WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Nama panggilan



Tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya, sudah setengah tahun aku mendarat di tanah kelahirannya dan mulai membiasakan diri dengan lingkungan sekitar. Dia masih dengan jam padatnya, pulang saat larut malam dan pergi saat dini hari. Keseharian itu membuatku sulit melihatnya, namun kadang kala, dia meneliburkan diri dengan alasan kencan.



Duniaku mulai melebar, dia membiarkanku untuk pergi keluar tanpa pengawasan orang itu. Kada juga aku menghampiri temanku, karena dia tidak ingin rumah kami di masuki oleh sembarang orang. Tapi, tak apa. Yang penting aku tidak menghabiskan waktuku di rumah saja.


“Hm, kira-kira Kakak pulang siang gak, ya?” ucapku bermonolog seraya menutup buku harianku.


Fftt, Kak? Sepertinya aku harus mulai mengganti nama panggilan itu. Walau Werrent terbiasa pulang larut malam, kadang kala dia pulang di siang hari dengan mengatasnamakan. Dia beralasan kalau aku kalau aku pasti merindukannya.


Bagian merindukan Werrent memang tidak salah, tapi kenapa dia harus beralasan seperti itu? Aku kan jadi malu ketika berhadapan dengan para pekerja Werrent nanti. Walau aku tidak tahu punya kesempatan atau tidak untuk bertemu dengan mereka.


“Hah ....”


Aku menghela napasku dalam, Kevin sedang sibuk dan Louis sedang les. Aku tidak tahu harus melakukan apa di rumah. Pekerjaan rumah semuanya sudah dikerjakan oleh Asisten Rumah Tangga, Werrent tidak membiarkanku membersihkan rumah kecuali kamar kami. Lagipula aku tidak suka jika ada orang yang masuk ke dalam kamarku dan Werrent. Itu adalah ruangan kami beristirahat, setidaknya biarkan ruangan itu yang hanya ditempati oleh kami berdua. Mengingat Werrent selalu datang bersama Marlo atau orang lain yang tak ia kenalkan padaku.


“I’m home, Sweety.”


Aku melirik ke arah pintu, Werrent datang disusul oleh Marlo di belakangnya. Aku berdiri, tersenyum manis padanya dan Werrent mengecup bibirku. Marlo hanya melewati kami berdua dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Werrent merangkul pinggangku, intens.


“Sweety? Not bad,” jawabku.


Werrent menyentuh hidungku lalu mengecup pipiku dan berjalan menuju ruang tengah. Aku meminta Werrent melepaskan jasnya lalu duduk di sebelah Werrent.


“Qyla baru aja memikirkan nama panggilan untuk Kakak, tapi Qyla bingung. Karna Qyla gak kayak Kakak!” tukasku.


Werrent menaikan alisnya, “Aku kenapa, hm?”


“Kakak kan gak tahu malu, Qyla yang dengar panggilan dari Kakak aja udah malu.”


Werrent terkekeh, dia menarik kepalaku untuk bersandar di pundaknya seraya mengelus rambutku. Aku memejamkan mata sedang Werrent memperhatikanku tanpa berkedip.


“Kenapa enggak pakai panggilan yang pernah kamu buat dulu?” tanya Werrent.


Jantungku berdekup dengan kencan untuk sesaat, kata-kata itu masih menggangguku. Dulu kapan maksudnya?


Aku membuka mataku, “Dulu?”


Werrent mengangguk, aku berpikir keras. Bukan perempuan yang selalu Werrent ceritakan di masalalunya itu kan? Tapi, bagaimana kalau memang orang itu yang pernah membuatkan nama panggilan untuk Werrent? Dilihat dari cara Werrent menjelaskan, pasti orang itu sangat dekat sekali dengan Werrent. Panggilan ‘Sayang’ yang mungkin saja perempuan itu gunakan dulu.


“Sayang?” tanyaku lagi.


Werrent membulatkan matanya, dia terlihat kaget karena panggilanku. Apa dia seterkejut itu mendengar nama panggilannya yang sudah lama tidak dia dengar?


“Hahaha, kamu bisa bercanda juga, ya, Asqyla? Padahal aku sudah menyiapkan mentalku untuk mendengar panggilan ‘Om’ yang kamu berikan saat makan malam bersama keluargaku.


Aku mematung. Jadi, hari itu yang dia maksud? Aku terlalu memikirkan banyak hal, seharusnya aku diam saja dan menunggu Werrent untuk mengingatkanku kembali pada saat itu.


“Apa, sih, Kak! Yaudah gak ada nama panggilan buat, Kakak!” seruku merajuk.


