WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kamu itu istri atau jalangnya, Asqyla?



Tidak seperti yang aku kira. Werrent terdiam. Dia menatapku dari pantulan kaca. Tangannya mengelus perut bagian bawah. Hampir mengenai area sensitifku. Dia mengelus lembut perban yang menutupi lukaku.


“Sepanjang ini?” tanya Werrent.


Dia menyandarkan kepalanya di bahuku seraya mengelus lembut perutku. Aku merasa sedikit nyaman dengan perlakuannya.


“Ternyata anak kita sudah nakal sejak pertama kali ia lahir,” ucap Werrent.


Aku memandangnya dengan senyum lebar. “Anak kita?” tanyaku begitu senang.


“Althaf, kan? Atau dia memang bukan anak kita?” tanyanya dengan nada bercanda.


Aku menggeleng, memeluk lengannya dengan nyaman.


Kata ‘kita’ yang Werrent ucapkan begitu menenangkanku.


“Sepertinya anak itu tidak akan menjadi baik sepertimu, Sayang. Baru lahir saja dia sudah membelah perutmu, apalagi saat dewasa nanti? Sepertinya aku harus mendidiknya dengan keras agar bisa melindungimu,” ucap Werrent lagi.


Perkataannya... perkataannya begitu menghangatkan hatiku. Bahkan menghilangkan rasa benciku padanya. Inilah, inilah yang aku inginkan. Perbincangan masa depan yang entah akan terjadi atau tidak. Tapi perbincangan kecil seperti ini cukup memberiku harapan untuk terus berjuang di samping Werrent.


Aku tersenyum, dia mengecup pipiku beberapa kali. “Jangan terlalu keras, Mas. Qyla ingin Althaf hidup seperti yang dia inginkan.”


Werrent mengangguk dan kembali mengecup leherku. Dia juga mengikatkan rambutku, berusaha untuk mengecup bagian leherku yang lain. Namun, tatapannya berubah ketika dia menatap sesuatu di lekukan leherku.


Aku tersadar, langsung menutupi luka itu dengan tanganku. “Apa ini?” tanyanya, menyingkirkan tanganku.


“Aku yang buat?” tanya Werrent.


Luka seperti sebuah gigitan terpampang jelas di sana, masih berbekas walau waktu sudah berlalu. “Gak apa-apa, kok, Mas. Udah gak sakit lagi. Lagian Mas juga gak sengaja waktu itu.”


“Maaf, Asqyla. Maafkan aku,” ucapnya seraya memelukku dengan erat.


“Jangan meminta maaf, Mas. Qyla merasa Mas menyesal tentang malam itu. bukankah karena malam itu, akhirnya kita memiliki Althaf? Aku tidak ingin Mas menyesali itu,” ucapku padanya.


Dia membalikkan badanku dan mencium bibirku. Aku memejamkan mataku untuk sesaat. Lalu, ciuman Werrent turun ke leherku. Membuatku membuka mata. Namun, aku terkejut dengan seseorang yang tengah menatapku dari pintu kamar mandi.


Seketika aku memeluk erat Werrent, tak membiarkannya menatap tubuhku yang terekspos.


“Alano,” gumamku.


Werrent langsung menatap pantulan cermin dan segera menutup pintu kamar mandi. Dia juga mengunci pintunya dan memakaikanku pakaian dengan cepat. Dia seperti terburu-buru sekali.


Bahkan sesudah memasangkan pakaian untukku. Werrent langsung pergi begitu saja membawa barang-barangku, mengatakan kalau dia akan mengurus semua administrasi lalu pulang terlebih dahulu dan menyuruhku untuk pulang bersama Alano.


Aku sedikit terkejut dengan tingkah Werrent yang seperti itu.


Aku hanya bisa meminta Alano memberikan penjelasan, tapi lagi-lagi, ucapan yang keluar dari mulut Alano begitu menyakitiku.


Aku menundukkan kepalaku. Tak berani menjawab ucapan Alano. “Aku tidak pernah bosan memberitahumu kalau dia itu bukan orang yang pantas untukmu, Asqyla,” ucapnya lagi.


“Kamu tidak lelah terus berpura-pura bahagia di depannya? Aku lelah dengan semua kebohonganmu, Asqyla. Berhentilah dan pulang. Ada orang yang begitu menginginkanmu lebih daripada Werrent,” ucapnya lagi dan berlalu begitu saja.


