
Tadinya kupikir ini adalah akhir dari hidupku. Ternyata ini adalah awal dimulainya kehidupanku yang sesungguhnya. Segala hal aku perjuangkan dan aku pertahankan dengan begitu sulitnya. Apapun keputusan yang aku buat takkan pernah menggerakkan hatinya untuk sedikit saja.
Kini aku paham.
Betul-betul paham.
Seharusnya aku tidak pernah membiarkan semua ini terjadi. Seharusnya aku tidak pernah membiarkan dia masuk ke dalam kehidupanku. Dan seharusnya aku mengingat semua kenangan yang pernah terjadi dalam masa laluku.
Sekarang umurku dua puluh tiga tahun. Seharusnya di umur begini aku masih sibuk mengejar nilai tugasku. Mengejar dosen yang hanya ingin dicari walau dirinya tidak pernah terlihat peduli jika ditemukan atau tidak. Aku seharusnya mengeluh tentang nilai-nilai yang tidak sesuai denan keinginanku atau kisah cinta yang mungkin kandas beberapa kali.
Namun apa yang terjadi sesungguhnya?
Apa yang terjadi pada nyatanya sekarang?
Di umurku yang masih terbilang muda sekali. Aku sedang berhadapan dengan seorang pria kejam tak bermoral, tak berperasaan dan tak memiliki muka sama sekali.
Werrent Grissham Orlov yang menjadi puncak tertinggi dunia bisnis. Orang pertama yang berhasil menembus pasar internasional hanya dengan satu kalimat yang tak sengaja dia ucapkan. Lalu bisnisnya mulai meroket dan tak ada satu orangpun yang tidak tahu dengan brand teknologi bernama ROLOV di seruluh dunia.
Orang pasti berpikir kalau aku beruntung sekali mendapatkan CEO dingin nan kejam yang hanya bersikap lembut padaku dan bertekuk lutut hanya dengan ucapanku saja. Apapun yang aku minta, akan segera dia belikan hanya dengan satu gerakan tangannya.
Dia bisa membelikanku menara bersejarah yang begitu terkenalnya di Paris, apa lagi sebuah pulau yang dikelilingi samudera. Apapun itu tak mustahil bagi orang ini. Dan kehidupanku mulai berputar seratus delapan puluh derajat dalam beberapa tahun. Kini CEO yang hanya terkenal dalam satu atau dua negara, dikenal oleh jutaan bahkan triliunan jiwa.
Dan aku, Asqyla Dinara Orlov. Seorang Istri dari CEO tersebut sedang berdiri dihadapan orang yang begitu dingin dan kejam. Artikel yang begitu memujaku karena dapat menaklukan hati moster yang begitu beku hanyalah bualan belaka. Dari luar memang terlihat seperti itu. Namun dari dalam?
“Asqyla! Sekarang kamu berani meninggikan suaramu dihadapan suamimu sendiri?!” teriaknya dengan penuh amarah.
Siapa yang tidak marah jika melihat suaminya sendiri sedang bersama dengan wanita lain yang begitu cantik dan dengan cueknya dia merangkul perempuan tersebut begitu mesra. Memangnya Istri mana yang akan tahan melihat suaminya begitu mesra dengan orang asing?
“Mas! Qyla tahu Mas benci Qyla. Tapi, Mas! Qyla itu istri sah, Mas! Qyla berhak marah seperti ini! Mas tidak punya pikiran sedikitpun jika Althaf melihat Mas sedang bermain bersama perempuan lain? Dia akan berpikir kalau Ayahnya sendiri tidak menghargai Ibunya! Tak apa jika dihadapanku, tapi jangan sampai berani Mas seperti ini dihadapan anak kita! Aku hanya meminta satu hal, Mas. Tolong jangan buat Althaf merasakan kasih sayang yang kurang. Aku ingin anak kita tumbuh dengan baik. Aku mohon, Mas.”
Air mataku turun. Entah sudah berapa banyak aku menangis dihadapannya dalam beberapa tahun ini. Air mata yang selalu aku sembunyikan kini sudah tak lagi menjadi rahasia. Werrent memeras perasaanku begitu dalam. Hanya dengan kelahiran Althaf, kelahiran anak kami ... Werrent berubah dengan drastisnya. Seakan menyesal telah menikah denganku.
