
Suara mesin detak jantung berdengung ditelingaku, begitu nyaring hingga aku terbangun dalam tidur lelapku. Samar-samar aku melihat seseorang sedang duduk di sebelahku dengan tangan di depan dadanya. Seolah sedang menungguku terbangun.
Namun saat penglihatanku benar-benar jernih, ternyata orang tersebut sedang tertidur dengan lelapnya. Seakan tak ada hari esok lagi untuk beristirahat.
“Eung,” ringisku.
Seluruh tubuhku seakan meleleh dan menyatu dengan ranjang ini. Begitu pegal dan sakit. Terutama bagian bawah badanku.
Untuk sesaat aku melirik sampingku, memastikan bahwa orang tersebut tidak terbangun. dan dugaanku benar, dia masih terpejam. Tanganku terulur mengelus pipinya lembut, bulu-bulu halus mulai tumbuh. Biasanya wajah pria di sampingku ini selalu bersih dah rapi. Kali ini begitu berantakan, bahkan muncul kantung hitam di bawah matanya.
Tidak terbayang seberapa khawatirnya sosok manusia ini sampai-sampai bisa tertidur dalam posisi duduk seperti itu. Hatiku menjadi hangat dan sudut bibirku melengkung. Walau banyak hal yang aku alami, banyak sakit yang aku dapatkan dan banyak sekali luka yang telah ia torehkan. Rasanya hilang seketika melihatnya duduk di sampingku dengan wajah berantakannya. Seakan aku adalah hal yang paling berharga untuknya.
Aku senang, begitu senang hingga senyuman diwajahku tak memudar sedikitpun. Ah ... semesta, bisakah engkau hentikan waktu sekarang juga? Karena jika aku melihat manik mata abu jernihnya itu, aku yakin seluruh duniaku akan hancur dan lebur dalam genggamannya.
“Sudah bangun?”
Suara serak basah khas sekali orang bangun tidur membuyarkan lamunanku, mata kami saling bertukar pandang dan dengan cepat aku memalingkan wajahku. Semu merah muncul di pipiku. Seharusnya dialah orang yang malu karena aku tatap begitu intens ketika dirinya sedang tertidur, tapi saat aku melirik lagi padanya. Dia hanya mengerjapkan matanya berkali-kali lalu memandangku dengan senyum manisnya.
Semakinlah warna semu merah ini berubah menjadi merah ranum. Tak berani lagi aku melirik pria di sampingku ini.
“Kenapa, Asqyla? Ada yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?” tanyanya lembut.
Ah ... suara rendah yang lembut ini begitu menyegarkan telingaku. Aku harap pria di sampingku ini bisa selamanya berlaku seperti ini.
“Istriku? Kenapa? Apa aku membuatmu tidak nyaman? Mau aku pergi dan aku panggilkan Alice untukmu?” tanyanya lagi dengan gusar.
Aku menggelengkan kepalaku lalu berusaha untuk mendudukkan diriku. Namun seluruh tubuhku begitu kaku dan sakit. Hingga dia menahan bahuku agar tidak memaksakan diriku untuk duduk. Dan di saat seperti ini, aku memeluknya dengan erat. Karena aku tahu, aku paham betul kalau sikap manisnya takkan bertahan lama. Maka dari itu, akan aku nikmati tiap detiknya dengan begitu candu.
“Lho? Ada apa, hm? Aku sudah di sini, jangan menangis, ya? Kamu sudah bekerja keras selama ini, jadi istirahatlah. Nikmati waktu istirahatmu, Asqyla.”
Ternyata perasaanku begitu mudah terbawa. Bahkan dalam pelukannya saja aku menangis sehebat ini. Namun satu hal yang takkan pernah dia sadari. Aku lagi-lagi terjatuh dalam pelukkannya.
“Qyla bahagia, Mas. Akhirnya hari ini datang juga.”
Hari di mana aku bisa melihat senyum lebarnya yang begitu tulus. Hari di mana aku bisa meraihnya sebegitu dekat dan hari di mana aku bisa menyerahkan seluruh hatiku padanya.
“Mas, Qyla cinta kamu, Mas.”
Menggelikkan sekali, namun Werrent tersenyum. Dia mengecup pipiku sesekali dan mencuri ciuman di bibirku dengan kekehan-kekehan kecilnya.
“Iya, aku tahu, Istriku. Aku juga,” ucapnya hangat.
Kata-kata itu begitu luar biasa hangatnya. Bahkan aku merasa kalau aku sedang berada dalam khayalku sendiri. Dan kalau memang benar, aku berharap terjebak dalam mimpiku ini. Setidaknya aku bahagia dalam ilusi yang aku buat sendiri.
