WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Papa gila!



Papa memandang Mama dengan kode yang menyuruhnya untuk menjelaskan kepadaku, tapi Mama menolaknya dan meminta Papa untuk terus melanjutkan penjelasannya.


“Masih lama kok, Qyla.”


“Dua bulan itu bukan waktu yang sebentar, Pa.”


Mama menyenggol lengan Papa dan menatapnya nyalang, kupikir mereka tidak mau menjelaskan terlalu cepat tentang pernikahan yang akan aku laksanakan dua bulan kedepan, aku terlanjur sudah tahu dari Bunda. Kalau memang mau di rahasiakan, kenapa mereka tidak menyuruh Bunda untuk tutup mulut.


“Kamu tahu darimana?” tanya Papa menilik.


“Dan satu lagi. Kenapa Qyla harus tahu itu semua dari Bunda?”


“Jadi Gita yang jelasin semuanya? Salah Papa juga lupa nggak ngasih tahu kalau Papa belum kepingin kamu tahu.”


“Jadi alesannya apa, Pa?”


“Papa kepingin kamu nikah muda, kamu nggak masalahkan?”


“Qyla nggak masalah selama kalian bahagia, tapi kenapa harus dua bulan lagi? Qyla baru aja naik kelas tiga, Pa. Nggak bisa apa kalau nikahnya pas Qyla udah lulus?”


“Nggak bisa di undur lagi, Qyla. Papa juga minta kalau pernikahannya dilakukan sesudah kamu lulus, tapi Werrent bilang dia harus kembali ke Inggris sebelum tahun ini berakhir. Dan dia nggak tahu kapan ke Indonesia lagi.”


“Terus sekolah Qyla?” tanyaku tak habis pikir.


“Kamu tetep lanjutin sekolah kamu, sesudah lulus kamu langsung nyusul dia ke Inggris.”


“Qyla nggak salah denger, Pa? Maksud Papa, Qyla menikah dua bulan dari sekarang hanya untuk di tinggal disini?”


Mereka gila. mereka berdua benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana mungkin aku di nikahkan lalu di tinggal begitu saja? Lalu, tujuan orang itu menikahiku untuk apa? Menandaiku bahwa aku adalah miliknya?


“Kamu susul dia kesana setelah lulus, Qyla.”


“Tetap aja, Pa! Masa Qyla baru nikah terus di tinggal gitu aja.”


“Kamu mau pindah sekolah kesana?”


“Harus Qyla jawab pertanyaannya, Pa?”


Mama sedaritadi menenangkanku dengan mengucapkan kata-kata yang menurutnya bisa menenangkanku, tapi aku tidak bisa tenang sama sekali. Aku tidak mau hidupku hancur secepat ini, bagaimana bisa mereka merencanakan hal ini tanpa berbicara padaku. Kenapa tidak ada sedikit pun alasan yang bisa aku dapatkan dari mereka?


Aku menjernihkan pikiranku sejenak. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, mau sekeras apapun aku menolak, pasti tetap akan menikah juga.


“Siapa yang akan menikahiku, Pa?”


“Werrent Grissham Orlov.”


“Orang asing?”


“Iya, tapi dia besar di sini.”


Aku menghela napasku, mencoba untuk menerima semua hal yang tetiba ini.


“Dia kogela, Papa. CEO dari perusahaan IT, Papa kenal baik keluarganya jauh sebelum dia lahir. Dia anaknya penurut walau terlampau dingin.”


Apa kata Papa? Jadi, pernikahanku sebatas kerja sama antar perusahaan? Pikiranku kalut, aku marah, menyalahkan semuanya pada Papa. Dia gila!


“Kolega? Jadi ini pernikahan politik?”


“Bukan, Qyla.”


“Lalu apa, Pa!”


Mataku sudah memerah, isak tangis mulai keluar dari mulutku, sudah tak terhitung berapa kali aku mengusap pipiku. Rasanya memilukan sekali, ribuan jarum menusuk jantungku saat Papa menjawab pertanyaan yang daritadi terus aku ajukan.


“Papa belum bisa jelasin alasannya sekarang, La.”


