku mau? Kubuka perlahan kantong plastik tersebut dan aku melihat buah-buahan dalam kotak lalu cup berisi bumbu rujak. Ah! Ini memang yang aku inginkan! Tapi ... dari mana Alano mendapatkan makanan ini? Apa itu adalah alasan mengapa Alano pulang terlambat? Karena mencari rujak ini? Astaga, Alano.


Aku tersenyum saja melihat kotak makan ini dan Alano datangan sedang sekotak pizza dan pepsinya. Aku menatap Alano dengan berbinar-binar. Dia menghela napasnya dan duduk di dekat televisi.


“Sudah, jangan lihat diriku dengan wajah jelek itu. Makanlah, aku sudah mencarinya sampai kota lain. Jangan bilang kalau aku harus menyuapimu juga?”


Seperti biasanya, perkataan Alano selalu tajam. Tapi aku tak peduli, karena walau menyebalkan Alano tetap membelikanku rujak.


“Iya, Tuan Ketus.”


A/N:


Ada yang mau rujak? Ada-ada aja si Asqyla