WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Sebelum pernikahan



“Mau aku pinjamkan kemeja baru?” tanyaku.


“Tidak usah.”


Aku menatapnya jahil, ternyata Radith bisa kesal setengah mati seperti itu. Dia pasrah, dipakainya jas berwarna blue-black yang dibawakan Bunda lalu duduk di kursi yang aku gunakan saat sedang di dandani, dia menyilangkan kakinya lalu membuka ponselnya untuk bermain game. Masih sempat-sempatnya bermain game disaat penting seperti ini, aku duduk dipangkuannya karena pegal terus berdiri menggunakan heels. Dia tidak bereaksi apapun, masih fokus dengan ponselnya, Bunda dan Mama sudah pergi karena mendengar perbincangan suami-suami mereka yang sangat keras.


“Dit?” tanyaku.


Dia menjawab dengan dehaman, tidak melirikku sama sekali. Aku terus memanggilnya sampai dia meletakkan ponselnya ke dalam jas lalu benar-benar menatapku dengan kesal.


“Kenapa lagi? Duduk di sofa sana, berat tahu.”


Radith memegang pinggangku dan bersiap untuk berdiri, tapi aku menahannya. Radith kembali mengomeliku dan menyuruhku untuk bangun tapi aku tidak melakukan apa yang dia suruh, matanya terpejam lalu tangannya memijat pangkal hidung diiringi helaan napas panjang.


“Kamu sangat menyebalkan sekali hari ini, Qyla. Kenapa? Ada sesuatu?”


Aku memperhatikannya lalu merangkul lehernya dan memeluknya hangat, Radith kaget karena perlakuanku. Seakan terbangun dari kagetnya, dia mengusap halus punggungku, air mata yang aku tahan akhirnya turun juga, tidak perduli akan serusak apa makeup yang ada di wajahku, yang aku inginkan sekarang adalah menangis.


“Aku mendengarkan.”


Dia tidak protes karena tangisanku, aku pikir dia akan memarahiku karena menangis disaat penting seperti ini, tapi tanggapannya membuatku semakin memeluknya erat.


“Aku takut, Dit. Terlalu takut dengan keputusan yang aku buat. Pijakanku semakin tipis, bagaimana jika aku terjatuh ke dalamnya? Aku takut tidak akan ada ujung yang aku temui. Apa aku kabur saja? Meninggalkan pernikahan yang aku sendiri tidak tahu tujuannya.”


Radith masih mengelus punggungku, dia terdiam, sangat diam seakan tidak ada kata yang mampu membuatku tenang.


“Bagaimana kalau aku tidak bisa kembali? Bagaimana kalau aku benar-benar salah? Bagaimana kalau ini semua tidak bisa membuat semuanya bahagia? Bagaimana kalau kalian kecewa dengan keputusanku? Bagai—”


“Tidak, Qyla. Singkirkan semua hal buruk yang kamu pikirkan. Lihat orang di sekelilingmu tadi, tidak ada orang yang kecewa melihatmu dengan gaun ini. Semuanya bahagia, termasuk aku.”


Aku melepaskan pelukanku, Radith menatapku dengan sendu. Senyumnya begitu terpaksa, kamu pembohong Radith!


“Ekspresimu berbanding terbalik dengan pernyataanmu, Dit.”


Aku semakin meneteskan air mataku saat Radith memelukku, rasa hangat yang tadi aku rasakan kini menjadi dingin, menusuk hingga jantungku.


“Mana mungkin aku bahagia, Qyla. Kamu saja menangis seperti ini, kamu saja masih ragu dengan semua ini. Tapi, kamu masih bisa maju walau kamu tahu jalan di depanmu adalah jurang, lalu salahkah aku jika berbohong demi dirimu?”


“Jangan korbankan apapun demi diriku, Dit.”


“Apapun yang kamu ucapkan, aku akan terus melakukannya, bahkan untuk mencari jarum di luasnya samudra tetap akan kucari, demi kebahagiaanmu.”


Radith mengeratkan pelukannya, aku membalasnya. Air mata tak henti turun mengalir lalu jatuh mengenai jas Radith, perkataannya membuatku kembali mengenang tiga ratus meter terpanjang dalam hidupku. Aku mengusap punggung Radith seperti yang dia lakukan padaku tadi, lalu satu kalimat yang membuatku menyesal telah mengucapkannya dengan terang-terangan.


