WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Salah siapa?



Seketika aku terbelalak mendengar ucapan Marie, tidak nampak kebohongan sedikitpun dari wajahnya. Aku menghela napas dalam, menenangkan degup jantungku yang berdetak kian cepat. Rasa sakit yang aku rasakan saat berhadapan dengan Werrent di kantornya terasa kembali, rasa sakit yang begitu memilukan. Apakah aku bisa baik-baik saja berhadapan dengan Werrent?


Aku turun dari atas kasur dan melangkah perlahan menuju pintu, Marie menghentikanku dengan memblokir jalanku menuju pintu. Aku menatap Marie dengan bingung. Dia benar-benar tidak menyingkir sama sekali, seperti ada hal yang ingin Marie sampaikan padaku. Aku menunggunya berbicara terlebih dahulu sebelum pergi, karena bisa saja sesudah pergi dari kamar ini, aku tidak ingin menemui siapapun hingga beberapa hari ke depan atau bahkan sudah tidak ada di dalam rumah ini lagi.


“Nyonya, maafkan kelancangan saya. Tetapi, jika Nyonya tidak ingin menemui Tuan, maka tidak perlu. Akan saya sampaikan pada Tuan kalau Nyonya sedang beristirahat,” ucap Marie dengan ragu.


Aku meraih kedua tangannya, entah dari mana dia tahu apa permasalahanku atau dia hanya menebak kalau aku sedang bermasalah. Yang manapun itu sekarang sudah tidak penting, Werrent sudah pulang dan aku tidak bisa hanya berdiam di kamar tanpa menanyakan kejelasan yang terucap dari mulut Werrent.


Marie menatapku sendu, matanya berkaca-kaca juga. Haduh, seharusnya aku tidak perlu mendekatkan diri dengannya. Pada akhirnya aku hanya merepotkan orang-orang di sekelilingku.


“Enggak apa-apa, Marie. Aku baik-baik saja, kamu enggak perlu khawatir. Sekarang kamu istirahat aja, aku akan menemuinya.”


Marie mengangguk paham, dia melepas peganganku dan menyingkir dari jalanku. Kuraih perlahan kenop pintu, tidak ada bisikan-bisikan pelayan lain di depan kamar. Marie sepertinya sudah menyuruh mereka untuk tidak berkerumun di depan kamar tamu yang aku tempati ini. Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu dan berjalan ke arah kamar kami. Seperti biasanya, tidak ada pelayan yang berkeliaran dekat dengan kamar kami. Dengan keadaan yang begitu hening, detak jantungku terdengar jelas seakan seluruh ruangan terisi dengan suara jantungku.


Tak henti-hentinya aku memainkan kedua tanganku, keringat dingin keluar dari pelipisku dan kedua telapak tanganku sudah dingin. Aku takut dengan penjelasan yang akan Werrent jelaskan. Hingga akhirnya aku tiba di depan kamar kami, pintu kayu sudah terpampang jelas di depan mata. Tinggal membuka pintu saja dan aku bisa langsung bertemu dengan Werrent.


Kuembuskan kembali napasku dengan cukup teratur, jantungku berdetak dengan kencng hingga aku merasakan mual. Tidak, aku tidak boleh berhenti di sini. Aku harus mendengarkan penjelasan dari Werrent. Dengan mantap aku memegang kenop pintu dan membukanya, terlihat Werrent sedang membuka lemari bajunya, memilah kemeja-kemeja. Namun, karena kedatanganku, dia menutup lemari dan menatapku dengan tajam.


Tatapan yang dia tujukan padaku saat pertama kali berjumpa, tatapan tegas namun tak ingin membuatku tidak nyaman. Aku menutup pintu dan menghampiri Werrent. Pria itu berjalan ke arah ranjang dan duduk dengan santainya. Jantungku masih berpacu dengan kencang, aku takut sekali. Seketika dia menatapku dengan begitu intens hingga tidak sadar aku menundukkan kepalaku. Terdengar helaan napas berat, aku sedikit terperanjat. Tubuhku kaku, tidak bisa beranjak sedikitpun dari tempatku menghampiri Werrent tadi.


Lalu, dehaman keluar dari mulut Werrent. “Hm, jangan berharap aku meminta maaf.”


“Kenapa?” tanyaku cepat.


