
“Kamu mau belanja apa, Qyla?” tanya Alice.
Karena rengekannya yang begitu menjadi, aku terpaksa mengiakan permintaannya. Seharusnya pertanyaan itu yang aku lontarkan padanya, bukan sebaliknya. Namun, yang bisa aku lakukan hanyalah tersenyum dan menggelengkan kepalaku.
Aku juga senang bisa jalan-jalan berdua begini bersama Alice. Agak sedikit khawatir dengan Althaf, tapi setidaknya aku bisa menghirup udara lebih segar di sini. Tidak ada hal lain yang bisa membuatku lega selain Althaf jika aku di rumah.
“Hm ... kalau begitu, gimana kalau kita belanja untuk baju-bajunya Althaf? Aku juga ingin membelikannya sesuatu! Karena aku sudah menjadi Auntynya, aku harus memberinya hadiah yang bagus!” serunya kegirangan.
Alice berjalan sambil melompat-lompat layaknya anak kecil yang hendak menaiki wahana. Sendandung penuh kebahagiaannya juga terdengar di telingaku. Rasa kebahagiaan yang Alice pancarkan membuatku begitu iri. Aku juga ingin sepertinya, tapi pikiranku terlalu banyak sekali memikirkan sesuatu yang tidak baik hingga semuanya terlihat gelap bagiku.
“Qyla! Ada boneka besar!” serunya.
Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum lebar. Reaksi Alice benar-benar beelebihan sekali. Seperti tidak pernah melihat boneka besar selama hidupnya.
“Aku mau yang ini. Kamu harus punya juga! Biar aku belikan! Ini hadiah dariku!” teriaknya.
Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku, entah berapa kali Alice berteriak seperti ini. Aku juga sepertinya sudah berkali-kali menghela napas karena kelakuannya yang begitu imut sekali. Rasanya ... Alice seperti adikku, walau memang secara hukum dia memang Adik Iparku.
“Qyla?” tanya Alice begitu ia sedang membayar dua boneka yang ia beli.
“Iya,” jawabku perlahan.
“Kenapa kamu mau caritahu tentang Kak Zayn?”
Pertanyaannya langsung menusuk hatiku. Senyum yang tak pernah pudar dari wajahku, langsung sirna seketika. Entah mengapa, jika nama Zayn yang terdengar olehku, maka aku akan merasakan rasa sakit yang begitu pedih di hatiku.
“Apa dia pernah melukai hatiku, Alice?” tanyaku padanya.
Ini adalah pertanyaan spotan yang keluar dari mulutku. Tidak aku pikirkan matang-matang sebelum bertanya. Karena itu aku sendiripun langsung terkejut setelah melontarkan pertanyaan itu.
“Eh! Lupakan saja pertanyaanku itu. Aku sedang mengada-ngada,” lanjutku dengan panik.
Alice menahan tawanya, ia menerima kartunya dari seorang kasir dan mengucapkan terima kasih. Tangannya langsung merangkulku dan membawaku pergi keluar dari toko boneka. Setelahnya, ia tertawa terbahak-bahak sambil memelukku dengan erat.
“Ekspresimu itu ... ekspresimu benar-benar di luar dugaanku, Qyla! Wajahmu lucu sekali! Apa-apaan itu? Lupakan saja pertanyaanku blablabla!” serunya sambil mengikuti caraku bicara di akhir kalimatnya.
Aku langsung menyenggol bahu Alice dan mengambungkan pipiku. Malu karena ia bicara begitu.
“Aku hanya bertanya. Kamu ini suka banget buat aku malu, ya?” tanyaku sambil sebisa mungkin menahan maluku.
“Hahaha! Bukan begitu, Qyla. Aduh ... maafkan aku. Aku tidak akan tertawa lagi,” ujarnya yang langsung mengambil napas dalam-dalam.
“Jadi ... apa pertanyaanmu tadi?” tanyanya menggodaku.
Aku melepaskan rangkulan Alice dan berjalan sendiri meninggalkannya. Dia ini benar-benar ingin membuatku malu.
“Hey, Qyla! Jangan lari dariku! Ayo tanyakan lagi pertanyaanmu!” teriak Alice yang langsung menyusulku.
Sialnya aku tidak bisa menjauh darinya karena luka jahit di perutku masih terasa sakit jika aku berjalan terburu-buru.
“Lupain aja, Alice. Katanya kamu mau belanja buat Althaf, kan? Masa Auntynya ini iseng banget sama Mamanya Althaf, sih?” tanyaku balik menggodanya.
Alice langsung menggembungkan pipinya, dia juga memanyunkan bibirnya dan menggandeng tanganku.
“Kamu ini gak mau kalah banget, sih, Qyla. Nyebelin!” serunya tidak suka.
