WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kebenaran dari Kevin.



“Lho, kok aku?” tanyaku semakin bingung.


“Ya memangnya siapa lagi, Asqyla? Masa Louis?” tanyanya balik.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Kevin ucapkan. “Maksudku, kenapa kamu datang ke rumah sakit sesering itu kalau enggak ada anggota keluarga kamu yang sakit?” tanyaku dengan jelas.


Louis duduk di sofa seraya memainkan tabletnya, “Kevin kan kerja di sini, Asqyla.”


Setelah itu dia sibuk sendiri dengan permainan yang dia mainkan, aku menatap Kevin, meminta penjelasan lebih lanjut.


“Belum bisa disebut bekerja, sih. Tapi yang Louis katakan itu benar, aku kembali mengambil kelas kedokteranku dan bisa dibilang aku sedang melakukan tugasku sebagai mahasiswa kedokteran,” jelas Kevin.


“Benar juga! Aku lupa kalau kamu sedang kuliah. Tapi, yang paling aneh itu ... kenapa kamu berdiri dan mengobrol denganku di depan pintu? Ada kursi di sini, kamu bisa duduk di sebelahku.”


“A-aku sudah menangani banyak sekali pasien dari semalam, aku takut menularkan penyakit padamu,” ucap Kevin sedikit kaku.


Aku melambaikan tanganku, memberi kode untuk mendekatiku. Lagi pula memangnya apa yang bisa Kevin tularkan dengan badan yang sudah sangat tercium wangi dari jarak ini.


“Ta-tapi ... kalau kamu lebih sakit karna aku gimana?”


“Enggak bakal, udah duduk di sini.”


Kevin melirikku dengan ragu-ragu dan melangkahkan kakinya perlahan. Hingga akhirnya dia duduk di sampingku dengan gestur tubuh yang tidak begitu nyaman.


“Tidak apa-apa Kevin, tidak akan terjadi suatu hal buruk padaku. Tenang saja,” ucapku.


Dia mengangguk dan akhirnya mulai berbicara dengan biasanya. “Aku baru tahu kalau kamu hamil, Asqyla. Kenapa kabar segembira ini tidak kamu beritahukan padaku?” tanya Kevin, sedih.


Aku membuka mulutku untuk menjawab pertanyaannya, namun seketika lidahku membeku. Kurungkan niatku untuk berbicara pada Kevin. Tapi sepertinya Kevin mengetahui kalau aku tidak jadi mengatakan suatu hal itu dan akhirnya dia berbicara kembali.


“Perihal pertunangan, ya? Jangan terlalu dipikirkan, Asqyla. Aku saja sudah tidak ingin mengingat. Namun, memang benar adanya kalau ajakanku itu tidaklah palsu. Dan perkataan itu masih berlaku hingga hari ini.”


Kevin terbentur, ya, kepalanya? Bagaimana bisa seorang pria yang jadi dambaan para wanita termasuk Alice malah menjadi keras kepala mengenai pernyataan tunangannya padaku yang sudah bersuami bahkan sedang memiliki anak. Bagaimana pikirannya bisa setenang itu mengatakan hal yang tidak mungkin.


“Ke—”


“Aku tidak peduli, Asqyla. Kapanpun itu aku akan selalu menunggu. Selalu.”


Kevin bergumam, “Aku bahkan berharap kamu usai dengan pria itu.”


Aku mendengarnya dengan jelas. Namun, aku memilih untuk pura-pura tidak mendengar ucapannya. Karena bisa bahaya jika perbincangan kita malah terdengar orang lain dan terpelosok semakin dalam.


“Ah, aku sempat mampir dua hari yang lalu. Aku juga membawakan buah-buahan, tapi aku tidak melihat kerangjang berisikan buah di ruangan ini. Sudah kamu habiskan semua?” tanya Kevin penasaran.


Ketika Kevin menyebutkan perihal makanan, seketika perutku yang tadinya biasa saja menjadi keroncongan dan menghasilkan suara yang sangat memalukan jika di dengar oleh Kevin.


“Kamu lapar, Asqyla? Bukannya buah-buahan sebanyak itu sudah kamu habiskan?” sindirnya keras.


Aku mencubit pinggangnya sekilas karena perawat tiba-tiba saja datang membawa sarapanku. Aku terhura sekali bisa melihat makanan yang lebih berwarna. Walau masih dengan sup yang rasanya hambar. Tapi setidaknya, ada beberapa makanan yang aku sukai. Contohnya Ayam dan roti yang sudah dilapisi dengan keju. Wanginya begitu menggoda.


