
“Jadi, ada hal apa yang ingin kalian bicarakan sampai berkunjung ke rumah?” tanyaku heran.
Alice menyenggol lenganku, “Aih, kita cuman rindu, kok! Serius, deh. Kapan lagi kan ketemu sama adik imut macam kamu!”
Alice tertawa kencang setelah mencubit pipiku. Aku melirik Alano yang masih memandangiku dengan tajam, aku membalasnya dengan senyuman lalu dia memalingkan wajahnya. Sekilas aku melihat Alano membuat ekspresi tidak suka setelah melirikku. Aku tersenyum simpul, dari dulu Alano memang tidak begitu menyukaiku seperti Alice. Mungkin ketakutanku akan keluarga Werrent yang tidak menerimaku adalah saat aku mengunjungi rumah orangtua Werrent. Alice langsung menghadangku dan memelukku erat diikuti dengan Alano. Namun, itu hanya di hadapan orangtua mereka. Alano langsung mengatakan hal-hal buruk setelah orangtua Werrent tidak memperhatikan kami.
Namun, Alano tidak seburuk itu. dia hanya pahit di mulut saja. Perlakuannya baik, bahkan dia selalu memastikan aku tidak pergi sendirian kalau Alice tidak bisa menemaniku dan dia pula lah yang menyuruh Marlo untuk tidak mengawasiku lagi.
Jadi, Alano itu baik hanya saja aku kurang mengerti apa yang dia tidak sukai dari hubunganku dengan Werrent.
“Sudahlah, tidak mungkin juga kamu datang sejauh ini hanya untuk menuntaskan rindu, apa lagi Alano ikut. Jadi, ada apa?” tanyaku memastikan.
Dan ternyata benar, mereka saling melirik lalu Alice memegang tanganku erat. “Hm, Asqyla ... aku tahu ini berat untuk kamu. Tapi ... kita punya rencana kecil yang mungkin bisa sedikit membantu kamu,” ujar Alice penuh kehati-hatian.
Aku menerutkan keningku tidak paham. Rencana mereka bilang? Kenapa? Walau memang setiap harinya terasa menyakitkan untuk menetap di sini, tetap saja aku tidak bisa pergi kemanapun.
“Kita sudah rancang kecelakaan yang bisa buat kamu pergi dari rumah ini,” timpal Alano dingin.
Badanku seketika menegang. Aku memang tidak ingin diam lebih lama lagi di rumah ini, tapi Werrent kan suamiku. Aku tidak bisa seenaknya pergi begitu saja, apalagi berkedok kecelakaan? Mereka gila?!
“Enggak! Kalian mau membahayakan diri kalian sendiri? Walau mungkin kalian menggunakan orang lain juga tetap saja. Aku tidak bisa pergi dari rumah ini dengan seenaknya. Aku masih jadi istri sah Kakak kalian. Aku tahu kalian ingin membantuku, tapi ... aku tidak bisa membahayakan kalian berdua,” ucapku, memelas.
“Lalu, kenapa tidak bercerai?” tanya Alano.
Aku terdiam. Alice mengambil alih topik dari sini. Dia memarahi Alano habis-habisan seakan yang disindir olehnya adalah Alice. “Tahu apa kamu tentang perasaan Aqyla? Kamu pikir bercerai itu mudah?!”
“Mudah. Temanku banyak yang bercerai dan mereka masih berhubungan baik sampai sekarang,” jawab Alano datar.
Alice mengepalkan tangannya dan melayangkannya di udara. Dia hendak menampar Alano namun pria itu menahan tangan Alice agar tidak memukulnya. Alice menggumamkan sesuatu seraya mengepalkan tangannya erat.
“Itu karena kalian para pria hanya berpikir melalui logika. Kalau tidak cocok ya sudah tinggal berakhir. Tapi tidak untuk wanita. Walau sesakit apapun, kalau benih cinta sudah tumbuh, maka semuanya selesai sudah. Tidak ada kata pisah yang ingin keluar dari pasangannya. Menerima adalah satu-satunya jalan. Kamu tidak paham akan rasa itu Alano. Tahu apa kamu tentang cinta?”
Alano terdiam, dia mengeratkan cengkramannya di tangan Alice lalu menepisnya. Dia memalingkan wajahnya dan membiarkan Alice berlaku sesukanya. Alano tidak akan menggangu lagi. aku tersadarkan oleh tepukan tangan Alice di pundakku.
