WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kita hanya teman, tidak lebih!



“Kok sekolah, Qyla?” tanya Radith bingung.


“Memangnya tidak boleh, Dit?” Aku balik bertanya.


“Besok kamu kan menikah.”


Aku menatapnya kesal, kita memang satu kelas. Tapi, apa tidak bisa dia membahas hal itu di tempat lain? Kenapa harus di kelas? Untung saja mereka semua sedang sibuk dengan pembahasan soal ujian harian tadi, bahkan tidak ada satupun dari mereka yang menyadari pembicaraan Radith.


Aku membawanya keluar kelas, Ruang Kesehatan yang sedang aku tuju. Di sana pasti sepi juga aman untuk membincangkan hal sensitif seperti ini, apa yang Radith pikirkan sih? Apa dia ingin membuatku mendapatkan masalah? Aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya.


Kita berdua sudah berada di Ruang Kesehatan, beruntung sekali ruangan ini kosong, aku sudah mengecek setiap kasur, memastikan tidak ada seorangpun yang berada di sini. Aku duduk di salah satu kasur lalu Radith duduk di bangku yang tersedia di samping kasur yang aku duduki, aku menatapnya malas. Dia masih saja memasang ekspresi polos, seperti tidak tahu apa-apa.


“Kenapa harus dibahas di kelas, sih, Dit?” tanyaku kesal.


“Kenapa? Kamu memang akan menikah, kan, Qyla?” Dia berbalik bertanya dengan memastikan kebenarannya.


“Kamu gila, Radith? Apa yang akan mereka pikirkan kalau mereka tahu aku akan menikah besok?!”


Radith berpikir seketika lalu menyadari kebodohannya, dia terlalu banyak memainkan game sehingga otaknya sangat lambat memproses sesuatu. Dengan cengiran tak bersalahnya dia mencubit hidungku gemas, aku mencubit tangannya keras lalu dia melepaskan cubitannya di hidungku. Aku memegang hidungku, sepertinya memerah. Radith melihatku dengan ekspresi jahil, tapi matanya berbeda, dia sama sekali tidak ingin melihat mataku. Setiap matanya bertemu dengan mataku, dengan cepat dia akan memalingkan wajahnya atau menjahiliku agar aku tak menatapnya.


“Apa pernikahan ini akan membawa kita kedalam sebuah jarak tak berujung, Dit?”


***


“Kenapa, Qyla?” tanya Radith tenang.


Radith duduk di sebelahku, seolah dirinya tidak mengetahui alasan kenapa aku terdiam di sini. Aku membelakangi Radith dan memainkan jari-jari tanganku, berharap Radith bisa meninggalkanku sendiri, memberiku ruang agar aku tidak tersesat.


“Aku mau pulang. Tetapi sesudah mengantarmu pulang, sudah sore. Kamu harus bersiap-siap, Qyla.”


Bersiap-siap, ya? Besok adalah hari besar yang terjadi sekali dalam hidupku. Harusnya aku bahagia dan tidak sabar untuk menunggu hari berganti. Tapi, lain halnya bagi aku. Rasanya aku meninggalkan banyak orang juga banyak impian. Apa aku salah mengambil keputusan?


“Duluan saja, Dit. Aku masih betah.”


“Aku akan pulang sesudah mengantarmu, Qyla.”


“Aku belum mau pulang.”


“Aku tunggu.”


“Duluan saja, Dit.”


“Nggak. Aku tunggu. Nggak ada penolakan.”


“Radith! Tolong. Beri aku waktu, aku ingin sendiri.”


“Bagaimana kalau ada—”


Aku menutup mulutku dengan kaget, hatiku seperti dihujam besi panas setelah melihat ekspresi Radith yang kaget karena kata-kataku. Dia berdiri, aku memegang ujung jaketnya sembari memanggil namanya, aku tidak bermaksud untuk membuat Radith seperti itu.


Aku benar-benar kewalahan dengan pikiranku yang selama ini membatasiku untuk tidak berbicara yang aneh-aneh karena aku tahu pernikahan ini begitu penting untuk Papa dan Mama. Namun, aku malah melampiaskan semuanya kepada Radith. Kepada orang yang selama ini selalu mendukungku apapun kondisi yang aku alami. Aku benar-benar perempuan jahat.