Jujur saja itu sangat memalukan dan Werent malah menertawaiku. Benar-benar tidak punya perasaan!


“Lho, kok, begitu? Suamimu ini terkejut karena kamu dulu pernah bilang kalau kata sayang itu menggelikan, bukannya tidak suka. Ya, aku tidak membayangkan kata-kata itu keluar dari mulutmu. Tapi, kalau kamu suka, pakai saja.”


Aku memukul perut Werrent, dia terkekeh. Apa-apaan sih dia? Menyebalkan sekali!


Werrent menatapku, dia terdiam. Tatapannya datar, apa nama panggilan itu sangat membosankan sampai Werrent tidak tertarik.


“Mas?” panggilku.


Rasanya malu, tapi aku harus terbiasa. Tidak mungkin sampai aku punya anakpun aku akan memanggilnya Kakak. Rasanya kurang enak didengar.


“Kak!” teriakku.


Werrent tersadar dan mengedipkan matanya berkali-kali. Dia memalingkan wajahnya dari hadapanku, aku tersenyum puas. Werrent pasti baper, kesempatan ini kapan lagi bisa aku dapatkan. Hahaha!


“Mas ... nanti malam kita mau makan di luar atau Qyla yang masak, Mas?” tanyaku dengan nada segenit mungkin.


Werrent melirikku tajam, telinganya memerah. Aku tersenyum puas, ternyata ini yang Werrent rasakan ketika dia menggodaku. Menyenangkan ternyata, Werrent pasti merasa tidak enak. Tapi aku tidak perduli, salah siapa dia selalu menggodaku? Akhirnya aku bisa membuatnya tersipu malu, biasanya Werrent akan membalikkan tindakan-tindakanku ketika aku sedang menggodanya dan berujung aku yang tersipu malu.


Rasanya puas sekali!


“Qyla bercanda, Kak. Tapi pertanyaan Qyla serius, kita mau makan di luar atau Qyla yang masak?” tanyaku.


Mungkin Werrent tidak terbiasa dengan panggilan yang aku buat, jadi aku akan berubahnya perlahan-lahan. Karena aku tahu rasanya seperti apa, saat Werrent pulang tadi saja jantungku sudah hampir meledak. Untung saja aku terbiasa karena Kevin sering bercanda denganku dan memanggilku ‘Babe’ atau semacamnya.


“Jangan,” bisiknya pelan.


Aku berdeham, jangan apanya? Makan malam di luar? Atau aku yang tidak perlu memasak?


“Jangan panggil aku Kakak lagi, kita kan sudah menikah.”


Werrent menutup mulutnya setelah berbicara seperti itu, bisa kulihat wajahnya merona bahkan lehernya pun sampai merah. Lucu sekali suamiku ini.


“Iya, iya, Mas. Qyla gak bakal panggil Kakak lagi,” ucapku.


Marlo memperhatikan kami dari dapur, dia tersenyum kepadaku saat mata kami saling memandang. Seketika wajahku panas, aku lupa kalau Marlo sedang di rumah juga, ah! Rasanya ingin ternggelam saja. Malu sekali!


“Babe? What’s wrong?” tanya Werrent.


Aku memandangnya dengan alis berkerut, “Babe?”


“Iya, kamu gak suka?” tanya Werrent. Aku menggeleng, “Padahal Kakak bisa panggil Qyla pakai nama aja.”


Werrent menatapku kecewa dan saat itu juga Marlo berbicara. “Tidak bisanya, Nyonya. Kalian itu pasangan, tidak bisa kalau hanya saling memanggil nama depan, begitupun nama belakang.”


“Memangnya sepenting itu, ya?” jawabku pada Marlo. Dan pria itu mengangguk, Werrent menyandarkan kepalanya di bahuku, dia membisikan sesuatu. Tapi, aku tidak bisa mendengarnya. Bisikannya terlalu kecil.


“Kenapa, Mas?”


Dia hanya menggeleng di bahuku, aku mengusap kepalanya lembut. Kini bisa aku dengarkan debaran jantung Werrent. Apa akhirnya dia mulai mencintaiku? Aku tersenyum, masih dengan mengelus kepala Werrent. Tidak apa, Asqyla. Kalau memang belum pun, kamu masih punya banyak waktu untuk membuat Werrent mencintaimu.


“Asqyla?”


Werrent menengadah, aku menunduk, menatap matanya. “I love you,” ucapnya lalu mengecup bibirku sekilas.


Senyumku terus menempel, jadi itu bisikan yang Werrent ucapkan tadi? Rasa khawatirku menghilang sepenuhnya. Werrent sudah mencintaiku.


“Love you, too, Mas.”