“Istirahatlah lagi, aku yang akan mengurus anak kita,” ucapnya lalu mencium keningku.
Anak? Seketika ingatan mengerikan yang terjadi belakangan ini semuanya terlintas dengan jelas di kepalaku. Ingatan di mana pertama kali aku terjatuh saat sedang mengandung dan ingatan di mana jelas sekali Werrent mengabaikanku yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
Aku termenung, aku pikir itu semua hanya sebuah mimpi buruk di mana hari ini aku terbangun dan melihat kenyataan yang jauh berbanding dengan mimpi kelamku. Namun, ternyata kenyataan yang selama ini aku anggap nyata hanyalah mimpi belaka.
Memang benar, fakta akan kehidupan akan selalu terasa menyakitkan. Bahkan untuk para pahlawan dan orang beruntung lainnya. Aku hanyalah salah satu manusia yang tidak memilik bakat apapun selain menikah dengan orang yang melanjutkan bisnis ayahnya.
Tidak mungkin orang biasa sepertiku ini mampu menerima semua luka dan kenyataan yang ternyata benar adanya. Aku lelah, begitu lelah hingga rasanya ingin pergi saja sekarang juga.
Karena sebenci apapun aku dengan kehidupanku sendiri, anakku tidak ada hubungannya dengan kebencianku. Mereka adlah anugrah yang harus aku jaga dan aku lindungi.
“Iya, dia baik-baik saja.”
*’Dia’ di sini merujuk pada ‘Laki-laki’, mereka berbincang menggunakan bahasa inggris kalau kalian lupa.
“Jadi anak kita laki-laki? Keduanya? Padahal pasti lucu kalau mereka sepasang,” jawabku girang.
Seketika ekspresi wajah Werrent berubah. Aku membungkam mulutku, sepertinya aku telah salah berbicara. Atau mungkin perkataanku menyinggungnya? Werrent tidak menginginkan anak perempuan?
“Ah, maaf, Mas. Qyla enggak—”
“Sebentar, aku anak membawa anak kita kemari,” potongnya.
Werrent segera berdisi dan bergegas pergi. Aku mengepalkan genggamanku, menarik selimut sampai atas dadaku. Rasanya sesak sekali saat Werrent menampilkan ekspresi dingin dan seramnya. Membuatku kembali merasakan ingatan-ingatan tidak baik tentang pribadinya.
Waktu terus berlalu dan aku berharap Werrent kembali ke ruanganku dengan senyum hangatnya seperti tadi. Aku akan meminta maaf lagi jika Werrent masih menampilkan ekspresi tidak enak seperti tadi. Semuanya harus aku lakukan agar kehidupan pernikahanku berjalan dengan lancar.
“Istriku, aku kembali,” ucap Werrent dengan senyum mengembang.
Dia datang dengan bayi mungil di tangannya. Dengan perlahan dia berjalan menujuku dan duduk tepat di samping ranjang. Aku bisa melihat dengan jelas bayi mungil yang begitu menggemaskan. Tanganku terulur untuk menyentuh pipi tembamnya.
Aku meregangkan tanganku, meminta Werrent untuk memberikan anak kita padaku. Aku ingin menciumnya dengan penuh kasih sayang. Ah ... anakku yang tampan.
“Mungil sekali, aku yakin dia akan tumbuh dengan sehat dan tampan seperti Ayahnya. Iya kan sayang,” ucapku pada anakku.
Dia sudah berada dalam gendonganku, aku mengusap pipinya perlahan. Seakan sedikit tenaga yang aku kerahkan bisa saja membuatnya terluka.
Aku tersenyum bangga, puas akan hasil yang aku dapatkan. Ternyata seperti ini perasaan seorang Ibu. Aku begitu tersanjung dan beruntung sekali.
Diliriknya Werrent, aku menunggu anakku yang lainnya. Namun, tak ada seorangpun yang mengikuti Werrent masuk ke ruanganku.
“Anak kita yang satunya ke mana, Mas? Apa dia belum boleh dibawa ke mari?” tanyaku penasaran seraya melirik pintu.
Lagi-lagi Werrent terdiam dengan ekspresi datarnya.
“Maaf, Asqyla.”
Seketika jantungku berdegup kencang. Kenapa dia meminta maaf?
AN :
Hai sayang-sayangku, maaf ya aku gak bisa update rutin seperti biasanya. Rasanya mulai bosan sama tulisan-tulisanku.
Coba kalian kasih saran supaya aku semangat lagi berkarya. Belakangan ini aku juga gak enak badan, kalian jangan lupa jaga kesehatan, ya!
As always,
Be wise, Darling.