Dia terdiam, aku masih memanggil namanya dengan lemah berharap Radith mau memaafkan diriku yang sudah berkata jahat padanya. Dia menggenggam tanganku lalu melepaskan cengkramanku di ujung jaketnya dan pergi setelah mengatakan kata yang mampu membuat air mataku jatuh karena dinginnya kata yang dia ucapkan.


“Tidak perlu dijelaskan, aku sendiri sadar. Hanya saja ... bukan apa-apa, jangan pulang terlalu larut.”


Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu menenggelamkan kepalaku diantara kedua lutut, air mata yang mengalir melalui pipiku kini diiringi dengan rintihan. Rasanya sakit sekali melihat Radith pergi dengan kata-kata kasar dariku. Pikiranku kacau balau, rasa kesal karena takut ada jarak diantara aku dan Radith membuatku melampiaskan semuanya kepadanya. Dia yang tidak bersalah malah terkena pahitnya kenyataan, aku hanya berharap sekeras apapun aku menyuruhnya pergi, dia akan tetap bersamaku dalam keadaan apapun. Ternyata yang egois itu aku, pertanyaannya dulu itu seharusnya diajukan untuk diriku bukan dirinya.


Aku menghapus air mataku, memandangi danau yang sudah memantulkan sinar bulan. Sudah berapa jam aku di sini? Aku membuka tasku mencari ponsel untuk melihat pukul berapa sekarang, tapi ponselku mati. Aku memasukkan kembali ponselku dan menatap danau, airnya sangat tenang. Apa perasaaanku bisa setenang itu?


Langit semakin gelap, aku membenahi diriku dan beranjak dari sana. Berjalan perlahan dengan mata yang bengkak juga hidung yang merah, aku berjalan dengan perlahan, memikirkan bagaimana aku akan pulang. Aku tidak bisa memesan ojek online juga menghubungi Papa untuk menjemputku, juga tidak tahu apa kendaraan umum masih beroperasi.


Masih menyusuri sekitaran danau, mencoba mencari jalan keluar menuju rumahku. Tapi tempat ini terlalu gelap, tidak ada lampu malam yang terpasang satupun. Aku berusaha menajamkan penglihatanku, menyusuri jalan yang akan mengeluarkanku dari tempat yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang membuatku merinding setiap aku mendengar suara daun yang bergerak karena angin. Aku mendengar suara ranting yang terinjak juga langkah kaki yang semakin mendekat, segera aku membuka tasku untuk mengambil ponselku berniat untuk menyalakan flashlight.


Aku memegang ponselku erat, tidak menyala, sama sekali tidak menyala. Bagaimana ini? Aku lupa kalau ponselku mati, suara itu masih mengikutiku dari belakang. Jantungku berdetak dengan kencang sampai aku bisa mendengar degupan jantungku dengan jelas, kakiku lemas. Aku bisa merasakan jarakku dengannya sudah sangat dekat, aku berjalan cepat mencoba untuk memberikan jarak. Tidak sengaja kakiku tersandung batu yang mencuat dipermukaan tanah, aku memeluk kedua kakiku saat langkah kaki itu semakin mendekatiku. Aku menangis, takut orang itu akan menyakiti diriku. Satu-satunya yang aku pikirkan adalah Radith, Tuhan, tolong datangkan Radith untukku.


“Sudah nangisnya? Sekarang sudah mau pulang, kan?”


Aku melirik kebelakangku, seorang pria dengan seragam putih abunya berdiri menatapku dengan senyuman juga uluran tangan. Aku berdiri lalu memeluknya dengan erat.


“Ngapain kamu disini?” tanyaku dengan marah.


“Sudah setakut itu dan pertanyaan pertama yang kamu tanyakan adalah kenapa?”


“Jawab, Dit!” teriakku.


“Pulang, yuk?”


“Adit!”


“Jadi nggak marah lagi, nih?”


“Radith!”


“Jangan dipanggil terus, takutnya jatuh cinta sama aku.”


Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya kesal, dia mengusap kedua pipiku lalu mengecup keningku. Aku memejamkan mataku dan kembali memeluk dirinya.


“Kan sudah aku bilang, aku akan pulang sesudah mengantarmu pulang.”


Tuhan, apa sebenarnya Radith yang menjadi penyelamatku selama ini?