“Aku tidak akan membiarkan jarak membunuh kita berdua.”


Brak!!!


Pintu ruanganku terbuka menampilkan sesosok pria dengan tuxedo hitam dan bunga di lengan kanannya menatapku dengan tajam, aku berdiri seketika menatapnya kaget.


“Werrent?!”


...***...


Lagi-lagi aku meneteskan air mataku di buku harian yang tidak pernah aku biarkan hilang atau di baca orang lain, tepat satu bulan setelah kejadian yang membuatku dan Werrent salahpaham atas hubunganku dengan Radith. Juga minggu ketiga kedatanganku di tanah Britania Raya ini.


“Asqyla! Aku akan pulang terlambat malam ini, jangan menungguku dan belajarlah dengan benar.”


Dia mengecup bibirku sekilas lalu kepalaku dan pergi dengan lambaian tangannya, aku mengusap air mataku berharap dia tidak menyadarinya tadi. Hubunganku dengan Werrent membaik tidak seperti minggu pertama setelah pernikahan kita yang berujung ditanah asing dengan suasana dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan Indonesia. Kadang sikapku yang selalu melamun membuatnya selalu berpikir bahwa aku sedang bermain-main di belakangnya.


“Are you allright, Ms Orlov?”


Aku melirik guru privat yang Werrent sediakan untukku, beberapa saat lalu dia masih menampakkan ekspresi ceria walau tahu aku sedang menangis. Tetapi saat Werrent pergi, dia merubah ekspresinya menjadi sangat khawatir. Dia pria yang sangat baik, sayang sekali dia bekerja di bawah arahan Werrent.


“I’m ok, let’s began,” ucapku seraya mengusap pipi.


“I’m not sure if we had to continue this lesson, I’ll be back tomorrow.”


...***...


“Membunuh siapa?” tanya Werrent tajam.


“Kakak sedang apa di sini?”


Aku terbelalak, dia menggenggam erat bunga yang dia pegang. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol, tangan kirinya terkepal keras, lalu matanya menatap Radith garang. Aku mengangkat gaunku dan menghampirinya, dia melihatku tajam tapi bibirnya tersenyum.


“Kau mengabaikan perkataanku semalam Tuan Radith Mahendra.”


Aku menatapnya kaget, dari mana dia tahu nama lengkap Radith? Dia merangkul pinggangku lalu membawaku pergi dari ruangan itu meninggalkan Radith dengan tatapan mematikan dari Werrent.


“Kak? Kita mau ke mana?”


“Tidak memanggilku dengan nama seperti tadi, Asqyla?”


Aku gelagapan, tidak tahu apa yang akan aku jawab. Bunga yang dia pegang ia berikan kepadaku, dengan sekali hentakan dia menggendongku, spontan aku melingkarkan tanganku di lehernya.


“Kak, Qyla bisa jalan. Nanti jatuh.”


“Aku tidak akan membuat calon istriku celaka, tidak sepertimu yang telah menghancurkan hatiku, Asqyla.”


“Hati Kakak?”


“Tidak usah berlagak polos, Asqyla.”


Aku menatapnya semakin bingung, berlagak polos? Apa maksudnya? Hatinya hancur karena aku? Memangnya aku melakukan apa? Karena berpelukan dengan Radith? Ah, iya, pasti itu.


“Ah, tentang hal itu Qyla minta maaf, Kak. Tidak ada maksud lain, hanya sekedar perpisahan terakhir.”


Werrent menghentikan langkahnya, menatapku dengan tajam, lalu senyumnya mengembang. Tatapan itu semakin menajam, badanku menegang. Hanya sebuah perpisahan, tidak lebih. Mengapa dia harus semarah itu?


“Sebuah perpisahan dengan harapan? Mau sampai kapan kamu berbohong tentang hubunganmu dengan lelaki itu, Asqyla?”


Aku menatapnya bingung, hubungan apa yang dia maksud? Aku dan Radith hanya sebatas teman kecil, sahabat, dan keluarga, lalu apa yang membuatnya sampai marah seperti ini? Aku masih tidak paham dengan kemauan orang di depanku.