WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Perasaanku hancur



Kevin melirik sampingnya, perempuan yang beberapa bulan mengisi separuh hatinya kini sedang tertidur. Tidak butuh waktu lama untuk Asqyla bisa tertidur di tempat umum seperti ini. Kevin mengelus lembut kepala Asqyla dan tersenyum. Wajah tidur perempuan itu benar-benar cantik, membuatnya kembali jatuh cinta.


Tangan Kevin terulur kembali, dia ingin memindahkan kepala Asqyla agar menyandar pada pundaknya, bukan kaca jendela yang terlihat tidak enak untuk dijadikan bantalan tidur. Tapi, dia mengurungkan niatnya dan kembali menatap ke arah depan.


Seketika bus berhenti mendadak, membuat orang-orang komplain dan hampir saja membuat kening Asqyla membentur kursi menumpang di depannya. Dengan sigap Kevin menahan badan Asqyla agar kejadian tidak mengenakkan tidak terjadi pada perempuan di sebelahnya. Dengan perlahan Kevin menyandarkan kepala Asqyla di pundaknya.


Senyum lebar terpatri di wajah Kevin, dia sampai menutup mulutnya karena tidak bisa mengontrol ekspresinya di hadapan Asqyla walau perempuan itu sedang tertidur. Terlihat sekali Kevin merona, telinganya sudah sangat merah dan degupan jantungnya terus bertambah kencang.


Diraihnya tangan Asqyla dan menggenggamnya, dia memiringkan kepalanya hingga mengenai kepala Asqyla lalu ikut memejamkan mata.


...***...


Sayup-sayup aku mendengar bisikan orang-orang disekitarku. Saat kubuka mataku, hal pertama yang aku lihat adalah leher Kevin.


“Ah, maaf aku ketiduran.”


Secara refleks aku mundur dan menjaga jarak dengan Kevin. Aku memalingkan wajahku pada jalanan, malu sekali rasanya. Padahal aku hanya memejamkan mata sekejap, lalu yang lebih parah lagi aku tidak sengaja tertidur di bahu Kevin. Apa yang akan pria itu pikirkan tentangku yang tiba-tiba bersikap memalukan.


Kulirik wajahnya perlahan, dia sama sekali tidak membalas pandanganku. Seakan-akan aku telah membuat kesalahan besar. Tidak, aku memang bersalah karena tidak bisa mengontrol kondisi tubuhku sendiri. Keheningan yang memang selalu terjadi diantara kami semakin terasa kaku, seharunya kamu tidak tertidur Asqyla!


“Maaf, aku tidak bermaksud—”


“Kita turun di sini,” potong Kevin lalu menarikku turun dari bus.


Aku memperhatikan sekeliling, ini adalah jalan menuju kantor Werrent. Bahkan dari sini saja sudahterlihat bangunan yang menjulan namun tidak terlalu tinggi. Kaca-kaca yang memantulkan warna langit benar-benar indah.


Kevin menyadari lamunanku dan berdeham. “Keren, ya?”


Tidak sadar aku menganggukkan kepalaku dengan pandangan yang masih memandang gedung tersebut. “Mau masuk? Kebetulan aku ada keperluan,” ajak Kevin.


Aku menimang-timang jawabanku, Werrent akhir-akhir ini sedang sibuk dan aku tidak ingin mengganggu waktunya. Sepertinya aku akan menolak ajakan Kevin dan menungguinya di cafe sekitar kantor Werrent.


“Hm ... memangnya boleh, ya?”


Duh. Kenapa malah kata-kata itu yang keluar sih? Lagian siapa pula yang akan melarang aku masuk ke dalam sana? Kejadian mengerikan yang hampir saja membuat setengah dari pegawai Werrent kehilangan pekerjaan adalah karena berusaha untuk menghambat waktuku untuk menemui Werrent dengan alasan janji terlebih dahulu dan lain-lainnya hingga aku menunggu berjam-jam tanpa air minum.


Sebenarnya tidak masalah sih untukku, karena bagaimanapun Werrent adalah orang besar, pemilik resmi dari perusahaan rintisan Ayahnya. Aku sebagai pendampingnya jelas harus mengerti situasi dan kondisi Werrent. Namun, keributan yang tidak seberapa itu malah sampai di telinga Werrent dan memerintahkan kepada seluruh pegawainya untuk menyingkir dari hadapanku apapun kondisinya.


Jadi, apa aku ikut saja sekalian bertemu Werrent?


