WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Cukup, Mas



...Satu persatu, jalan mulai terbuka. Membiarkanku melangkah terselimuti kabut. Seperti apa jalan di depan sana? Akankah ada ujungnya? Atau aku hanya berjalan pada lingkaran yang tak ada ujungnya? Haruskah aku keluar dari jalur? Atau harus aku berbalik dan melupakan semuanya?...


...Hanya ada aku di depan cermin. Wajah lesu, kantung mata hitam, lalu tatapan yang kehilangan cahayanya....


...Apa itu aku?...


...Perempuan berumur dua puluh tiga tahun itu begitu menderita. Membiarkan hidupnya melayang kesana kemari....


...Apa itu aku?...


***


“Asqyla! Kamu gak apa-apa? Kepalamu sakit? Ayo berdiri, kita temui doktor. Melangkah pelan-pelan, jangan sampai kehilangan kesadaranmu,” ucap Alice yang terdengar begitu samar.


Namun, aku terjatuh begitu saja lalu semuanya menghitam. Ada apa ini? Apa yang sedang kami bicarakan tadi?


Perlahan aku tenggelam dalam kegelapan. Aku bisa melihat diriku sendiri terus terjatuh dalam jurang tanpa ujung. Tak mengkhawatirkan betapa dalamnya jurang tersebut. Yang aku lihat, aku berusaha untuk meraih tangan seseorang dengan ekspresi sedih.


Apa aku sebegitu menyedihkannya?


Apa aku berusaha untuk menarik tangan Werrent? Meminta pertolongannya?


Lalu, kenapa aku begitu sedih? Aku tidak mungkin berekspresi seperti itu pada Werrent. Tidak akan pernah.


Karena Werrent adalah segalanya untukku.


Lalu, siapa?


“Kamu sudah gila, Alice? Baru aku tinggal beberapa minggu dan kamu berulah seperti ini? Apa yang akan terjadi kalau kamu mengatakannya lebih banyak? Bukankah aku sudah bilang kalau kita tidak berhak untuk berbicara!” teriak Alano dari luar ruangan.


Perkataaannya begitu kencang hingga membangunkanku. Kepalaku terasa sakit sekali. Hanya ada Werrent di sisiku dengan wajah lelahnya. Dia tertunduk begitu dalam, tak menatapku. Hanya menggenggam tangannya sendiri dengan erat.


Aku ingin sekali berucap, namun mulutku tak mengeluarkan satu patah kata apapun.


“Lalu? Siapa yang berhak untuk mengatakannya? Werrent? Pria itu, hah? Apa yang selama ini terjadi sampai kamu membelanya? Bukankah kamu senndiri yang selama ini selalu membencinya dan membiarkan Asqyla jauh darinya? Apa yang membuatmu berubah pikiran, Alano!” teriak Alice tak kalah kencang.


Werrent sama sekali tak terganggu dengan pertengkaran mereka. Malah terlihat sekali Werrent terlamun dengan pikirannya. Aku ingin sekali mengusap pipinya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi perkataan Alano membuatku membeku.


“Aku masih membencinya. Lebih benci darimu, Alice. Bahkan lebih dari yang Asqyla rasakan. Aku tidak akan pernah memaafkannya sebelum dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Zayn.”


Ucap Alano seperti tergantung. Aku menajamkan telingaku. Nama itu membuatku benar-benar sadar. Dan Werrent juga ikut terbawa perasaan ketika nama Zayn terucap oleh Alano.


“Sampai aku mati, aku tidak akan pernah bisa memaafkan Werrent. Camkan itu, Alice. Jangan pernah berpikir sedikitpun kalau aku berada di sisinya.”


Perkataan penuh penekanan itu membungkam Alice. Aku mendengar langkah kaki menjauh dan suara isakan tangis seorang wanita. Alice pasti menangis lalu pergi dari depan ruanganku. Sedangkan aku? Aku melihat Werrent berdiri menatap pintu cukup lama. Ia sama sekali tidak bisa melerai keduanya.


Hatiku merasa sakit melihatnya seperti itu. Kenapa aku masih jatuh cinta padanya? Pada orang yang tanpa lelah terus menyakitiku?


“Mas,” sahutku lemah. Dia mengusap wajahnya lalu berbalik dengan senyum simpul di bibirnya.


“Kamu tidak apa-apa, kan, Sayang?”


Sayang?