Tangisku makin kencang, Mama mendekatiku dia duduk di sebelahku dan membelai rambutku mencoba untuk memberi ketenangan untukku. Percuma. Kata paling indah yang bisa membuat semua orang tenang tidak akan berlaku untukku hari ini. Semua ke-ambigu-an ini tidak bisa aku terima, apa yang coba mereka rencanakan Tuhan? Apa baik untukku menuruti semua kemauannya?


“Kenapa nggak bisa sekarang?”


“Papa mohon beri kita pengertian, La.”


“Kalian yang harusnya ngertiin Qyla! Mungkin ini tentang kalian dan rencana kalian yang nggak bisa kalian jelasin ke Qyla, tapi ini juga menyangkut hidup Qyla. Qyla yang jalanin ini semua, Qyla yang bakal berhadapan sama orang itu sampai Qyla tua nanti, Qyla percaya sama Papa Mama. Tapi, Qyla juga berhak tahu apa alesan kalian nikahin Qyla sama dia, ini bukan hal yang bisa di bercandain! Qyla bener-bener kecewa sama kalia—”


“ASQYLA! Ajaran siapa yang buat kamu tidak sopan begini?! Apa kamu dididik selama ini untuk meninggikan suara kepada kedua orangtuamu?”


Mama menatapku nyalang, Papa menghampiri Mama dan menahan tangan Mama yang hendak menamparku. Hatiku sangat sakit, bahkan lelehan besi panas yang bisa melepuhkan seluruh badanku terasa lebih baik daripada melihat Mama marah, air matanya turun dari mata yang selalu menatapku penuh harap, penuh dukungan, penuh kasih sayang, semuanya sirna saat air mata kejam itu turun melewati kantung matanya.


Kecewa sekaligus menyesal, ingin sekali kutarik semua perkataanku yang tadi aku ucapkan.


“Qyla hanya butuh penjelasan, Ma!”


Aku berlari meninggalkan mereka berdua, rasanya tidak mampu lagi aku membicarakan hal yang sudah jelas tidak akan mereka beritahu. Kakiku terus melangkah membawaku pergi entah ke mana, pikiranku kosong, bahkan tenggorokanku sudah sangat kering karena tangisan yang tidak ada henti-hentinya.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima puluh menit, kakiku sudah sangat lemas dan aku tidak tahu diriku tengah di mana. Tidak ada orang yang bisa aku tanyai, bahkan bangunan di daerah ini saja tidak memiliki penerangan yang cukup. Aku takut ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku, lebih baik aku bertemu orang yang ingin menculikku bahkan memutilasiku dari pada bertemu makhluk random yang mengerikan.


Ponselku berdering sedaritadi, yang tertangkap mataku adalah panggilan dari Mama atau Papa dan pesan-pesan yang menanyakan keberadaanku. Aku terduduk di pinggir jalan, sesekali menyeka air mataku yang terus mengalir. Aku sudah tidak perduli dengan pernikahan itu, mau diadakan besok, lusa, atau sekarangpun aku tak perduli. Aku hanya takut pulang ke rumah dan bertemu Mama, apa yang harus aku katakan setelah aku membuatnya menangis?


Empat puluh menit sudah berlalu, sudah tak terhitung pesan dan panggilan yang masuk ke ponselku. Aku melihat semua pesan yang berisi bujukan untuk segera pulang, mereka khawatir dengan keadaanku, juga meminta aku untuk menjawab panggilan dari mereka. Dan mataku terpaku pada pesan Radith.


Radith Mahendra


Qyla, tasnya aku anterin besok aja ya. Ada tamu Ayah, aku harus temenin Bunda.


Jangan tidur larut, pagi-pagi aku jemput.


Aku hanya membalas ‘iya’, juga membaca semua pesan yang di kirim Papa. Isinya memberitahuku bahwa Mama khawatir dan memintaku untuk pulang, dia juga menanyakan di mana aku sekarang. Aku membalas pesan Papa, tapi belum sempat aku kirim, ponselku mati. Aku merutuki diriku yang lupa tidak mengisi daya ponsel setelah pulang sekolah tadi.


Terakhir yang aku lihat sebelum ponselku mati adalah notifikasi alarmku yang menandakan aku sudah harus tidur, jam sebelas malam. Aku memasang pengingat karena memang diriku sendiri selalu lupa waktu, entah itu dalam belajar atau mencorat-coret buku harianku.