Sekarang, aku yang menertawainya karena berekspresi seperti anak kecil yang hendak menangis. Wajah Alice yang cantik sekali, menjadi semakin cantik karena rajukannya.
“Maaf, deh. Aku gak bakal iseng lagi,” jawabku dengan senyum lebar.
Alice tersenyum dengan lebar, dia menggandeng tanganku dan menuntunku untuk masuk lift. Kurasa tempat untuk membeli pakaian bayi ada di lantai lain. Lalu, benar saja seperti itu. Lantai Mall yang kami berdua tapaki seperti surga bagi para orangtua. Isinya bermacam-macam. Dari mulai pakaian, mainan hingga makanan.
Tentu saja yang paling semangat diantara kami berdua adalah Alice. Dia berlari ke sana-kemari dan datang padaku dengan kantong berisi pakian, mainan dan juga hal-hal lain yang Alice inginkan.
“Qyla!” teriakknya begitu bahagia.
“Iya, Alice! Aku di sini,” jawabku sambil melambaikan tanganku padanya.
“Aku sudah selesai!” serunya sambil menunjukkan dua kantong belanjaan baru di tangannya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil berdiri, menunggunya datang kemari. Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana kami berdua akan membawa semua belanjaan Alice. Kalau boneka besar yang ia beli tadi, Alice memintanya langsung mengirimkannya ke kediaman Werrent.
“Apa kita panggil Sir Harris ke sini, Alice? Barang-barang yang kamu beli banyak banget,” ujarku meminta sebuah solusi.
Alice memiringkan kepalanya, dia memajukan bibirnya dan menatap tas-tas belanjaan yang ada di samping kanan dan diri kakiku.
“Hm ... bener juga, ya? Ternyata banyak juga!” serunya sambil tertawa.
Aku hanya bisa menghela napasku sambil menggelengkan kepala. Benar-benar tipikal Alice sekali.
“Oh, iya! Kita bisa suruh orang. Kamu tunggu di sini, ya?” tanya Alice yang langsung pergi begitu saja sebelum aku menjawab.
Aku diam di tempat seperti perintahnya, sesekali menatap Alice yang sedang berbincang dengan salah satu pegawai di Mall ini. Tentu saja tanpa butuh waktu lama, ia berhasil mendapatkan seseorang yang mau membantunya.
Dengan uang, semuanya mudah di dapatkan.
“Ayo, Qyla! Kita ke tempat lain!” serunya dengan bangga sambil merangkul tanganku.
Sedangkan beberapa orang yang Alice suruh langsung mengambil tas-tas belanjaan Alice yang banyak itu.
“Tempat lain?” tanyaku. “Aku mau pulang, Alice. Kakiku sakit.”
Alice menekuk wajahnya, “Kita baru sebentar, lho! Masa pulang, sih?”
Aku tersenyum simpul. 6 jam memangnya tidak lama apa? Menurutku sudah waktunya kita pulang karna sudah sore juga.
“Aku kangen Althaf, Alice. Kamu mau memisahkan kita berdua, ya?” tanyaku, merengek padanya.
Sungguh, kakiku sudah lemas. Aku yang banyak duduk saja begitu kelelahan, masa Alice yang lari ke sana-kemari tidak kelelahan sekali?
“Okay! Karna kamu bawa-bawa nama Althaf ... kita pulang sekarang. Besok-besok, gak ada alasan Althaf lagi!”
Aku tersenyum dengan lebar dan memeluknya begitu erat. “Alice memang terbaik!”
Alice mengangkat dagunya dengan tinggi, bangga sekali dengan dirinya yang baru saja aku puji.
“Hoho! Jelas sekali Alice memang yang terbaik!” serunya begitu puas.
Aku menggelengkan saja kepalaku dan membawanya menuju lift, untuk turun ke basement tempat Sir Harris menunggu.
“Oh, iya. Aku ingat kamu tadi tanya soal Kak Zayn, kan?” tanya Alice tiba-tiba.
Aku langsung terdiam beberapa saat dan tertawa kecil. “Udah, Alice. Aku gak mau tau. Jangan goda aku terus.”
“Yakin, nih, kamu gak mau tau tentang Kak Zayn?”
Aku menahan napasku sesaat. Apa aku boleh tahu tentangnya?
A/N : Halo Pembaca kesayanganku!
Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Apa kabar, nih?
Aku juga mau liat antusias kalian di ceritaku, kalau kalian masih suka dengan novel ini ... Aku pasti akan tulis berkala. Kayaknya banyak banget utangku sama kalian, ya? Wkwkwk.
Kalau ramai, aku bakal update tiap hari. Karna cerita ini memang jauh dari kata tamat juga. Aku tunggu komen kalian! Love you.