“Maaf, Asqyla. kami selalu bertengkar di hadapanmu,” maaf Alice. Aku tersenyum seraya menggelengkan kepalaku. Sudah sewajarnya Adik-Kakak itu bertengkar.
“Gapapa, tapi aku gak bisa ikutin rencana kalian. Aku cukup tingal di sini. Lagi pula, Mas Werrent jarang pulang kemari.”
Tidak bisa, aku tidak bisa mengiakan permintaan Alice dan Alano. Mereka berdua merencakan ini memang untukku tapi aku tidak bisa membahayakan nyawa siapapun.
“Kalau kamu bilang tadi kita bisa saja menyelakai orang lain, sebenarnya tidak. Aku pengen kamu denger penjelasan dari aku terus kamu putuskan ikut atau tidak, ya?” pinda Alice lagi.
Aku menghela napasku dalam lalu mengangguk. Setidaknya aku bisa mendengar apa yang akan Alice rencanakan.
“Jadi begini, aku akan membuat kamu pergi liburan dengan Werrent. Lalu di persimpangan jalan, aku sudah menyewa sebuah truk pasir yang akan menabrak mobil kalian. Posisinya dari samping di mana Werrent menyetir dan kamu tidak akan terluka parah walau mungkin Werrent akan—”
“Tidak!” teriakku marah.
“Kalian ingin mencelakai Kakak kalian sendiri?! Alice! Jawab pertanyaanku. Kamu ingin mencelakai dia?!” teriakku sudah tak terbendung.
Aku menggebrakkan meja, menatap kepada Alano dengan tajam. “Alano! Kamu juga ikut dengan rencana ini bukan?! Jelaskan padaku kenapa kamu ingin mencelakai Mas Werrent, hah?!”
Dia terlihat sedang menahan emosinya, aku berdiri, menarap geram ke arah Alano. Yang seharusnya marah di sini adalah aku, bukan Alano.
“Kenapa?! Jawab Alano! Apa maksud kamu ingin mencelakai Mas Werrent!”
Alano ikut berdiri, kursinya terlempar ke belakang dengan kencang hingga aku tersentak kaget. Dia menatapku dengan penuh amarah. Alice merangkul pinggangku.
“Mas, Mas, Mas! Bisa hentikan itu sekarang Asqyla? Kamu itu sebodoh apa sampai sebegitunya berada di sisi dia?! aku tidak habis pikir, Asqyla! Seharusnya ... seharusnya kamu menyerah! Werrent itu tidak cocok menerima cintamu! Kamu pikir karena apa kami merencanakan kecelakaan itu? Demi dirimu Asqyla! Demi kamu! Werrent itu tak pantas bersanding denganmu!” seru Alano.
Aku hendak membalas ucapannya, namun Alano tidak membiarkanku membuka mulut. “Kamu pikir Werrent hanya bermain dengan jalang yang kamu kenal itu? tidak, Asqyla. dia tidak hanya bermain dengan satu orang. Kamu memang tidak sadar kenapa dia jarang pulang? Karena dia terus bermalam di rumah wanita-wanitanya! Kami tahu hal itu dari lama dan kami tidak bisa mencegah pernikahan kalian. Maka dari itu, aku dan Alice mencoba merencanakan ini demi kebaikanmu. Kami itu mengkhawatirkanmu dan kamu lebih memilih lelaki bejat itu?” tanya Alano dengan nada memelas di akhir ucapannya.
“Aku hanya tidak ingin dia terluka,” gumamku pelan. Alice mendengar gumamanku langsung berdiri dan memengang lengan atasku dengan erat.
“Aku tahu! Aku tahu, Asqyla. Tapi ... dia sudah melukai kamu sedalam ini dan aku tidak bisa melihat kamu tersenyum dengan paksa seperti itu. Marie memberitahuku kalau kamu menangis setiap malam, aku tidak ingin kamu menderita lagi,” ujar Alice dengan lembutnya dan memelukku hangat.
Kepalaku berputar, aku tidak bisa lagi mendengar ucapan yang Alice katakan seraya memelukku ini. Semuanya berputar dan kepalaku terasa berat sekali. Perutku sakit dan mual. Apa karena aku bergadang semalaman dan kurang makan?
Aku menyandarkan badanku pada Alice, lututku tidak kuat lagi untuk menopang badanku dan seketika, semuanya menggelap.
A/N:
Hm, kayaknya kalau Werrent gk ada seru nih