
“Hm ...,” dehamku cukup panjang.
Perempuan di depanku tersentak kaget dengan dehamanku dan semakin menunduk. Aku menatapnya seraya memiringkan kepalaku, sebenarnya dia kenapa?
“Nama—”
“Marie. Nama saya Marie, Nyonya.”
Seakan mengetahui apa yang hendak aku tanyakan, dia langsung menjawab dengan cepat bahkan tanpa menungguku selesai berbicara. Masih dengan wajah tertunduknya, aku menghela napas. Suaraku masih serak karena menahan tangis, inginnya aku sudahi rasa sakit di hatiku, namun apa daya? Aku sudah terluka sedalam itu. Jika dipikir-pikir lagi, kenapa aku hanya diam dan menerima semua kelakuan mereka? Kenapa aku hanya berjalan melewati mereka berdua tanpa meluapkan emosiku? Bahkan sebuah peringatan saja tak terucap dari mulutku. Hatiku kembali sakit.
Aku terdiam cukup lama, perang batin terus menenggelamkan kesadaranku. Marie mulai mengangkat kepalanya dan melirikku perlahan. Dia tersentak kaget melihatku, tiba-tiba dia memelukku erat dan berkata,
“Nyonya pasti baik-baik saja.”
Aku masih terdiam, mencerna apa yang sedang Marie lakukan. Perlahan aku mendorong Marie untuk bertanya apa yang sedang dia lakukan.
“Ada apa, Marie?” tanyaku.
“Tidak, Nyonya. Saya lancang, maafkan saya.”
“Enggak, kok. Kenapa kamu minta maaf ....”
Seketika tenggorokkanku pedih sekali, aku melirik Marie. Dia mengalihkan pandangannya dariku dengan ekpresi yang sulit aku jelaskan. Tapi, rasa sakit yang tadi hilang kembali datang. Rasa yang begitu menyakitkan dan menyiksaku kembali lagi datang. Napasku seketika tercekat, kerongkonganku pedih sekali hingga rasanya aku sedang menelan darah dari luka yang ada di tenggorokkanku. Mataku memburam, Marie sama sekali sudah tidak berbentuk dalam penglihatanku. Saat aku mengedipkan mataku, butir air mata terjatuh begitu saja melewati pipi.
Ternyata aku menangis, ternyata Marie sedang menenangkanku. Aku yang terlalu memendam ini sendirian akhirnya tumpah juga. Mau berusaha sekuat apapun aku menahan rasa sakit ini, tetap saja aku tidak bisa. Aku sama sekali tidak bisa membiarkan hubungan antara Werrent dan Neva semakin jauh lagi. Werrent pasti pulang bukan?
“Mau saya buatkan teh, Nyonya? Akan saya tambahkan madu supaya Nyonya bisa lebih rileks dan beristirahat dengan nyaman.”
Aku hanya mengangguk, menghapus air mataku dan membiarkan Marie pergi meninggalkan kamar. Tak lama kemudian seorang palayan lain meminta untuk masuk ke dalam kamar untuk menanyakan apa aku akan mandi terlebih dahulu atau makan malam. Aku hanya menjawab ingin istirahat, dia mengangguk dan mengatakan sesuatu yang kembali membuatku sakit.
“Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan pada Nyonya ketika Tuan pulang.”
Bibirku bungkam, dia sama sekali tidak mengucapkan nama Werrent, namun sudah jelas sekali siapa Tuan dari rumah ini. Perasaanku kesal, tidak ingin berbicara lagi padanya dan menyuruh dia untuk segera meninggalkan kamar ini. Aku memeluk lututku dengan erat, menelusupkan kepalaku di sela-sela pelukanku. Aku terlalu sakit, aku terlalu kecewa, aku terlalu tenggelam dalam samudera kegelapan.
Tidak ada lagi cahaya yang bisa aku gapai, aku lelah, aku butuh orang untuk bersandar. Aku ... kesepian.
“Nyonya!” teriak seseorang di hadapanku.
Aku sama sekali tidak berniat menatap siapa yang sedang meneriakiku, aku hanya ingin menumpahkan semua rasa kesalku pada tangisanku. Tidak perduli jika semua orang di rumah ini tahu aku menangis. Aku sama sekali tidak perduli lagi.