Tidak sadar aku memakan makananku dengan lahap, hingga akhirnya Kevin terkekeh dan aku baru sadar kalau ada orang lain di ruanganku.


Kevin hanya tertawa senang lalu menyeka sudut bibirku dengan jempolnya. Seketika wajahku memerah sekali. Bisa-bisanya aku makan seperti anak kecil dihadapan orang lain. Memalukan sekali. Namun ternyata, yang menikmati moment ini bukan hanya aku saja.


Werrent tiba-tiba muncul dengan air muka yang tidak begitu enak dipandang. Tatapannya begitu tajam menusuk dalam jiwa Kevin. Aku terdiam di ranjangku, hanya bisa menyaksikan pertarungan sengit yang tengah terjadi di hadapanku.


Aku melirik sekitar, mencari Louis. Namun anak itu tidak ada di manapun, aku melirik Kevin dan pria itu terfokus pada tatapan yang Werrent berikan.


“Ada apa ini?!” seru Werrent saat dia menatapku.


Tatapan tajamnya seakan menelanjangi tubuhku, dia begitu marah besar padaku. “Asqyla, aku pamit.”


Kevin memutuskan untuk pergi, namun tertahan begitu saja. Werrent melarangnya untuk pergi. “Kenapa kamu di sini, Halton?” tanya Werrent dengan nada rendahnya.


“Saya sedang menjenguk istri anda,” jawab Kevin tenang.


“Dengan candaan seperti tadi? Bahkan berani sekali tangan kotormu itu menyentuh milikku.”


“Asqyla itu bukan barang, dia itu manusia. Dia berhak mendatapkan hak untuk memilih,” balas Kevin dengan tenangnya. Seakan orang dihadapannya itu hanyalah anak kecil yang sedang merajuk karena permennya hilang.


“Kamu tidak sadar akan posisimu, Halton. Kau kubayar karena perintahku. Dan sekarang kau membangkang, hah?”


Suasana ruangan sudah tidak enak dan Kevin langsung bungkam dengan ucapan Werrent kali ini. Aku berusaha untuk menghentikan mereka, namun rasanya percuma saja. Aku malah tak tertanggapi sama sekali.


“Memangnya Asqyla akan menerimamu apa adanya jika aku memberitahukan hal tersebut?” ancam Werrent.


Kevin berkali-kali melirikku sekilas lalu menatap Werrent dengan tajam. Namun sayang sekali, Werrent tidak selemah itu sampai tatapan Kevin saja bisa merusak pemandangannya.


“Tidak ada gunanya juga untuk anda, jika anda menyebarkan bendera pemberontakan,” jawab Kevin.


“Asqyla!” seru Werrent. Akhirnya aku bisa masuk ke dalam perdebatan mereka. “Iya, kenapa?” tanyaku.


“Apa kamu tahu, kalau pertemuanmu dan Halton adalah kebetulan yang aku rencanakan? Agar kamu bisa memiliki teman sebaya, namun apa-apaan ini? Kalian bermain di belakangku? Pegawaiku. Bahkan istriku! Kalian sudah gila, hah? Kenapa dari sekian banyak wanita, kamu malah memilih istri orang!” teriak Werrent.


Kevin memandang Werrent, mau beberapa langkah hingga Werrent mundur perlahan. “Lalu, kenapa dari sekian banyaknya wanita yang anda mainkan, hanya Asqyla yang terkekang dengan rantai pernikahan. Kenapa?”


Dan dari sini, mulutku gatal untuk melerai mereka berdua. “Cukup! Kalau memang begitu adanya lalu kenapa? Toh, selama ini juga aku ditemani Alice dan Alano. Kenapa kalian yang bahkan jarang aku temui malah bertengkar seperti ini?”


Terlihat sekali Werrent semakin marah karena ucapan aku yang terkesan membela Kevin. Namun Kevin sendiri malah bungkam karena ucapanku benar adanya. Itu adalah misi pertama Kevin untuk menjada istri atasannya, namun tidak disangka dia malah jatuh cinta padaku. Rasanya aku merindukan Marlo.


“Lagi-lagi orang asing itu yang kamu bela, Asqyla!” seru Werrent kecewa.


“Mas! Qyla menengahi, bukan mencari cara agar salah satunya gagal. Qyla hanya ingin memahami dan memberitahukan pada orang-orang kalau kebikjasanaan itu tidak semudah yang kalian kira.”


“Wah, aku salut dengan keberanianmu, Istriku.”


A/N:


Duh, gk ada yg rindu sama aku apa? hahaha