Namun, dirinya tak sengaja menyenggol perawat yang biasanya merawatku. Membuatnya terdiam di depan pintu cukup lama. “Aku tunggu di lobi,” katanya dan pergi.


Perawat tersebut bingung dengan situasi ini dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia melepaskan infusanku dan menggantikan perban di luka jahitanku. Dengan beberapa peringatan, akhirnya aku bisa pulang. Perawat itu juga mengatakan kalau aku harus kembali ke rumah sakit kalau keadaanku tidak membaik terhitung tiga bulan dari hari ini.


Aku hanya mengangguk dan membiarkannya mengantarku menuju lobi rumah sakit.


Alano benar-benar menungguku di sana. Dia langsung berjalan keluar ketika memandangku dari jauh. Tanpa menungguku, dia terus berjalan. Aku hanya bisa mengikutinya dengan perlahan.


Kupikir dia akan meninggalkanku saat melihatku turun dari lift dan berlalu begitu saja. Ternyata dia berdiri di samping mobil seraya menatapku dengan tajam. Aku sedikit takut dengan tatapan tersebut, seperti akan memakanku hidup-hidup.


“Sudah selesai? Perlu aku gendong?” tanya Alano dengan kesal.


Aku menggelengkan kepala, tidak bisa membuat Alano yang sedang kesal ini kewalahan walau aku ingin sekali menerima tawarannya. Kakiku keram sekali, belum terbiasa jalan tanpa bantuan apapun. Tapi, tak apa. Aku masih bisa.


Alano membukakan pintu mobil, “Masuk.” Aku segera melangkah masuk ke dalam, membiarkan Alano menutup pintu lalu pergi entah ke mana dan entah untuk apa.


Sekitar lima menit aku menunggu di dalam mobil, melirik kesana-kemari karena kehadiran Alano sama sekali tidak tertangkap mataku. Menit selanjutnya aku mulai gusar karena Althaf sedikit terganggu dan merengek. Aku memberinya ASI, membuatnya sedikit tenang. Hingga lima belas menit berlalu dan Alano masih belum datang.


Aku berinisiatif untuk memanggil Alano, tapi ponselnya ia tinggal di mari. Aku membuka kaca jendela, memperhatikan sekeliling karena Althaf juga sudah tertidur beberapa menit lalu. Dan tiba-tiba, pintu mobil terbuka. Alano langsung mengambil Althaf dan menidurkannya di kursi belakang lalu melemparkan sesuatu padaku dengan kasar.


“Bunga?” tanyaku kaget.


Sebuah buket bunga berukuran sedang, dilemparkan padaku. Aku memperhatikan Alano sampai ia masuk ke dalam mobil. “Dari siapa?” tanyaku pernasaran. Dia sama sekali tidak menjawab dan melaju, keluar dari rumah sakit.


Aku memperhatikan buket bunga cream ini dengan seksama. Jujur aku tidak tahu bunga apa ini, tapi warnanya putih pudar sekali dan aku suka dengan bunga ini. Lalu, aku sadar kalau ada sepucuk surat dalam buket tersebut.


Kertas berwarna cream itu hampir saja tidak terlihat karena menyerupai dengan bunga. Aku membukanya dan melihat beberapa kalimat terpampang di sana. Isinya:


‘Selamat atas kelahiran Althaf, Asqyla. Aku menyuruh Alano untuk memberikan bunga ini padamu kalau aku tidak bisa mampir ke rumah sakit. Dia pasti menolak mentah-mentah. Aku akan meminta maaf pada temanku ketika bunga ini sudah sampai padamu.


Ngomong-ngomong, Alano memperhatikan bunga ini dengan lama saat kami melewati toko bunga. Sepertinya dia berniat memberikanmu bunga juga, tapi karena pribadinya yang begitu, dia pasti tidak akan memberimu apa-apa.


Tapi, anggap saja ini pemberianku dan Alano. Aku akan mampir ke rumahmu saat urusanku selesai. Pokoknya jangan belanja macam-macam sebelum aku datang!


Dari Alice Gabriella Orlov’


“Dan Alano Gavriel Orlov?” tanyaku dalam gumaman.


Aku melirik pada Alano, dia terlihat memandang lurus ke depan tanpa merasa terpanggil. Aku tidak sengaja menggumamkannya karena nama Alano ditulis dengan tulisan tangan sedangkan sisanya ditulis cetak. Karena itu aku heran. Apa temannya Alice itu sengaja menuliskan nama Alano?