Seharusnya cafe Kevin. Kamu lupa siapa orang yang sedang kamu bawa? Aku tidak akan pernah menolak makanan apapun yang berasa coklat. Duh, dasar Kevin!


“Ya sudah kalau gitu,” balasku.


Aku mengikuti langkah Kevin dari belakang, dia berjalan dengan cepat sedang aku agak kesulitan menyamai langkahnya. Kami sudah melewati halaman depan dan sedang berjalan menuju lobi, satpam yang menjaga pintu depan menundukkan kepalanya saat melihatku. Agak membuatku tertekan, tapi ya sudahlah. Perintah Werrent susah untuk mereka langgar. Memangnya Werrent siapa sih sampai orang-orang ini takut, apa dia titisan iblis dan punya kekuatan untuk menghancurkan dunia? Haha, jelas tidak mungkin lah.


“Duduk di sini, aku akan kembali secepatnya.”


Kevin mendudukkanku di tempat yang tidak banyak dilalui orang-orang lalu pergi ke arah lift. Setelah kepergian Kevin, aku berdiri dan berjalan menuju reseptionis.


“Nyonya Orlov, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan cantik dengan nametag Linda di dada kanannya.


“Ah ... Mas ada di atas kan?” tanyaku. Ini memang bukan kali pertama aku kesini, tapi agak terlalu sulit jika aku memanggil nama Werrent dengan formal. Lidahku belum terbiasa. Dan mereka sudah tahu panggilanku kepada Werrent adalah 'Mas'


"Tuan Orlov sedang berada di ruang rapat, Nyonya bisa tunggu Tuan Orlov di ruangannya. Perlu saya antar, Nyonya?” tanyanya lagi dengan sopan.


Aku menggeleng lalu tersenyum, kembali kulanjutkan langkahku menuju lift yang tadi Kevin naiki. Belum sempat aku menekan tombol lift, seorang satpam langsung menekan tombolnya dan menunduk dengan hormat lagi. Ya, ampun. Aku merasa seperti orang penting jika diperlakukan seperti ini. Yang bisa aku lakukan adalah mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam.


Tapi, ternyata satpam itu tidak hanya bertindak sampai situ saja. Dia masuk ke dalam dan menekan tombol lantai di mana Werrent bekerja lalu kembali keluar dan membiarkanku naik sendiri. Aku tersenyum padanya lalu pintu lift tertutup sepenuhnya.


Aku menghela napasku dalam, semua keformalan ini benar-benar tidak bisa aku terima begitu saja. Aku belum terbiasa untuk beradaptasi dengan siatuasi seperti ini. Aku ... hanya merasa tidak pantas diperlakukan tinggi seperti itu.


Ting! Pintu lift terbuka, aku melangkah keluar menuju ruangan Werrent. Kubuka pintu ruangan Werrent perlahan, berharap dia ada di dalam dengan berkas-berkas yang sedang mengelilinganya. Namun, harapanku nihil. Sangat sepi sekali.


Aku melangkah menuju meja kerja Werrent, memandang jendela besar dibalik tempat duduknya. Aku melihat ke bawah, sekilas kenangan saat Werrent mengajakku terjun payung terlintas dipikiranku. Kira-kira seperti ini pemandangan yang aku lihat, hanya saja lebih hijau dan biru tanpa adanya kendaraan dan lalu lintas yang padat.


Tiba-tiba aku tersungkur, lututku lemas sekali. Ternyata kejadian itu masih begitu membekas di pikiranku, padahal aku tidak setakut itu dengan ketinggian.


“Werrent masih lama, ya?” ucapku bermonolog.


Seketika aku teringat Kevin, apa dia sudah selesai dengan urusannya? Aku harus segera turun. Aku tidak ingin Kevin kewalahan mencariku yang tiba-tiba menghilang. Namun, pintu ruangan Werrent terbuka. Aku segera berdiri namun sepertinya kakiku terkilir karena terjatuh tadi, nyeri sekali rasanya. Namun, ada satu hal yang membuatku semakin merasa tidak enak.


“Honey, kamu ke rumahku hari ini, kan?” ucap seorang perempuan dengan nada manja. Aku tidak bisa melihat siapa orang yang berbicara. Tapi yang jelas, balasan dari orang yang diberikan pertanyaan itu membuatku sesak sekali.


“Tidak bisa, Sweety. Aku harus pulang, sudah beberapa hari ini aku tidur di rumahmu.”


Panggilan pertama yang Werrent buat untuknya, ternyata dia pakai pada wanita lain. Perasaanku benar-benar hancur.