Aku mengepalkan tanganku. Memang ucapan wanita itu ada benarnya. Werrent selalu pulang dengan wanita yang berbeda dan aku memang tidak pandai bermalam dengan Werrent. Walau begitu, jika Werrent meminta, aku akan dengan senang hati menghabiskan malamku dengannya. Tapi pria itu sama sekali tak pernah menyentuhku sejak terakhir kali dia kecewa saat aku sedang di rumah sakit.
Setelahnya, dia berubah drastis. Tidak pernah menatapku dengan baik atau bahkan satu kamar denganku. Di awal aku melahirkan Althaf, semuanya berjalan lancar. Dia bahkan rela terjaga seharian untuk merawat anak kami. Namun, seperti yang kalian sendiri baca. Semua itu tidak berlansung lama.
Aku tahu aku egois jika aku terus meminta sebuah pembelaan. Tapi hatiku tak pernah bisa mengalah. Aku mencintai dia dengan sungguh. Dengan amat sungguh. Walau sebuah fakta sudah terungkap, rasa cintaku padanya tak padam. Karena seiring berjalannya waktu, orang yang aku cinta dan janji yang aku ucapkan, adalah sebuah kebenaran yang kini tak dipandang lagi.
“Anak kita? Kamu bilang makhluk itu anak kita? Aku tak pernah mengingat kita menghabiskan malam bersama. Kalaupun memang iya, aku tak pernah ceroboh seperti itu. Jangan sampai aku mengetahui kebenaran yang selama ini kamu sembunyikan, Istriku. Karena jika aku mengetahui siapa sebenarnya Ayah dari makhluk itu, maka semuanya usai. Hidupmu atau hidupnya takkan pernah bisa berjalan dengan lancar.”
Bahkan anak yang aku kandung, tak pernah dia sebut dengan benar. Makhluk katanya? Perkataannya memang tidak pernah membuatku tidak terluka. Aku lelah, Tuhan. Begitu lelah. Rasanya ingin berhenti. Berhenti dari semua kenyataan yang terjadi di depan mataku.
Namun, apa aku bisa berhenti? Apa aku berani mengungkapkan dan menyatakan bahwa aku lelah dihadapannya yang begitu jauh dan tak pernah menganggapku sedikitpun?
Semua kesalahpahaman ini membuatku lelah. Kalau memang yang dia bilang benar, maka Tuhan, tolong temukanlah aku pada orang yang aku cintai. Dia bilang aku tidak bisa mencintai dua orang dalam satu waktu bukan? Kalau pada nyatanya aku bisa namun dia tidak ingin menerima, tinggal aku pilih orang satunya agar bisa aku cintai sepenuh hati. Benar begitu, kan, Semesta?
Ini adalah perjalananku, hingga anakku berusia lima tahun. Dan sebuah tragedi di mana akan ada saatnya aku meninggalkan semuanya demi kebahagiaan seseorang. Dan kejadian itu lagi-lagi mengorbankan perasaanku.
Aku lagi yang berkorban. Maka dari itu, tolong jangan pernah membenciku. Karena sejauh apapun aku melangkah, rasa ini takkan pernah hilang. Rasa sayangku takkan pernah memudar sedikitpun.
Aku ... begitu mencintainya.
...***...
“Asqyla! Sadarlah! Tolong bertahan sebentar lagi, kita akan segera sampai. Aku mohon, Asqyla. Aku mohon!” teriak Alice yang samar-samar aku dengar.
Mataku sudah tidak fokus, bahkan penglihatanku buram sekali. Aku mengantuk, begitu berat hingga rasanya ingin istirahat untuk sesaat. Namun, Alice tak henti-hentinya membuatku terjaga dan menyuruhku untuk bertahan. Padahal aku hanya ingin memejamkan mata untuk sesaat, terlelap agar penatku sedikit hilang.
Karena rasa sakit yang begitu luar biasa ini tak bisa aku tahan.