Tiba-tiba kepalaku tertanggah, orang yang berada di hadapanku adalah Marie dengan wajah khawatirnya. Aku menatap Marie dengan sendu, rasanya semakin sakit melihat orang yang mengkhawatirkanku. Namun, aku tidak bisa berucap kalau aku baik-baik saja. Aku juga tidak bisa menghilangkan isakan tangisku dengan cepat. Semuanya semakin runyam saat Marie memelukku dan mengusap punggungku dengan begitu lembutnya. Selembut belaian Mama.
“Nyonya, apa yang bisa saya bantu?” tanya Marie dengan nada bicara yang begitu lembut.
Dia terlihat seperti remaja yang tidak terlalu berbeda jauh dengan umurku, namun setiap ucapan dan belaiannya begitu menenangkanku. Aku yang selama ini tidak pernah merengek seperti ini semenjak datang ke tanah Inggris, malah terbuai dengan sentuhan-sentuhan hangat dari Marie.
“Ada yang sakit, Nyonya? Perlu saya obati pergelangan kaki Nyonya?” tanyanya.
Aku mengangguk dalam peluk Marie, dia melonggarkan pelukannya dan menghapus air mataku dengan sapu tangan yang dia ambil dari kantong bajunya. Aku hanya bisa terdiam, sebenarnya aku ingin kembali memeluk Marie dan menangis dengan sejadi-jadinya. Namun, aku urungkan niatku setelah mendengar sayup-sayup bisikan dari depan pintu. Kamar tamu ini berbeda dengan kamarku dan Werrent, suara-suara kencang tak akan terdengar sama sekali dari luar hingga apapun yang terjadi di dalam tidak bisa terdengar. Walau terdengar pun tidak akan ada yang berani mengomentari apapun yang terjadi di dalam jika bukan bahaya yang datang.
Namun, kamar ini tidak. Kamar tamu yang jauh dari kamar kami, pelayan yang tak pernah aku lihat sama sekali berkumpul di depan pintu hanya untuk mendengar apa yang sedang terjadi di dalam. Ini yang membuatku tidak begitu nyaman berada dalam jarak pandang mereka. Karena aku sudah tercap sebagai Nyonya yang tak kalah dinginnya dengan Tuan mereka.
“Saya akan buka perbannya, Nyonya. Tolong rentangkan kaki Nyonya.”
Aku meluruskan kakiku dan Marie dengan hati-hati melepas perban yang Kevin pasang dan memijat lembut pergelangan kakiku. Bengkaknya sudah mulai mengecil, namun muncul lebam berwarna ungu. Aku hanya tersenyum kaku, karena kelalaianku, aku sampai terjatuh hanya karena melihat pemandangan jalan dari ruangan Werrent. Juga lalai karena aku lebih mementingkan egoku di bandingkan kakiku yang seharusnya butuh pertolongan pertama.
“Nyonya ingin istirahat di kamar ini atau kamar lain? Kalau Nyonya berkenan, saya akan menyuruh pekerja lain untuk tidak mendekati kamar ini,” pinta Marie menunggu jawaban.
Aku mengangguk kecil, Marie berjalan perlahan ke arah pintu. Sebuah percakapan terjalin dari balik pintu, bahkan aku mendengar ada seseorang yang membentak, namun bukan Marie. Entah apa yang mereka bahas, namun Marie memakan waktu cukup lama hingga aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku. Ponsel yang berada di sampingku sangat hening, tidak ada pesan satupun dari Kevin, Radith, apa lagi Werrent.
Aku iseng membuka ponselku untuk melihat pesan terakhir yang aku terima dari Radith. Pesan itu sudah sangat lama, berisikan dia sedang sibuk belajar untuk mengejar ketertinggalannya. Padahal dia hanya turun satu peringkat. Walaupun ia turun, namun peringkat kedua dari seluruh siswa/siswi tetap saja tidak bisa dianggap remeh. Radith pasti terluka harga dirinya dan memutuskan untuk belajar bersungguh-sungguh agar nilainya kembali memuaskan. Walau sejujurnya Radith sudah cukup pintar, bahkan dia memang sudah pintar.
“Nyonya?”
Aku menyimpan ponselku dan mendudukan diriku, Marie menatapku kali ini tanpa ada keraguan. Tidak ada lagi pandangan menunduk yang Marie berikan padaku.
“Tuan pulang.”
A/N:
Apa kabar readersku tersayang?
Rasanya aku kurang berbincang dengan kalian, ya?
Gimana, nih, part kali ini?
Jangan lupa beri like, ya!
As always,
Be wise, Darling.