Hatiku meleleh, air mataku turun tanpa perintah. Dia memelukku erat. Perasaanku campur aduk. Cinta, kasih sayang, kebencian, kecewa, kasihan, peduli. Semua tercampur sampai aku sendiri tidak paham apa yang sedang aku rasa sekarang.


“Qyla enggak apa-apa, Mas. Mungkin terlalu banyak berbaring. Seharusnya Qyla yang tanya sama, Mas. Mas gak apa-apa, kan?”


Wajahnya yang begitu lelah tersenyum padaku. Terlihat jelas Werrent sudah menangis. Dia menangis cukup lama hingga matanya begitu lesu dan merah.


Apa yang terjadi padanya?


“Mas bisa cerita apapun itu sama Qyla. Qyla janji bakal jaga ucapan Qyla. Kalau Mas gak mau bilang sama siapapun, Qyla bakal diam.”


Dia menggelengkan kepalanya dan kembali memelukku. Aku merasa seperti sedang menjadi penopang hidup seseorang.


Werrent itu pria dingin yang tidak memperdulikan sekitarnya. Dia hanya melindungi apa yang menurutnya berguna untuk hidupnya. Tandanya, aku cukup berguna untuknya bukan?


“Gak apa-apa, Mas. Semuanya pasti baik-baik saja,” lanjutku.


Kamu harus tetap baik-baik saja Werrent. Kalau kamu terluka seperti itu, aku tidak tahu harus bergantung pada siapa lagi. Kamu harus tetap kuat. Biar aku yang terluka menggantikanmu, Werrent. Biar aku saja.


“Kamu ingin tahu sesuatu, Asqyla?”


Pertanyaannya terdengar memaksa. Tapi, aku memang ingin menanyakan beberapa hal padanya. Haruskah aku tanyakan saat ini juga?


“Hm, enggak ada. Apa Qyla boleh pulang, Mas? Doktor bilang Qyla bisa pulang sekarang.”


Werrent melepaskan pelukannya dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku jelaskan. Dia mengangguk dan merapikan barang-barangku. Menyuruhku untuk berganti pakaian, bahkan sampai menawari diri untuk membantuku berganti pakaian.


“Enggak usah, Qyla bisa sendiri kok.” ucapku seraya membawa kantung infus menuju kamar mandi.


Tapi ternyata ucapakanku sendiri mengkhianatiku. Aku tidak bisa memasang pengait braku dengan tanganku sendiri. Dan di sini tidak ada Alice atau perawat untuk membantuku.


“Mas?” tanyaku dari dalam kamar mandi.


Sebenarnya aku malu, tapi kami sudah menikah dan Werrent juga sudah melihat seluruh tubuhku. Apa yang perlu aku khawatirkan.


“Hm?” tanyanya.


“Qyla butuh bantuan, Mas. Mas bisa tolong Qyla, kan?” tanyaku dari dalam lagi.


Suara langkah kaki mendekat ke arah pintu. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku hanya mengenakan celana dalamku dan bra yang belum terkait. Bagaimanapun juga, Werrent itu seorang pria. Aku sempat meragukan diriku.


“Tidak jadi, Mas. Qyla bisa melakukannya sendiri,” ucapku.


Namun, pintu kamar mandi terbuka, sosok Werrent terpantul pada kaca di depanku. Dia menutup pintu kamar mandi dan menghampiriku. Wajahku sudah merah padam. Aku malu sekali.


Werrent tiba-tiba memegang pundakku dari belakang. “Mas!” seruku kaget.


Aku ingin mendorongnya tapi tangan satuku terpasangi selang infus. Aku hanya bisa terdiam di depan kaca. Menatap Werrent yang terus memandangi pantulan tubuhku di cermin.


Rasa takut menjalar sampai kakiku. Lemas sekali hanya untuk sekedar berdiri. Ditambah, rasa sakit di perutku belum mereda juga.


Dan Werrent malah menyampirkan rambutku, mengecup leherku dengan lembut. Aku tidak bisa membiarkannya. Tapi sebagian dari diriku memang menginginkan Werrent.


Aku terjebak dalam dua pilihan yang tidak bisa aku pilih.


Werrent masih melanjutkan acaranya. Dia bahkan memelukku dari belakang, masih terus mengecup setiap inci leherku dengan intesnya. Membuatku mengeluarkan ******* beberapa kali.


Saat tangannya yang berada di leherku, turun perlahan, aku langsung menegang.


“Cukup, Mas.”