Kepalaku yang tertunduk langsung menatap Werrent langsung pada manik matanya. Dia salah, lalu kenapa dia tidak ingin meminta maaf?!


“Untuk apa?” tanya balik Werrent.


“Untuk apa? Coba tanya diri Mas sendiri kenapa Mas harus minta maaf!” emosiku.


Werrent terdiam sesaat dan membalas, “Aku tetap tidak menemukan jawabannya. Jadi, untuk apa aku meminta maaf?”


Tanganku terkepal, “Mas enggak merasa bersalah melakukan hal itu dengan wanita lain? Dan lagi orang itu Sekertaris Mas!”


“Melakukan hal itu? Coba kamu bercermin diri, Istriku. Siapa yang memulainya terlebih dahulu?”


“Memulai apa?!”


“Kamu memang pura-pura tidak tahu atau memang tidak ingin membahas hal itu?”


“Mas!”


“Aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan.”


“Qyla enggak pernah lakuin hal menjijikan macam itu, Mas!” teriakku.


Werrent mendekatiku perlahan dengan ekspresi marahnya. “Bersama anak itu? Kamu pikir aku tidak tahu kamu masih berhubungan dengannya, Asqyla? Kamu yang terlebih dulu menyakitiku dengan memperlakukan dia dengan spesial di bandingkan aku. Dan sekarang kamu merasa tidak adil? Coba lihat siapa orang egois yang tengah berdiri di hadapanku. Sadarlah Asqyla. Aku hanya membalikkan perlakuanmu padaku.”


Tanganku terkepal, aku tidak pernah melakukan hal menjijikan macam itu dengan Radith. Karena aku paham, aku milik Werrent sepenuhnya. Apa yang Werrent lihat hingga dia melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Lalu kenapa aku tidak bisa berkata apapun selain terdiam, hah! Kenapa? Kenapa suaraku tidak keluar?


“Sudah sadar dengan perbuatanmu sendiri kan? Aku akan bermalam di rumah Neva, kamu sendiri yang mengizinkanku untuk pergi bukan? Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu. Keluar.”


Perintah itu sangat jelas di telingaku, namun kakiku sama sekali tidak bisa bergerak. Bahkan membalas perkataan Werrent saja tidak bisa.


“Ah, tidak perlu. Lagi pula aku yang akan pergi, tidak perlu menunggu. Entah kapan aku akan pulang, jangan mampir ke kantor kalau kamu datang hanya untuk membuat kekacauan.”


Werrent berjalan melewatiku, membuka lemari bajunya kembali dan mengeluarkan beberapa kemeja. Tanganku terkepal erat, kenapa hal ini harus terjadi? Werrent berjalan menuju pintu kamar dengan kemeja-kemejanya yang dia sampirkan di lengannya. Jika bukan sekarang, aku tidak tahu kapan akan bertemu lagi dengannya.


“Mas!”


Werrent membalikkan badannya, menungguku berbicara. Perlahan aku melangkahkan kakiku mendekati Werrent. Hingga tiba di mana jarakku hanya tinggal beberapa senti dengan Werrent. Aku memantapkan ucapanku, tidak peduli pandangan apa yang akan Werrent layangkan padaku. Setidaknya Werrent tahu kalau aku adalah Istrinya.


“Qyla melarang Mas untuk pergi.”


“Lalu?”


“Mas mau pergi tanpa izin dari Qyla?”


“Izin? Siapa kamu, Asqyla? Sampai bisa mengatur hidupku.”


“Qyla itu Istri Mas! Qyla berhak berkata seperti itu!”


Dia tersenyum mengejek padaku, aku mundur perlahan. Kenapa? Kenapa Werrent seperti ini?


“Istriku? Apa baik bagi seorang Istri bermain-main dengan pria lain? Kita sudahi permainan rumah-rumahan ini. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Haha, melarangku? Memangnya kamu pernah menuruti perkataanku?”


Tanganku terangkat, menampar pipi Werrent. Mataku pedih sekali, sudah cukup aku terus terluka dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya, tapi tidak dengan komentar mengenai tugasku sebagai seorang Istri.


“Iya! Qyla selalu mengikuti perkataan Mas termasuk bersekolah di rumah, pergi keluar bersama Marlo dan melaporkan semua kegiatan luar rumahku! Apa yang tidak Qyla turuti?!”


“Berhubungan dengan anak itu.”